
Satu persatu, Erica mulai melepas pakaian Rose. Mulai dari gaun tidur yang dia pakai, lalu lanjut ke pakaian dalamnya. Saat jari-jari Erica menyentuh kulit Rose, dia bisa merasakan rasa dingin hingga terasa seperti memegang es.
"Sudah berapa lama dia tidak sadar?" Tanya Erica kepada Revon yang berdiri mengamati di belakangnya.
"2 minggu lebih 5 hari." Jawab Revon dengan datar.
Erica mengangguk lalu mulai memeriksa seluruh tubuh Rose, dari kepala sampai ujung kaki kulitnya sangat pucat dan dingin. Mengingatkannya dengan mayat yang berada di lemari pendingin rumah sakit.
Saat menyusuri tangannya, dia berhenti di luka sayatan yang ada di telapak tangannya. Terdapat pola aneh yang terbentuk dari sayatan itu.
Setelah melihat cukup lama sambil berpikir, Erica merasa pernah melihat pola itu. Namun lupa dimana dia menemukannya.
"Pola ini..." Gumam Erica sambil membolak-balikkan telapak tangan Rose.
"Apa kamu pernah melihatnya?" Tanya Revon dengan tiba-tiba.
Erica tampak berpikir dan diam sejenak. Dia tidak mengingatnya dengan jelas, tapi dia pernah melihat pola itu.
"Hmm.. aku tidak yakin, tapi sepertinya aku pernah melihat pola ini." Ujar Erica dengan alis yang berkerut karena berpikir keras.
Setelah beberapa menit, dia menyerah dan memilih untuk memikirkannya lagi nanti.
"Aku tidak bisa mengingatnya.. " Ujar Erica memecah keheningan.
"Apa ada sesuatu yang bisa membuatmu ingat? Katakan padaku! Aku akan mencarinya ke seluruh dunia sekalipun." Ujar Revon.
Erica tidak menjawab dan dia mulai memakaikan kembali baju Rose. Setelah itu dia membaringkannya dengan nyaman dan menutupi tubuhnya dengan selimut tebal.
Setelah itu Erica beranjak dari ranjang dan berjalan menuju keluar pintu. Tepat sebelum dia memegang knop pintu, Revon menghentikannya.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku." Ujar Revon yang sedang berdiri di depan pintu.
"Bisakah kamu memberiku sedikit waktu berpikir? Jeez, aku baru saja sampai. Aku harus memulihkan energiku." Ujar Erica dengan kesal.
Setelah mendengar itu, Revon menghembuskan nafas kasar beralih dari posisinya dan memberi Erica jalan.
Cklek.
Pintu kembali tertutup dan Erica meninggalkan Revon di kamar itu.
•••
Erica POV
Saat berjalan menuju ke ruang tamu, aku berpapasan dengan Robert. Dia membawa beberapa dokumen di tangannya. Lalu dia berhenti tepat di depanku dan bertanya,
"Apa kamu membutuhkan sesuatu?"
"Aku hanya haus." Ujarku.
"Biar aku ambilkan. Kamu mau minum apa?"
"Aku ingin teh melati. Apa kamu punya?" Tanyaku dengan gugup.
"Ah, aku hanya punya teh biasa. Lain kali aku akan membelinya untukmu." Ujar Robert dengan serius.
"Tidak usah. Teh biasa saja kalau begitu." Ujarku.
"Baiklah. Aku akan membawanya ke kamar Rose."
"Ah, aku sudah selesai berbicara dengan Revon mengenai Rose. Jadi aku tidak akan berada di sana lagi."
Robert terlihat tersenyum dan matanya berbinar seperti sedang memikirkan sesuatu yang menyenangkan.
"Kalau begitu, tunggu disini sebentar. Aku akan memberikan dokumen ini ke Revon lalu aku akan mengajakmu ke dapur." Ujar Robert dengan antusias lalu berjalan cepat ke arah kamar Rose.
Kenapa juga aku harus menurutinya? Pikirku dengan bingung.
"Mari. Sekalian aku akan mengajak kamu berkeliling rumah. Maaf, bolehkan aku berbicara tidak formal seperti ini?" Ujar Robert sambil menatapku dan kami pun mulai berjalan beriringan.
"Tentu boleh." Ujarku dengan santai.
Saat kita sampai di ruang tamu, disana terlihat Alex dan teman-temannya sedang memakan snack hingga remah-remahannya jatuh berceceran. Selain itu ada juga botol minuman dingin yang sudah habis tergeletak di bawah meja.
Aku melihat tingkah mereka yang termasuk menjengkelkan itu.
Bagaimana bisa mereka membuat rumah orang seperti kapal pecah seperti ini? Pikirku dengan memutar mata.
"Yang benar saja! Kalian menjarah kulkasku, huh?! Dan lihat! kalian membuat kacau ruang tamuku?! " Ujar Robert dengan kesal.
"Aku lapar.. Jadi aku mencari makanan di dapurmu dan menemukan ini semua di kulkas. Lagipula bukannya kalian tidak memakan makanan manusia?" Ujar Dean dengan santainya.
Dean menyuapkan snack dengan lahap ke mulutnya. Sedangkan Lee sibuk bermain game di ponsel, karena bisa dilihat dari posisi ponselnya menjadi horizontal.
Lalu Alex sendiri sedang meminum minuman yang ada di tangannya sambil menaikkan kaki di atas meja layaknya pemilik rumah.
Pemilik rumah bahkan tidak seperti dia. Pikirku.
Robert memijat pelipisnya dan memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Dean. Seperti tersadarkan dari pikirannya, dia tiba-tiba menoleh kepadaku dan tersenyum miris.
"Lebih baik kita melanjutkan jalan saja." Ujar Robert lalu berjalan ke arah kanan dari ruang tamu.
"Apa mereka memang sering kesini?" Tanyaku kepada Robert.
Sekarang kita sudah sampai di dapur. Peralatan masak terlihat seperti jarang dipakai dan meja makan yang sangat bersih.
"Mereka kedua kalinya datang kesini. Pertama mereka membuat keributan karena ingin bertemu Rose, tapi tentu saja mereka bukan tandingan Revon. Kedua, kamu lihat sendiri seperti apa." Ujar Robert sambil menaikkan kedua bahunya.
"Bagaimana kalau Revon sampai melihat mereka membuat ruang tamunya kacau?"
"Haha.. Itu akan menjadi tontonan bagus..."
"Jangan senang dulu.. pasti nantinya kamu akan diminta membereskan kekacauannya."
Robert hanya tertawa dan memasak air untuk menyeduh teh. Aku duduk di kursi makan sambil terdiam memikirkan pola tadi yang ada di tangan Rose.
Dimana aku melihat pola itu? Hmmm.... Pikirku dengan alis berkerut.
"Erica? Erica?..." Samar-samar aku mendengar Robert memanggilku. Sontak aku tersadar.
"Ya?"
"Kamu ingin gulanya berapa sendok?" Tanyanya dengan mengangkat sendok sejajar dengan kepalanya.
"Ah, 2 sendok saja." Jawabku dengan tersenyum.
"Hmm.. manis." Ujarnya.
Aku menatapnya dengan tatapan penuh tanya.
Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Pikirku mencoba tenang.
Setelah selesai membuat teh, dia berjalan mendekatiku dan duduk di kursi yang ada di sampingku. Tubuhnya sedikit menyerong menghadapku. Dia membuat 2 cangkir teh rupanya.
"Silahkan." Ujar Robert dengan tersenyum. Dia memberikan cangkir satunya di depanku.
Aku tersenyum dan menerima tehnya. Rasa hangat dari tehnya menjalar ke telapak tanganku. Perlahan aku mendekatkan cangkirnya ke bibirku. Tepat sebelum aku meminum tehnya, tiba-tiba terdengar suara sesuatu yang terbentur dengan keras.
Aku kembali meletakkan cangkirnya di meja dan menatap Robert dengan penuh tanya. Dia juga terlihat terkejut dan cemas.
Suara apa itu?