
Rose POV
Pandanganku tidak bisa lepas dari lelaki yang baru saja keluar dari kamar mandi. Rambutnya yang masih basah dan butiran air yang menetes ke lehernya lalu turun ke bahunya yang kokoh dan semakin turun ke dada bidangnya.
Setelah melewati perut sixpacknya butiran air itu menghilang di balik handuk yang terlilit sangat rendah di pinggangnya.
“Kamu terlihat sangat menikmati melihatku seperti ini." Ujar Revon dengan nada humornya. Dia sedang berjalan membelakangiku menuju walk in closet.
Bagaimana di bisa tahu? Pikirku dengan heran.
Pipiku seketika memanas karena perkataan Revon.
"Hmm.. Aku tidak melihatmu.." Ujarku dengan malu-malu.
Aku melihat dia keluar dari walk in closet. Kali ini dia terlihat lebih santai dengan kaos putih dan celana jeans hitam.
"Aku tidak keberatan jika kamu melihatku. I'm all yours, bae." Ujarnya yang sekarang berada di hadapanku. Dan tersenyum manis.
Oh my fucking god! Aku meleleh. Teriak alam bawah sadarku.
Mulutku tidak bisa berkata lagi. Dia benar-benar menyita perhatianku sepenuhnya.
"Sudah larut malam, saatnya kamu tidur." Ujar Revon dengan mengulurkan tangannya.
Aku meletakkan gelas kosong yang tadinya berisi jus jeruk ke meja. Lalu menerima uluran tangan Revon dengan tersenyum.
Setelah sama-sama naik ke atas ranjang, aku pun mendekat ke tubuhnya. Menelusupkan wajahku di lehernya, manikmati aroma khas yang aku rindukan.
Dia memelukku dan semakin mendekatkan tubuhnya hingga tidak ada cela diantara kami.
"Aku sangat merindukanmu, bae." Ujar Revon dengan lembut sambil mencium rambutku.
"Aku juga sangat merindunkanmu, honey." Ujarku dengan lembut sambil menggesekkan hidungku di lehernya.
Terdengar suara tawa dari mulutnya yang membuatku ikut tertawa juga.
"Stop it. Itu membuatku geli." Ujarnya dan berusaha menjauhkan lehernya dariku.
"Okay okay. Aku akan berhenti." Jawabku dengan tertawa kecil.
Setelah itu kami hanya diam menikmati momen ini hingga tidak terasa aku pun tertidur.
•••
Pagi ini Rose terbangun karena tidak merasakan Revon di sampingnya. Dia melihat sekelilingnya, namun tidak ada tanda-tanda lelaki itu.
Lalu dia memutuskan untuk pergi membersihkan diri terlebih dahulu.
Setelah selesai mandi, dia terkejut melihat Revon dengan setelan jas rapi sedang duduk di sofa sambil menelpon seseorang.
Lelaki itu menatap Rose dengan mata berbinar dan tersenyum dengan lebar.
"No... Kamu katakan kepadanya untuk menyiapkan semuanya... Aku akan kesana hari ini hanya untuk mengecek saja... "Ujar Revon dengan seseorang di sebrang sana.
Wanita itu menghampirinya dan memberikan kecupan di bibirnya. Dengan cepat Revon mengakhiri panggilannya dan meraih pinggang Rose agar duduk di pangkuannya.
"Finally. Aku sangat bosan hanya berdiam diri disini. Biasanya aku akan pergi bekerja di jam-jam ini." Ujar Rose dengan wajah cemberut.
"Belum saatnya kamu kembali. Aku masih ingin menghabiskan waktu berdua bersamamu lebih lama." Ujar Revon dengan manja.
Tangannya mengusap pipi Rose dengan lembut hingga membuatnya menutup mata meresapi sentuhannya.
"Kita akan pergi ke suatu tempat. Tapi aku harus pergi ke perusahaan sebentar." Ujar Revon.
"Apa kamu akan kembali menjadi CEO?" Tanya Rose dengan tertarik.
"Sejak kapan aku berhenti jadi CEO? Stevan tidak layak mengambil jabatanku. Dia sangat tidak kompeten." Jawab Revon dengan alis berkerut tidak suka.
"Hmm.. yah. Dia saat itu hanya datang ke kantor tanpa mengerjakan apapun. Dia hanya menyuruhku ini itu." Ujar Rose tanpa sadar membuat mood Revon menjadi buruk.
"Jangan bahas lelaki brengsek itu lagi. Aku tidak suka." Ujar Revon tanpa melihat ke arah Rose.
Wanita itu bisa melihat jika Revon marah dan tidak suka. Dia mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Aku belum memakai baju. Apa kamu bisa mengambilkan gaun di kamarku?" Ujar Rose sambil tangannya menelusuri rahang lelaki itu, lalu turun ke leher dan semakin turun ke kemejanya.
Merasakan sentuhan itu, Revon perlahan menatap kembali wajah Rose yang memerah.
"Tidak perlu repot mengambil baju ke kamarmu. Aku sudah membeli beberapa baju dan meletakkannya di walk in closet." Jawab Revon sambil mengarahkan pandangannya ke walk in closet yang ada di kamarnya.
Rose menatapnya dengan pandangan tidak percaya.
Kapan dia mengisi walk in closetnya dengan bajuku? Dan kenapa dia harus membelikan yang baru? Haah.. Pikir Rose.
"Kapan kamu memasukkanya ke sana? Dan kenapa harus membeli yang baru?" Tanya Rose dengan alis berkerut.
"Kemarin aku membelinya dan kemudian memasukkannya di sana. Kenapa aku membeli baru? Jawabannya karena aku ingin. Just as simple as that." Jawab Revon dengan santainya.
"Aku bisa membelinya dengan uangku sendiri." Ujar Rose kemudian.
"Aku tidak akan membiarkan kamu memakai uangmu. End of discussion. Sekarang kamu bisa bersiap dan 10 menit lagi kita pergi." Ujar Revon dengan tegas.
Rose menghembuskan nafas dengan kasar dan beranjak dari pangkuan Revon. Namun sebelum itu, Revon menarik tangannya dan meraih tengkuknya untuk mencium wanita itu.
Selama beberapa detik mereka saling mencium dan ******* bibir satu sama lain. Hingga Revon melepas ciuman dan berkata,
"I can't get enough of you. Pikiranku selalu tidak bisa lepas darimu. Oh, Rose." Ujar lelaki itu dengan menatap Rose intens.
Nafas mereka tidak beraturan setelah ciuman yang memabukkan itu.
"Ingat, kamu tadi memintaku untuk berganti baju." Ujar Rose dengan nada humornya.
Dia berkata begitu karena tangan Revon masih setia memeluk pinggang Rose dengan erat.
Dengan enggan, Revon melepaskan Rose dan melihat wanita itu berjalan ke walk in closet.
Untuk sedikit menenangkan tubuhnya, dia menuang wine ke gelas dan meminumnya dalam sekali teguk.