
Sesuai dengan yang dikatakan Revon, hari ini adalah hari dimana dirinya dan Rose akan kembali ke Paris. Robert pun sudah menyiapkan segala hal yang diperlukan, seperti meminta pilot untuk menyiapkan jet pribadi sebagai transportasinya menuju Paris.
Paris, sebuah kota yang kini menjadi tempat spesial Revon. Sebelumnya dia tidak pernah menganggap sesuatu yang spesial dalam kehidupannya. Karena dia hanya menjalani kehidupan yang sangat membosankan tanpa ada warna.
Namun berbeda dengan beberapa tahun ini. Seorang wanita yang tanpa sengaja tertangkap oleh kedua matanya di balkon Acara Fashion itu benar-benar menarik perhatiannya.
Wanita dengan paras yang cantik sedang tidak dalam kondisi baik. Raut wajahnya terlihat ketakutan, berbanding terbalik dengan aksinya.
Akibat dari lelaki brengsek yang ingin menguasai tubuhnya dengan paksa, membuatnya harus memilih untuk mati. Tentunya Revon tidak akan membiarkan itu terjadi. Karena wanita itu sudah membangunkan sisi lain dari dirinya.
Sisi lembut, yang perlahan membawa sayang dan terus berkumpul menjadi rasa ingin memiliki.
Lalu tanpa sadar, Revon sudah jatuh dalam ke jurang cintanya kepada wanita itu.
Ya, wanita itu … Roseline Mint.
"Bae, kamu belum makan sejak pagi. Kamu ingin aku pesankan sesuatu?" tanya Revon setelah memposisikan Rose duduk di kursi pesawat jet dengan aman sebelum lepas landas.
"Aku terlalu senang hingga rasanya perutku tiba-tiba terasa kenyang," jawab Rose dengan senyuman.
Hal itu membuat Revon memutar mata dan menghembuskan nafas kasar, "No. Kamu harus makan," ujar Revon dengan tegas.
Lalu tepat setelah pesawat sudah berhasil mengudara, Revon bangkit dari kursinya dan menatap Rose.
"Kamu ingin makan apa?" Tanya Revon lagi.
"Hmm … es krim?" jawab Rose dengan asal.
"Bae …. "
"Kenapa? Apa di dalam tidak ada es krim?"
"Baiklah. Jadi kamu ingin bermain seperti ini?"
"Apa maksudmu?" Rose menjadi bingung dengan ucapan Revon.
Sejak tadi Robert duduk di kursi yang tak jauh dari mereka. Namun dia hanya diam dan tidak melihat ke arah pasangan itu ataupun menguping percakapan mereka. Dia hanya berpura-pura seperti tidak ada di sana.
Tapi ….
Kelakuan dari tuannya cukup membuat dirinya tersedak dengan ludahnya sendiri. Dari kursi yang dia duduki, terlihat jelas Revon mencium dengan penuh hasrat Rose yang masih duduk di kursinya.
Desahan-desahan lirih Rose terdengar di telinga Robert.
Tuan! Apa kamu sengaja? Pikir Robert dengan menutup matanya.
"Revon … berhenti … oke fine. Aku ingin makan steak," bisik Rose dengan kesal yang bercampur malu. Dari ujung matanya dia bisa melihat Robert yang beranjak dari tempat duduknya dan menghilang di balik pintu.
"Pilihan yang tepat," ujar Revon dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Kamu membuat Robert pergi," kesal Rose sambil menata kembali pikirannya yang berkabut.
"Jangan hiraukan dia,"
"Apa kamu gila? Kamu sengaja ingin dia …."
"Jawabannya adalah tidak. Seperti yang kamu lihat, dia pasti akan pergi. Aku tidak cukup gila untuk mempertontonkan aksi panas kita,"
"Revon!" kesal Rose.
Revon hanya tersenyum dan membenarkan pakaiannya.
"Aku akan kembali," ujar Revon lalu berjalan ke arah dapur.
Setelah memesankan makanan untuk Rose, lelaki itu melihat Robert yang berada tidak jauh darinya sedang meminum wine. Dan wine itu adalah wine yang sengaja dia bawa untuknya sendiri.
"Kamu meminum wineku?" ujar Revon.
"Ini adalah reward atas kejadian tidak terduga tadi. Tuan," jawab Robert lalu meneguk kembali wine yang masih penuh di gelas.
"Setelah sekarat untuk yang ke-3 kalinya kamu semakin bernyali juga. Apa kamu sudah tidak takut mati?"
"Rasanya, aku ingin sekali menghapus senyuman di wajahmu,"
"Anda sangat romantis sekali,"
"Robert. Lakukan semua tugasmu dengan benar. Jangan mati sebelum semua tugasmu selesai," ujar Revon yang seketika membuat Robert menghilangkan senyumannya.
Robert menatap Revon yang berjalan semakin menjauh meninggalkan dia dengan beban tugas yang entah sudah seberat apa.
•••
"Silahkan dinikmati, Mrs. Dent," ujar koki yang memasak steaknya.
"Terimakasih," Rose menjawab dengan ramah.
Tanpa berlama-lama, koki itu pun pergi meninggalkan mereka berdua.
"Makan yang banyak. Setelah ini aku akan memakanmu," ujar Revon yang membuat Rose menghentikan tangannya yang mengiris daging.
Revon mengambil piring steak Rose dan mengiris daging steak menjadi potongan kecil-kecil.
"Rileks, Bae. Aku hanya bercanda," Revon bersuara dengan lembut sambil memberikan piring steaknya kembali.
"Aku tidak apa-apa jika kamu ingin minum darahku, tapi jangan mengatakan itu di depan orang lain,"
"Baiklah, Bae. Everything for you,"
•••
"Hmm …." Rose menikmati ciuman panas yang Revon berikan.
Kini mereka berdua sudah berada di kamar yang ada di pesawat jet. Setelah mengobrol cukup lama, Revon akhirnya mengajak Rose untuk masuk ke kamar.
Dengan cepat Revon mengunci pintu dan membaringkan Rose di atas ranjang. Jari-jarinya membelai lembut leher jenjang wanita itu.
Ciuman Revon semakin lama semakin turun, dari dagu hingga ke rahang lalu berakhir di leher. Revon menggigit leher Rose, erangan nikmat keluar dari mulut Revon. Darah segar mengalir ke kerongkongannya.
Rose merasakan gejolak panas di tubuhnya. Dia mulai mendesah saat merasakan Revon yang semakin merapatkan tubuhnya. Dia bisa merasakan sesuatu yang menonjol di bawah sana.
Setelah cukup mengambil darah wanita itu, Revon menjilat luka gigitannya untuk menghilangkan bekas.
Revon kembali menciumi tubuh Rose sambil membuka satu persatu pakaian wanita itu. Setiap saat, Revon menatap intens mata Rose seakan ingin menambah gejolak gairahnya agar lebih membara.
Dan benar saja, Rose tiba-tiba bangkit dari posisi tidurnya dan mulai melepas kemeja Revon dengan perlahan. Rose mencoba mengeksplor tubuh Revon dengan seksama.
"Haahh … Hmm ... Rose, sekarang giliranku," ujar Revon dengan nafas yang tidak beraturan.
Lelaki itu mendorong tubuh Rose agar berbaring di ranjang. Bibir mereka kembali menyatu memberikan ciuman panas satu sama lain.
Tanpa berlama-lama, Revon melucuti celananya dan memasukkan juniornya dengan sekali hentakan.
"Aaahh …. " desah Rose ketika merasakan hentakan kasar dari Revon.
Revon bergerak dengan ritme cepat, membuat Rose mencengkram erat bahunya hingga kuku-kuku wanita itu menancap di kulitnya.
"Revon … Eenggh … Aahh …."
"Haah … Rose …. "
Rose menutup mata menikmati sensasi yang menjalar dari ujung kaki hingga ujung kepalanya. Desahan-desahan keluar dari mulutnya dengan bebas.
Wanita itu merasa sudah dekat dengan puncak kenikmatan. Tubuh Rose perlahan menegang, membuat Revon semakin bersemangat.
"Eemhh … Revon," desah Rose saat mencapai puncak kenikmatan.
"Aahh … Rose," desah Revon kemudian menyusul Rose.
Revon memeluk Rose dan menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. Berulang kali Revon mengecup kening wanita itu hingga membuatnya tertidur.