My Mine

My Mine
bertemu mereka



.


.


🌺🌺🌺


.


.


" caca pamit ya bunda... ayah, sampai ketemu di pesta Nanti. " Khanza memeluk kedua orang tuanya, saat akan memasuki mobil.


" iya sayang.. hati-hati ya nak,. " ujar sang bunda, sembari mencium kening putri kesayangannya.


mereka semua pamit kepada orang tua Khanza, dan kembali melaju dengan mobil, seharian ini Khanza sudah berada di kediaman orang tuanya.


" sayang aku ingin pergi ke suatu tempat dulu ya, gimana apa kalian ingin ikut.." ujar Nanda, ia masih pokus dengan stir kemudinya.


" kami ingin ikut ayah.. " ucap key.


" ya kami ingin ikut ayah.." timbal kel.


" oke lah kalau begitu, lets go anak-anak.."


" yeeeeeee" teriak antusias si kembar.


Khanza hanya terkekeh gemas dengan kelakuan kedua anaknya itu, mereka selalu bertingkah sangat menggemaskan...


" memang mau kemana." tanya Khanza kepada suaminya.


" ada dehh.."


" emmm ayah curang ya anak-anak, suka main rahasia-rahasia sekarang.."


" hehehe." Nanda hanya terkekeh melihat kedua anaknya menatap dia dengan penuh pertanyaan.


mobil terus melaju sampai pada sebuah caffe, yang cukup besar dan ramai di sana.


Nanda dan semua yang ada di mobil keluar, begitupun dengan semua teman-teman Khanza, mereka juga ikut masuk mengekor dengan suami istri itu.


" bos..." sapa seorang laki-laki yang di ketahui joshua namanya, dia adalah salah satu teman Nanda.


" hey lama gak ketemu.." tak segan Nanda berpelukan dengan orang yang bernama Joshua itu.


" Joshua.." ujar Deri tiba-tiba.


" Der lo juga disini." Jushua dan Deri juga berpelukan, sebagai teman dekat mereka memang jarang bertemu.


" apa kabar lo Der, gila udah nikah aja nih.." ajar Joshua, menepuk-nepuk pundah Deri, yang ia ketahui sudah banyak berubah dari penampilan Deri saat ini.


" emm kenalin ini bini gw, kami juga sebentar lagi punya anak. " Deri memperkenalkan Ayu sebagai istrinya. mereka juga saling bersalaman.


" ini gila sihh!!, tokcer banget hahhaha!! si Nanda juga udah mau punya anak tiga aja, " Jushua tertawa mengingat teman-temannya sudah pada nikah, dan akan punya anak pula, sedangkan ia tetap aja sendiri.


" makanya cepet kawin bro.!! biar lo tau syurga nya dunia.." ujar Nanda menimpali.


" wahhh Nan.. kalau menurut gw ya, hal begitu udah gak lazim deh buat dia hahaha.. " Deri tertawa. mengingat memang teman nya ini selalu gonta ganti pasangan dari semasa SMA dulu.


"sial lo pada.." semua orang juga tertawa melihat tiga orang pemuda yang kembali Reuni itu.


" Ayo duduk semua.." ajak Jushuan. sebelumnya memang dia tidak sadar jika orang-orang itu hanya berdiri, karena kedatangan bos nya.


" jadi ini caffe lo jos." tanya Deri.


" ya bukan lah bro... gw hanya mengelola, ini caffe salah satu punya Nanda. " jelas Joshua,


" yang bener loh.." tanya Deri.


" benerlah.. masih ada tiga caffe, ini hanya salah satunya.." jelas joshua.


" OMG... selain CEO, pak Nandana juga punya beberapa caffe. " teriak Uci, dia begitu antusias. laki-laki yang pernah ia sukai itu memang laki-laki yang hebat.


" hehhehee.." uci Hanya terkekeh.


" ini adalah usaha gw sebelum gw jadi CEO di perusahaan, dari sini lah sumber kehidupan gw waktu itu, tanpa merepotkan ortu, .. " semua orang tampak mengangguk, mereka juga sangat kagum dengan laki-laki itu, termasuk Khanza istrinya sendiri. ia nampak tersenyum dan memegangi tangan suaminya.


"mas.. "


" iya sayang.."


" sifat gigihnya kamu telah membuat aku jatuh cinta.." kata-kata itu keluar dari mulut Khanza dia bahkan tak memperdulikan orang-orang di sekitarnya,


" ciee.." ucap semua orang mendengarkan itu,mereka terkekeh geli melihat sepasang manusia itu yang tengah di landa kebucinan.


sedangkan Nanda sangat bahagia, dia masih menatap lekat istrinya,


" terimakasih istriku." lirihnya,


" ngomong-ngomong gw mau nunjukin pembukuan ke elo,, " ucap Joshua, membuyarkan kan kedua manusia yang saling tatap tanpa berkedip itu.


" ehh iya ayo..., " kata Nanda.


Nanda dan joshua melenggang memasuki ruangan kantor yang ada di kaffe itu,


semua orang nampak tengah mengobrol, Khanza juga sesekali menyuapi anak-anaknya memakan roti. mereka bersantai sambil seekali terkekeh mendengar guyonan panji, kekasih nya Uci itu selalu membuat keadaan menjadi sangat cair dan hangat.


Khanza tidak menyadari bahwa ada dua sepasang mata yang memperhatikannya dari jauh, mereka saling berpandang dan meyakin kan bahwa benar itu adalah Khanza...


Akhirnya Gio bisa melihat Khanza yang begitu ia rindukan, benar saja Khanza tengah duduk bersama kedua anaknya, benar saja Khanza itu telah memiliki anak..


" beneran Khanza ternyata yank.!! dia sama siapa ya.." ujar sisil kepada suaminya, Gio. sedangkan Gio hanya menatap wanita itu dengan tatapan nanar.


" kita samperin yu yank.!!" ajak sisil.


" kamu saja.."


" ayo lah yank, kita harus meminta maaf kepada Khanza." Gio masih tak bergeming.


" eh tunggu, anak-anak itu siapa, apa Khanza udah punya anak, dia udah menikah ya..." cerocos sisil,


Gio benar-benar tidak mendengarkan apa yang sisil bicarakan, pikiran nya kalut, penyesalan itu tengah menghampirinya, apalagi ketika melihat betapa Cantik nya Khanza sekarang, betapa ia terlihat bahagia, kenapa tidak ia yang membuat Khanza bahagia, kenapa tuhan menciftakan dendam di hatinya waktu itu, sampai ia harus kehilangan Khanza, kenapa ia memilih perempuan yang tidak baik padahal dengan jelas Khanza sangat baik untuknya, penyesalan demi penyesalan itu muncul, hatinya bagai tersayat dengan sembilah pisau yang tajam, Sakit sekali hidup dalam sebuah penyesalan, apalah daya Nasi sudah menjadi bubur, Khanza tidak mungkin kembali kepelukannya.


" yank, kamu denger aku gak si.!!"


Gio masih tak bergeming, membalas pembicaraan istrinya saja sangat enggan untunya.


" ahh tau lahh malas aku sama kamu." Sisil bangkit dari duduknya, dan mulai menghampiri keberadaan Khanza, melihat itu, Gio juga beranjak mengejar istrinya, takut istrinya melakukan hal yang tidak-tidak, ia tau istrinya memang sedikit gila, yang bisa nekat kapan pun ia mau.


" kamu apaan sih.." ujar Gio ia memegang tangan sisil, dia menarik sisil untuk kembali ketempat duduknya..


" lepas.. aku mau ketemu Khanza.." sisil memberontak.


" jangan disini.. ini bukan waktu yang tepat.. " bantah Gio.


namun sisil tetap bersikukuh, dengan pendiriannya, dia tetap memberontak kepada sang suami, dan terus meronta-ronta, menciftakan kegaduhan di sana, membuat semua orang menatap ke arahnya.


" duhhh apaan sih rame banget.." ujar Mita, sungguh ia merasa tak nyaman dengan kegaduhan yang ada di caffe itu,


" emm apaan sih orang berantem di caffe, main tarik-tarikan gitu lagi. " gerutu Uci.


" Khanza..." teriak sisil, mendengar Namanya di panggil, Khanza menoleh, dia terpaku mendapati kedua orang itu yang sangat ia kenal.


" kalian..." pekik Khanza.


.


.


.