
Pagi ini, Revon mengajak Aston untuk berbicara di kamar Erica. Dia ingin menyampaikan apa yang Alex katakan semalam.
"Semalam Alex menghubungiku, dia berkata kalau tidak bisa membawa dokter itu kesini," Ujar Revon memulai pembicaraan.
"Apa?! Kenapa tidak bisa?" Tanya Aston.
Revon menghembuskan nafas kasar lalu berkata, "Dokter yang juga seorang penyihir itu mengatakan kalau sihir miliknya sudah lama dia segel. Untuk membuka segelnya lagi akan sangat menguras tenaga dan membahayakan nyawanya."
"Lalu kamu ingin aku membiarkan kakakku mati perlahan? Tidak. Dokter itu harus kesini. Aku bisa membantunya melepas segel sihirnya. Katakan pada Alex, dia harus membawa dokter itu kesini," Ujar Aston sambil menatap Revon lekat.
Revon merasakan kesedihan dari Aston. Walau dia berusaha menyembunyikannya dengan rasa marahnya.
Revon juga tidak ingin membiarkan Erica dan Robert mati. Akhirnya Revon memutuskan untuk meminta lagi Alex untuk membawa dokter itu.
Revon mengambil ponselnya dan menelpon Alex.
"Kamu harus bisa bawa dokter itu kesini," Ujar Revon singkat.
"Tapi …. "Ujar Alex yang tiba-tiba terhenti.
"Kenapa kalian sangat memaksaku kesana?" Ujar seorang wanita dari ponsel Alex.
Mendengar itu, Revon segera tahu kalau wanita yang berbicara itu adalah dokter yang sedang mereka bahas. Siapa lagi kalau bukan Teresa Delain, seorang penyihir yang menyegel kekuatan sihirnya dan memilih menjadi orang biasa.
"Karena ada dua nyawa yang sedang membutuhkan perawatan disini. Bukankah kamu sebagai dokter mempunyai kewajiban menolong orang atau lebih tepatnya pasien?" Ujar Revon dengan sarkasnya.
Wanita di seberang telepon tidak menjawab perkataan Revon selama beberapa detik, "Bagaimana aku tahu jika kalian tidak sedang membohongiku? Apalagi Alex, aku sangat tidak mempercayai dia."
"Jika kamu tidak mempercayai Alex, kamu bisa mempercayaiku. Begini saja, agar kamu percaya … aku akan melakukan panggilan video agar kamu bisa melihat sendiri kebenarannya. Bagaimana?" Ujar Revon memberikan tawarannya kepada wanita itu.
"Aku terima tawaranmu," Ujar Teresa lalu mematikan panggilannya.
Revon kembali menelepon ponsel Alex, sekejap panggilan video itu telah diterima oleh Teresa.
Revon mengarahkan kamera belakang ponselnya ke arah Erica yang terbaring di ranjang dengan wajah pucatnya.
Setelah itu, Revon beralih ke kamar Robert yang terletak di seberang kamar Erica. Kondisi mereka hampir sama, namun Robert terlihat lebih parah karena dia tidak mendapat asupan darah sejak pertama dia pergi ke desa penyihir itu.
"Apa yang terjadi kepada mereka?" Tanya Teresa dengan raut prihatinnya.
"Lebih baik kamu ikut dengan Alex kesini dan aku akan menceritakan semuanya," Jawab Revon yang masih mengarahkan kameranya ke Robert.
Sejak tadi hanya wajah Teresa yang muncul di layar panggilan, sementara Alex tidak terlihat.
Selang beberapa menit, Teresa menjawab, "Baiklah. Aku akan ikut dengan lelaki brengsek ini."
Samar-samar terdengar suara protes Alex yang tidak terima. Namun Teresa segera mengakhiri panggilannya.
"Jadi dia akan datang, kan?" Tanya Aston dengan penuh antisipasi.
"Yes, boy! Dia akan datang. Jangan lupa untuk menyambutnya nanti," Jawab Revon sambil tersenyum dan menepuk pundak Aston.
•••
"Baiklah, aku akan ikut denganmu ke Brittany. Tapi itu bukan berarti aku sudah memaafkanmu ataupun berbaikan denganmu. Mengerti?" Ujar Teresa dengan tegas.
Alex terlihat sedang memegang sesuatu berbentuk persegi. Menyadari itu, Teresa menengok ke arah meja kerjanya tempat dia meletakkan benda persegi itu.
Dengan raut wajah panik dan pipi yang perlahan memerah menahan malu, Teresa mencoba mengambil kembali barang miliknya itu.
"Ternyata … kau masih menyimpan foto ini," Ujar Alex dengan smirknya.
"Berikan padaku! Alex!" Pinta Teresa kepada Alex. Saat ini dia sedang sibuk meraih benda persegi itu dari Alex.
"Nah. Katakan, kamu masih menyukaiku, kan?" Ujar Alex yang menggoda Teresa.
Namun wanita itu tidak menjawab dan menatap Alex dengan tajam. Kini dia sudah berhenti meraih benda persegi itu yang tidak lain adalah sebuah pigura yang berisi foto.
"Lebih baik kita berangkat ke Brittany sendiri-sendiri. Aku tidak mau satu pesawat denganmu," Ujar Teresa dengan kesal.
Lalu wanita itu mengambil tasnya dan berjalan ke arah pintu keluar ruangannya.
Alex mendengus dan bergumam lirih, "Ck, masih sama." Dengan langkah cepat, Alex meraih tangan Teresa yang memegang knop pintu lalu membuat wanita itu berhadapan dengannya.
"Jangan bodoh! Kita akan berangkat bersama," Perintah Alex.
"Kenapa? Kamu teringat dengan kenangan terakhir kita di pesawat, hmm?" Tanya Alex.
DEG
DEG
DEG
"Kenangan … kenangan apa? Kenanganku denganmu semuanya buruk," Jawab Teresa dengan gugup.
Alex memicingkan mata mengamati wanita itu, lalu tubuhnya semakin mendekat dan membuat Teresa terhimpit antara tubuh Alex dan pintu di belakangnya.
"Keahlian berbohongmu sangat buruk. Del," Ujar Alex yang menatap Teresa dengan intens.
Alex mendekatkan wajahnya. Teresa terdiam kaku dan menatap mata Alex. Lalu detik selanjutnya, tangan Teresa mendaratkan tamparan keras di pipi Alex.
Plak
"Jangan bermimpi," Ujar Teresa lalu berbalik dan membuka pintu di belakangnya.
"Hah! Dia berani menampar wajah tampanku." Gumam Alex dengan kesal lalu pergi mengikuti Teresa.
•••
Saat akan kembali menuju ke kamarnya di lantai 2, Revon melihat Rose yang berjalan menuruni tangga. Senyuman mengembang di bibir Revon. Lelaki itu pun menatap Rose yang sudah sampai di 2 anak tangga terakhir.
"Kamu dari mana?" Tanya Rose penasaran.
"Kamar Erica. Aku hanya mengecek Aston, apakah dia butuh sesuatu atau tidak," Jawab Revon.
Rose berjalan ke arah dapur diikuti Revon di belakangnya. Saat sampai di dapur, Rose menyiapkan sarapan. Dia menemukan sereal dan susu di laci dapur. Revon memandangi wanita itu dari meja makan.
"Apa kamu mau?" Tanya Rose kepada Revon.
"Boleh. Jadikan satu saja dalam mangkuk itu," Jawab Revon dengan tersenyum.
Mendengar itu, Rose tertawa kecil. Setelah sereal siap, Rose pun mengambil tempat duduk di meja makan samping Revon.
Revon mengambil mangkuk sereal dari tangan Rose, sementara wanita itu menuang air putih ke dalam gelas yang ada di meja makan.
"Apa tidurmu nyenyak?" Tanya Revon sambil memberikan sesuap sereal ke mulut Rose.
"Yaa," Jawab Rose sambil menganggukan kepala.
"Baguslah. Ah, iya. Alex sempat menghubungiku kalau dokter itu tidak mau datang kesini dan menolong Robert dan Erica," Ujar Revon sambil memberikan suapan sereal lagi ke mulut Rose.
Mendengar itu Rose menatap Revon dengan mata membulat.
"Tapi aku sudah membujuknya agar mau kesini," Tambah Revon.
"Bagaimana kamu membujuknya?"
"Aku mengajaknya makan malam bersama,"
"Apa?! Kamu mengajaknya apa?!" Ujar Rose dengan marah dan menatap tajam Revon.
"Hahaha … bae. Aku hanya bercanda. Aku hanya mengatakan kalau kita benar-benar butuh bantuannya untuk menyembuhkan Robert dan Erica. Karena dia adalah dokter, dia merasa simpati dengan mereka lalu dia mau datang kesini," Jelas Revon.
Namun Rose merasa ada sesuatu yang belum diceritakan oleh Revon.
"Apa tidak ada kendala lain?" Tanya Rose dengan pandangan menyelidik.
Revon terdiam menatap Rose cukup lama. Dia berniat menutupi hal itu, karena lelaki itu tidak ingin membuat Rose ikut memikirkannya.
"Katakan semuanya," Ujar Rose dengan lembut.
"Dokter itu sudah menyegel sihirnya sejak lama. Untuk membuka kembali segel itu membutuhkan waktu dan tenaga yang banyak. Bahkan nyawa taruhannya." Jelas Revon.
Tiba-tiba Rose merasa kepalanya pusing. Semuanya terlihat rumit baginya yang hanya manusia.
"Kamu jangan memikirkannya. Cukup aku saja. Oke?" Ujar Revon.
Rose menghembuskan nafas kasar dan perlahan mengangguk. Mereka pun melanjutkan sarapannya.