
"Tidak …. "
Rose benar-benar terkejut mendengar pernyataan Teresa. Teresa yang selama ini sudah dia anggap sebagai temannya ternyata memiliki hubungan sangat dekat dengan lelaki yang sudah membuatnya hampir mati.
Bagaimana bisa? Apa dia sengaja menerima permintaan itu hanya karena dia memiliki niat lain? Pikir Rose.
"Aku juga baru mengingat semua ini. Sejak segel kekuatanku terbuka, ingatan mengejutkan datang secara bersamaan. Stevan yang ternyata adalah satu-satunya orang yang mengerti tentangku. Dan tentu aku juga sangat mengerti tentang dirinya.
Lalu kematian ayahku. Lelaki brengsek itu selalu membawa wanita setiap pulang. Bahkan pernah salah satu wanita itu adalah teman kuliahku. Yang benar saja! Itu sangat memuakkan. Hingga akhirnya suatu hari, aku pulang bersama Stevan. Dia mengantarku sampai di depan rumah. Saat aku masuk ke dalam rumah, ternyata ayahku sudah di rumah. Ayahku melihat Stevan.
Dia mengatakan "Bagus. Apa kamu mendapat banyak uang darinya?". Setelah itu, dia menamparku sangat keras. Ha-ha-ha-ha …
Kemarahan dalam diriku semakin memberontak. Aku sudah berusaha untuk tetap menahan semuanya. Tapi tidak untuk hari itu. Aku bahkan bisa merasakan tubuhku seperti terbakar, lalu aku sedikit mendorong ayahku. Dia seketika terpental hingga ke dinding hingga mati," jelas Teresa. Dia menceritakan semua itu dengan penuh semangat.
Karena Rose merasa semua ini mulai terasa berbahaya. Rose pun berdiri dan bermaksud untuk pergi. Tapi saat akan melangkahkan kakinya, tiba-tiba dia terjatuh. Dia sama sekali tidak bisa menggerakkan kakinya. Perlahan, Rose merasa tubuhnya seakan mati rasa.
Teresa mendekati Rose yang terlihat tidak berdaya. "Kenapa kamu terburu-buru? Padahal aku belum selesai cerita. Aku jadi merasa bersalah melihatmu berbaring di lantai."
Rose hanya bisa menatap Teresa dengan rasa takut yang terlihat jelas di matanya. Lidahnya tidak bisa bicara. Bahkan kedua matanya mulai terasa lelah. Entah apa yang sedang terjadi dengan dirinya.
"Aku akan persingkat cerita. Okay? Kamu harus tetap sadar sampai aku selesai cerita … jadi, Stevan kembali dan menemukan aku yang sedang terbakar oleh kekuatanku sendiri. Anehnya, lelaki itu tidak terkejut melihatku. Dia hanya menatapku sambil berkata "So fucking hot,". Stevan mengajariku banyak hal. Suatu hari, Stevan mengatakan dia memiliki sesuatu yang ingin dia lakukan. Tiba-tiba dia menghilang tanpa jejak. Aku memutuskan untuk menyegel kekuatanku karena merasa sedih, Stevan menghilang tanpa kabar dan kekuatanku tidak berguna untuk menemukan dia. Siapa sangka takdir berpihak kepadaku, aku menemukan informasi tentang Stevan disini. Tapi sayangnya dia sudah mati."
Rose tidak bisa menahan kesadarannya lagi. Perlahan-lahan kedua kelopak matanya menutup.
•••
Sejak tadi, Revon merasakan sesuatu yang membuatnya tidak tenang. Di tengah-tengah pertemuan bersama para staff manager dia malah melamun sendiri. Akhirnya Revon pun mengakhiri pertemuan itu secara sepihak.
"Sialan! Ada apa denganku?" umpat Revon tepat memasuki ruangannya.
Lelaki itu membuang jasnya kasar lalu melepas dasi yang membuatnya semakin sesak. Kedua tangannya mengepal erat.
Cklek
Pintu terbuka, Robert menapakkan kakinya memasuki ruangan Revon. "Mr. Dent?"
"Kamu urus sisanya," ucap Revon singkat.
Robert membuka mulutnya seakan ingin mengucapkan sesuatu. Tapi dia segera mengurungkan niatnya dan melanjutkan pekerjaannya yang bertambah.
Setelah kepergian Robert, Revon mengambil sebotol wine dan gelas. Lelaki itu membawanya ke sofa yang berada di tengah ruangannya. Revon mengecek ponselnya.
Karena Rose yang belum mengirim pesan lagi, Revon pun berinisiatif untuk melakukan panggilan ke ponsel Rose.
Tuuutt
Tuuuut
Tuuuut
Rose tidak menjawab panggilannya. Hal itu semakin menambah kecemasan yang Revon rasakan. Lelaki itu kembali mencoba untuk menghubungi Rose. Tapi hasilnya masih sama, tidak ada jawaban dari Rose.
Revon melempar ponselnya ke sofa. Dia menatap gelas yang sudah terisi wine penuh, dengan cepat dia meminumnya hingga tak tersisa.
Cklek
Robert masuk dengan raut wajah yang aneh. "Mr. Dent. Ada sesuatu yang harus saya beritahu."
"Katakan," balas Revon.
"Supir dan orang-orang yang mengawal Nyonya sudah kembali ke rumah–"
"Bagus," sela Revon. Mendengar kabar dari Robert membuatnya ingin segera pulang. Revon mengambil ponselnya sambil berjalan keluar ruangan.
Tepat sebelum Revon membuka pintu. "Saya belum selesai, Mr. Dent."
Revon menatap Robert dengan penuh tanya. Revon menghela nafas berat sambil mengisyaratkan Robert untuk bicara.
"Mereka kembali tanpa Nyonya."
"Apa?! Bagaimana bisa mereka kembali tanpa Rose?"
"Mr. Dent, mereka pulang atas permintaan Ms. Delain. Dia mengatakan kalau Ms. Delain memaksa akan mengantar Nyonya sendiri untuk pulang."
Bibir Revon membentuk garis tipis. Dia mencium bau mencurigakan. Revon menatap tajam Robert. "Aku akan mendatangi Teresa sendiri. Robert aku ingin kamu mengurus orang-orang bodoh itu."
"Baik, Mr. Dent," jawab Robert.
Revon segera pergi dari kantor. Lelaki itu pernah mendapatkan alamat Teresa dari Alex. Beruntung alamat itu masih ada, dan dia cukup familiar dengan daerah itu. Revon mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata.
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, Revon sampai di sebuah rumah yang tidak terlalu besar tapi tidak terlalu kecil juga. Rumah bergaya minimalis dengan halaman penuh dengan berbagai tanaman.
Revon keluar dari mobil. Lelaki itu mulai berjalan menyusuri jalan setapak diantara tanaman. Langit masih terang menyisakan cahaya sore hari. Namun Revon bisa merasakan aura berbeda dari rumah tersebut.
Revon mengetuk pintu dengan tidak sabar. Beberapa kali mengetuk, Teresa muncul dari balik pintu. "Revon? Ada apa?"
Tanpa menjawab Teresa, Revon masuk ke dalam rumah dengan paksa. Revon menuju ruang tamu, tapi tidak ada siapapun disana.
"Dimana Rose?" tanya Revon.
"Dia sudah pulang. Aku mencoba menawarkan diri untuk mengantarkan. Tapi dia tidak mau," balas Teresa dengan smirknya.
"Teresa … aku tidak pernah menyesal membunuh lelaki bangsat itu. Dia pantas untuk mati," aku Revon. Dia menatap tajam kearah Teresa.
Perlahan Teresa berjalan mendekat. "Aku tidak mengerti. Siapa lelaki yang kamu maksud?"
Revon melangkah mendekati Teresa. Wajah mereka sangat dekat, Teresa dapat merasakan tatapan intimidasi dari Revon.
"Kamu tahu, sampai sekarang aku masih mengingat tatapan matanya. Tatapan mata Stevan. Tatapan tidak berdaya," bisik Revon.
Ekspresi Teresa seketika berubah. Senyuman di bibirnya menghilang dengan cepat. "Aku akan membalasmu berkali-kali lipat. Aku akan pastikan kamu merasakan hal yang sama."
Amarah Revon memuncak, lelaki itu mencekik leher Teresa. Kali ini, Teresa benar-benar menggunakan sihirnya. Teresa mendorong tubuh Revon dengan kekuatannya hingga membuat Revon terpental dan menghancurkan dinding.
Seseorang itu melempar Teresa ke hiasan kaca yang terpajang di sini lain ruang tamu.
Pyar
Pecahan kaca berhamburan kemana-mana. Tubuh Teresa mendapatkan luka yang parah. Pecahan kaca menggores dan menusuk tubuhnya. Rasa sakit di sekujur tubuhnya membuat air mata lolos dari kelopak matanya.
Teresa membuka matanya. Dan disana, dia melihat seseorang yang sudah menyerangnya dengan sangat jelas. Dia adalah Revon. "Siapa kamu sebenarnya?"
"Aku, adalah aku."
Revon dengan kedua netra hitam kelamnya telah kembali. Aura kegelapan yang lama beristirahat kini telah bangun.
Pangeran kegelapan kembali.
Tangan Revon mencengkram kasar dagu Teresa. "Dimana Rose?"
Brak
Dari pintu masuk, Aston dan Erica datang. Tapi mereka terkejut melihat kondisi ruang tamu yang hancur, ditambah dengan Revon yang membelakangi mereka sedang mencengkram erat dagu Teresa yang terlihat mengenaskan.
"Oh My God!" pekik Erica.
"Teresa," lirih Aston. Dia ingin menolong Teresa. Tapi Erica segera mencegah Aston untuk berjalan mendekati mereka.
"Revon ... Rose sudah aman bersama kami. Kamu bisa menemuinya di rumahku," ungkap Erica.
"Apa–apa dia yang membuat Teresa seperti itu?" bisik Aston kepada Erica.
"Sssttt, diam!" balas Erica.
Revon yang tiba-tiba berdiri membuat Aston dan Erica terkejut. Aston dan Erica juga bisa merasakan aura yang sangat berbeda dari Revon. Revon menatap Teresa yang mulai hilang kesadaran.
"Kuburkan dia dengan layak," ucap Revon sebelum berbalik dan pergi dari rumah itu.
Saat Revon berjalan melewati Aston dan Erica. Mereka berdua memandang Revon tanpa berkedip. Aston dan Erica baru memalingkan wajahnya saat Revon balik menatap mereka dengan tajam.
•••
Saat sampai di rumah Erica, Revon segera masuk dengan mendobrak pintu. Revon melihat Robert yang ternyata sedang berada di dalam rumah. Robert sedang membawa segelas air hangat dari arah dapur.
"What the …. " gumam Robert. Dia segera menghentikan ucapannya ketika melihat Revon.
Revon menatap dengan kedua mata yang merah kehitaman. Lelaki itu telah memenangkan emosi yang ada pada dirinya saat dalam perjalanan tadi sehingga kedua netranya telah berubah.
Robert mengetahui jika Revon sedang mencari Rose. "Nyonya ada di kamar atas paling kiri."
Revon segera menuju kamar yang disebut Robert. Saat masuk ke kamar itu, dia tidak melihat keberadaan Rose. Lalu Revon pun mencoba mencari ke kamar mandi. Di sana, Revon menemukan Rose yang sedang mencuci muka.
Rose tidak menyadari bahwa Revon sedang berada di belakangnya. Lelaki itu hanya berdiri dan mengamati Rose, seperti mencari apa ada cedera atau luka pada tubuh Rose.
Revon bernafas lega ketika tidak menemukan luka atau bercak darah pada baju Rose. Mendengar helaan nafas Revon, membuat Rose menghentikan aktivitasnya lalu melihat ke pantulan kaca.
"Oh My Gosh! Revon?" pekik Rose.
"Kamu membuatku sangat cemas, Rose," ungkap Revon.
Tok. Tok. Tok.
Terdengar suara seseorang mengetuk pintu kamar mandi.
"Nyonya, saya membawa air hangat yang anda minta," ucap Robert.
Rose baru sadar jika pintu kamar mandi tertutup. Wanita itu melirik sekilas Revon yang masih menatapnya meminta penjelasan.
Rose membuka sedikit pintu kamar mandi dan mengambil air hangat dari Robert. "Thanks."
Setelah masuk lagi ke kamar mandi dan menutup pintunya, Rose mengambil sesuatu dari dalam saku celananya. Benda kecil bulat pipih seperti suatu obat. Saat Rose akan memasukkan obat ke dalam mulutnya, Revon mencegahnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan?"
"Ini hanya obat."
"Obat? Untuk apa? Apa yang Teresa lakukan kepadamu?!"
"Jeez, Revon! Tenang, ini hanya obat penawar dari Erica. Biarkan aku meminumnya dulu setelah itu aku akan menjawab semua pertanyaanmu," jelas Rose.
Revon perlahan melepas tangan Rose dan membiarkan wanita itu meminum obatnya. Revon terus memandangi Rose dengan tidak sabar.
Rose meminum air hangat di gelas hingga tandas. "Obat itu bereaksi sebagai penawar. Teresa memberiku teh yang telah tercampur semacam anestesi tapi lebih tinggi. Itu membuat ototku lumpuh sementara hingga hilang kesadaran."
Revon mengeratkan rahangnya. Lelaki itu menangkup wajah Rose dan mengusap pipinya. Revon menatap kedua netra Rose dengan intens.
"Teresa tidak akan pernah menemuimu lagi. Aku pastikan itu," ucap Revon.
"Apa–apa yang kamu lakukan kepadanya?"
"Melenyapkannya."
Rose terdiam, pandangannya beralih ke lantai. Setetes air mata jatuh ke pipinya. Lalu suara isakan tangis terdengar jelas. Revon meraih tubuh Rose kedalam pelukannya.
"Pagi tadi, semuanya baik-baik saja. Aku bersenang-senang. Dia juga terlihat gembira … lalu kenapa harus berakhir seperti ini …. " lirih Rose di sela-sela tangisan.
Revon mengusap-usap punggung Rose. Lelaki itu bisa merasakan tubuh Rose yang gemetaran. Secara naluri, tangan Revon mempererat pelukannya.
"Revon … "
"Hmm?"
"Aku …."
Belum sempat Rose menyelesaikan ucapannya, wanita itu sudah hilang kesadaran. Revon merengkuh dan mengangkat tubuh Rose keluar dari kamar mandi. Revon membaringkan tubuh Rose diatas ranjang. Sementara Revon duduk di tepi ranjang sambil mengusap sisa air mata di wajah Rose.