My Vampire CEO (After Death)

My Vampire CEO (After Death)
Chapter 16 - Changed



Di kamar


Revon POV


Mendengar semua penjelasan dari Rose semakin membuat emosiku mendidih.


Bagaimana bisa dia berciuman dengan si brengsek Stevan?!! Pikirku dengan kesal.


Saat ini aku merasa tubuhku perlahan seperti diambil alih oleh sesuatu yang memiliki aura kegelapan. Dan perlahan aku mendekati Rose yang berada di atas ranjang.


Aku bisa mendengar detak jantungnya yang cepat. Entah kenapa aku semakin ingin mendekatinya.


Saat wajahku berada tepat di hadapannya, dia menatap mataku dengan ketakutan.


"You've gone too far, Rose. Kamu membuatku ingin melakukan semua hal kotor dan kasar yang ada dipikiranku hingga membuatmu melupakan semua lelaki yang ada di dunia ini. Dan hanya memikirkanku. HANYA AKU!


Aku ingin menghapus semua sentuhan dari lelaki brengsek itu. Terutama di bibir itu, yang sudah seenaknya kamu berikan kepada lelaki lain." Ujarku dengan menatapnya tajam.


Sial. Aroma tubuhnya sangat harum membuatku menjadi haus.


Tidak. Aku tidak boleh memangsanya. Aku belum bisa mengontrol diriku setelah bangun dari kematian. Sudah beberapa kali aku menghabisi manusia dengan meminum darahnya hingga habis.


Tapi.. Aku sangat ingin merasakan darahnya lagi.


Tanpa sadar aku sudah menarik rambutnya agar memperluas aksesku ke lehernya. Aku memberikan kecupan di lehernya.


"Revon. Apa yang sedang kamu lakukan?" Tanyanya dengan lirih.


Aku tidak menjawab dan beralih mencium bibirnya. Dia membalas ciumanku dan tangannya memeluk leherku.


Tapi aku segera menjauhkan tangannya kemudian menyatukannya di belakang tubuhnya.


Aku mengigit bibir bawahnya agar memberiku akses ke lidahnya. Ciumanku semakin dalam dan rasa hausku semakin kuat.


Aku harus segera berhenti sebelum aku benar-benar hilang kontrol. Pikirku.


Tanpa sadar ternyata taringku mulai memanjang dan menggores bibir Rose. Darah dari goresan itu keluar dan aku menyesapnya.


Shit! Ini sangat nikmat. Sangat berbeda dengan darah yang pernah aku minum.


Tidak. Aku harus berhenti..


Sekuat tenaga aku menjauh darinya dan segera keluar dari kamar tanpa menengok ke belakang.


•••


Robert yang sedang berada di ruang tamu, bingung melihat Boss nya berjalan dengan wajah tegang ke arahnya.


"Bawakan aku mangsa baru. Sekarang. Aku tunggu di ruang biasa." Ujar Revon dengan singkat, padat dan jelas. Lalu pergi begitu saja.


Ruang biasa adalah ruangan kamar khusus yang dia jadikan tempat untuk memangsa buruannya. Karena dia tidak ingin mengotori kamarnya dengan darah. Apalagi rumahnya.


"Kenapa Boss terlihat tegang dan matanya berubah setelah keluar dari kamar Ms. Mint?" Gumam Robert lalu berjalan keluar rumah.


•••


Di kamar


Rose merasa bingung dengan tingkah Revon. Baru saja dia menciumnya, tapi sekarang lelaki itu pergi meninggalkannya.


"Ada apa dengan dia? Apa dia sebenarnya masih marah kepadaku?" Gumam Rose pada dirinya sendiri.


"Tunggu.. tadi dia mengigit bibirku. Apa dia sedang.. haus?" Ujarnya lagi dengan alis berkerut.


Wanita itu tahu jika Revon adalah vampir. Dia membutuhkan darah untuk memenuhi rasa hausnya.


Tapi sekali lagi dia bingung karena warna mata Revon yang berubah menjadi hitam sepenuhnya.


Bukannya hanya iris matanya yang memerah jika dia berubah menjadi vampir? Pikir Rose.


Karena Rose ingin menemui lelaki itu, dia memberanikan diri untuk keluar kamar. Keadaan rumah sangat sepi dan sunyi.



*Rokemendasi lagu yang di putar saat membaca bagian ini (Supermassive Black Hole - Muse)


🎶 🎶 🎶


•••


Setelah beberapa menit berjalan, dia menemukan ruang tamu. Dia tertarik melihat buku di meja. Dengan perlahan dia membuka bukunya. Namun karena terlalu antusias, jarinya tergores lembaran kertasnya.


Tiba-tiba Rose kaget melihat seorang lelaki di depannya. Dia memakai kemeja putih dan celana hitam.


Kenapa dia menatap jariku? Jangan bilang dia vampir juga? Pikir Rose.


Dan benar saja, detik kemudian lelaki itu di sampingnya dan memegang tangannya dengan erat.


"Lepaskan!" Teriak Rose.


Namun lelaki itu malah semakin mempererat pegangan tangannya membuat Rose meringis kesakitan.


Dia melemparkan buku yang dia bawa ke wajah lelaki itu berkali-kali. Tapi tetap saja lelaki itu tidak terpengaruh malah mendekatkan pergelangan tangan Rose ke mulutnya.


"Tidak. Jangan ...." Teriak Rose.


Tiba-tiba dia melihat lelaki itu ditarik secara paksa darinya dan terlempar ke dinding. Suara pecahan barang terdengar dengan jelas. Dia tidak bisa melihat jelas dan semua terlihat kabur karena gerakan mereka terlalu cepat. Namun yang pasti dia tahu kalau sedang terjadi perkelahian di depannya.


Brak!! Brak!! Brak!! Krek!


Rose terpaku melihat Revon mengambil jantung lelaki itu kemudian meremasnya hingga hancur.


Wanita itu merasa mual seketika, darah mengalir dari tangan Revon. Rose membalikkan tubuhnya agar tidak melihat itu namun tidak ada gunanya. Dia sudah melihat semua. Tubuhnya bergetar hebat dan wajahnya pucat.


Revon membersihkan tangannya dengan mengusapkan darah ke kemeja lelaki tadi. Lalu berjalan mendekati Rose.


"Rose? Sedang apa kamu disini?" Tanya Revon dengan nada datarnya.


Wanita itu terlojak kaget ketika tiba-tiba mendengar suara Revon di sampingnya.


Rose hanya diam dan sedikit menjauh dari Revon. Dia merasa takut dengan lelaki itu.


Melihat itu, Revon menyisirkan jari di rambutnya dengan frustasi. Dia tahu kalau perbuatannya tadi terbilang menakutkan.


Dia juga tidak tahu mengapa setelah bangkit dari kematian, dirinya menjadi lebih mudah emosi dan kejam.


"Aku antar kamu kembali ke kamar. Kali ini, jangan pernah keluar kamar sembarangan." Ujar Revon dengan tenang sambil mencoba mendekati Rose. Tapi wanita itu malah menjauh darinya.


Rose menatapnya dengan tatapan takut dan mata yang berkaca-kaca.


"Jangan melihatku seperti itu. Sekarang kamu ingin berjalan sendiri atau aku mengantarmu?" Tanya Revon dengan satu alis naik.


Rose hanya diam dan berjalan mendekat ke arahnya. Namun tidak cukup dekat hingga saling bersentuhan.


Revon mencoba untuk tidak menghiraukannya dan tetap mengontrol emosinya.


Saat sampai di depan pintu kamar, dia membiarkan Rose masuk sendiri dan dia tetap berdiri di luar kamar.


"Maafkan aku." Ujar Rose yang menatapnya dengan tatapan menyesal. Dia tahu maksud dari wanita itu.


Revon hanya mengangguk dan melihat Rose menutup pintu.


•••


Keesokan harinya, Rose bangun tidur tanpa melalui mimpi buruk lagi. Dia tersenyum dengan gembira.


Tapi sekarang dia bingung karena sikap Revon yang berubah. Dulu Revon tidak seperti itu. Mudah emosi dan membunuh orang.


Dan lagi dia melihat langsung kemarin saat Revon membunuh vampir itu. Dia mengambil jantungnya dan menghancurkannya.


"Itu benar-benar mengerikan" Gumam Rose.


Tok. Tok. Tok


Terdengar seseorang mengetuk pintu. Rose pun mengijinkannya masuk.


"Good morning, Ms. Mint." Sapa Robert dengan ramah.


"Good morning. Ada apa Robert?" Ujar Rose.


"Saya kesini ingin menanyakan menu makanan apa yang anda inginkan untuk sarapan?" Tanyanya kepada Rose.


"Ah, samakan saja dengan menu sarapan kalian." Jawab Rose dengan tersenyum.


"Maaf Ms. Mint. Kami tidak memakan makanan "itu" lagi. Baik Saya maupun Mr. Dent sudah berhenti untuk makan "itu" " Ujar Robert dengan sopan dan hati-hati.


Mendengar itu, Rose menjadi tidak bisa berkata. Setelah diam beberapa detik karena larut dalam pikirannya. Rose pun menjawab,


"Sandwich dan jus jeruk saja." Jawab Rose.


"Baik. Saya akan mengantarkannya ke kamar anda nanti." Ujar Robert lalu pergi menghilang di balik pintu.


Setelah Robert pergi, Rose pun memutuskan untuk mandi saja. Dia ingin sedikit menangkan pikirannya yang sedang kacau.