
Tes tes 📢
Hai Readers👋
Sebelum baca chapter ini, aku rekomendasikan sambil denger lagu
Crazy in love - Nicole Andersson
Tapi pas di bagian cerita paling bawah aja🤭😁
Udah gitu aja. Maap author ganggu wkwk
Selamat membaca😊
...•••••...
Di Kamar
Rose POV
Setelah selesai menyuapiku, Revon harus pergi karena ada sesuatu yang penting sampai Robert memanggilnya ke kamar.
Dengan berat hati aku melepaskannya.
"Padahal baru sebentar dia menemuiku." Gumamku lirih.
Dia tadi sebelum pergi berpesan untukku agar tidak keluar dari kamar sembarangan dan menyuruhku tetap di kamar.
Kenapa dia mengatakan hal seperti itu? Pikirku.
Tapi aku penasaran dengan keseluruhan rumah ini. Bagaimana ruang tamunya, dapurnya, sampai ruang makannya.
Tidak, aku harus tetap disini, nanti aku bisa meminta Revon mengantarku berkeliling rumah.
Karena tidak ada hal lain yang bisa aku lakukan, aku memutuskan untuk bermain ponsel sambil duduk di ranjang.
•••
Di suatu ruangan yang gelap dan pengap tanpa ada cahaya sedikitpun, terlihat seorang lelaki di tengah ruangan sedang terduduk di kursi tidak sadarkan diri. Tangan dan kakinya di ikat dengan tali yang sangat erat.
Cklek.
Revon masuk dan menutup pintu di belakangnya. Pandangannya sangat jelas, walau keadaan di ruangan sangat gelap. Dia berdiri dan memandang seseorang yang masih tidak sadarkan itu.
Dia berjalan ke sudut ruangan dan mengambil bak berisi air yang ada di sana. Berjalan mendekat dan tanpa ragu mengguyurkan air ke tubuh lelaki itu.
Sontak lelaki itu pun tersadar dan menggeram kesal.
"****!" Teriaknya keras.
"Time to wake up, boy." Ujar Revon dan melempar bak kosong itu ke sisi ruangan.
"Hah! Kenapa kamu kesini? Kamu rindu denganku?" Ujar lelaki itu tanpa takut.
"Yeah. Aku rindu merasakan nikmatnya memukul tubuhmu hingga terdengar bunyi tulangmu yang patah. Lalu kamu pingsan karena tubuhmu tidak kuat menerima rasa sakitnya." Ujar Revon dengan tenang.
"Hahaha. Kamu tidak akan bisa membunuhku. Ayahku adalah pemimpin clan Donovan. Dia akan tahu jika aku mati dan dia pasti akan membalas dendam." Ujar lelaki itu.
"Stevan. Apa kamu lupa? Kamu adalah anak berandal yang selalu membuat masalah. Ayahmu bahkan sudah tidak peduli denganmu. Jika dia tahu aku membunuhmu, aku tinggal mengatakan "Kamu pernah membunuhku. Kematian dibalas dengan kematian. Jadi aku harus membunuhmu." " Ujar Revon berbicara tepat di depan lelaki itu.
Ya benar, lelaki yang sedang berbicara dengan Revon adalah Stevan. Setelah kejadian di hotel, Revon mengurungnya di basement rumah ini.
"Kamu tidak akan bisa membunuhku. Aku akan membunuhmu lebih dulu. Kali ini bukan memakai tangan Rose, tapi dengan tanganku sendiri." Ujar Stevan dengan rahang yang mengeras.
Mendengar dia menyebut kejadian waktu itu. Seketika amarah Revon mendidih. Dia menendang dengan keras tubuh Stevan hingga dirinya terpental ke dinding beserta kursi yang dia duduki.
Kursi itu hancur terkena dampak benturan yang sangat keras. Stevan pun merasakan tubuhnya remuk dan dia sama sekali tidak bisa bergerak.
"Arrggh" Geram Stevan.
Revon mencengkeram kerah baju Stevan dan mengangkat lelaki itu agar sejajar dengannya.
"Hari ini bukan waktunya kamu mati. Aku belum puas menyiksamu. Aku akan membiarkanmu tersiksa dengan seluruh luka di tubuhmu. Hingga suatu saat kamu memohon kepadaku untuk mengakhiri hidupmu dengan tanganku." Ujar Revon tepat di depan wajah Stevan.
Stevan malah tersenyum dan mengatakan,
"Apa dia sudah mengatakan kepadamu? Dia wanita yang kamu cintai, mengajakku ke club dan bercumbu denganku di sana." Ujar Stevan dengan tertawa kecil.
"You are lying. Dia tidak akan melakukan hal itu." Ujar Revon dengan tatapan tajam.
"Kamu tidak percaya? Coba kamu tanyakan kepadanya. Kami bahkan sudah berulang kali melakukan sek*." Ujar Stevan dengan tenang.
Revon semakin marah. Dia melempar Stevan ke dinding dengan keras hingga terdapat retakan di dinding. Stevan pun pingsan seketika dengan darah yang mengalir di kepala dan punggungnya.
Revon keluar dari ruangan dengan cepat melewati Robert dan beberapa vampir lain yang berada di depan ruangan.
•••
Di kamar
Rose POV
Braak!!
Suara pintu yang terbuka dengan kasar.
Aku terkejut dan menjatuhkan ponsel yang sedang aku pegang. Aku melihat Revon menutup pintu dengan kasar lalu berjalan di depan ranjang.
Dia hanya berjalan mondar-mandir dengan wajah yang serius dan rahang yang mengeras.
Dia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Aku pun berinisiatif untuk bertanya.
Dia tidak menjawab dan tetap berjalan mondar-mandir.
Ada apa sebenarnya? Dia terlihat menahan marah. Pikirku sambil terus menatap kearahnya.
"Revon! Jawab aku." Tanyaku sekali lagi mencoba menarik perhatiannya.
Dan berhasil. Dia terdiam di tengah dan menyisirkan jarinya di rambut hitamnya yang sedikit lebih panjang.
Dia menatapku tajam. Aku bisa melihat pancaran kemarahan di matanya. Dia terlihat sangat menakutkan.
"Apa hubunganmu dengan Stevan?" Tanyanya. Dia sendiri seakan jijik mengatakan pertanyaan itu.
"Apa maksudmu?" Tanyaku balik.
What the hell! Apa dia berpikir aku ada hubungan dengan Stevan.
"Just answer me, Roseline." Jawabnya dengan nada yang sangat dingin hingga membuatku sedikit kaget.
"Aku tidak ada hubungan apapun dengannya. Yah, aku memang sempat bekerja dibawahnya, tapi itu hanya hubungan kerja." Jelasku padanya.
Dia semakin terlihat marah. Iris matanya semakin memerah dan bibirnya membentuk garis tipis.
"Hubungan kerja yang bagaimana?" Tanya Revon.
"Kamu tahu kan dia mengambil alih posisimu. Lalu dia menyuruhku untuk menjadi asistennya..." Ujar Rose yang terpotong oleh Revon.
"Dan kamu menerimanya?!" Potong Revon.
"Hmm. Ya. Tapi aku melakukan itu demi mencari informasi tentangmu." Jelasku dengan tenang.
"Hingga kamu mengajaknya ke club dan melakukan.... sek* dengannya?!" Ujar dia dengan marah dan alis yang berkerut.
"What? Kamu mendengar itu dari siapa? Aku tidak melakukan hal itu. Ya, memang aku mengajaknya pergi ke club dengan tujuan mengajaknya minum hingga mabuk. Lalu aku bisa mengkorek informasi tentangmu dengann mudah. Tapi..." Ujarku yang mencoba menjelaskan.
"Tapi?" Tanyanya seakan menyuruhku untuk melanjutkan kalimat.
"Tapi aku malah mabuk dan tidak sengaja... menciumnya. Dengar, aku kira itu kamu..jadi.." Ujarku dengan panik.
Oh my god! Aku mengatakan kejadian itu? Pikirku panik.
Dia membelalakkan mata dan aku bisa melihat urat nadi di lehernya yang muncul. Dia perlahan mendekat ke ranjang dan naik ke atasnya.
Damn, dia marah. Dan aku belum pernah melihatnya marah. Pikirku dengan menelan ludah.
Aura gelap keluar dari tubuhnya dan matanya berubah menjadi hitam semua.
What the ****! Kenapa matanya menjadi seperti itu? Dia semakin menakutkan. Pikirku dengan gemetar ketakutan.
Aku semakin mundur saat dia mendekat. Hingga aku tidak bisa lagi mundur karena tertahan oleh headboard.
Wajah kami berada sangat dekat hingga hembusan nafasnya menerpa wajahku dan sedetik kemudian dia menampilkan smirknya.
"You've gone too far, Rose. Kamu membuatku ingin melakukan semua hal kotor dan kasar yang ada dipikiranku hingga membuatmu melupakan semua lelaki yang ada di dunia ini. Dan hanya memikirkanku. HANYA AKU!
Aku ingin menghapus semua sentuhan dari lelaki brengsek itu. Terutama di bibir itu, yang sudah seenaknya kamu berikan kepada lelaki lain." Ujar Revon dengan menatapku tajam.
Nafasku terasa terhenti mendengar ucapannya.
Apa dia akan melakukan semua yang dia katakan?
•••
Song 🎶
(Crazy in love by Nicole Andersson)
I look and stare so deep in your eyes
I touch on you more and more every time
When you leave, I'm begging you not to go
Call your name two, three times in a row
Such a funny thing for me to try to explain
How I'm feeling and my pride is the one to blame
'Cause I know I don't understand
Just how your love can do what no one else can
Got me looking so crazy right now, your love's
Got me looking so crazy right now (your love)
Got me looking so crazy right now, your touch
Got me looking so crazy right now (your touch)
Got me hoping you'll page me right now, your kiss
Got me hoping you'll save me right now
Looking so crazy, your love's
Got me looking, got me looking so crazy in love