My Vampire CEO (After Death)

My Vampire CEO (After Death)
Chapter 27 - Telling you



Rose POV


Revon akhirnya menghentikan ciumannya. Aku masih menutup mataku, merasakan efek dari ciuman yang masih belum menghilang. Ciuman yang syarat akan cinta hingga merasuk ke dalam jiwaku yang terdalam.


Aku bisa merasakan deru nafasnya yang tidak beraturan. Dia menyatukan dahinya denganku, membuat hidung kami saling bersentuhan.


"I love you, Rose." Ujar Revon dengan suara lembut dan lirih.


"I love you too, Revon." Jawabku sambil membuka mataku.


Dan seketika aku terpana melihat tatapan lelaki itu. Tatapan yang lembut dan penuh cinta. Tidak lupa, senyuman manisnya masih setia menghiasi wajah tampannya.


"Lebih baik kita kembali ke meja sekarang karena makanan akan segera datang."


"Tapi aku belum lapar." Jawabku dengan mengangkat kedua alis.


Dia hanya diam dan mengajakku kembali ke meja.


"Kamu hanya memakan satu kue kecil itu. Rose, kamu belum makan dengan benar sejak pagi." Ujar Revon sambil mempersilahkanku duduk.


"Kamu ingin membuatku gemuk?"


"Tidak. Aku hanya ingin kamu makan dengan benar. Lagipula aku tidak keberatan jika kamu sedikit menambah berat badan." Ujar Revon dengan smirknya.


Yang benar saja! Aku tidak bisa menjadi model lagi jika berat badanku naik. Menyebalkan. Pikirku dengan kesal.


Tidak berapa lama, pelayan pun datang membawa makanan.



Tapi pelayan itu hanya membawa makanan untuk satu porsi. Aku menunggu pelayan pergi lalu aku bertanya kepada Revon yang sedang meminum winenya.


"Kenapa hanya aku yang makan? Kamu tidak makan?" Tanyaku dengan bingung.


"No. Aku tidak makan itu. Kamu terlihat lebih menggiurkan dari makanan itu." Jawab Revon dengan santainya. Aku hanya memutar mata mendengar perkataannya.


"Sejak kapan kamu berhenti makan makanan seperti ini?" Tanyaku lagi.


Ya, aku ingat jika Robert pernah mengatakan kalau dia dan Revon tidak makan makanan manusia lagi.


"Sejak bangkit lagi. Lidahku tidak bisa menerima rasa dari semua makanan manusia. Aku juga tidak tahu penyebabnya." Jawab Revon sambil memutar-mutar wine yang ada di dalam gelas.


"Ceritakan.. bagaimana kamu bisa.. bangkit kembali? You know, kamu tidak pernah membicarakan ini sebelumnya."


Aku melirik ke arah Revon yang terlihat diam dan sedang berpikir. Sambil menunggu, aku melanjutkan makanku sambil sesekali melirik ke arahnya.


Dia terlihat sedikit tidak nyaman. Jari-jarinya menelusuri helai-helai rambut hitamnya dengan perlahan. Pandangannya fokus ke arah lain, bukan kepadaku.


Apa dia tidak ingin menceritakannya padaku? Tapi kenapa? Pikirku.


"No. Aku akan menceritakannya, tapi habiskan dulu makananmu." Ujar Revon dengan menatapku.


"Baiklah"


Aku segera mempercepat acara makananku, hingga mulutku penuh dengan makanan.


"Jangan terburu-buru, bae. Kamu bisa tersedak." Pinta Revon dengan menatapku geli.


Setelah aku selesai makan, aku menatap lelaki itu kembali.


"Aku sudah selesai."


"Aku tahu, bae. Apa kamu siap mendengarkan?" Tanya Revon sambil menuangkan wine untukku.


"Sangat siap." Jawabku dengan menyesap wine.


"Okay.. Sebelumnya aku ingin bertanya padamu. Sampai mana kamu ingat kejadian waktu itu?" Tanyanya.


"Hmm.. aku ingat saat.. aku tidak bisa mengendalikan tubuhku dan.. menusuk tubuhmu berulang kali.. " Jawabku.


Nafasku terasa sesak dan jantungku berdegup kencang jika mengingat itu. Rasanya aku ingin menangis, tapi aku tidak mau membuat Revon khawatir.


"Setelah kejadian itu.. aku sudah tidak sadar. Sepertinya aku sudah mati waktu itu. Lalu entah bagaimana.. aku terbangun karena tetesan darah yang mengalir ke mulutku. Seketika aku membuka mata dan melihat beberapa remaja yang menatapku dengan tatapan terkejut. Aku tidak bisa berpikir jernih saat itu, aku merasa haus. Sangat haus hingga rasanya seluruh tubuhku terbakar. Lalu aku menatap salah satu remaja dengan tangan yang tersayat. Aku melihat darah dan seketika insting vampirku mengambil alih. Yang pasti, para remaja yang kira-kira 6 orang itu semua mati dengan darah yang terhisap habis. Aku sempat tidak percaya dengan apa yang aku lakukan. Tanganku penuh dengan darah segar dan baju yang aku pakai berubah menjadi merah karena darah. Tapi aku masih merasakan haus. Saat itu aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan mencoba mengenali ruangan itu. Ternyata itu semacam ruangan basement di pemakaman kuno yang berada di Roma, Italy. Tanpa sengaja mataku tertuju pada peti mati yang menjadi tempatku tadi. Peti mati itu dilapisi tulisan-tulisan kuno yang bisa menyegel vampir yang ada di dalamnya. Hanya manusia biasa yang bisa menyentuh dan menghapus tulisan-tulisan itu. Jadi aku beranggapan bahwa itu perbuatan dari remaja-remaja tadi.. Aku menyesal karena sudah membunuh mereka yang aslinya adalah penolongku.." Ujar Revon dengan wajah muram.


Aku mencoba untuk menenangkan dia dengan menggenggam tangannya yang ada di atas meja.


Ini bukan salahnya! Aku yang salah disini sudah membuat dia menjadi seperti itu. Pikirku.


"Ini salahku.. Kalau saja aku tidak melakukan hal itu.. kamu pasti baik-baik saja.." Ujarku dengan suara yang mulai serak.


Setetes air mata pun turun membasahi pipiku. Revon menatapku dan menggenggam tanganku erat.


"Tidak. Kamu tidak salah, bae. Ini semua ulah lelaki brengsek itu. Stevan!" Ujar Revon dengan tidak terima.


Dia menghapus air mataku dan berkata,


"Okay. Cukup berceritanya.. Ini di luar rencanaku membuatmu menangis seperti ini. Ayo kita pulang." Ujar Revon sambil mengajakku berdiri dan pergi dari restaurant.


•••


Saat di perjalanan menuju Airport, Revon sudah menghubungi pilot untuk bersiap mengantar mereka kembali ke Brittany.


Rose yang saat ini ada di sampingnya tengah tertidur di bahunya. Agar lebih nyaman, dia mengubah posisi wanita itu agar tidur di pangkuannya. Mendekapnya dengan pelukan hangat tubuhnya.


"Kamu tidak salah, Rose. Kamu tidak salah sama sekali.." Gumam Revon sambil mengusap pipi wanita itu dengan lembut. Lelaki itu mencium dahi Rose dengan sayang.