
Chapter sebelumnya
"Oh, bae. Kamu tahu seberapa besar rasa rinduku?"
Lalu tiba-tiba Revon mengigit paha Rose sedikit kuat hingga membuat Rose memekik kaget karena dia sedikit merasakan sesuatu seperti sengatan listrik.
"Aku marah... aku marah karena kamu sudah membuatku menunggu selama ini.. Tapi aku juga merasa senang hingga rasanya aku rela bersujud di kakimu." Ujar Revon setelah menjilat bagian yang dia gigit tadi.
Untuk mempermudah aksinya, Revon menarik kasar gaun tidur berwarna putih yang sedang Rose pakai. Sontak Rose membelalakkan mata melihat satu-satunya penutup tubuhnya sudah terkoyak tidak berbentuk.
"Hmm.. Aku harus mengabsen satu persatu milikku. Jangan malu untuk mendesah, bae. You are mine. Only mine." Ujar Revon dengan smirknya yang sangat menggoda.
•••
"Apa yang mau kamu lakukan?" Tanya Rose dengan wajah penuh antisipasi.
Revon tidak menjawab dan hanya tersenyum sambil menatapnya. Lelaki itu mulai mendekatkan wajahnya ke area sensitif Rose.
Detik pertama dia mengecup lembut bagian itu. Rose sedikit mengangkat tubuhnya agar bisa melihat apa yang sedang dilakukan Revon.
Detik kedua dia semakin membenamkan wajah tampannya ke area hangat dan nikmat itu. Selanjutnya tanpa aba-aba, Revon menjilat hingga menghisap area sensitif Rose.
Sontak kedua mata Rose membelalak melihat aksi yang menurutnya sangat teramat sensual itu.
Kedua tangan lelaki itu menarik paha Rose agar mendekat ke arahnya, tidak lupa juga memperlebar jarak antara kedua paha mulus itu untuk memberikan dia akses secara leluasa.
Kini tidak hanya lidah dan bibirnya yang bermain disana, tapi jari-jari lentiknya juga ikut mengambil peran.
Semakin lama, entah bagaimana Rose mulai merasa nafasnya mulai memburu. Hingga menelan air ludah pun terasa sangat sulit.
Tanpa sadar jari-jari Rose meremas sprei yang tadinya tertata rapi menjadi tidak karuan. Tiba-tiba Revon menghentikan aksinya dan sukses membuat wanita itu menatap tajam ke arahnya.
"Melihat dari jari-jari yang meremas sprei tidak berdosa itu.. sepertinya kamu menikmati metodeku." Ujar Revon sambil menjilat jari-jarinya yang baru saja menjelajah ke lubang kenikmatan.
Sontak Rose melihat ke sisi kanan dan kirinya secara bergantian. Kedua tangannya masih meremas sprei dengan cukup kuat.
Dia menggerakkan jari-jarinya dengan pelan dan menatapnya setengah tidak percaya. Revon menarik kedua tangan wanita itu, lalu mengecup setiap jari yang ada.
"Aku tidak menyangka akan berhasil secepat ini. Haruskah aku melanjutkannya? Atau.. tidak?" Ujar Revon dengan nada serius tapi terselip godaan dibaliknya.
Tidak mendengar jawaban dari Rose, seketika Revon bersiap untuk beranjak. Akan tetapi belum sempat dia berpindah dari posisinya yang berada di atas tubuh wanita itu, Rose menarik waistband dari celana kain lelaki itu.
Seperti sedang berubah menjadi patung, Revon terdiam dan menghentikan pergerakannya. Dia bisa merasakan jari-jari Rose yang lembut terselip di antara waistband dan v linenya.
"Bisa kita lanjutkan saja?" Ujar Rose dengan lirih.
Sekarang giliran Revon yang membelalakkan mata dan menelan air ludah dengan susah payah.
Pikirannya masih ragu apa dia bisa melakukan metode ini tanpa memuaskan hasratnya terlebih dahulu.
Tapi dia tidak bisa menghentikan ini semua, apalagi Rose sudah sepenuhnya memberikannya akses sekarang.
"Ehem.. Sebelumnya, bisakah kamu jauhkan jari-jari indah itu dari celanaku? Kalau kamu seperti ini, aku tidak menjamin yang di bawah sana bisa patuh." Ujar Revon dengan melirik ke bawah celananya.
Rose mengikuti arah pandang Revon yang tertuju pada bagian depan celana. Sejak tadi memang sudah ada yang menonjol di baliknya. Namun entah mengapa sekarang lebih besar dan terlihat ingin dibebaskan.
Kedua pipi wanita itu merona dan dengan perlahan menarik kembali tangannya ke sisinya.
"Kamu terlihat haus. Aku akan mengambil minum dulu." Ujar Revon lagi dan beranjak dari atas ranjang.
Lelaki itu kembali dengan membawa sebotol air dan sebotol wine serta 2 gelas kristal yang cantik. Dia menuang air putih ke gelas pertama.
Dengan sigap Revon menarik tubuh Rose dengan hati-hati dan membuatnya terduduk bersandar di tumpukan bantal.
"Apa kamu bisa memegangnya?" Tanya lelaki itu saat akan memberikan gelas berisi air putih.
"Entahlah." Jawab Rose dengan menatap tangan kanannya.
Dia berhasil menggenggam gelasnya, saat akan mengambilnya dari tangan Revon dia merasa tangannya tidak bisa menggenggam dengan erat sehingga gelas itu hampir saja terlepas dari genggamannya.
Tentu hal itu tidak terjadi karena Revon dengan kecepatan refleksnya menangkap gelas itu tanpa menumpahkan setetes pun isinya.
"Oke, itu cukup menjawab semua." Ujar lelaki itu lirih dengan menatap Rose lekat.
"Sorry." Gumam Rose dengan nada yang terlihat menyedihkan.
"Hey! Look at me. Tidak ada yang perlu di maafkan, bae." Ujar Revon dengan tersenyum.
Lalu Revon meminum air yang ada di dalam gelas dan naik ke atas ranjang. Lelaki itu menyingkirkan beberapa bantal sehingga posisi Rose menjadi setengah berbaring.
Sekejap Revon menempelkan bibirnya dengan bibir wanita itu. Awalnya Rose hanya diam karena terkejut, beberapa detik kemudian dia mulai menciumi bibir Revon.
Setelah itu Revon membuka mulut wanita itu dan membiarkan air mengalir dari mulutnya masuk ke mulut Rose.
Glek.
Lelaki itu sedikit menjauhkan dirinya dan meraih gelas di meja dekat ranjang. Kembali dia menyimpan air itu di mulutnya dan mengulang aksi sebelumnya.
Glek.
"Lagi?" Tanya Revon.
"Tidak. Cukup." Jawab Rose.
"Hmmm.. kamu masih terlihat sangat pucat.. apa kamu ingin makan sesuatu?" Tanya Revon dengan lembut.
"Aku ingin mandi air hangat dulu. Aku.. Aku ingin melupakan rasa dingin itu, rasa dingin yang seolah melekat ke kulit hingga merasuk ke jiwaku." Ujar wanita itu dengan suara bergetar.
Seketika Revon memeluk tubuh Rose dengan cukup erat. Berusaha memberikan sedikit kehangatan kepada wanita itu. Tiba-tiba dia teringat akan sesuatu.
"Rose.. ada sesuatu yang ingin aku tanyakan. Tapi aku juga tidak ingin membuatmu menunggu lebih lama. Kita bisa melakukannya sambil mandi air hangat. Aku akan menyiapkannya." Ujar lelaki itu sambil mengedipkan satu mata.
Revon menyelimuti tubuh Rose lalu pergi ke arah kamar mandi. Selang beberapa menit Revon keluar dari kamar mandi dan menyambar ponselnya mengetikkan sesuatu.
Setelah itu dia kembali ke kamar mandi dengan membawa ponselnya.
Tok. Tok. Tok.
Terdengar seseorang mengetuk pintu kamar. Belum sempat Rose bereaksi, Revon sudah keluar dari kamar mandi dan menemui siapapun yang sedang ada di luar kamar.
Hanya 1 menit dia berada di luar kamar lalu kembali lagi masuk membawa chocolate mousse yang terlihat sangat enak.
"Kamu harus memberiku reward atas pelayanan terbaikku." Ujar Revon dengan tersenyum lebar.
"Pelayanan dari salah satu hotel lebih baik dari kamu." Jawab Rose dengan tersenyum geli.
"Kamu masih belum tahu bagian terbaiknya. Oke bae, waktunya mandi."
Lelaki itu menggendong Rose dengan wajah yang terlampau senang. Membuat Rose ikut tertawa geli.
Perlahan dia menurunkan wanita itu ke dalam bathub berisi air hangat dan sabun beraroma lavender.
"Aahh.. suhu airnya sangat pas. Bisa kamu ambilkan sikat gigi untukku?" Ujar Rose.
Dengan ekspresi senang yang masih terpampang di wajahnya, lelaki itu memberikan gelas berisi cairan berwarna biru kepada Rose.
"Ini lebih efektif. Satu kali kumur dan muntahkan kembali ke gelas." Ujar Revon.
Revon kembali dan duduk di tepi bathub, membelai lembut wajah Rose yang terpejam menikmati acara mandinya.
"Apa kamu tidak ikut?" Tanya Rose dengan menahan senyuman.
"Tidak sopan berbicara tanpa melihat lawan bicaranya, bae." Jawab Revon sambil meraih meja kecil yang diatasnya terdapat chocolate mousse kesukaan Rose dan segelas susu hangat.
Mendengar pergerakan dari arah Revon, wanita itu membuka kedua matanya melirik chocolate mousse.
"Kamu akan mendapatkannya nanti setelah aku mendapat rewardku." Ujar Revon dengan smirknya.
"Untuk mendapatkan rewardmu, kamu harus ikut mandi denganku. Deal?"
"Deal."
Revon beranjak dari duduknya dan mulai melepas kain yang menutupi tubuhnya satu persatu.
Rose memberi ruang untuk Revon tepat di belakangnya. Dengan mudah lelaki itu duduk dengan nyaman dan memeluk tubuh Rose, membuat tubuh keduanya saling bersentuhan.
"Apa kamu sudah bisa menggerakkan tubuhmu?" Tanya lelaki itu sambil memijat leher Rose lalu turun ke bahu dan semakin turun lagi.
"Hmm.. aku belum mencobanya." Ujar Rose.
"Aku bisa membantumu mencobanya." Bisik Revon dengan lirih.
Sekejap kemudian Revon mulai menciumi leher jenjang wanita itu dan sesekali mengigitnya. Suara detak jantung Rose yang tidak beraturan semakin membuat Revon bersemangat.
"Revon.."
"Hmm.."
"Kiss me!"
Lelaki itu berhenti dan menatap lekat Rose yang tengah menatapnya tanpa berkedip. Sedetik kemudian Revon mendaratkan ciumannya dengan lembut dan penuh perasaan.
Tangannya pun mengabsen tubuh wanita itu tanpa cela. Dengan lihai dia menyelipkan jari-jarinya di area sensitif Rose.
"Eenngghh...Haahh." Desahan keluar dari sela-sela ciuman.
"Louder!" Ujar Revon dengan nafas memburu.
Rose mengerutkan alis karena merasakan pergerakan jari-jari Revon semakin cepat.
"Revon.. " Ujar Rose ketika seluruh tubuhnya terasa meremang dan perutnya terasa menggelitik.
"Mendesahlah, bae. Aku ingin mendengarnya." Bisik Revon di telinga Rose.
Tangan Revon yang sejak tadi memeluk Rose beralih ke dada wanita itu dan bermain dengan kedua gundukan empuknya.
"Aahh.. Hmm.. Revon.." Desah Rose dengan lantang.
"Yes!" Ujar Revon dengan puas.
"Aahh.. Eennghh.."
Rose telah mencapai puncak kenikmatan yang membuat seluruh saraf dan ototnya kembali berfungsi seperti sedia kala.
Masih dengan nafas yang tidak beraturan, Rose menyandarkan tubuhnya sepenuhnya ke tubuh kokoh Revon.
"Are you okay?" Tanya lelaki itu sambil meraih segelas susu di meja kecil tadi.
"Minum dulu." Ujar Revon dengan mendekatkan gelas susu ke bibir Rose.
Glek.
Satu tegukan dan Rose sudah menjauhkan bibirnya dari gelas. Lelaki itu pun mengembalikan gelas susu ke meja.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku" Ujar Revon dengan menatap lekat wajah Rose. Mereka saling menatap tanpa ada yang berpaling.
Dengan tatapan jail, Rose menggerakkan tangannya menyentuh junior Revon yang sudah menegang sejak tadi. Tindakan Rose yang tiba-tiba itu sukses membuat Revon menghembuskan nafas dengan kasar.
"Apa ini jawaban dari pertanyaanku?" Tanya Revon dengan memiringkan kepalanya menatap Rose.
Rose tidak menjawab dan melanjutkan aksinya. Dia dapat merasakan juniornya semakin menegak dan meminta pelepasan.
"Rose, hentikan jika kamu hanya berniat menggodaku." Ujar Revon dengan suara yang serak.
Sedetik kemudian Rose mencium bibir Revon dengan perlahan. Detik selanjutnya Revon mengambil alih ciuman menjadi lebih intens dan kasar.
"Come here." Ujar Revon sambil menarik tubuh Rose mendekat. Di posisi saling berhadapan ini memudahkan Revon untuk memasukkan juniornya.
Dan benar saja! Satu hentakan dia sudah berhasil memasuki lubang kenikmatan Rose. Refleks jari-jari Rose memegang bahu lebar lelaki itu untuk menjadi pegangannya.
"Aaahh.. Revon.." Desah Rose sambil menundukkan kepalanya di bahu kokoh Revon.
"Rileks.. Rose. Kamu memelukku dengan erat dan itu semakin membuatku gila. Rileks, oke?" Ujar Revon dengan nafas memburu. Dia benar-benar sedang menahan diri untuk tidak menjadi buas.
Perlahan Rose menenangkan dirinya dan menikmati setiap hujaman dengan ritme pelan dan intens ini.
Selama beberapa menit mereka hanya diam dan menikmati satu sama lain. Revon kembali teringat sesuatu.
"Rose? Kamu tidak tertidur, kan?"
"Aku sudah bosan tertidur.."
"Jadi.. kamu ingin melakukan ini selama 2x24 jam?"
Rose seketika menatap tajam ke arah Revon.
"Aku ingin menanyakan sesuatu yang serius." Ujar Revon tiba-tiba.
"Soal apa?"
"Kejadian saat kamu tidak sadarkan diri."
"Hmm.. baiklah. Aku akan menjawab sebisaku."
"Apa yang kamu rasakan saat tertidur?"
"Hanya rasa dingin dan gelap.. aku tidak bisa melihat apapun."
"Apa kamu pernah berkomunikasi denganku melalui mimpi?"
"Komunikasi?"
"Yah. Karena aku sempat mendengarmu mengatakan sesuatu di dalam mimpiku."
Deg.
Rose merasa jantungnya berdegup kencang. Dia merasa ada sesuatu penting yang terlupakan.
"Apa yang terakhir kali aku katakan?"
"Kamu mengatakan.. Robert ... ROBERT DAN ERICA DALAM BAHAYA." Ujar Revon seketika membelalakkan mata.
"ROBERT DAN ERICA DALAM BAHAYA" Ujar Rose berbarengan dengan Revon.