
Lagu yang di rekomendasikan 🎶
(Heaven by Julia Michaels)
All wrapped in one he was so many sins
Would have done anything, everything for him
And if you ask me I would do it again
No need to imagine
'Cause I know it's true
They say, "All good boys go to heaven"
But bad boys bring heaven to you
It's automatic
It's just what they do
They say, "All good boys go to heaven"
But bad boys bring heaven to you
You don't realize the power they have
Until they leave you and you want them back
Nothing in this world prepares you for that
•••
Rose POV
"Revon.. " Ujarku sambil menahan desahan yang ingin keluar dari mulutku.
Dia mencium bibirku dengan kasar. Tangannya menelusuri pahaku dan menyingkap gaunku.
Menarikku mendekat ke tubuhnya dan merasakan juniornya yang mengeras di bawah sana.
Sekejap dia menjauh untuk melepas dasi dan jas yang masih melekat di tubuhnya.
Membuka dengan paksa kemeja putihnya hingga membuat kancingnya terlepas.
Saat kemaja sudah terlepas, aku melihat tubuhnya yang sempurna.
"Aku ingin meminum darahmu... Tapi.. Oh god..." Ujar Revon yang terlihat frustasi.
"Honey! Aku percaya kamu tidak akan sampai membunuhku. Jadi lakukan... sekarang!" Ujarku dengan nafas yang masih memburu.
Aku tidak ingin ini berakhir di tengah jalan. Aku ingin dia. Dan mungkin aku bisa membantunya memenuhi rasa hausnya daripada pramugari jal*ng itu. Pikirku dengan tenang.
"Are you sure? Itu akan sedikit menyakitkan..." Belum selesai Revon berbicara aku sudah membungkamnya dengan ciumanku.
Dengan mudah dia mengambil alih ciuman dan membuatku hilang akal. Jari-jarinya memberikan sentuhan ringan ke sisi tubuhku. Membuatku mendesah di sela-sela ciuman.
Saat tanganku ingin menyentuh rambutnya, dia dengan cepat menjauhkan tanganku lalu menggenggamnya di atas kepalaku.
Perlahan ciumannya beralih ke rahangku dan berlanjut ke leherku. Dia sedikit menggodaku dengan menggigit kecil teligaku.
"Aahh..." Desahan yang keluar dari mulutku. Aku mendongakkan kepalaku untuk memberinya akses lebih banyak.
Dan seketika aku merasakan sakit di leherku seperti tertusuk jarum. Sebenarnya tidak terlalu sakit namun membuatku semakin bergairah dan panas menjalar ke seluruh tubuhku.
Aku bisa merasakan dia menghisap darahku dengan rakus. Jari-jariku menggenggam erat tangannya. Tubuhku menggeliat tidak karuan.
Merasakan itu, Revon semakin menghimpitkan tubuhnya agar membuatku tidak bisa bergerak.
Perlahan dia menggesekkan bagian bawahnya ke titik sensitifku membuat nafasku semakin memburu. Desahan pun keluar dari mulutku untuk ke sekian kalinya.
"Aahh... "
Dia pun menggeram ketika merasakaan tubuhku yang masih tidak bisa diam.
Kenapa rasanya senikmat ini? Apakah memang seperti ini rasanya saat darah dihisap oleh vampir? Pikirku dengan menggigit bibir.
Semakin lama, aku merasa kepalaku pusing dan tenagaku mulai menurun. Aku mencoba memanggil Revon karena mungkin dia terlalu banyak mengambil darahku.
"Revon.. cukup.. kepalaku mulai pusing.." Ujarku dengan suara serak.
Namun dia tidak meresponku dan masih menghisap darahku. Aku pun mulai panik.
"Revon. Revon.. Revon!? Stop!" Ujarku dengan teriak.
Kepalaku pusing dan pandanganku mulai kabur. Aku harus menghentikan dia.
Aku mencoba menggerakkan tubuhku, tapi tenagaku melemah dan sangat tidak sepadan dengan tenaga Revon.
Jari-jariku menggenggam tangan Revon dengan sangat kuat hingga kuku-kukuku menembus kulitnya.
Apakah ini berhasil? Pikirku dengan cemas.
Tidak. Dia masih menghisap darahku, bahkan aku bisa mendengar suara di setiap tegukan.
Tenagaku sudah habis, mataku sangat lelah. Aku tidak bisa melakukan apapun lagi selain berpikir.
Ya, itu! bagaimana kalau memanggilnya melalui pikiran?!
Saat Stevan mencoba memperkosaku, aku memikirkan Revon dan meminta bantuannya. Lalu tidak lama kemudian, dia datang untuk menyelamatkanku.
Aku harus mencobanya.
Revon! Honey! Stop! Kamu sudah menghisap darahku terlalu banyak. Aku rasa... aku akan... pingsan... Pikirku sebelum kegelapan menghampiriku.
•••
Saat ini penampilannya sangat berantakan. Rambut yang acak-acakan karena rasa frustasinya.
"****! Aku sudah terlalu banyak mengambil darahnya. Tapi aku sudah meminumkan darahku kepadanya.. dan juga sihir penyembuhan. Kenapa dia masih belum sadar juga? " Ujar lelaki itu dengan frustasi.
Ya. Lelaki yang sejak tadi mondar-mandir dengan raut wajah cemas adalah Revon.
Setelah dia mendengar samar-samar suara Rose yang mengatakan untuk berhenti karena dia sudah terlalu banyak menghisap darahnya, seketika itu dia melepaskan gigitannya.
Dengan panik dia melihat Rose yang pingsan dengan wajah sangat pucat. Jarinya segera mengecek denyut nadi Rose yang lemah.
Dia menggigit pergelangan tangannya dan meminumkan darah yang menetes ke mulut Rose sambil melakukan sihir penyembuhan.
Beruntung kondisi Rose tidak parah dan sihir penyembuhan itu bekerja. Perlahan wajah Rose kembali seperti semula.
Tiba-tiba Rose terbangun dengan mata terbuka lebar dan posisi duduk tegak. Sontak Revon berhenti dan menatap wanita di depannya.
"Thanks god. Kamu sudah sadar. Bagaimana perasaanmu? Apa ada yang sakit?" Tanya Revon sambil mendekat ke arah Rose.
Rose hanya diam dan menatap Revon.
"Bae, please say something!..." Ujar Revon dengan cemas.
Namun Rose malah beranjak dari ranjang dan pergi ke kamar mandi. Dia berdiri di depan kaca kamar mandi dan mengecek lehernya.
"Aku sudah menghilangkan bekas gigitannya." Ujar Revon yang sudah berada di belakang Rose.
"Aku punya pertanyaan untukmu." Ujar Rose dengan suara serak.
"Yeah, katakan saja. Aku akan menjawabnya." Ujar Revon dengan raut wajah yang masih cemas.
"Bagaimana rasanya ketika digigit?" Tanya Rose dengan serius.
"Kenapa kamu bertanya padaku? Bukankah kamu sudah tahu bagaimana rasanya?" Tanya Revon balik.
"No, i mean.. Apa rasanya seperti.. membuat orang itu bergairah dan panas di seluruh tubuhnya?" Ujar Rose dengan pipi yang memerah.
Mendengar itu, Revon sedikit terkejut dan bibirnya terbuka.
"Apa itu yang kamu rasakan saat aku menggigitmu?" Tanya Revon sambil berjalan mendekat ke Rose. Kini dia berdiri tepat di belakang wanita itu.
Rose menatap Revon dengan pipi yang memerah. Sedangkan lelaki itu menatapnya dengan intens seperti ingin melahapnya.
"Ya." Jawab Rose singkat.
Revon tampak berpikir sejenak lalu berkata,
"Sebenarnya aku tidak tahu juga. Tapi selama ini.. orang akan teriak dan ingin lepas saat vampir menggigitnya. Mungkin aku bisa meminta pesan dan kesan nanti kepada orang yang aku gigit?" Ujar Revon dengan menaikkan kedua bahu.
Rose memutar mata mendengar perkataan dia yang terdengar konyol.
"Jadi.. kamu sudah tidak apa, kan?" Ujar Revon sambil memeluk Rose dari belakang.
Rose memberanikan diri untuk mencium Revon terlebih dulu. Dia sedikit memiringkan kepalanya agar bisa mencium lelaki itu.
Dengan cepat, Revon memutar tubuh Rose sehingga mereka saling berhadapan dan lelaki itu memperdalam ciumannya.
Tangannya mengangkat tubuh Rose, secara naluri wanita itu melingkarkan kakinya di pinggang Revon.
"1 jam lagi pesawat akan landing. Jadi.. untuk menghemat waktu. Mari mandi bersama." Ujar Revon di sela-sela ciuman.
Rose hanya tersenyum dan kembali mencium Revon. Tiba-tiba Revon menghentikan ciuman dan menurunkan wanita itu.
"Lepas gaunmu." Ujar Revon sambil membuka celana yang masih melekat di tubuhnya.
Setelah sama-sama tidak tertutupi sehelai benang pun, Revon menyalakan shower dan langsung mendaratkan ciuman panas ke Rose.
Dengan mudah, lelaki itu mengangkat tubuh Rose dan memojokkannya ke dinding. Air membasahi tubuh mereka namun itu tidak memadamkan api yang sedang membara.
Tanpa aba-aba Revon memasukkan juniornya yang tegang membuat Rose terkejut dan membuka mata menatap Revon yang menggeram dalam.
"Aahh.."
"Aku sangat-sangat menunggu saat-saat seperti ini.. Shit! You are perfect, bae. Haah.." Ujar Revon sambil bergerak perlahan menikmati sensasinya.
"Revon... Hmm.. " Ujar Rose yang seketika terbungkam oleh ciuman Revon.
Semakin lama, Revon semakin mempercepat ritmenya. Nafas mereka pun tidak beraturan.
"Aahh.. Revon.." Ujar Rose saat akan sampai puncaknya.
"Yes! bae." Ujar Revon yang menggigit kecil leher Rose untuk meninggalkan tanda kepemilikan.
Tidak lama kemudian, mereka sama-sama mencapai puncak kenikmatan.
Revon menurunkan tubuh Rose dan mulai membersihkan wanita itu. Pikiran Rose masih berkabut sehingga dia hanya diam membiarkan Revon melakukannya.
"I love you, bae." Bisik Revon di telinga Rose.
Wanita itu tersenyum dan menutup mata, menikmati tangan Revon yang memijat beberapa bagian tubuhnya dengan lembut.
"Do you like it?" Tanya Revon yang memeluk Rose dari belakang.
"Yes!"
"Hmm.. okay. Turn around. Aku ingin kamu melakukan apa yang aku lakukan tadi." Ujar Revon dengan smirk.
Rose tersenyum manis dan mulai menuang sabun di tangannya. Perlahan dia mengoleskan sabun sambil menggoda lelaki itu.
Nafas Revon mulai tidak beraturan dan matanya menatap Rose intens.
"Cukup. Kita harus segera bersiap karena 20 menit lagi pesawat landing." Ujar Revon menghentikan tangan Rose yang bergerak dari leher ke dadanya.
Dengan enggan Rose menjauhkan tangannya dan keluar dari shower. Lalu setelah itu disusul Revon.