
Beberapa minggu pun berlalu. Sejak kejadian Teresa yang ingin berniat buruk kepada Rose membuat Revon menjadi lebih waspada kepada siapapun. Revon tidak akan meninggalkan Rose bersama orang-orang yang tidak dia percaya.
Untuk itu, Revon selalu berusaha membuat Rose untuk tetap berada di jangkauannya. Seperti saat ini, Revon membawa Rose untuk ikut ke pertemuan sebelum pelaksanaan Fashion Week di Paris.
"Apa pertemuannya akan memakan waktu lama?" tanya Rose.
Revon masih fokus membaca beberapa dokumen yang berada di meja kantornya. Baru sepuluh menit mereka sampai di kantor dan Rose sudah merasa bosan. Sudah kesekian kali Revon mengajaknya untuk ikut ke kantor, hanya untuk melihat lelaki itu sibuk dengan pekerjaannya.
Setiap Rose menolak untuk ikut, Revon pasti akan mengatakan jika dia tidak ingin kejadian Teresa terulang lagi. Tepat setelah Revon membahas tentang itu, Rose hanya bisa diam dan mau tidak mau harus menuruti Revon.
Cklek.
Robert masuk ke dalam ruangan. Saat melihat Rose, Robert pun menyapanya. "Nyonya."
"Jangan memanggilku seperti itu. Sudah berulang kali aku katakan untuk memanggilku–'
Revon berhenti membaca dokumen. "Apa mereka sudah datang?"
"Ya, Mr. Dent."
"Aku akan segera kesana," ucap Revon. Robert pun berjalan keluar dari ruangan.
Rose menatap Revon dengan kesal. Dia kesal karena Revon memotong ucapannya.
"Kenapa kamu tidak membiarkanku menyelesaikan ucapanku kepada Robert?"
"Bae, kita sudah pernah bicarakan ini. Robert melakukan sesuai perintahku. Kamu tidak perlu merasa tidak nyaman," jelas Revon.
"Tapi itu terdengar menggelikan di telingaku."
Revon tersenyum. "Kamu harus terbiasa. Lagipula dia mampu menyesuaikan situasi."
Revon merapikan dasi dan jas yang dia kenakan. Rose menatap Revon dengan tajam.
"Apa lagi, Bae?"
"Kamu tidak menjawab pertanyaanku tadi," cebik Rose.
"Sepertinya akan memakan waktu cukup lama. Jika kamu butuh sesuatu, kamu bisa panggil Robert. Jangan keluar dari ruangan ini sampai aku kembali. Okay?"
"Berapa lama? 1 jam? 2 jam?"
Revon tidak menjawab dan berjalan menuju pintu. Sebelum Revon keluar, Rose menarik tangan lelaki itu. Revon tertawa kecil lalu mencium kening Rose. "Aku akan kembali nanti."
•••
Rose yang sangat bosan sudah tidak tahu harus bagaimana lagi. Wanita itu sudah memesan beberapa makanan secara online. Di meja sudah terisi spaghetti, croissant, chocolate mousse lemon tea dan iced coffee latte untuk menamaninya menunggu Revon. Tapi setelah semua makanan dia habiskan, Rose kembali merasa bosan.
Rose terpikirkan untuk keluar dari ruangan, tapi ternyata di luar pintu ada Robert yang berjaga di meja kerjanya.
"Aku akan pergi ke studio di bawah," ucap Rose.
"Nyonya, mohon untuk tetap di dalam," pinta Robert.
"Robert, hanya sebentar saja. Aku akan menemui Wen disana."
"Nyonya. Mr. Dent akan memarahi saya jika tahu anda keluar."
"Kita bisa rahasiakan ini. Bagaimana?"
"Nyonya! Silahkan kembali," tolak Robert sambil mengantar Rose kembali masuk ke ruangan Revon.
Akhirnya Rose masuk ke dalam ruangan lagi. Rose duduk di sofa dan menghela nafas panjang. Wanita itu bermain ponselnya, lalu tidak lama dia melempar ponselnya ke sofa.
"Sudah 1 jam berlalu, tapi kenapa Revon belum kembali?!" keluh Rose.
Rose mengacak-acak rambutnya kesal. "Tapi, itu akan semakin membosankan. Aku tidak bisa bergerak sesukaku jika aku ada di ruang meeting."
Tiba-tiba Rose menemukan suatu ide yang mungkin bisa membuat Revon kembali ke ruangan lebih cepat. Rose melihat ke arah pintu selama beberapa menit, lalu Rose berlari ke kamar mandi. Wanita itu merapikan rambutnya yang acak-acakan.
Setelah memastikan wajahnya terlihat fresh dan cantik, Rose melepas beberapa kancing kemeja putih yang dia pakai. Kemeja itu terbuka hingga setengahnya. Lalu dia mengambil foto di depan cermin dengan berbagai pose. Dia memilih satu foto yang paling menarik di antara foto lain dan mengirimkannya ke Revon melalui pesan.
Rose
*foto terkirim*
^^^Revon^^^
^^^Jangan memancingku!^^^
Rose
Bosan 🙃
Bagaimana kira-kira jika aku keluar ruangan seperti ini?
Rose menunggu balasan dari Revon. Tapi setelah beberapa menit, tidak ada balasan dari lelaki itu. Revon hanya membiarkan pesan terbaca tanpa membalasnya.
"Menyebalkan!" gerutu Rose.
Brak.
Rose seketika menatap pintu kamar mandi yang terbuka dengan kasar. Tapi bukan itu yang membuat Rose terkejut, melainkan Revon dengan raut wajah yang sangat tegang. Simpul dasi yang sudah terlepas dan dua kancing kemeja yang terbuka.
"Katakan itu sekali lagi?" pinta Revon. Lelaki itu melepaskan jasnya sambil melangkah perlahan mendekat ke arah Rose.
Rose menelan ludah. Wanita itu tidak bisa mengeluarkan suaranya. Dalam hati dia senang karena rencananya berhasil membuat Revon kembali. Tapi disisi lain, Revon terlihat tidak baik-baik saja dan itu membuatnya agak takut.
Revon memerangkap tubuh Rose diantara wastafel. "Kenapa kamu menjadi diam? Aku datang kesini, aku ingin mendengar dengan jelas apa yang kamu katakan."
Rose berbalik untuk menghadap ke cermin, dia bisa melihat Revon lebih jelas. Raut wajah Revon bukan marah, itu membuat Rose tenang.
"Bosan. Bagaimana kira-kira jika aku keluar ruangan seperti ini?" ulang Rose.
Revon tertawa kecil mendengar itu. Lelaki itu semakin mendekatkan tubuhnya dengan Rose dan menghimpitnya. Rose bisa merasakan sesuatu yang sudah tegang di bawah sana. "Itu tidak akan terjadi. Aku tidak akan membiarkanmu keluar dari ruangan ini."
Tangan Revon mulai melakukan eksplorasinya. Dari bibir Rose lalu turun menuju lehernya. Revon sedikit mencengkram leher Rose dengan satu tangannya.
"Ingat, Rose. Aku tidak suka berbagi apa yang sudah menjadi milikku. Milikku, hanya akan menjadi milikku," bisik Revon.
Rose membuka suara, wanita itu untuk pertama kalinya menampilkan smirk. "Apa kamu juga suka mengabaikan apa yang sudah menjadi milikmu?"
Revon terkekeh lalu membalik tubuh Rose agar wanita itu bisa duduk di atas wastafel. Revon membuka paksa kemejanya hingga beberapa kancing terlepas.
"Aagghh!"
Hentakan pertama. Rose mencari pegangan agar dirinya tetap bisa mengimbangi. Dia tahu apa yang dilakukan Revon. Rose sadar dia sudah membakar api, dan api itu menyala dengan cepat. Hentakan kedua, ketiga, dan hentakan lainnya berdatangan. Dalam dan cepat.
"Rev ... aahh."
Revon menatap Rose dengan intens. Lelaki itu bisa merasakan bagian terdalam Rose seakan menyambutnya dengan kehangatan. Revon semakin mendekatkan tubuhnya hingga benar-benar saling menempel dengan Rose.
Rose mendongakkan kepalanya. Merasakan otot-otot tubuhnya yang berkontraksi. Jari-jarinya mencengkram bahu Revon hingga memberikan bekas di kulit Revon.
Revon mencium bibir Rose dengan lembut. Nafas mereka saling beradu, meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Tepat setelah mencapai puncaknya, Revon membisikkan sesuatu di telinga Rose.
"Mine."