My Mine

My Mine
Mempertemukan si kembar dengan Ayahnya



.


.


.


.


Khanza membereskan semua barang-barang milik si kembar, mereka akan pulang sore hari itu, masuk lah bi Ranti dan membantu Khanza membereskan semuanya.


" biar Khanza saja bi.." ujar Khanza ia melihat asisten nya itu sudah membantunya.


" gak papa Non, saya bantu.."


" bi, satu orang ikut saya pulang ya.." ujar Khanza.


" biar saya saja kalau gitu non, bi Susi yang nungguin bi Indri..."


" oke deh.." Khanza tersenyum.


mereka kembali merapihkan barang-barang milik si kembar, Nanda masuk ke ruangan, dia mendapati anak-anaknya duduk di kursi, sementara sang istri sedang membereskan barang-barang miliknya.


" sayang hari ini Ayah dan Ibu ingin mempertemu kan kalian dengan seseorang." mendengar Nanda berbicara seperti itu, Khanza menghentikan aktivitasnya dan menghampiri mereka.


" memang nya siapa Ayah.." tanya Kel, mereka masih kebingungan.


" Ayah ingin sekali kalian bertemu dengan Ayah kandung kalian.." terlihat si kembar saling berpandangan mereka heran dan bertanya-tanya.


" tidak usah Ayah, kami kan sudah punya ayah sama ibu.." ujar key.


" key, jangan bicara seperti itu nak. bertemu lah dulu dengan dia. " lirih Khanza. dia memandangi kedua anaknya. si kembar terlihat bernapas lesu, Khanza tau perasaan kedua anaknya itu, mereka takut akan kehilangan Nanda yang notabenya sebagai Ayah sambung.


" kel sama key tenang saja, ayah tetap ayah kalian, ayah hanya ingin kalian bertemu dengan ayah kandung kalian, tak ada maksud yang lain." jelas Nanda, bagaimana pun dia akan meyakinkan kedua anaknya, bahwa dia tetaplah ayahnya, mereka tetap anak-anaknya Nanda.


" baiklah kalau gitu ayah, dimana kami


harus bertemu dia.."


Nanda dan Khanza sama-sama memeluk si kembar, mereka bahagia anak-anak nya mau mengerti.


.


.


.


tepat di depan Ruang rawat Gio, Khanza dan Nanda bersama kedua anaknya masuk ke ruangan. sejenak Kedua orang tua Gio dan Gio hanya terpaku melihat si kembar masuk, seperti yang Gio katakan, anak-anak itu adalah dirinya versi kecil, mereka sangat mirip dengan Gio.


Nanda yang mengerti kecanggungan itu, berjongkok dan menghadapkan si kembar kepada dirinya, ia tersenyum kepada keduanya itu. Nanda tau ada ketakutan dalam diri anak-anaknya.


" pergilah!!!... rangkul papa kalian." ujar Nanda dia tersenyum meyakinkan sang anak bahwa semuanya akan baik-baik saja.


perlahan kedua anak itu berjalan menuju ranjang Gio, tubuh Gio bergetar hebat. anak-anak nya berada di hadapanya, untuk pertama kalinya mereka menatap dirinya, mata indah nan polos itu, tak lekat memandangnya.


" anak-anakku.." lirih Gio, bibir nya bergetar. suaranya hampir terputus.


semua orang memandang takjub kejadian itu, mereka paham kecanggungan itu, meski bukan pertama kali Gio bertemu anak-anak itu, namun ini pertama kali, dia bertemu anak-anak yang ia ketahu adalah anak-anaknya.


si kembar mematung di hadapan Gio, mereka kebingungan dan masih tak percaya dengan kenyataan bahwa Gio adalah ayah kandungnya.


" peluk papa nak.." lirih Gio, dia merentangkan kedua tangan nya, si kembar masih tanpa suara namun mereka menghampiri Gio dan memeluk nya.. Gio terisak sambil memeluk anak-anaknya. tuan Pernando dan nyonya Anggi juga terisak menyaksikan adegan itu, bahagia campur haru. mereka tahu anak laki-lakinya sangat bahagia, tangisan nya mendakan ia bahagia.


" anak-anakku,.." lirih Gio. ia terus terisak..


" maafin papa nak, maafin papa.. maaf.. " racau Gio, kedua tangan mungil milik anak-anaknya itu mengelus punggung Gio. mereka mulai menerima kenyataan, bahwa laki-laki yang memeluk nya memang benar ayah kandung mereka.


" papa..." lirih key.


" iya nak ini papa.. papa senang bisa di kasih kesempatan bertemu dan memeluk kalian,,, papa bagaia nak.." ujar Gio.


" papa..." ucap si kembar bersamaan, mereka makin mengeratkan pelukannya.


Khanza dan Nanda pun menatap haru keadaan itu, Khanza mengusap linangan air matanya. entah apa yang dia rasa, yang jelas dia lega akhirnya anak-anak bisa bertemu dengan Gio, si ayah biologis dari mereka.


Nyonya Anggi dan tuan Pernando juga memeluk si kembar bergantian, selain mereka menggemaskan, mereka juga sangat mirip dengan Gio sewaktu kecil. tak ada satupun celah yang tidak sama, semua nampak sama.


" cucuku.." lirih mereka .


Khanza hanya berlinang air mata, sesekali ia usap agar tak sampai terjatuh di pipi.


" mas.." lirih nya.


Nanda dengan lembut merangkul sang istri, mengusap-ngusap tangan sang istri, kebahagiaan nya bertambah satu, yaitu si kembar sudah mengetahui ayah kandungnya, meski begitu dia berjanji akan menjadi ayah yang baik untuk mereka, dia hanya akan bersikap adil kapanpun si kembar ingin bertemu ayah kandungnya, dengan senang hati Nanda memperbolehkan.


.


.


.


" Khanza.." Ayu merangkul Khanza membawanya kedalam pelukan, semua teman-teman nya juga melakukan hal yang sama, Deri juga juga merangkul Nanda, merasa bangga dengan kerendahan hati sahabatnya.


" gue benar-benar bangga sama lo.." ujar Mita, dalam pelukan Khanza..


" terimakasih mit.."


Khanza kembali di peluk panji dan dimas.


" lo wanita hebat yang pernah gue kenal, gak salah kalau gue kagum sama lo dari dulu.." ucap Dimas.


" terimaksih semuanya..." ujar Khanza.


" anakkuu.." Khanza sudah di peluk oleh bunda doris.


" Bunda bangga sama kamu nak,.." ucap bunda doris.


" terimakasih bunda..." Khanza memeluk bunda nya sangat erat..


Khanza juga di peluk oleh kedua mertuanya, secara tak sadar hikmah dari semua ini Khanza bertemu dengan orang-orang luar biasa.a


" lihat lah ibu, Khanza benar-benar bahagia sekarang, terimakasih untuk semuanya ibu. ini semua berkat ibu, andai tuhan memberikan Khanza sempatan, Khanza ingin menjadi anak ibu sekali lagi... yang tenang di sana ibu, kau sudah sudah lihat Khanza bahagia, ibu, Khanza selalu menyayangimu malaikatku.." lirih Khanza dalam hati.


dengan bahagia ia menatap orang-orang di sekelilingnya, dia melihat semua orang tampak bahagia, termasuk sang suami, Khanza meraih tangan Nanda, menggandeng tangannya dan menariknya jauh dari kerumunan orang-orang mereka berlari menuju lobby.


" kita mau kemana sayang.." tanya Nanda. heran tiba-tiba istrinya menarik tangan nya.


" hanya ingin melihat wajah kamu, tanpa di ganggu siapapun.." jawab nya.


" tapi anak-anak." tanya Nanda.


" biarkan mereka bersama Gio dulu, sepertinya mereka butuh masa pendekatan!! nanti kita jemput lagi.."


" baiklah.!! mau kemana istriku,??"


" kemana saja asal selalu sama kamu.."


" ayo... dengan senang hati menuruti kemauan tuan putri.." Khanza terkekeh, teringat masa-masa dahulu saat suami nya selalu menggodanya.


mobil mereka melaju membelah jalanan kota jakarta yang masih sangat ramai, tangan Nanda tak lepas memegang tangan istrinya, sesekai ia mencium punggung lengan sang istri sayang.


.


.


.


^ happy reading.^^ 😘😘😘😘