My Vampire CEO (After Death)

My Vampire CEO (After Death)
Chapter 60 - Curious Aston



Rose terbangun dari tidurnya karena tidak merasakan Revon di sisi tempat tidur. Lalu wanita itu pun mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Revon di kamar bernuansa hitam itu.


Tidak lama kemudian, Rose melihat Revon yang keluar dari walk in closet dengan pakaian kasual. Hal itu membuat Rose terduduk dan menatap Revon penuh tanya.


"Apa aku membangunkanmu?" Ujar Revon dengan lembut.


"Kamu mau pergi ke mana?" Tanya Rose kemudian.


Revon berjalan mendekati Rose, lelaki itu mengamati raut wajah Rose yang terlihat sedikit lelah. Tangannya terulur mengusap pipi wanita itu.


"Aku akan pergi ke rumah sakit, mencari persediaan darah untuk Robert dan Erica." Ujar Revon kepada Rose.


"Minumlah suplemen penambah darah yang ada di laci itu. Kamu terlihat lelah dan sedikit pucat. Seharusnya aku tidak meminum darahmu..." Ujar Revon yang terhenti karena Rose menarik tangan lelaki itu agar duduk di ranjang.


"Aku baik-baik saja. Jangan khawatir, aku akan meminum suplemennya." Jawab Rose dengan senyuman di bibirnya.


Melihat itu, Revon tersenyum dan menatap Rose dengan penuh cinta. Tangan lelaki itu menyelipkan anak rambut Rose yang menutupi sisi wajahnya.


"Apa kamu tidak butuh SUPLEMEN lain?" Bisik Revon dengan smirknya. Dia sengaja menekankan kata suplemen dengan maksud tertentu.


Rose mengerjapkan mata mencoba memahami maksud Revon. Seketika pipinya merona ketika perlahan dia mengerti akan maksudnya.


"Sudah, pergi ke rumah sakit sana!" Ujar Rose dengan menahan senyuman. Wanita itu mendorong tubuh Revon agar lelaki itu cepat pergi dari kamar.


"Hmm.. Baru tadi siang kamu bilang tidak mau aku tinggal. Lihat, sekarang kamu malah mengusirku." Revon menjawab dengan kesal.


Rose hanya tersenyum dan menatap Revon dengan tatapan geli. Dengan inisiatif, Rose mendekatkan wajahnya dan mengecup pipi Revon cepat. Sebelum Revon sempat mengeluarkan sepatah kata, Rose kembali mendorong tubuh Revon agar pergi.


"Honey. Aku ingin kamu cepat pergi dan segera pulang. Dengan begitu kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau setelah kembali pulang nanti." Ujar Rose kepada Revon.


"Okay okay. Aku akan pergi sekarang. Bersiaplah, karena aku akan melakukan apapun yang aku mau nanti." Ujar Revon dengan berbisik tepat di telinga Rose.


Rose menelan ludah mendengar itu. Wanita itu pun perlahan mengangguk untuk menjawab pertanyaan lelaki itu.


Setelah itu Revon beranjak dari ranjang dan berjalan menuju pintu kamar. Tepat sebelum menutup pintu, lelaki itu menampilkan smirknya dan mengedipkan sebelah matanya kepada Rose.


Membuat jantung wanita itu berdebar kencang dengan senyuman yang masih setia menghiasi bibirnya.


•••


Setelah kepergian Revon pukul 5 sore, akhirnya lelaki itu kembali dengan kotak pendingin di tangannya.


Aston yang sedang berada di dapur untuk mengambil minuman, melihat Revon berjalan ke arahnya. Aston terlihat penasaran dengan kotak yang Revon bawa.


"Aku membawa beberapa kantong darah untuk Erica dan Robert." Ujar Revon lalu meletakkan kotak itu di atas counter.


Revon membuka kotak itu dan memindahkan satu persatu isinya ke dalam lemari pendingin. Aston masih berada di sana, duduk di kursi makan sambil meminum cola dingin.


Aston menatap Revon dengan pandangan yang terlihat ingin bertanya. Dan itu membuat Revon sedikit terganggu.


"Listen to me, Boy! Jika kamu ingin menanyakan sesuatu kepadaku, tanyakan sekarang atau tidak sama sekali." Ujar Revon sejenak menghentikan aktivitasnya dan menatap Aston.


"Ehm.. Okay... Aku hanya penasaran, kamu terlihat tidak tergiur dengan darah yang ada di kantong itu. Apa kamu tidak haus saat melihat darah?" Tanya Aston.


Revon tidak menjawab. Lelaki itu hanya diam dan menampilkan smirknya. Sedangkan Aston masih duduk di kursinya dan menunggu jawaban.


Revon kembali melanjutkan aktivitasnya memindahkan kantong darah. Setelah memasukkan kantong darah terakhir ke dalam lemari pendingin, Revon pun mulai mengeluarkan suara.


"Kenapa aku tidak tergiur dengan darah-darah itu? Karena aku sedang tidak haus. Dan... ada darah yang lebih nikmat dibandingkan darah-darah itu." Jawab Revon sambil menghampiri Aston.


Revon bersandar di meja makan dengan kedua tangan yang terselip di saku celana.


"Darah yang lebih nikmat?" Tanya Aston dengan penasaran yang teramat sangat.


"Kamu tidak akan bisa mengerti sebelum kamu menjadi vampir. Okay, aku sudah menjawab pertanyaanmu. Btw, teman-teman Alex membantumu menjaga Erica dan Robert, kan?" Ujar Revon agak cemas.


"Baguslah. Katakan padaku jika mereka berbuat macam-macam denganmu. Okay, Boy?" Ujar Revon dengan menepuk-nepuk bahu Aston terlalu keras. Aston sedikit meringis kesakitan.


"Apa kamu ingin mematahkan bahuku?! Dan lagi, aku sudah 18 tahun. Aku sudah dewasa. Aku bisa menjaga diriku sendiri." Ujar Aston tidak terima.


Revon hanya tertawa kecil dan mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.


"Aku pergi dulu. Kamu bisa menemuiku di kamar lantai 2 paling kanan jika terjadi sesuatu." Ujar Revon lalu beranjak dari dapur.


Kini tinggal Aston sendiri yang masih berada di dapur menghabiskan colanya.


•••


Paris.


Alex baru saja sampai di kota tempat asalnya. Tanpa membuang waktu, dia mencari taksi dan pergi menuju alamat yang tertulis di ponselnya.


Selama perjalanan, Alex hanya memandangi suasana jalan yang padat dengan kerlap-kerlip lampu yang menyilaukan.


"Teresa. Teresa Delein." Gumam Alex dengan lirih. Lelaki itu tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Tanpa sadar, taksi sudah sampai di alamat tujuan Alex. Supir taksi yang merasa bingung karena Alex yang tidak turun dari taksi spontan memanggilnya.


"Tuan. Tuan!?" Panggil supir taksi dengan keras.


"Ya?" Jawab Alex yang kembali dari lamunannya.


"Kita sudah sampai di alamat yang anda tuju." Ujar supir itu.


"Ah, baiklah. Ini uangnya." Ujar Alex kemudian.


"Terimakasih." Ujar supir taksi itu.


Alex hanya tersenyum tipis lalu beranjak keluar dari taksi. Jantungnya mulai berdetak kencang saat melihat bangunan di depannya.


"Sialan. Aku akan bertemu dengannya lagi." Umpat Alex dengan menghembuskan nafas kasar.


Dia merapikan jaket yang dia pakai saat ini, lalu berjalan menuju pintu masuk bangunan itu. Dengan langkah berat, Alex berjalan ke meja resepsionis.


"Selamat malam. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya wanita resepsionis itu.


"Saya ingin bertemu dengan Teresa Delein. Katakan padanya namaku, Alex Keihler " Ujar Alex.


"Mohon tunggu sebentar. Saya akan menginfromasikan kepada Nona Teresa Delein atas kedatangan anda." Ujar resepsionis.


Alex hanya diam tanpa menjawab dan duduk di sofa terdekat dari meja resepsionis. Sambil menenangkan jantungnya yang entah mengapa terlalu semangat.


Dia mengalihkan perhatiannya dengan mengirimkan pesan kepada Dean, salah satu temannya bahwa dirinya sudah sampai di Paris.


Dengan cepat balasan pesan dari Dean pun muncul. Isi pesan itu membuat Alex menyesal telah memberitahu Dean.


Isi pesan dari Dean adalah, "Okay, Bos. Selamat bertemu man-tan."


•••




...William Franklyn Miller...


...As...


...Aston Zanquen...