
Hai guyss😊
Siapa yang kangen sama Revon?
Tenang aja kali ini babang kembali.😉
Selamat membaca❤
•••
Selama beberapa hari berlalu, Revon masih setia menunggu Rose di kamarnya. Sambil menunggu kabar dari Alex, dia mulai membaca buku kuno sambil duduk di sofa yang berada di kamar Rose.
Dia membaca buku The Destiny of Vampire yang dulu sempat dia baca namun belum selesai sampai akhir. Revon berharap dengan membaca buku itu kembali akan menemukan petunjuk yang bisa membuat Rose kembali.
Tiba-tiba kepalanya pusing dan tenggorokannya terasa terbakar. Semakin dia tahan semakin menjadi-jadi rasa pusing dan terbakar itu. Tanpa sadar buku yang dia baca terjatuh ke lantai.
"Arrggh!!" Geram Revon dengan menyentuh lehernya.
Perlahan warna matanya berubah menjadi hitam kelam. Lalu di dalam kepalanya samar-samar terdengar suara seseorang lelaki.
"My Lord. Keadaan tubuh anda sangat lemah. Anda membutuhkan darah. Sudah berhari-hari anda tidak memperhatikan tubuh anda sendiri. Jika anda lepas kontrol, itu juga akan membahayakan Ms. Mint." Ujar suara itu.
"Siapa? Siapa yang berbicara?" Ujar Revon dengan bingung.
Namun suara itu sudah menghilang. Hanya keheningan yang dia rasakan. Melihat ke arah ranjang, dia tidak ingin melakukan hal berbahaya kepada Rose seperti yang diperingatkan oleh suara aneh itu.
"Aku harus keluar dari sini." Gumam Revon lalu secepatnya keluar dari kamar.
•••
Di sisi lain, Alex tengah berjalan-jalan sendiri di tengah malam. Tadi dia sengaja tidak ingin kembali ke hotel bersama Aff. Dia ingin menjernihkan pikiran sambil menghirup udara segar.
Berhenti di sebuah taman, dia memilih duduk di bawah pohon yang rindang. Mengusap wajahnya dengan kesal karena dia sama sekali belum mendapatkan penyihir untuk menyembuhkan Rose.
"Bodoh! Kenapa aku hanya diam melihat pasangan penyihir yang datang tadi?! Sekarang aku kehilangan kesempatan, kan!" Ujar Alex pada dirinya sendiri.
Triing. Triing.
Suara ponsel Alex menandakan adanya panggilan. Mengambil ponsel di saku celananya, dia melihat nama Lee tertera di layar ponsel itu.
"Halo?" Sapa Alex.
"Alex. Kapan kamu akan kembali ke Brittany? Ada masalah Lex, salah satu anggota klan vampir disini berkelahi dengan Dean di club kemarin. Lalu vampir itu kalah, tapi dia tidak terima dan ingin membalas. Aku khawatir nanti mereka kembali dengan membawa seluruh klannya saat kita tidak siap." Ujar Lee dengan cemas.
"What!? Masalah apa yang membuat mereka sampai memulai perkelahian?" Tanya Alex dengan nada tinggi.
"Lebih baik kamu kesini terlebih dahulu. Lalu kita bisa membahas ini. Okay?" Ujar Lee.
"Besok. Aku akan kembali besok. Kalian jaga diri disana sampai aku kembali."
"Alright. Aku tunggu." Ujar Lee lalu Alex mengakhiri panggilannya.
Lelaki itu berdiri dan melangkah pergi dari taman. Baru beberapa langkah dia pergi, tiba-tiba dia menubruk seseorang.
Bruk!
"I'm so sorry.... " Ujar Alex yang terpotong karena melihat seorang wanita yang dia tabrak mirip dengan seseorang yang dia kenal.
"It's okay... Saya juga.." Ujar wanita itu yang tiba-tiba tertahan karena saat mendogakkan wajahnya, dia melihat lelaki yang dia kenal.
"Erica!?"
Teriak mereka secara bersamaan.
•••
Sesampainya di hotel, Alex segera merapikan barangnya di tas. Dia tadi sudah menelpon Aff dan mengatakan kalau dia dan Erica ingin kembali ke Brittany sekarang juga. Beruntung ada penerbangan malam yang masih kosong.
Sejak bertemu Erica, dia mengajak wanita itu untuk ikut dengannya ke Brittany. Namun Erica menolak karena dia sedang bersembunyi disini. Wanita itu mengatakan bahwa ada seseorang yang menerornya sejak setahun lalu.
Dari ancaman ringan seperti surat hingga peringatan keras berupa sihir yang membakar habis rumahnya. Beruntung dia dan adiknya sudah keluar dari rumah dengan tepat waktu.
Tapi tentu saja Alex membujuknya lagi dan mengatakan kalau Rose sedang dalam keadaan tidak sadar karena perbuatan sihir. Rose tidak sadarkan diri dengan luka sayatan membentuk pola aneh di tangannya.
Mendengar itu Erica merasa sedih dan cemas. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya dia mau ikut pergi ke Brittany. Tapi nanti adiknya harus menyusul dia ikut ke Brittany.
"Nanti biar aku yang urus itu." Jawab Alex kepada Erica.
Saat ini mereka sudah ada di bandara dan berjalan beriringan menuju pesawat.
•••
Setelah penerbangan yang sangat lama, akhirnya mereka sampai di Brittany. Karena tahu jika Alex akan kembali, Lee dan Dean datang menjemputnya.
Melihat Alex yang datang tidak sendiri membuat Lee dan Dean tersenyum menggoda Alex.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Dia adalah penyihir yang aku bawa untuk menyembuhkan Rose. Cepat kita ke rumah Revon terlebih dahulu." Ujar Alex dengan menatap Lee dan Dean bergantian.
"Kalau begitu siapa namamu nona?" Tanya Dean sambil mendekati Erica.
"Erica." Jawab Erica dengan singkat dan sekilas menoleh kepada lelaki itu.
"Aku Dean dan dia Lee." Ujar Dean menunjuk ke dirinya sendiri lalu ke arah Lee.
"Aku bisa bicara, kamu tidak perlu repot-repot memperkenalkanku. Kamu ingin merasakan pukulanku lagi, hah?!" Ujar Lee yang kesal dengan mengunci leher Dean.
Alex yang tidak tahan dengan kelakuan mereka sontak berdiri di depan mereka dan berbisik.
"Kalau kalian ingin tidur di luar rumah, lanjutkan saja tingkah bodoh kalian ini. Lee, serahkan kuncinya. Aku akan membawa mobilnya sendiri." Bisik Alex yang terdengar menyeramkan bagi mereka.
"Tidak. Biar aku saja yang menyetir, Bos." Ujar Lee yang seketika melepaskan Dean dan berjalan cepat ke mobil.
Sedangkan Dean hanya tersenyum tanpa dosa. Lalu dia berjalan ke mobil menyusul Lee.
"Sejak kapan kalian pindah ke Brittany?" Tanya Erica tiba-tiba.
"Mungkin 2 minggu yang lalu." Jawab Alex sambil masuk ke dalam mobil.
Erica pun ikut masuk dan duduk di samping Alex yang ada di kursi belakang. Sementara Dean dan Lee berada di kursi depan.
"Apa kalian kesini sengaja untuk mengikuti, Rose?" Tanya Erica.
"Ya." Jawab Alex dengan singkat dan terlihat tidak tertarik untuk bercerita.
Setelah mendapat jawaban itu, Erica sibuk dengan pikirannya sendiri. Banyak pertanyaan yang ada di dalam pikirannya. Namun dia enggan untuk bertanya kepada klan serigala ini.
Lebih baik aku tanya Revon. Pikir Erica.