My Mine

My Mine
Batin yang kuat



hallo author masih update ya..


karena di usahakan up empat episode setiap harinya.🌺


.


.


.


setelah mata kuliahan selesai, Khanza buru-buru merapihkan buku-bukunya tak sabar untuk menjemput sang anak. hari sudah menjelang sore, tak terbayang jika anak-anak nya seharian sudah ia tinggalkan. Khanza begitu resah perasaan nya campur aduk, memikirkan bagaimana keadaan anaknya sekarang.


" za buru-buru banget. " ujar Uci, teman-teman nya melihat Khanza yang berjalan ke arah parkiran dengan terburu-buru.


" anak gue di titipin di rumah bu Laras... Khawatir gue. " cemas nya. tak ada yang bisa menggantikan rasa seorang ibu ke anaknya. kenyataannya memang benar dia sangat cemas sekarang.


" emm gitu ya kalau udah jadi ibu, ada yang di cemasin, gue jadi mau..." Mita memelas.


" segera lah kalian menikah.. " tekas Khanza.


" mau nya si gitu za.. " ucap Uci. dari mereka memang ada yang ingin menikah muda, biar cepat punya anaknya katanya, tapi bagaimana mau nikah pacaran saja tidak.


" teman-teman aku duluan ya.. " ujar Khanza. dia sedikit berlari ke arah mobilnya yang sudah terparkir. disana Deri sudah menunggunya.


" hati-hati za.. " teriak Ayu.mereka melihat Khanza menaiki mobilnya.


" kenapa Khanza tampak cemas.. " tanya Panji. kedua laki-laki itu baru bergabung dengan teman-temannya. dan terakhir yang mereka lihat Khanza buru-buru menaiki mobilnya.


" khawatir sama anaknya,,, " jelas Ayu..


" wanita idaman sekali ya dia.. " ucap Dimas..


" udah punya calon laki, hati-hati lo.. " ucap Uci menegaskan kalau Khanza itu sudah punya calon suaminya sendiri. sengaja biar kedua laki-laki itu berhenti berharap.


mimik wajah kedua laki-laki itu berubah, mereka baru tahu Kalau Khanza sudah punya calon suami. sedih pasti mereka rasakan, namun sebagai teman. akan mendukung temannya selama itu yang terbaik.


.


.


.


sementara Khanza tampak cemas, bagai mana tidak, baby sitter nya tak ada menghubunginya sejak tadi pagi. perasaannya campur aduk. setelah jadi orang tua, sikap nya sangat berbeda yang dia Khawatirkan hanya anak-anaknya tak ada hal lain.


" Der agak cepat ya.. " titah nya


" jangan cemas, anak-anak baik-baik saja. "


Deri tahu majikanya sangat cemas, mimik wajahnya terlihat gusar. ia ingin tahu bagaimana keadaan anaknya sedang apakah mereka. perasaannya tak dapat di artikan, intinya dia sangat Khawatir.


" seharian gak ketemu, kayak aneh aja gitu .. " jelas Khanza


" ya saya mengerti.. "...Deri tersenyum melihat tingkah lucu majikannya.


setelah lama, sampai lah di kediaman bu Laras, Khanza turun dari mobil dia setengah berlari masuk ke dalam rumah. kecemasan nya, benar-benar membuat Khanza tak mengingat apapun lagi, selain harus bertemu anak-anak nya sekarang juga.


" bi Indri di mana anak-anak.. "


Khanza tak mendapati anak-anaknya, yang dia lihat hanya bi Indri saja, kemana anak-anaknya. dia sudah sangat khawatir.


" non anak-anak sedang di taman belakang, bersama buk Laras dan pak Bayu.." jelas bi Indri


Khanza menarik napas lega, setelah bi indri memberi tahukan keberadaan anak-anaknya. dia setengah berlari menuju ke taman belakang.


" hei. itu ibu udah pulang.." bu laras yang melihat khanza datang ke arah nya. dia sedang menggendong baby key, sambil menimang-nimangnya. Khanza juga melihat anak-anaknya tertawa bahagia di ajak main seperti itu.


Khanza berhambur memeluk kedua anak nya.. ia sangat bahagia, perasaan nya sangat lega, karena mendapati anak-anak nya baik-baik saja, bahkan tengah ketawa-ketawa karena di ajak main oleh bu Laras dan pak Bayu. rasa rindunya terbayarkan karena sudah bertemu dengan mereka.


" sayang ibu sangat rindu.. " khanza terus mencium tangan kedua anak nya bergantian.


sang anak malah ketawa-ketawa, seolah mungkin karena ibu nya seperti mengajak nya bermain, padahal Khanza sedang di liputi rasa bersalah karena telah meninggal kan mereka cukup lama.


" Khawatir ya za.. " tanya bu Laras. dia tahu kecemasan Khanza, melihat Khanza yang datang terburu-buru tadi.


" iya iya ma di kampus kepikiran mulu.. " jawabnya


" itu karena kamu belum terbiasa, memang seperti itu, seorang ibu akan mempunyai tingkat Khawatir yang lebih tinggi. mungkin karena ikatan batin.. " jelas buk Laras, dia mencoba menenangkan Khanza, bahwa itu sangat wajar jika awal-awal meninggalkan anaknya.


Khanza tak henti-henti memeluk anak nya, dia begitu rindu kepada kedua mahkluk kecilnya.


.


.


.


.


" zaa anak-anak pinter banget tadi.. " ucap bu Laras.


" emm lucu banget pada ceria, gak rewel sama sekali.. " sambung pak Bayu.


" maaf ya omma oppa, jadi ngerepotin.. " ujar Khanza. jujur saja dia merasa tak enak hati sudah merepotkan kedua orang tua paruh baya itu.


" sama sekali tidak, kami sangat senang.. ". ucap bu Laras lalu tersenyum..


" Nandana juga tadi sangat senang, bahkan sempat menggendong mereka.. " ujar pak Bayu. memberitahu kan kalau anaknya juga sangat menyukai bayi-bayi mungil Khanza.


tentu itu sedikit membuat Khanza terkejut, Karena Khanza tidak melihat Nandana ada di rumah tadi pagi.


" emang ada ya pa.. " tanya nya.


" Kadang-kadang pulang ke rumah, tapi lebih sering pulang ke apartemen nya jadi kita juga jarang ketemu. " jelas pak Bayu..


Khanza hanya mendengar kan cerita demi cerita tentang Nandana dari orang tuanya. sebenar nya juga dia tidak peduli jika pernikahan nya tidak terjadi, jika Nandana sendiri menolak, dia sangat sadar diri, bahwa dirinya juga sudah mempunya dua anak. sedangkan Nandana itu pria muda yang kaya raya, Seorang CEO pula, pasti banyak sekali yang ingin menjadi istrinya..


ia jauh dari keritaria perempuan yang pantas untuk Nandana itu, namun ia juga tidak akan mengambil keputusan sendiri, biar lah begitu biar lah hanya Nandana yang memutuskan nya, mau atau tidaknya menikahi dirinya.


setelah semua sudah selesai bi Indri siapkan, Khanza pamit pulang. tak lupa ia ucapkan terimakasih karena mereka telah menjaga kedua malaikatnya.


" zaa kalau nanti mau titip Key dan Kel lagi, dengan senang hati, jangan sungkan yah!!. " ucap bu Laras. dia tersenyum sambil menoel-noel pipi gembul kedua bayi itu.


" memang tidak ngerepotin ma,.. " tanya Khanza.


" tidak sama sekali za, kami senang rumah ini menjadi sangat ramai.. " jelas buk Khanza. benar kata ibu Diana kedua bayi itu bagai menghipnotis keadaan rumah. yang nampak ramai dalam sekejap.


" baik lah kalau gitu. nanti para baby ini akan merepotkan omma sama oppa lagi ya hehe.. "


Bu Laras ikut terkekeh, dan mencubit halus pipi si kembar bergantian..


" pamit ya ma.. pa... makasih sekali lagi.. " . ujar Khanza.


" iya sayang.. "


Khanza menyalami tangan bu Laras dan pak Bayu bergantian. dan masuk ke dalam mobil di ikuti baby sitter nya..


baby key dan baby kel, masih tertawa tawa riang, pas sampai di kediaman bu Diana mereka di sambut hangat oleh bi Ranti dan bi Susi.


" rumah serasa sepi, gak ada mereka non.. " ucap bi Ranti, ketika mereka baru tiba.


sambil mengambil alih menggendong baby key dari gendongan Khanza..


" gak ada yang nangis-nangis ya bi.. " ucap Khanza.


" iya non pokonya.. sepi banget rasa nya, besok gak usah di titipin biar di rumah saja non sama kita-kita.. " cerocos bi Susi..


" iya bi, tadi karena anak-anak rewel saja, makanya di titip, besok tolong jagain ya baby key sama baby kel nya.. " ucap Khanza menjelaskan kepada para asistennya yang protes, karena tidak adanya keberadaan mereka.


" iya non. " ucap para adisten nya..


" titip sebentar ya bi, Khanza mau mandi dulu, susu nya masih sisa kan bi Indri, yang tadi.. " tanya Khanza


" masih ada kok non.. " jawab bi Indri


" yasudah saya mandi ya bi.."


Khanza naik ke kamar nya untuk membersihkan badan nya, ia masih memikirkan para asisten nya yang protes karena tak ada keberadaan para baby nya di rumah..


sementara para asisten nya sudah pokus sama baby Key dan Kel, melepas rindu karena seharian si baby gak ada di rumah.


mereka sudah terbiasa dengan keberadaan baby nya, hingga saat si para baby gak ada, rumah terasa sangat sepi, itu alasan kenapa mereka protes.


" besok sama bibi aja ya, jangan rewel. nanti kalian di titipin lagi. bibi jadi kesepian di rumah.. " ucap bi Ranti sambil mengelus pipi si embul key dan Kel.


sedangkan si bayi hanya ketawa-ketawa riang. seolah mentertawakan sang asisten yang masih protes karena ulah nya.


" lucu ih sering ketawa sekarang yahh.. makin pinter.. "


semua asisten memang sangat menikmati karena adanya kedua bayi itu. mereka sangat antusias jika saat di minta menjaga para bayi itu..


itu lah kenapa Khanza sangat bersyukur berada di keadaan saat ini.


.


.


.


.....