My Vampire CEO (After Death)

My Vampire CEO (After Death)
Chapter 18 - I want you



4 Hari yang lalu


“I wanna kiss you, Rose. I wanna touch you, feel you. Tapi.. seketika aku teringat bahwa kamu pernah mencium Stevan. Aku kesal, sangat kesal. Aku masih belum bisa melupakan kenyataan itu... Sebagai hukuman untukmu... Aku tidak akan "menyentuhmu" sama sekali. Sampai kamu benar-benar memohon kepadaku untuk menyentuhmu lagi." Ujar Revon dengan menatapku intens.


•••


Di kamar


Rose POV


Empat hari yang lalu, Revon mengatakan hal yang membuatku ingin berteriak di depannya.


Aku mencium Stevan karena yang aku lihat saat mabuk itu kamu. Aku melihat kamu!! Pikirku dengan kesal.


Setelah mengatakan itu, dia keluar dari kabin memakai bathrob dan pergi meninggalkan aku tanpa menoleh sedikitpun.


Selama empat hari dia hanya berbicara dan sama sekali tidak "menyetuhku". Sentuhan tangan pun hanya sedikit.


"Dia benar-benar menyebalkan. Apalagi dia terlihat tenang-tenang saja tanpa sentuh-menyentuh." Gumamku dengan kesal.


Bagaimana dia bisa setenang itu? Pikirku.


Tadi pagi dia mengantarkan sarapan padaku. Aku mencoba menggodanya dengan menemuinya hanya memakai pakaian dalam.


Dia sempat terlihat tegang. Tapi tetap saja dia tidak menyentuhku dan pergi begitu saja.


Dia membuatku frustasi.


Aku ingin dia menciumku, menyentuhku dan....


Hah!


Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus memohon kepadanya? Tapi.. Apa tidak terdengar aneh jika aku memohon? Pikirku dengan keras.


Saat aku berjalan mondar-mandir di dekat jendela kamar. Tanpa sengaja aku melihat Revon mengantar seorang wanita keluar dari rumah. Wanita itu berparas cantik dan bertubuh tinggi.


Mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu dan setelah itu dia melakukan hal yang tidak aku suka.


Dia memeluk Revon lalu pergi naik mobilnya.


Siapa wanita itu? Kenapa aku tidak pernah melihatnya sebelumya? Dan lagi dia terlihat cukup dekat dengan Revon. Bahkan sampai memeluknya! Pikirku tidak terima.


"Apa jangan-jangan Revon selingkuh?" Tanyaku pada diri sendiri.


Emosiku meningkat, aku harus menemuinya sekarang.


Tanpa berpikir panjang, aku keluar dari kamar dan menuju ke ruang tamu. Kebetulan disana ada Robert yang sedang berbicara dengan seseorang.


Karena melihatku, dia pun menyuruh seseorang itu pergi.


"Apa ada yang bisa saya bantu, Ms. Mint?" Ujar Robert dengan ramah.


"Dimana Revon?" Tanyaku tanpa bertele-tele.


"Mr. Dent sedang di ruang kerjanya. Dari lorong ini anda akan menemukan 2 pintu bersebrangan. Ruang kerja ada di pintu sebelah kiri anda." Jelasnya.


"Okay. Thank you." Ujarku dengan sedikit tersenyum.


Aku berjalan dengan cepat sambil mengepalkan tangan. Setelah sampai di depan pintu, aku membukanya tanpa mengetuk terlebih dahulu.


Revon yang sedang membaca dokumen seketika mendongak melihat ke arahku dengan tatapan bertanya.


"Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu?" Tanyanya lalu kembali fokus ke dokumennya.


"Siapa wanita itu?" Tanyaku sambil mendekat ke meja kerjanya.


"Wanita siapa?" Ujarnya tanpa melihat ke arahku.


"Jangan berpura-pura tidak tahu." Ujarku dengan kesal.


"Bisa kita bicarakan ini nanti? Aku harus memeriksa beberapa dokumen penting." Jawabnya dengan tenang sambil meneruskan membaca dokumen.


Saat dia akan mengambil dokumen lain, aku merebutnya dari tangannya.


"Berikan padaku, Rose." Ujarnya dengan tenang namun dengan tatapan memperingatkan.


"Jawab pertanyaanku dulu." Jawabku dengan menantang.


Dia terlihat kesal sekarang. Tangannya mencoba merebut kembali dokumennya. Tapi aku tidak mau kalah.


Aku berusaha menjauhkan tanganku yang memegang dokumen darinya. Namun dengan gerakan cepat dia memojokkanku di antara meja dan tubuhnya.


Tubuhku menempel sempurna dengan tubuhnya. Dan wajahnya berada tepat di depanku.


Aku sempat terpesona dengan tatapannya. Tapi aku kembali menyadarkan pikiranku dan kembali bertanya,


"Siapa wanita yang kamu antar keluar rumah tadi?" Tanyaku kepada lelaki itu.


"Teman" Jawabnya singkat dan padat.


"Teman apa? Teman sek*mu?" Ujarku dengan nada sinis.


"Jaga bicaramu, Rose. Dia hanya teman." Ujarnya dengan tatapan tajam.


"Benarkah? Dia terlihat seperti ingin menggodamu dengan pelukan itu." Ujarku dengan penuh penekanan.


Aku tidak percaya dia mengusirku. Emosiku semakin naik dan ingin meledak.


"**** you!" Teriakku dengan kencang sambil mengarahkan telunjuk ke dadanya.


Revon menatapku dengan tajam. Alisnya berkerut tidak suka. Rahangnya mengeras dan urat nadi di lehernya terlihat.


"Kamu baru saja mengumpat padaku?" Ujarnya dengan nada rendah yang membuat bulu kudukku berdiri.


Aku hanya diam. Merasa menciut seketika. Dia meremas dokumen yang ada ditangannya dan membuangnya ke sembarang arah.


"Kamu benar-benar membuat kesabaranku habis, Rose." Ujarnya yang tiba-tiba menarik rambutku dengan kasar, membuatku mendongak menatapnya.


Merasakan tubuhnya menempel dengan tubuhku membuatku tidak bisa berpikir jernih. Tangannya memeluk pinggangku dengan erat.


Selama beberapa detik kita hanya saling bertatapan. Aku melihat bibirnya yang terlihat sangat menggoda.


Aku ingin menciumnya.


Tanpa sadar tanganku menarik tengkuknya mendekat dan mendaratkan ciuman di bibirnya.


Namun dia tidak membalas ciumanku. Aku berhenti sejenak melihat wajahnya. Tatapannya datar tapi setidaknya dia tidak menatapku tajam seperti tadi.


Aku mencoba menciumnya lagi, tapi dia sama sekali tidak membalas.


Damn. Apa masalah dia? Dia membuatku frustasi. Pikirku kesal.


"Okay. Aku minta maaf jika aku sudah keterlaluan. Jeez, aku hanya kesal karena kamu tidak menyentuhku sama sekali lalu tiba-tiba aku melihatmu dipeluk wanita itu." Ujarku dengan kesal.


Dia melepas tangannya dari rambutku. Setelah itu dia memejamkan mata dan menghembuskan nafas dengan kasar.


"Kenapa kamu tidak mengatakannya to the point?" Ujar Revon dengan alis berkerut.


"Aku tidak bisa berpikir jernih saat sedang emosi. Aku hanya mengatakan apa yang keluar dari mulutku." Ujarku dengan menatapnya kesal.


"Okay. Jadi sekarang apa maumu?" Tanya Revon dengan tegas.


"I want you. Please, i beg you. Aku rindu ciumanmu, sentuhanmu dan..." Belum selesai bicara, bibirnya sudah menciumku dengan rakus.


Dia menaikkanku ke atas meja. Jari-jarinya menelusuri seluruh tubuhku. Aku memeluk lehernya untuk memperdalam ciumanku.


Karena kehabisan nafas, dia melepas ciuman di bibirku dan beralih mengecup pipi, lalu turun ke rahang dan semakin turun ke leher.


"Ahh.... " Suara desahan keluar dari mulutku.


Namun dia tiba-tiba memghentikan ciumannya. Seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.


"We can't do this" Ujarnya dengan alis berkerut.


Apa maksud dia? Kenapa tidak bisa? Protes alam bawah sadarku.


"Kenapa? Ada apa Revon? Kamu seperti memikirkan sesuatu." Tanyaku padanya.


Dia hanya menatapku dengan bibir yang membentuk garis tipis.


"Katakan ada apa?" Tanyaku lagi.


"Aku.. aku ingin meminum darahmu." Jawabnya dengan gugup.


"Okay, kamu bisa meminumnya sedikit." Ujarku dengan tenang.


"Kamu tidak tahu apapun. Dengar! Aku berbeda sejak bangkit dari kematian. Aku tidak bisa mengontrol emosi dan bertindak lebih brutal. Dan.. Aku lebih sering haus. Aku harus meminum darah langsung dari manusia itu. Tapi fatalnya, aku tidak bisa berhenti jika sudah minum. Hingga manusia itu mati kehabisan darah, saat itu baru aku melepaskannya." Jelasnya dengan menatapku seolah melihat bagaimana ekspresiku.


Aku merasakan perasaan yang bercampur aduk. Takut, sedih dan prihatin. Tapi aku tetap menginginkan dia saat ini.


"Jika aku tidak memberikan darahku?" Tanyaku dengan penasaran.


"Maka kita harus berhenti sampai disini. Oh Rose, kamu tidak tahu seberapa menggoda aroma tubuhmu juga darahmu. Keduanya sangat menggiurkan. Jika kita melanjutkan ini, aku tidak tahu apa yang bisa aku perbuat kepadamu. Aku tidak mau menemukanmu di ranjang tidak bernyawa karena kehabisan darah. Itu sangat mengerikan untukku Rose!" Jawab Revon dengan tatapan lembut.


"Tapi kita belum mencobanya.. siapa tahu kamu bisa mengontrol dirimu sehingga tidak menghisap darahku hingga kering..." Ujarku dengan tatapan memohon.


"Terlalu beresiko. Beri aku waktu hingga bisa benar-benar mengontrol diriku. Setelah itu kita bebas mau melakukan apapun. Okay?" Ujar Revon dengan lembut.


Aku menatapnya dengan bibir cemberut.



Melihat itu, dia mendekat dan menciumku lagi. Ciuman yang intens dan lembut.


Jari-jariku menelusuri rambutnya yang selembut sutra. Dia menggeram dan semakin memperdalam ciuman.


Tangan Revon bergerak menyingkap gaunku dan menyentuh titik sensitifku.


"Aahhh...Revon.." Desahan keluar dari mulutku.


Spontan aku mendongak merasakan kenikmatan ini. Lelaki itu mengigit kecil leherku, dan aku rasa dia meninggalkan hickey disana.


Tok. Tok. Tok.


Tiba-tiba terdengar bunyi orang mengetuk pintu.


What the ****!