My Mine

My Mine
Part 13



"Pulang sekolah gueh harus jengukin Fiqhi. Apa dia semalem kepikiran sama gueh ya Sampek kecelakaan kayak gitu. Semoga dia baik - baik aja deh." kata Kyara.


Bagi Kyara, pelajaran hari ini berlalu dengan sangat membosankan karena tidak ada kehadiran Fiqhi disampingnya. Bel pun berbunyi dan Kyara langsung bergegas menuju ke rumah sakit untuk menjenguk Fiqhi.


Di rumah sakit


"Tante gimana keadaan Fiqhi tan?" tanya Kyara sambil mencium tangan Ningrum.


"Eh kamu yang tadi kan. Kondisi Fiqhi sudah mulai membaik dek." jawab Ningrum.


"Saya Kyara Tante hehe... Kalau saya mau menjenguk sebentar boleh apa tidak Tan?" tanya Kyara.


"Ouh Kyara yah. Iya boleh kok silahkan." jawab Ningrum sambil mengantarkan Kyara ke ruangan Fiqhi.


"Terimakasih Tante saya duluan." kata Kyara.


Di dalam ruangan Fiqhi


"Selamat sore mbull. Kamu apa kabar hehe... Kok tidur terus sih. Bangun dong..." kata Kyara dengan air mata yang mengalir di pipinya.


"Kamu inget gak mbull waktu pertama kali kita ketemu? Terus pas kamu nyatain perasaan kamu ke aku? Apalagi pas kamu cemburu lihat aku di deketin sama kak Guna mbull?" kata Kyara sambil memegang tangan Fiqhi.


"Eh maaf kamu masih ngantuk ya? Makanya gak jawab hehe..." kata Kyara.


Tiba - tiba tangan Fiqhi perlahan bergerak - gerak dan Fiqhi pun mulai membuka matanya.


"Mbull..." kata Fiqhi pelan.


"Kamu dah sadar mbulll. Syukurlah. Jangan banyak gerak dan bicara dulu mbull, kamu kan masih lemah." kata Kyara sambil menutup mulut Fiqhi.


"Kamu disini? Jangan nangis dong mbull." kata Fiqhi sambil menghapus air mata yang mengalir di pipi Kyara.


"Sebentar ya mbull. Aku panggilin dokter sama ibu kamu dulu." kata Kyara sambil beranjak pergi keluar ruangan.


"Tunggu bentar yah mbull. Aku mau berdua dulu sama kamu disini. Siapa tau kita besok gak bisa ketemu lagi." kata Fiqhi pelan.


"Omongannya tu loh. Jangan ngomong gitu lagi mbull. Kamu mau bicara apa mbull?" tanya Kyara.


"Aku mau bilang kalo  i miss you mbull ku. Hehe..." kata Fiqhi bergurau.


"Iya. Too mbull." jawab Kyara.


"Kamu kapan kesini?" tanya Fiqhi.


"Baru 10 menit yang lalu mbull. Emang kenapa." tanya Kyara.


"Owalah. Gak papa sih mbull. Cuman aku gak ada topik aja hehe..." kata Fiqhi.


"Udah gausah nyari - nyari topik lagi. Kamu istirahat dulu yah. Sekarang aku panggilin ibu sama dokter dulu. Kamu tunggu disini." jelas Kyara sambil pergi keluar ruangan.


Di luar ruangan


"Tante Om,Fiqhi udah sadar." kata Kyara.


"Fiqhi sudah sadar? Bener?" tanya Ningrum dan Arief secara bersamaan.


"Iya tante." kata Kyara.


"Bunda masuk dulu aja. Abah panggil dokter dulu." kata Arief.


"Iya Bah. Bunda duluan." kata Ningrum.


"Iya Bun." jawab Arief sambil menuju ruangan dokter.


"Mari nak kita lihat kondisi Fiqhi." kata Ningrum sambil mengajak Kyara masuk ke dalam ruangan tempat Fiqhi di rawat.


Di dalam ruangan


"Alhamdulilah kak kamu udah sadar." kata Ningrum.


"Bunda?!" kata Fiqhi terkejut.


"Iya ini bunda. Kamu gimana kondisinya." tanya Ningrum.


"Fiqhi gak papa kok Bun. Kok Bunda kesini? Nanti yang jagain Ilham sama Karan siapa Bun?" tanya Fiqhi dengan nada agak kesal.


Mendengar pertanyaan itu, mata Kyara langsung menatap tajam mata Fiqhi seolah - olah Kyara benar - benar kecewa dengan omongan Fiqhi.


"Ada nenek yang jaga mereka kak. Maafin bunda yah kemarin - kemarin bunda udah sering marahin kamu dan nyalahin kamu." kata Ningrum menyesal.


"Iya gak papa Bun. Aku juga minta maaf ya Bun. Apa Abah juga kesini bun?" tanya Fiqhi.


"Iya. Kemarin waktu denger kamu kecelakaan, Abah langsung pesen tiket buat ke Semarang." kata Ningrum.


"Sekarang Abah dimana Bun?" tanya Fiqhi.


"Lagi panggil dokter." jawab Ningrum.


Dokter dan Arief pun masuk ke dalam ruangan. Dokter mengecek keadaan Fiqhi.


"Baik dok terimakasih." kata Ningrum dan Arief secara bersamaan.


"Baik pak buk saya permisi dulu." kata Dokter sambil meninggalkan ruangan Fiqhi.


"Oh iya Bah Bun, udah tau belum ini siapa?" tanya Fiqhi sambil menunjuk Kyara.


"Ouh itu Kyara kan? Sahabat kamu?" tanya Ningrum.


"Bukan Bun." jelas Fiqhi.


"Lha terus ini siapa?" tanya Ningrum dan Arief secara kompak.


"Ini calon menantu Abah sama Bunda hehe... Insyaallah..." kata Fiqhi sambil tertawa.


"Hahaha... Bisa aja kamu. Belajar gombal dari sapa ni? Abah ya?" kata Ningrum bergurau.


"Bukan lah Bun. Sejak kapan Abah suka gombal. Abah tu sukanya sama Bunda aja. Hehehe...." kata Arief yang mengundang tawa di ruangan itu.


Kyara hanya berdiam saja di pojok sana sambil menahan malunya karena gurauan Fiqhi yang benar-benar membuat pipinya merah merona.


"Yang ngajarin aku gomball itu Bun." kata Fiqhi sambil menunjuk Kyara lagi." kata Fiqhi manja pada Bundanya.


"Bohong Bun! Dia yang suka gomball," kata Kyara karena kesal pada Fiqhi.


"Sejak kapan anak bunda jadi ngomongnya manja gitu ke orang?" tanya Ningrum sambil tertawa.


"Sejak kenal dia Bun hehe..." kata Fiqhi sambil menunjuk Kyara lagi.


"Hehe yayaya. Anak Bunda bisa jatuh cinta jugak. Tapi ingat ya! Juga harus fokus belajar." kata Ningrum.


"Iya Bun. Tenang aja. Walaupun kita kayak gini tapi masalah pelajaran kita saingan kok Bun. Hehe..," kata Fiqhi.


"Iyaa terserah kamu. Abah sama Bunda pulang dulu yah. Besok kesini lagi. Nanti ada temen kamu yang mau jagain kamu disini katanya." jelas Ningrum.


"Iya Bun gak papa. Hati - hati ya Bun Bah," kata Fiqhi.


"Duluan. Assalamualaikum." salam Ningrum dan Arief secara bersamaan sambil meninggalkan ruangan Fiqhi dan rumah sakit.


"Wa'alaikumsalam," jawab Kyara dan Fiqhi secara bersamaan.


Setelah Ningrum dan Arief pulang, Kyara pun duduk kembali di dekat tempat Fiqhi terbaring.


"Kamu ya mbull. Bikin aku malu aja. Kan gak enak sama Bunda Abah kamu. Kamu mah gitu. Nanti kalo udah sembuh bakal aku bales." kata Kyara kesal.


"Iyadeh iyaa. Biar sekalian kan Abah Bunda juga kenal kamu. Hehe..." kata Fiqhi.


"Tapi orangtua kamu kocak jugak mbu kayak kamu. Selera humornya bagus hehehe..." kata Kyara.


"Iyadongs. Anaknya aja lucu dan imut gemesin kayak gini masak orangtuanya biasa - biasa aja, kan gak lucu. Hehe..." kata Fiqhi.


"Iyaaa iyaaa. Imut dan gemesin Sampek pengen nyubit." kata Kyara.


"Jangan dulu mbull. Aku masih sakit loh. Heheh...." kata Fiqhi.


"Iya iya iya..." kata Kyara.


Selang beberapa waktu, datanglah sosok gadis perempuan keturunan Belanda yang masuk ke dalam ruangan Fiqhi. Pembicaraan Kyara dan Fiqhi pun berhenti seketika gadis itu datang.


"Permisi. Fiqhi kamu dah sadar?" tanya Kania.


"Eh kamu kan..." kata Fiqhi sambil mengingat - ngingat dan mulai menggaruk rambutnya dengan jari telunjuk.


"Aku Kania Fiq. Masak lupa sih. Hehe.... Kebiasaan dari dulu sih." kata Kania yang membuat Kyara merasa menjadi figura saja disana.


"Iya maaf Kan. Aku kan juga baru sadar. Kamu ngapain kesini?" jawab Fiqhi.


"Tadi Tante Ningrum minta aku buat jagain kamu disini sampai Tante Ningrum kesini." kata Kania yang membuat hati Kyara benar - benar tersayat.


"Aku duluan ya Fiq. Udah malem soalnya." kata Kyara pada Fiqhi dan langsung beranjak pulang.


"Oh yaudah. Hati - hati ya Ra." kata Fiqhi yang agak kaget.


"Ra?! Kok nggak panggil mbull, tumben banget yah hahaha. Apa karena ada Kania disini yah. Hehehe cukup tau!" kata Kyara dalam hati


"Iya." jawab Kyara pada Fiqhi.


"Aku duluan ya." kata Kyara yang berpapasan dengan Kania dilanjutkan dengan Kyara yang meninggalkan ruangan tersebut.


"Iyaa mari." jawab Kania sambil duduk ke kursi di dekat tempat Fiqhi berbaring.


Fiqhi dan Kania tidak menyadari bahwa Kyara melihat mereka dari balik jendela. Kyara rasanya benar - benar cemburu melihat Kania dan Fiqhi tertawa bersama dalam ruangan tersebut. Ditambah dengan kedekatan Kania pada Ibu Fiqhi.


***gimana ya miners? apa Kania akan menjadi alasan renggang nya hubungan Kyara dan Fiqhi? tunggu updatenya ya miners...


bi asih nangkap yuyu


terimakasih dan see you***...