
Chapter sebelumnya
"Kamu tidak menduga itu, kan? Hahaha kali ini aku berhasil menyerangmu." Ujar Clein dengan bangga.
Tapi saat debu-debu itu sudah menghilang, Revon tidak ada disana. Clein mengarahkan pandangannya kesana-kemari mencari vampir itu.
Tapi dia sama sekali tidak terlihat.
"Good bye, Clein. Say hello to the darkness." Bisik Revon yang tiba-tiba terdengar di telinga Clein. Entah mengapa lelaki itu merasakan sakit yang teramat sangat di dadanya.
Tubuh Clein ambruk ke tanah dengan mata terbuka lebar. Jantungnya telah direnggut secara paksa dari tubuhnya.
"Sayang sekali ini harus berakhir lebih cepat." Ujar Revon dengan tangan yang memegang jantung dari Clein yang sudah mati.
Seperti tanpa beban, Revon membuang jantung itu ke sembarang arah. Lalu dia segera menyusul Aston ke dalam rumah.
•••
Dengan penuh waspada, Revon membuka pintu dan mulai memasuki rumah kayu itu. Semakin ke dalam semakin terlihat bahwa keadaan rumah sepi.
Insting Revon merasa ada yang tidak beres. Dia menelusuri seluruh ruangan dan tidak menemukan siapapun disana.
Saat keluar dari kamar terakhir yang berada di belakang, dia melihat ada bercak darah di lantai kayu. Mengedarkan pandangannya, ternyata bercak darah itu mengarah ke pintu belakang.
Revon mencoba merasakan sihir pelindung yang telah dibuat Aston. Sihir itu masih terasa namun lebih lemah.
My Lord, sepertinya Aston sedang dalam keadaan bahaya. Saya akan memakai sihir kegelapan untuk membatasi area 500 meter dari sini sebagai pengganti sihir pelindung. Anda harus menemukan mereka segera. Tiba-tiba suara di kepala Revon muncul begitu saja.
Lalu seketika Revon merasakan sesuatu keluar dari tubuhnya dan membuat keadaan sekitar menjadi lebih gelap. Terlihat di langit terbentuk asap-asap hitam yang mengelilingi area sekitar rumah.
Revon melanjutkan kegiatannya yang mengikuti bercak-bercak darah yang tercecer mengarah ke hutan belakang rumah.
Cukup jauh berjalan, akhirnya Revon dapat melihat dari kejauhan seorang lelaki tua menaburkan garam membentuk suatu lingkaran dengan pola aneh.
Di tengah-tengah lingkaran, ketiga orang yang dia kenal sedang terikat dengan tali yang terhubung ke sebuah kayu berukuran sedang.
"Sialan!" Umpat Revon sambil mengamati dari balik pohon.
Lelaki tua itu merapalkan sesuatu yang tidak bisa terdengar oleh Revon.
Blaarr
Entah dari mana, api menyambar dan mengisi pola yang terbuat dari garam tadi. Api itu berwarna biru.
Api berwarna biru? Sepertinya aku pernah melihat api biru ini. Stevan! Ya, lelaki itu menyerangku dengan api biru. Apa mereka adalah Klan yang sama? Pikir Revon.
"Apa kamu datang untuk menyelamatkan mereka?" Teriak Mr. Greig yang sedang meracik sesuatu di gelas kayu.
DEG
Revon pun keluar dari persembunyiannya karena sudah diketahui oleh lelaki tua itu. Perlahan dia mendekat dan mengamati sekitarnya.
Saat pandangannya turun ke arah tempat lelaki tua itu meracik ramuan. Disana, dia melihat Alex yang tidak sadarkan diri dengan kepala yang berdarah-darah.
"Khusus untuk tamu spesial. Aku telah membuatkan minuman untukmu. Prince of The Darkness." Ujar lelaki tua itu.
Sekejap aura kegelapan pada diri Revon semakin kental seperti bukan lelaki itu yang sedang berhadapan dengan Mr. Greig. Melainkan Pangeran Kegelapan.
"Aku tidak suka mulut kotormu menyebut namaku, Greig Hallagar." Suara yang penuh dengan kewibawaan keluar dari mulut Revon.
"Kamu membantu dia membunuh keponakanku, Stevan. Apa yang dia berikan kepadamu sehingga kamu mau menjadi budaknya, huh?! " Mr. Greig merasa emosinya meledak bila mengingat Stevan.
Tepat di saat ajalnya, dia mendapat penglihatan Stevan yang terbunuh secara tragis.
"Sekarang, aku akan mengambil kekuatan mereka lalu membunuhmu dengan tanganku." Ujar Mr. Greig.
Lalu tiba-tiba udara menjadi sangat dingin hingga terasa menusuk tulang. Perlahan api biru yang menyala berangsur padam. Mr. Greig yang melihat itu tidak tinggal diam.
Lelaki tua itu mencoba menyalakan api biru itu, namun dia gagal. Karena tidak berhasil melakukan ritualnya, Mr. Greig beralih menyerang Revon.
"Brengsek! Aku akan membunuhmu." Ujar Mr. Greig dengan amarah yang mendidih.
Mr. Greig melempar bola api biru ke arah Revon. Namun saat bola api itu hendak menyentuh tubuhnya, lagi-lagi tubuh Revon berubah menjadi asap hitam.
"Aku akan membunuhmu. Aku pasti bisa membunuhmu." Lelaki tua itu masih belum menyerah. Dia melempar berulang kali bola api biru ke arah Revon.
Tidak berhenti sampai disitu, Mr. Greig dengan sihirnya melemparkan batu yang sangat besar ke arah Revon dengan cepat.
Baaamm
Bruuaaghhh
"Hahaha.. Kau pasti tidak bisa menghindari itu." Ujar Mr. Greig dengan percaya diri.
"Kau sudah lamban sekarang. Terbukti seranganmu kurang cepat. Hmm. Sudah waktunya kau pensiun, Greig." Ujar Revon yang tiba-tiba bersandar di pohon pinus tepat di samping Mr. Greig. Dia membersihkan sisi kemejanya yang terkena butiran debu.
"Brengsek!" Mr. Greig segera menyerang Revon lagi. Dia melempar bola-bola api biru ke arah Revon. Namun tetap saja itu tidak melukai tubuh Revon.
Hingga lelaki tua itu merasa energinya terkuras banyak. Tangannya terasa membeku karena suhu udara yang semakin menurun. Nafasnya mengeluarkan uap dingin.
Revon melihat gelas kayu yang berisi ramuan tadi yang dibuat Mr. Greig tergeletak di tanah. Namun isi ramuan itu masih tersisa.
Wajah Revon menampilkan smirk lalu mengambil gelas kayu itu. Perlahan Revon mendekati Mr. Greig yang berjalan mundur menjauhinya. Karena tidak melihat langkahnya, Mr. Greig terjatuh.
Bruugh
Revon menunduk dan menarik wajah Mr. Greig. Membuka mulut lelaki tua itu dengan paksa dan meminumkan ramuan yang ada di gelas hingga tak bersisa.
Seketika Mr. Greig berusaha memuntahkan ramuannya. Namun sudah terlambat. Ramuan itu sudah berhasil melewati kerongkongannya.
Tanpa menunggu waktu lama, ramuan itu cepat bereaksi.
Darah keluar dari kedua mata, hidung dan telinga lelaki tua itu. Dia terbaring di tanah, tubuhnya mengalami kejang-kejang.
"Menyenangkan melihatmu sekarat dengan ramuanmu sendiri." Ujar Revon dengan tersenyum.
Setelah memastikan Mr. Greig tidak bernyawa. Revon segera mengembalikan suhu udara dan melepaskan Erica, Robert dan Aston.
"Aston, bangun! Aku tahu kau sudah sadar sejak tadi." Revon menepuk-nepuk pipi lelaki muda itu.
Memang benar, Aston sudah sadar sejak Mr. Greig menantang Revon. Namun dia terlalu takut untuk membuka matanya.
"Kamu terlihat.. sedikit berbeda." Aston berkata sambil memandang Revon dengan wajah takut-takutnya. Revon hanya menatap Aston tanpa menjawab.
"Kita harus menolong mereka secepatnya." Ujar Revon melirik ke arah Robert dan Erica yang tidak sadarkan diri. Tangan mereka penuh dengan luka sayatan dan darah masih menetes dari luka itu.
Revon merobek sedikit sisi kemejanya dan melilitkan kainnya ke tangan Robert dan Erica. Aston dengan sigap menggendong Erica sedangkan Revon membopong Robert.
Setelah keduanya sudah aman di mobil, Revon meminta Aston untuk berjaga di mobil.
"Kau tetap disini. Aku akan membawa Alex." Ujar Revon lalu berlari cepat ke tempat sebelumnya.
Kini semuanya telah masuk ke dalam mobil dan mereka pun keluar dari desa sialan itu. Kali ini, Aston yang mengemudi. Dini hari mereka sudah berada di luar area desa itu. Aston segera mengunci kembali gerbangnya.
My Lord. Saya sudah membersihkan seluruh jejak kita disana. Tidak ada yang tahu bahwa kita pernah kesana. Suara dikepala Revon kembali lagi.
Revon hanya mengangguk dan menikmati perjalanan menuju rumah.