
Braaakk
Semua barang di ruang kerja Revon terpental ke dinding karena suatu kekuatan sihir yang kuat. Aston yang sedang memegangi buku milik Revon pun ikut terpental ke dinding dengan keras.
Apa yang sedang terjadi?
Revon menggunakan kekuatannya untuk membuat Teresa tertidur, namun masih bisa berkomunikasi hanya dengan lelaki itu. Di sebuah single sofa, Teresa yang sedang tertidur masih terlihat baik-baik saja.
Lalu Revon mendekat ke sofa yang ditempati Teresa, menundukkan sedikit tubuhnya dan membisikkan sesuatu di telinga wanita itu. Sedangkan Aston yang sejak tadi hanya sebagai penonton, Revon memintanya untuk mencari sesuatu yang kalimat yang berhubungan dengan penyihir dan segel kekuatan.
Ya, Revon mengetahui jika Aston bisa membaca buku itu karena tadi Aston menyebutkan judul yang ada di sampul buku itu.
"Apa kamu sudah menemukannya?" tanya Revon tanpa mengalihkan fokusnya ke Teresa.
"Belum. Tulisan ini terlalu banyak hingga membuat mataku terasa kabur," jawab Aston yang masih membuka beberapa halaman.
"Sepertinya kamu bukan salah satu kutu buku di sekolah," ujar Revon lagi.
"Apa wajahku terlihat seperti kutu buku, huh?" kesal Aston sambil menatap punggung Revon dengan tajam.
"Kamu lebih terlihat seperti murid populer di sekolah yang sering membuat ulah," ujar Revon dengan smirknya. Namun Aston tidak dapat melihat itu.
"Ck, sebenarnya kamu ingin aku membaca buku tebal ini atau mendengarkan ocehanmu?" keluh Aston dengan alis yang berkerut.
Revon hanya tersenyum dan menutup mulutnya. Dia sudah cukup menghibur diri dengan mengganggu Aston.
Selang beberapa detik, Teresa mulai tidak tenang. Dalam tidurnya, wanita itu terlihat gelisah dan alisnya berkerut seperti sedang mendapatkan penglihatan yang tidak mengenakkan baginya.
Aston melirik ke arah Teresa sejenak, lalu kembali membaca tulisan-tulisan yang ada di buku karena masih belum juga menemukan kata penyihir dan segel kekuatan dalam suatu kalimat atau paragraf.
Revon kembali membisikkan sesuatu di telinga Teresa. Wanita itu semakin tidak bisa diam, jari-jarinya mencengkram lengan sofa dan dia menggelengkan kepala dengan kasar seperti ingin menghilangkan sesuatu yang ada di dalam kepalanya.
Bulir-bulir keringat membasahi kening Teresa. Nafasnya pun sudah tidak beraturan.
Lalu tiba-tiba ….
Sesuatu yang tak terlihat oleh mata dan diyakini oleh Revon berasal dari tubuh Teresa membuat seluruh barang yang ada di ruang kerja Revon terpental ke dinding. Termasuk Aston yang sedang membaca buku.
Namun tidak dengan Revon, dia masih berada di tempatnya semula. Masih fokus dengan Teresa.
Sepersekian detik, Revon tertarik ke dalam kenangan yang sedang berputar di kepala Teresa. Lelaki itu terkejut akan satu hal.
Revon melihat lelaki yang sangat dia kenal dan paling dia benci ternyata memiliki sesuatu hubungan dengan Teresa.
Revon segera berdiri dan mengambil buku yang masih berada di tangan Aston.
"Apa itu tadi?" tanya Aston dengan wajah meringis kesakitan.
Revon tidak menjawab, dia membantu Aston bangun lalu berkata, "Segelnya sudah berhasil terbuka," ujarnya sebelum pergi dari ruangan itu meninggalkan Aston dan Teresa.
•••
Sinar mentari telah kembali ke peraduannya, memberikan tempat kepada Sang Rembulan untuk menunjukkan eksistensinya.
Terlihat lelaki tampan dengan raut wajah tegang sedang berdiri menyandar di balkon kamarnya. Kepulan asap rokok keluar dari bibirnya dengan bebas.
Pandangannya tertuju kepada taman bunga yang berada di seberang kamarnya. Namun pikirannya sedang tertuju kepada hal lain.
"Apa hubungan dia dengan lelaki gila itu?" gumam Revon.
"Lelaki gila? siapa?" tanya Rose yang membuyarkan lamunan Revon.
Dia terlalu larut dengan pikirannya hingga tidak menyadari Rose yang masuk ke kamarnya. Wanita itu sejak tadi mencari-cari keberadaan Revon yang ternyata sedang ada di kamarnya.
"Aku mencarimu sejak tadi, ternyata kamu di sini," ujar Rose dengan raut wajah cemberut.
Rose mendekat ke arah Revon dan menatap sesuatu yang terlihat tidak biasa dari lelaki itu.
Seakan tahu arti tatapan Rose, lelaki itu menjawab, "Aku memang jarang merokok, hanya saat benar-benar ingin saja," jawab Revon sambil mematikan rokoknya.
"Kenapa kamu tidak bilang jika berhasil membantu Teresa membuka segel kekuatan sihirnya?" Rose terlihat marah.
"Maaf, Bae. Aku hanya sedikit lelah setelah membantu Teresa, jadi aku istirahat di kamar. Jangan marah Bae,"
"Kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu, kan?"
Revon memeluk Rose lalu menciumi pelipis wanita itu dengan lembut.
"Tidak ada yang aku sembunyikan darimu, Bae,"
"Hmm ... Aku senang Teresa sudah bisa memakai kembali sihirnya. Tadi aku melihat dia sudah mulai melakukan perawatan kepada Erica dibantu Aston," ujar Rose dengan lirih. Wanita itu menikmati aroma khas tubuh Revon. Rasa marahnya sudah menguap seketika.
"Ya, aku juga senang. Apa kamu masih ingin membaca buku bersama?" ujar Revon.
Rose mengangguk dengan antusias mendengar itu. Revon pun mengajak Rose duduk di atas ranjang lalu membuka buku kuno itu untuk membacanya bersama.