My Vampire CEO (After Death)

My Vampire CEO (After Death)
Chapter 11 - Welcoming party



Kamar Rose


Keluar dari kamar mandi, dia membuka wardrobe yang berisi gaun-gaun miliknya. Memilih diantara gaun-gaun yang cantik dan memeluk tubuhnya dengan pas.


Dia ingin yang tidak terlalu terbuka, tapi tetap cantik ketika dipakai.



Akhirnya dia memilih dress hitam yang hanya menampilkan sedikit tubuhnya. Mengaplikasikan make up natural dan menata rambutnya agar lebih curly.


Tepat setelah dia selesai berdandan, ponselnya berdering karena telpon masuk. Dia tidak melihat nama pemanggil karena hanya ada nomor disana. Sedikit was-was dia mengangkat telponnya


"Hallo?" Ujar Rose.


"Ini aku Stevan. Aku sudah dibawah. Cepat turun." Ujar Stevan di telpon.


"Ah, kebetulan aku sudah selesai. Aku akan segera turun." Jawab Rose sambil mengambil tasnya. Stevan tidak menjawab dan mematikan telponnya.


"Dia tidak menjawab dan mematikan telponnya?! Benar-benar menyebalkan." Ujar Rose yang berjalan ke pintu kamar.



Dia turun ke lobby dan melihat Stevan berdiri di samping mobil. Lelaki itu sedang menelpon seseorang, saat pandangannya ke arah Rose. Dia sedikit takjub dan mengedipkan kedua matanya beberapa kali.


"Beautiful." Gumam Stevan.


"Kita berangkat sekarang atau kamu masih ingin menelpon?" Tanya Rose dengan menaikkan satu alis. Wanita itu sedikit bingung karena Stevan melihatnya terus dan diam tidak menjawab.


"Stevan! Do you hear me?" Ujar Rose dengan melambaikan tangannya di depan wajah Stevan.


"Haha. Yeah, kita pergi sekarang." Jawab Stevan dengan tertawa kikuk. Dia segera mematikan panggilannya dan membukakan pintu mobil untuk Rose.


Wanita itu melihat dia dengan mata menyipit lalu masuk ke dalam mobil.


Kenapa dia melihatku seperti tadi? Pikir Rose.


•••


Di hotel tempat penyambutan



Stevan dan Rose sampai di hotel mewah tempat acara penyambutan. Semua orang seketika memusatkan perhatian kepada mereka berdua.


Dengan raut wajah yang masih sedikit takut kepada Stevan, para manager dan staff perlahan menghampiri dia untuk mengucapkan selamat.


"Selamat Mr. Hallagar. Saya Oscar Keith dari Marketing Manager." Ujar manager lelaki yang berumur 45 tahun dengan tubuh gagahnya.


"Thank you, Mr. Keith." Jawab Stevan.


"Hello Mr. Hallagar. Selamat atas jabatannya. Saya Dominic Cenkov dari Manager Advertising. Semoga anda bisa bekerja dengan lancar." Ujar manager lain. Dia seorang lelaki muda berumur 20 tahunan dengan tubuh tinggi seperti model.


"Hello Mr. Cenkov. Thank you. Saya harap anda juga bisa bekerja dengan lancar." Ujar Stevan dengan tersenyum tapi dengan tatapan mata yang tajam.


Rose yang berada di sampingnya hanya melihat dengan bosan.


Segitu takutnya mereka dengan Stevan? Pikir Rose.


Wanita itu meraih wine dari pelayan dan hendak pergi berkeliling. Akan tetapi tangannya di tarik oleh Stevan.


"Stay here." Ujar Stevan dengan singkat.


"Kenapa aku harus disini menonton kamu berbicara dengan orang lain? Membosankan sekali." Jawab Rose dengan menaikkan kedua alisnya.


"Kamu asisten pribadiku, jadi kamu harus tetap disini mendampingiku." Ujar Stevan dengan tegas.


"Jam kerjaku sudah berlalu. Jadi kita tidak sedang terikat kerja apapun. Lagipula aku menemanimu hanya karena formalitas. Ini hari penyambutanmu. Mr. New CEO. Sudah aku mau pergi." Ujar Rose dengan menatapnya risih.


Stevan tidak bisa membantah karena memang yang dia katakan benar. Ada sedikit rasa aneh dihatinya seperti tidak mau melepaskan wanita itu. Dia mencoba untuk tidak menghiraukan perasaan itu dan mengalihkan perhatiannya.


Dengan santainya, Rose berjalan mengelilingi area pesta. Suasana ramai dengan orang-orang berbicara dan tertawa. Tiba-tiba terdengar suara teriakan wanita yang dia kenal.


"Haaa...Kamu terdengar seperti ibu yang lama tidak ditengok anaknya. Telingaku pengang karena omelanmu." Jawab Rose dengan wajah lelahnya.


"*****! Kamu mengejekku, hah? Tapi karena kamu terlihat sangat cantik. Jadi aku tidak akan marah. Hey! kamu tidak menjawab pertanyaanku tadi?" Ujar Wen dengan kesal memukul lengan Rose.


"Aww. Jeez, tidak bisakah kamu lebih tenang. Okay okay aku akan menceritakanya. Tapi kita cari tempat yang lebih sepi." Jawab Rose.


"Ah, aku tahu tempatnya. Ayo!" Ujar Wen dengan tersenyum penuh arti. Dia menarik tangan Rose menuju balkon luar.


Setelah sampai disana, Rose pun mulai menceritakan semuanya. Mengenai Stevan yang menyuruhkan menjadi asisten pribadinya sampai melihat dia sedang bercumbu di kantor.


"What the hell! Dia sangat tidak cocok menjadi CEO. Dan aku dengar, para manager terpaksa untuk menyetujui dia menjadi CEO. Mereka membicarakan Stevan diam-diam di belakang." Ujar Wen dengan suara yang lebih pelan.


"Aku tahu kalau dia memaksa mereka. Bahkan dia tidak melakukan pekerjaan menjadi CEO dengan sepatutnya. Dia melimpahkan semua pekerjaan kepadaku. Iiissh.. Ingin sekali aku memukul kepalanya." Jawab Rose dengan alis yang berkerut karena kesal.


"Apa kamu sudah mendapat informasi tentang Revon?" Tanya Wen.


"Belum. Dia sempat ingin mengatakan sesuatu tapi dengan cepat dia mengalihkan pembicaraan. Apa kamu punya saran?" Ujar Rose dengan menatap lekat Wen.


"Hmm.. Apa dia tahan terhadap alkohol? Jika tidak, kamu bisa memancingnya berbicara saat mabuk." Saran Wen.


"Okay, aku akan mencobanya nanti." Ujar Rose mengerti.


"Aku lupa mengatakan ini. Stevan mengambil semua properti milik Revon, termasuk rumahnya." Ujar Wen.


"Apa?!! Dia benar-benar serakah." Ujar Rose sambil menyisir rambutnya dengan frustasi.


Mereka terkejut mendengar suara dering ponsel Wen. Wen mengangkat ponselnya.


"Hallo sayang. Ya?... Aku akan segera kesana." Ujar Wen kepada penelpon. Lalu dia mematikan panggilan dengan terburu-buru.


"Rose, aku harus pergi. Suamiku sudah menjemput. Sepertinya dia tidak bisa berlama-lama jauh dariku." Ujar Wen dengan nada humornya.


"Yaya. Aku tidak ingin mendengarnya. Cepat pergi sana." Ujar Rose dengan mendorong pelan Wen agar pergi.


"Bye." Teriak Rose saat Wen sudah agak menjauh.


Sekarang hanya tinggal dirinya di balkon. Dia melihat pemandangan langit malam yang cerah dan bintang yang menghiasi angkasa. Dia baru sadar jika beberapa meter dari tempatnya ada hutan yang cukup gelap.


Saat kembali melihat ke halaman, dia tertegun. Di bawah pohon ada lelaki berdiri dan memandang ke arahnya. Tatapannya intens hingga menembus ke dalam jiwa.


"Revon.." Gumam Rose.


Dia melihat lelaki itu masuk ke dalam pesta. Rose bergegas kembali ke pesta dan mencari keberadaan Revon. Tapi dia tidak kunjung menemukannya.


Karena tidak melihat langkahnya, dia pun menabrak pelayan yang sedang membawa minuman.


Bruk!


Wine tumpah ke gaunnya dan semua orang memperhatikan dia. Entah dari mana, Stevan datang dan melepas jasnya untuk menutupi gaun Rose.


"Kalian lanjutkan pestanya. Kami pergi dulu." Ujar Stevan dan menggiring Rose keluar bersamanya.


Mereka masuk ke dalam mobil meninggalkan pesta.


"Jangan salah paham dulu. Aku melakukan ini karena aku tidak ingin asistenku di permalukan di depan umum." Ujar Stevan tiba-tiba.


Rose hanya diam karena terhanyut akan pikirannya sendiri.


"Apa kamu ada acara lain?" Tanya Rose tiba-tiba.


"Tidak ada. Memang kenapa?" Jawab Stevan.


"Aku ingin menghilangkan beban pikiranku. Kita ke club sekarang." Ujar Rose dengan tenang.


Stevan melihat ke arahnya dengan pandangan tidak percaya.


Ada apa dengannya? Pikir Stevan.