My Vampire CEO (After Death)

My Vampire CEO (After Death)
Chapter 46 - The power of him



Chapter sebelumnya


"Vratite izgubljenu dušu, oživite ispružiti tijelo. (Bawa kembali jiwa yang hilang, hidupkan raga yang sudah meregang)"


Seketika cahaya yang membutakan mata memenuhi ruangan kamar. Tidak berapa lama, Rose seketika menghirup nafas dalam seperti seseorang yang baru keluar dari dalam air. Namun wanita itu masih menutup matanya.


Wanita itu takut membuka mata. Takut jika semuanya masih terlihat gelap.


"Terserah kamu mau membuka mata atau tidak. Yang pasti kamu bisa menyusul kekasihmu di alam kematian sekarang." Ujar Stevan dengan santainya. Lelaki itu berdiri di sisi ranjang dan melipat kedua tangannya.


Mendengar perkataan itu, sontak Rose membuka mata dan seketika raut wajahnya sangat terkejut. Namun keterkejutan itu bukan karena Stevan.


Ada seseorang dibelakang Stevan!


Siapakah dia?


•••


Lelaki yang baru saja tidak sadarkan diri beberapa menit yang lalu, tiba-tiba sekarang sudah berdiri dengan tegap seperti tidak terjadi sesuatu sebelumnya.


Luka bekas cengkraman di tangan dan dadanya menghilang tanpa bekas. Hanya ada darah yag mengering juga kemeja yang terkoyak hingga menampilkan dada bidang dan perut sixpacknya.



Dia terlihat sangat mengerikan dengan senyuman tipis di bibir itu. Apalagi dengan bola mata yang menghitam sempurna, dia seperti seorang iblis yang bangkit dari kematian.


Atau mungkin tubuhnya sedang diambil alih oleh Pangeran Kegelapan?


Sekejap api yang membakar lilin di sekeliling ranjang menjadi padam, kegelapan pun menyelimuti seisi kamar.


Tiba-tiba sepasang tangan dingin menyelinap ke punggung dan kaki Rose, membuat wanita itu memekik pelan ketika dia merasa tubuhnya terangkat dari atas ranjang.


Wanita itu tidak bisa memberontak sedikit pun karena tangan dan kakinya terasa mati rasa. Bahkan untuk berbicara pun hanya dengan suara yang pelan dan serak.


Dia hanya bisa panik tanpa melakukan perlawanan. Hanya bisa berdo'a di dalam hati jika saat ini yang menggendongnya bukan Stevan atau pun mahluk jahat lainnya.


Click.


Rose mendengar suara pintu yang tertutup. Kedua tangan dingin itu menghilang dan meninggalkan dirinya di atas sebuah ranjang.


Dia masih tidak bisa memastikan dimana dia berada. Semua gelap, sama seperti yang dia lihat sebelumnya. Hanya saja kali ini dia bisa merasakan sedikit kehangatan dari pada sebelumnya.


Rose hanya terdiam dan termenung. Mencoba untuk menenangkan hatinya. Dia panik, takut, marah, semua bercampur menjadi satu.


Apakah aku tidak akan bisa melihat dunia lagi?


•••


Di sisi lain, Stevan terlihat kesal. Wanita yang baru saja dia kembalikan jiwanya malah menghilang dengan sangat cepat. Padahal kedua indra penglihatannya sangat tajam walau di tengah kegelapan.


"Apa kamu sudah mendapatkan keinginanmu?" Ujar lelaki dengan suara yang menggema.


Suara lelaki yang tidak dikenal oleh Stevan. Dia mengedarkan pandangannya mencari sumber suara. Kedua matanya tertuju pada sofa yang berada di sudut kamar.


Di sana sebuah siluet mulai terbentuk dari kepulan asap-asap hitam. Asap-asap itu perlahan mulai menyerupai sesosok lelaki.


Perlahan sosok itu semakin jelas. Dari kaki hingga semakin naik ke atas, sampailah saat wajah itu terbentuk dan betapa terkejutnya dia saat melihat siapa pemilik wajah itu.


"Tidak mungkin! Kamu..." Ujar Stevan terbata-bata.


Suhu kamar mendadak turun secara drastis. Dingin dan gelap. Persis seperti saat dirinya sedang berada di dunia kegelapan.


Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Stevan mencoba tetap tenang walau rasa cemas dan takut mulai menjalar di sekujur tubuhnya.


Kenapa dia masih hidup? Bukankah tadi dia sudah tergeletak sekarat di lantai? Pikir Stevan.


"Apa kamu sudah mendapatkan keinginanmu?" Tanya Revon lagi.


Stevan memandang wajah lelaki itu, dan memang benar dia adalah Revon. Tapi kali ini dia terlihat sangat berbeda.


Stevan bisa melihat jika lelaki itu di kelilingi oleh semacam kekuatan yang sangat kuat. Itu sebabnya suhu di kamar berubah secara drastis.


Namun Stevan tidak mundur, dia yakin jika sihir kegelapan pasti lebih besar dari kekuatan yang saat ini Revon miliki.


Tanpa ragu, Stevan memulai serangannya. Dengan telapak tangannya dia membuat percikan api berwarna biru lalu melemparnya ke arah Revon.


Lharrrr. Lharrr. Lharrr.


Stevan membelalakkan mata dengan bibir yang terbuka. Dia semakin panik. Kembali dia lemparkan serangan api biru itu bertubi-tubi hingga membakar dinding dan sekitarnya.


Dalam sekejap, api sudah menjalar ke seluruh barang-barang di dalam kamar. Lautan api melahap semua barang yang ada menyisakan dua lelaki yang saling berhadapan.


"What the ****! Siapa kamu sebenarnya?" Tanya Stevan dengan penuh amarah.


Dia bisa merasakan tubuhnya semakin melemah karena memakai seluruh energinya dalam waktu semalam.


Asap dari kepulan api mulai mencemari udara. Stevan merasakan nafasnya yang menjadi sesak.


Sial. Aku harus kabur dari sini! Pikir Stevan.


Sekuat tenaga lelaki itu menerobos api dan keluar dengan membuka pintu secara paksa. Saat langkah kakinya akan keluar dari pintu, tiba-tiba dia terpental masuk kembali ke kamar hingga menabrak lemari yang sedang dilahap api.


Braakk.


Kemeja lelaki itu tersambar api, namun dia masih selamat. Dengan cepat dia melepas kemejanya dan membuangnya kesembarang arah.


Revon hanya diam berdiri memandang Stevan sambil tersenyum hingga menampilkan deretan giginya yang rapi. Tidak lupa juga sepasang taring yang tajam.


"Aku tidak mengizinkanmu pergi, Stevan. Kamu adalah tamuku yang istimewa. Biarkan aku menyambutmu dengan baik." Ujar Revon dengan santainya.


"Kamu tidak akan bisa menyentuhku. Aku pemilik sihir kegelapan. Aku akan membunuhmu lagi... dan aku pastikan kamu benar-benar mati kali ini." Ujar Stevan dengan kepercayaan diri yang tinggi.


Stevan mengambil potongan kayu di dekatnya dan mengubahnya menjadi tombak perak dengan api biru diujungnya.


Wussh. Wussh.


Lelaki itu berlari maju dan menyerang Revon. Tapi semua terlihat sia-sia karena tubuh Revon kembali menjadi asap saat tombak itu menyentuhnya.


Bruk.


Stevan ambruk dengan nafas yang tersengal. Paru-parunya terasa terbakar dan membuatnya terbatuk-batuk. Di saat itu lah Revon membuang tombak yang dia pegang.


Entah dari mana Revon tiba-tiba menggenggam sebuah pedang dengan tulisan-tulisan kuno di bilah pedangnya. Sebuah Red Ruby bertengger di tengah pegangan pedang.


Stevan menatap dengan terkejut dan tidak mampu berkata-kata.


Set.


Ujung pedang itu mengarah ke pangkal leher Stevan hingga membuat lelaki itu mendongakkan kepalanya.


"Lihat jiwamu. Sangat pantas menjadi makanan sang kegelapan..." Ujar Revon dengan pandangan tajamnya


Seakan terhipnotis, Stevan hanya diam dan menatap kedua bola mata hitam pekat milik Revon. Melihat itu, Revon menampilkan smirknya dan menggores sedikit leher Stevan.


"Seharusnya kamu tidak mengucapkan mantra itu saat mengembalikan jiwa Rose. Tanpa sadar kamu juga memanggil jiwaku yang sedang bersemayam di dalam tubuh ini. Berkatmu aku bisa memiliki wujud, bukan hanya sebatas suara di kepala..." Ujar Revon dengan tersenyum lebar.


"Kamu pemilik sihir kegelapan? Ck, yang benar saja! Kamu hanya mengambil secuil dari kekuatanku dan tepat di saat energiku tidak stabil. You *****ng as*hole!"


Sekilas dia teringat jika meninggalkan Rose di kamarnya dengan keadaan yang masih lemah. Tidak ingin berlama-lama, Revon segera menuntaskan aksinya.


Sret.


Pedang itu menyayat leher Stevan dan seketika darah pekat mengucur dengan derasnya. Tubuh lelaki itu ambruk dan tergeletak di lantai kamar. Api di sekeliling kamar semakin menyambar dan menjalar ke tubuh yang tergeletak itu.


Ajaibnya api itu tidak mendekat ke tubuh Revon. Seolah ada semacam tameng yang melindunginya.


Pedang yang ada digenggamannya mulai menghilang seiring dengannya yang berjalan keluar dari kamar.


Cklek. Pintu tertutup dibelakangnya.


Seluruh bagian rumah masih sama, tidak ada sambaran api yang menjalar keluar kamar. Hanya kamar itu yang terbakar dan menjadi lautan api.


Serentak dengan langkah kakinya menuju kamar miliknya, semua lampu mulai menyala kembali dan kembali normal seperti tidak terjadi apa-apa.


Cklek.


Saat membuka pintu, pandangannya tertuju ke arah ranjang dengan Rose yang terlelap di atasnya.


Langkah kakinya mendekat ke arah ranjang. Dengan mudah dia naik ke atas benda persegi panjang empuk itu dan memeluk tubuh wanitanya diiringi nafas lega.


"My Rose." Gumam Revon dengan lirih.