My Vampire CEO (After Death)

My Vampire CEO (After Death)
Chapter 64 - Teresa's arrival



Tanpa terasa, hari sudah menunjukkan sore. Sinar matahari perlahan berganti dengan sinar rembulan.


Sesuai jadwal kedatangan, Alex dan Teresa akan sampai di Brittany sore ini. Setidaknya itu kabar dari Alex yang diterima oleh Revon melalui pesan siang tadi.


Di ruang tamu kediaman Revon, teman-teman Alex sedang berkumpul bermain game. 


"Hei! Kenapa kamu tidak menembak musuh?" Ujar Dean dengan nada marah.


"Karena kamu menghalangi pandanganku. Minggir!" Perintah Ryan.


"Kalian berdua, bisa diam tidak?" Ujar Lee sambil mengerutkan alis kesal.


"Shit!" Teriak Taylor yang kalah dalam game perang itu. Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu. 


Tok. Tok. Tok


"Taylor! Buka pintu sana," Perintah Dean.


"Kamu buka saja sendiri," Jawab Taylor lalu pergi ke dapur. Dean melirik kepergian Taylor dengan kesal. 


Tok. Tok. Tok.


Kembali terdengar suara ketukan di pintu yang semakin keras. Hal itu cukup mengganggu kegiatan bermain game mereka.


"Kemana Si Vampir itu? Kenapa dia tidak datang membuka pintu," Gumam Dean lirih.


Tok. Tok. Tok.


Ketukan di pintu semakin terdengar tidak sabar. 


"Iyaaaa," Ujar Dean lalu bangkit dari sofa sambil lanjut bermain game.


Dean berjalan ke pintu lalu membuka kuncinya. Seketika saat membuka pintu, dirinya terkejut karena pemandangan di depannya.


"Apa kalian tuli?! Kenapa lama sekali membukanya?" Kesal Alex kepada Dean.


Sedangkan Dean masih terpaku di depan pintu masuk dan menatap seorang wanita di samping Alex. Ya, wanita itu adalah Teresa.


Alex tidak mempedulikan Dean dan berlalu masuk ke dalam rumah disusul Teresa.


"Kalian tidak ingin menyambut kedatanganku, huh?" Ujar Alex dengan melempar tas ransel yang dia bawa ke arah teman-temannya yang duduk di sofa.


"Bos?" Ujar Lee.


"Whoa. Apa dia …. " Ujar Taylor mencoba menebak-nebak.


"Jadi, dimana kamarku?" Tanya Teresa kepada Alex. 


"Jangan tanya padaku. Kamu tunggu disini, aku akan panggil pemilik rumah." Jawab Alex lalu melirik tajam ke arah teman-temannya.


Alex memberi isyarat kepada teman-temannya agar tetap diam dan tidak mengajak bicara Teresa.


Setelah itu, Alex pergi menuju ke lantai 2 dimana terletak kamar Revon.


•••


Kecupan-kecupan hangat Revon berikan ke leher jenjang Rose. Lelaki itu mulai menelusuri tubuh Rose dengan tangannya. 


"Aahh …. " Desahan Rose keluar dengan lirih. 


Revon semakin turun memberikan kecupan di tulang selangka wanita itu, sesekali dia menggigit kecil untuk meninggalkan hickey disana.


Perlahan lelaki itu membuka kancing kemeja Rose sambil memberikan sentuhan ringan di dadanya.


Jari-jemari Rose membelai rambut Revon yang halus. Lelaki itu tersenyum dengan manis lalu mencium bibir Rose dengan lembut.


Dengan cepat, Revon melepas kaosnya dan melemparnya ke sembarang arah. Lalu kembali menyatukan bibirnya dengan bibir Rose.


Karena kehabisan nafas, keduanya menghentikan ciuman mereka dan meraup oksigen sebanyak mungkin.


Revon menggunakan kesempatan ini untuk melucuti celana jeansnya. Setelah itu dia melepas celana pendek Rose dalam sekejap.


"Haah …. " Erangan panjang keluar dari mulut Revon setelah membenamkan juniornya sangat dalam.


"Eenggh …. " Desah Rose.


Rose menarik wajah Revon mendekat dan mencium bibir lelaki itu. Perlahan, Revon menggerakkan pinggulnya dengan ritme yang pelan.


Menikmati sensasi tubuh yang saling menyentuh hingga merasuk ke dalam jiwa. Revon menghentikan ciumannya, lelaki itu beralih memandangi wajah Rose.


"Revon … Aaahh …. " Desah Rose lagi.


"Hmm …. " Jawab Rose dengan menutup mata dan menggigit bibirnya.


Revon tertawa kecil mendengar jawaban Rose. Lelaki itu mempercepat gerakannya ketika merasa tubuhnya mulai menegang.


Rose pun dapat merasakan gelenyar-gelenyar kenikmatan yang ingin segera dilepaskan.


"Rose," Desah Revon dengan suara serak.


Di waktu yang sama, Rose pun mengeluarkan desahannya, "Revon." 


Nafas mereka tidak beraturan. Mereka masih menikmati rasa luar biasa itu. Pikiran mereka masih terasa berkabut.


Tok. Tok. Tok.


Terdengar suara seseorang mengetuk pintu. Namun mereka masih enggan untuk beranjak dari posisi masing-masing.


Tok. Tok. Tok.


Lagi-lagi terdengar ketukan di pintu kamar Revon. 


"Honey, kamu harus membuka pintunya," Ujar Rose dengan lirih.


"Aku masih ingin lanjut …. " Ujar Revon yang terhenti karena Rose sedikit mendorong tubuhnya menjauh.


"Revon! Temui orang itu dulu," Ujar Rose lagi.


"Fine," Jawab Revon lalu perlahan bangkit dan memakai celana jeansnya kembali.


Merapikan sedikit rambutnya, Revon membuka pintu dan keluar dari kamar menemui siapapun yang sudah mengetuk pintu kamarnya.


Selang beberapa menit Rose menunggu, namun Revon tidak kunjung kembali ke kamar. Wanita itu memutuskan untuk mencuci muka dan memakai kembali pakaiannya. Rambutnya yang panjang, dia ikat ala messy bun.


Keluar dari kamar, samar-samar terdengar suara seorang wanita yang asing sedang berbicara dengan Revon dan Alex.


Rose menuruni anak tangga satu persatu secara perlahan hingga tiba di anak tangga terakhir. Pandangannya tertuju kepada seorang wanita berambut blonde yang terlihat sedang bercerita mengenai sesuatu.


Revon mencium aroma lavender yang membuatnya seketika mengalihkan pandangan ke arah tangga.


"Bae. Kenapa kamu tidak istirahat saja?" Ujar Revon saat menghampiri Rose yang berdiri di samping tangga.


"Aku tidak apa. Siapa dia?" Tanya Rose dengan setengah berbisik.


Revon tersenyum dan mengecup sudut bibir Rose. Lelaki itu memeluk pinggang Rose dan berkata, "Rose, perkenalkan dia adalah Teresa Delain. Dokter sekaligus penyihir yang baru datang dari Paris." Ujarnya, "Dan Teresa, perkenalkan dia adalah kekasihku Roseline Mint."


Rose tersenyum ramah dan melambaikan tangannya ke arah Teresa. Teresa membalasnya dengan senyuman hangat.


"Baiklah, bisa kamu tunjukkan kamarku? Aku ingin segera istirahat malam ini," Ujar Teresa kepada Revon.


"Sure," Jawab Revon singkat. Saat akan beranjak mengantar Teresa. Rose menyadari akan satu hal.


"Apa kamu sengaja tidak memakai kaos?" Bisik Rose sambil menarik lengan Revon agar menatapnya.


"Apa kamu cemburu melihatku seperti ini di depan wanita lain?" Goda Revon dengan menahan senyum.


Melihat Revon yang terlihat biasa saja dengan berkeliaran shirtless membuat Rose kesal. Dia melepaskan lengan Revon dan menatap tajam lelaki itu. Detik selanjutnya, Rose menaiki tangga untuk kembali ke kamarnya. Revon mencoba mencegah Rose namun perhatiannya teralihkan kepada Aston.


"Alex, apa dia dokternya?" Ujar Aston yang baru datang dari arah kamar Erica. Seketika Revon memanggil lelaki muda itu.


"Aston! Bisa kamu antarkan Teresa ke kamar yang berada di depan kamarmu, please?" Pinta Revon kepada Aston.


"Maksudmu mengantarkan wanita itu?" Tanya Aston.


"Iya benar. Teresa, dia adalah Aston. Dia akan mengantarmu ke kamar yang akan kamu tempati selama disini," Ujar Revon dengan terburu-buru lalu pergi menyusul Rose.


"Revon! Tunggu!" Panggil Aston namun tidak dihiraukan oleh Revon.


Aston mendengus namun tetap mengikuti perintah Revon, "Ayo ikut aku,"


Teresa pun mengambil koper kecilnya dan mulai melangkahkan kaki, tapi Alex menghadangnya dan merebut kopernya.


"Biar aku bawa," Ujar Alex.


"Tidak usah," Jawab Teresa.


"Aku memaksa," Pinta Alex dengan cepat lalu mengambil koper itu dan berjalan mengikuti Aston.


Teresa memutar mata melihat sandiwara yang sedang Alex mainkan. Dean bersiul senang melihat Alex dan Teresa yang terlihat cukup akrab.


"Aku akan menutup mulutmu jika bersiul lagi." Ujar Teresa dengan raut wajah serius. Wanita itu pergi dari hadapan teman-teman Alex dan menyusul Aston.