My Vampire CEO (After Death)

My Vampire CEO (After Death)
Chapter 76 - Dress



Sinar mentari perlahan naik memberikan kehangatan bagi seluruh alam semesta. Di sebuah kamar yang luas dengan dinding kamar berwarna coklat, Rose masih terlelap dengan damai. 


Revon yang sudah rapi dengan setelan jasnya keluar dari walk in closet. Lelaki itu sedang menerima telepon dari seseorang yang memintanya untuk segera datang ke kantor. 


Mengingat kalau seharusnya dia hari ini memiliki jadwal untuk fitting baju, Revon pun beranjak untuk membangunkan Rose sebelum pergi agar Rose bisa lebih dulu melakukan fitting baju di butik tempat dia membuat janji.


"Bae, bangun. Bae … " bisik Revon sambil mengecup seluruh wajah Rose.


Wanita itu tampak terganggu dengan kecupan-kecupan di wajahnya. Mau tidak mau, Rose pun membuka matanya, "Hmmm?"


"Bae, hari ini kita harus fitting baju. Tapi aku ada rapat penting sekarang. Jadi, aku ingin kamu siap-siap untuk pergi ke butik sekarang. Bae?"


"Aku masih mengantuk," ucap Rose sambil memejamkan mata.


"Bae, aku tidak punya banyak waktu. Hey! Bangun, Bae."


Revon pun menggelitik pinggang Rose, membuat wanita itu tertawa geli dan membuka matanya lebar, "Okeoke, cukup. Haha … hahaha …." 


"Aku tidak akan pergi sebelum kamu beranjak dari ranjang," ucap Revon dengan tegas.


"Bagaimana aku bisa bangun jika kamu ada di atasku seperti ini, hm? Coba jelaskan?" balas Rose yang tidak ingin kalah. Pasalnya separuh tubuh Revon memang berada di atas Rose. 


Revon tertawa lalu beranjak dari posisinya. Lelaki itu melihat Rose yang berjalan ke arah kamar mandi. Tepat sebelum Rose menutup pintu kamar mandi, Revon menahan pintunya lalu berkata, "Aku pergi dulu, Bae. Robert akan mengantarmu ke butik."


Rose mengangguk dan mengecup bibir Revon. Lelaki itu tersenyum lebar lalu menghilang di balik pintu kamar.


•••


Sekitar 1 jam perjalanan dari rumah, Rose akhirnya sampai di sebuah butik dari perancang busana yang terkenal di Paris. Dari eksteriornya, butik itu terlihat sangat mewah dengan nuansa warna hitam dan emas.


Rose pun keluar dari mobil. Robert ikut turun dari mobil dan membuat Rose menatapnya dengan pandangan curiga, "Jangan bilang kamu ikut ke dalam."


"Saya hanya mengikuti perintah, Ms. Mint." Robert mengangkat kedua bahunya secara bersamaan.


"Ini benar-benar membuatku canggung," gumam Rose lalu berjalan memasuki butik.


Seorang wanita bergaun navy menyambut kedatangan Rose dengan senyuman hangat, "Oh, maaf. Tuan dan Nona, butik kami sedang di booking selama satu hari ini oleh seseorang. Kalian bisa datang lagi besok."


"Apa seseorang itu bernama, Revonelle Dent?" tanya Rose.


"Ya, benar. Ah, Nona Rose?"


"Yes."


"Senang bertemu dengan anda. Saya Luca Smith. Boleh saya berbicara non-formal?"


"Hmm … Tentu."


"Ayo ikut aku. Revon sudah mengabari jika dia akan datang terlambat sehingga kamu akan lebih dulu melakukan fitting baju. By the way, siapa lelaki itu?" tanya Luca.


"Dia adalah Robert. Asisten Revon," jawab Rose sedikit ketus. Dia merasa cemburu mendengar Revon yang menghubungi Luca. Ditambah Luca memiliki paras yang cantik dengan tubuh yang sangat pantas untuk menjadi model.


"Kamu ingin minum apa? Teh atau kopi? Apa kamu suka coklat? Tadi aku membeli beberapa chocolate mousse–" 


"Teh saja. Aku ingin teh saja," sela Rose.


"Okay," balas Luca lalu meminta staffnya untuk membuatkan minuman.


Luca lalu menawarkan beberapa gaun yang akan cocok jika dipakai oleh Rose. Setelah melihat-lihat, Rose mencoba 3 gaun yang menarik perhatiannya.


Saat akan masuk ke ruang ganti untuk mencoba gaunnya, dari arah pintu masuk muncul Revon dengan membawa paperbag di tangannya. Lelaki itu berjalan mendekat ke arah Rose lalu mengecup bibirnya.


Dari sudut mata Rose, dia melihat Luca yang terlihat memandang ke arahnya cukup lama. Raut wajah Luca tampak sedikit berubah. Senyuman Luca terlihat terpaksa.


"Kamu pasti belum sarapan. Aku membawakan sandwich untukmu," ucap Revon.


"Thanks, Honey. Aku makan nanti saja. Baru saja aku ingin mencoba gaunnya," balas Rose dengan sengaja menambahkan panggilan sayangnya.


"Oh, ya gaun yang itu. Aku akan mengambilnya sebentar," balas Luca kemudian.


Sementara Luca mengambil gaunnya, Rose mengajak Revon menjauh untuk berbicara berdua.


"Kenapa kamu memilih butik ini? Dia terlihat mencurigakan, dan aku tidak suka dengannya," terang Rose.


"Aku hanya ingin yang terbaik untukmu, Bae. Dia adalah desainer gaun terbaik di Paris," balas Revon.


"Kamu lihat, dia bahkan tidak mengatakan apapun padaku tentang gaun yang kamu sudah pesan–"


"Bae, tenang. Jangan pikirkan Luca. Aku akan mengurus dia nanti. Sekarang kamu coba dulu gaunnya, okay?"


"Cukup sekali ini aku datang kesini. Tidak akan ada lain kali," ucap Rose.


Revon tersenyum. Luca sudah kembali dengan membawa gaun pengantin yang sangat cantik. Revon pun mengajak Rose mendekat untuk melihat gaunnya.


"Apa perlu aku temani?" tawar Luca.


"Aku bisa sendiri," balas Rose cepat.


Rose menatap Revon sejenak, lalu mengambil gaun itu untuk dicoba. Sementara Rose masih di ruang ganti, Revon pun mengajak Luca bicara.


"Kenapa kamu tidak memberikan langsung gaun itu kepadanya?" tanya Revon.


"Gaun itu baru saja selesai. Jadi tadinya aku berniat menawarkan gaun lain sambil menunggu gaun itu," balas Luca sambil berjalan mendekati Revon.


"Luca, hapus rencana apapun yang ada di pikiranmu itu. Kecuali kamu sudah bosan hidup," desis Revon. 


"Aku tidak butuh rencana. Aku hanya tinggal melakukannya," ucap Luca dengan santai.


Mendengar itu, Revon seketika panik. Dia teringat Rose yang masih belum selesai mengganti baju. Revon segera masuk ke dalam ruang ganti tempat Rose berada.


Cklek


"Oh God, kamu mengejutkanku!" pekik Rose menatap Revon dari cermin yang ada di depannya.


Revon bernafas lega, "Apa ada sesuatu dengan gaunnya?" 


"Tidak. Hanya saja aku kesusahan menarik resletingnya. Bisa kamu membantuku?"


Revon segera mendekat ke punggung Rose. Lelaki itu menarik resleting gaun Rose hingga menutup sempurna.


"Kenapa kamu tidak memanggilku dari tadi?" tanya Revon.


"Aku pikir aku bisa, tapi nyatanya tidak," balas Rose.


Revon menatap pantulan bayangan Rose yang terlihat semakin mempesona. Gaun yang dia pakai sangat melekat pas di tubuhnya.


"Oke, aku suka gaun ini," lirih Rose lalu tersenyum menatap Revon.


"Aku senang mendengarnya," ucap Revon mengecup pipi Rose.


"Apa kamu juga memesan jasnya disini?"


"Tidak, Bae. Aku sudah pesan di tempat lain. Jika sudah selesai, temui aku di luar," ucap Revon lalu keluar dari ruang ganti.


Setelah selesai berganti baju, Rose menemui Revon yang sedang berbicara dengan Luca. Gaun yang tadi dia coba, sudah dikemas dalam kotak.


"Aku sudah mengirim pembayarannya, kami permisi." Revon lalu mengajak Rose keluar dari butik. Di luar, Robert sudah menunggu di samping mobil. 


"Kamu pergi ke kantor saja," ucap Revon kepada Robert.


"Baik," balas Robert lalu pergi meninggalkan mereka.