My Mine

My Mine
kepulangan Khanza



Tak lepas Nanda memegang tangan sang istri, menempel kepada sang istri seolah-seolah tak ingin di tinggal jauh,


sudah tiga hari Khanza di rawat, tiga hari itupun Nanda terus menempel kepada sang istri, bahkan tugas kantor pun ia serahkan kepada sang asisten.


" mas.. Khanza sudah gak papa, kalau mau ngantor gak papa ko.." kata sang istri, dia pun heran kenapa sang suaminya itu selalu menempel kepada nya bahkan tak mau kepas.


" gak mau sayang...mas mau tetap di sini sama kamu.." ucap Nanda manja.


Khanza menggeleng, menatap sang suami nya, entah apa yang membuat suaminya menjadi seperti itu, keadaan nya berubah menjadi sangat manja


Dokter Novita masuk ke ruangan Khanza dia tersenyum melihat suami istri itu, dokter Novita adalah dokter kandungan Khanza sekarang.


" permisi tuan dan nyonya, biar saya periksa dulu ya.." kata dokter Novita, menyapa kedua manusia itu yang saling menempel satu sama lain.


" oh iya. silahkan dok.." kata Nanda. barulah ia melenggang dari tubuh sang istri,


dokter Novita mulai memeriksa Khanza, dokter itu dengan telaten mengecek Khanza, sesekali ia mengajak Khanza untuk mengobrol agar Khanza lebih merasa Nyaman dan rileks.


" keadaan nya sudah sangat baik, janin nya juga sangat kuat dan sehat, hari ini Nyonya Khanza sudah boleh pulang ko.." kata dokter novita.


" ah syukurlah sayang.. " kata Nanda. ia sangat bahagia, Nanda kembali merangkul Khanza dan mengelus perut Khanza dengan lembut.


" ini ada beberapa resep vitamin yang harus di ambil di apotik. "kata dokter Novita.


" baik dok nanti saya akan ambil. "


Nanda mengambil kertas berisi resep vitamin dari dokter Novita.


" satu lagi aktivitas nyonya harus di batasi, jangan terlalu kecapean dan jangan sampai nyonya banyak pikiran ya, jangan lupa bulan depan harus cek lagi ya nyonya... " kata Dokter.


" baik dokter, kami akan selalu mengusahakan, sekali lagi terimakasih dokter. " kata Nanda.


dokter Novita pun keluar dari ruangan.


Nanda kembali merangkuk istrinya, dia merasa sangat bahagia.akhirnya Khanza sudah sehat.


" aku beresin semua barang-barang kamu dulu, kamu juga siap-siap pulang ya.." kata Nanda ia mengelus lembut pipi Khanza.


" iya mas.."


" semua keluarga sudah menunggu kita, dirumah.. "


" iya mas, aku sudah rindu rumah deh.. "


mereka berdua mempersiapkan untuk keluar dari rumah sakit, Khanza sudah terlihat sangat sehat, wajahnya terlihat berseri kembali, sesekali ia memandangi sang suami yang sedang membereskan semua bajunya.


" aku rindu si kembar mas.." ujar Khanza.


" mas juga sayang, beberapa hari tak melihat tingkah gemas mereka membuat mas merasa ada yang kurang. "


" semoga mereka bahagia dengan kehadiran adik mereka ya mas. " kata Khanza.


" mereka pasti bahagia sayang.. " Nanda tersenyum, meyakin kan keraguan sang istri, Nanda sangat paham akan pemikiran sang istri, baginya si kembar juga anak-anaknya, dia akan menjadi seorang ayah yang adil, untuk semua anak-anaknya kelak.


" sudah siap .. " tanya Nanda.


mereka keluar dari ruang rawat Khanza, tak lupa Nanda menebus vitamin yang sudah dokter minta tadi, Nanda juga pergi ke pembayaran administrasi, untuk membayar semua biaya selama Khanza di rawat..


setelah selesai Nanda dan Khanza pergi memasuki mobil yang sudah terparkir apik disana, Dengan telaten Nanda memegang tangan sang istri, membantunya masuk ke dalam mobil, setelah istrinya masuk, dia menutup pintu, dan masuk di pintu kemudi stir.


" sekarang kita kemana. apakah ada tempat yang ingin istriku kunjungi. " tanya Nanda. ia melihat sekilas wajah sang istri.


" tidak mas.. aku ingin pulang saja, sudah rindu dengan anak-anak, mama sama papa juga,. " jawab Khanza ia malah sudah tidak sabar, bertemu kedua anaknya.


" oke lah sesuai kemauan istriku.. " Khanza terkekeh, dan Nanda mulai melajukan mobilnya..


lama dalam perjalanan menuju rumah nya, Khanza tertidur di mobil, keadaan nya sedikit masih mendung selepas hujan, membuat Khanza ingin tidur mendapati suasana nya memang sangat dingin siang itu..


Nanda hanya membiarkan istrinya itu terlelap dengan nyaman, ia sedikit menaikan suhu AC di mobilnya, agar Khanza merasa selalu hangat, ia melihat wajah sang istri, Rasa syukur berlipat-lipat ia ucap kan atas kebahagiaan yang ia rasakan, tuhan menganugrahinya cinta yang begitu luar biasa, untuk orang yang tepat, Nanda sangat bersyukur istrinya adalah Khanza, dan Khanza telah memberikan banyak kebahagiaan dan perubahan di dalam hidupnya.


" akan ku bawa kau menuju kebahagiaan sayangku, tidak akan ku biar kan siapapun menyakiti keluarga kita, aku mencintaimu.. " lirih Nanda dalam hatinya.


Andai dia bisa mengucapkan kata itu langsung kepada sang istri, mengutarakan semua perasaannya namun ia terlalu takut istrinya akan berubah menjadi membencinya, itulah sebab kenapa ia tak pernah mengungkapkan perasaannya, biarlah seperti ini.. dengan Khanza yang tak menolaknya, dan mengurus semua keperluannya, sudah membuat Nanda sangat bahagia.


mobil Nanda terparkir apik di sebuah rumah mewah yang ada di komplek perumahan pondok indah, Nanda mengoyangkan tubuh Khanza pelan, dia membangun kan Khanza yang masih berlayar di alam mimpinya.


" sayang bangun yu.." kata Nanda.


" ini sudah sampai rumah.. " kata nya lagi.


khanza mengerang, dia mengercipkan matanya, mendapati sudah sampai di rumahnya,


" eh sudah sampai ya mas.. " kata Khanza


" iya sayang, lelap banget si tidurnya." ujar Nanda sedikit mengucek rambut Khanza, itu adalah kebiasaan dia waktu kuliah dulu


" mas.. jadi berantakan deh.. " khanza memanyunkan bibirnya, dia selalu kesal Nanda selalu saja membuat rambutnya berantakan.


" hehehe .. maaf maaf, yasudah ayo masuk, semua orang sudah menunggu di dalam. "


mereka keluar dari mobil dan masuk ke kediamannya. suara riuh dari semua orang mendapati sang tuan rumah sudah sampai di rumah, dan Khanza sudah terlihat sangat sehat..


" ibu... " si kembar berlarian berhambur memeluk sang ibu, mereka begitu merindukan ibunya, tiga hari tak mendapati sang ibu di rumah, si kembar sangat rewel, mereka tak terbiasa dengan keadaan itu,..


" anak-anakku.. " khanza merangkul anak-anaknya, ia tak lepas menciumi kedua anaknya itu, ia begitu rindu dengan sang anak.


" maafin ibu nak, " ujar Khanza.


si kembar menggeleng namun mereka terus merangkul sang ibu erat.


" emm jadi gak ada yang rindu nih sama ayah.. " ujar Nanda. mendapat pertanyaan seperti itu si kembar beralih memeluk Nanda, mereka juga sangat merindukan ayahnya itu.


" kami juga rindu ayah.. " ujar si kembar. tentu itu membuat Nanda bahagia, dan ia makin mengerat kan pelukan kepada si kembar.


semua orang menatap adegan itu penuh haru dan bahagia, terlepas atas kepulangan Khanza dari rumah sakit, mereka lega Khanza sudah baik-saja.


🌺🌺🌺