
kepulangan Khanza begitu di sambut oleh keluarganya setelah di peluk oleh si kembar, Khanza kembali di rangkul oleh sang mertua.
" syukurlah nak semua baik-baik saja." kata bu Laras.
" iya ma.. Khanza senang sudah di perbolehkan pulang hari ini.. " bu Laras tak segan mengelus perut sang menantu, ada cucu nya di dalam sana.
Khanza beralih memeluk sang ayah mertua.
" gimana sudah merasa enakan.. " ujar pak Bayu.
" sudah ko pa.. " jawab Khanza.
" bagus.. makan yang banyak ya biar bayi nya juga sehat.. " ujar pak Bayu lagi.
" pasti pa. "
semua orang tampak senang, termasuk para asisten, mereka mengucapkan selamat untuk Khanza dan Nanda, begitu sangat bahagia akan ada lagi teriakan bayi kecil menangis di rumah itu,
meski masih sangat lama, namun mereka menantikan waktu itu dengan rasa tidak sabar.
" ayo mama bantu naik ke atas.. " kata bu Laras.
" iya ma.. "
Khanza menaiki tangga, dan mamasuki kamarnya, begitu rindunya ia dengan tempat ternyamannya itu, Khanza membaringkan tubuhnya,,,
" istrirahat ya nak.. jangan cape-cape, mama ke bawah dulu, mau makan apa nanti biar mama suruh bibi bawakan. " ujar sang mama mertuanya itu.
" ma.. minta tolong suruh bibi buatin soto ayam ya, Khanza sedang ingin makan itu. " ujarnya.
" baiklah.. " ucap bu Laras sambil tersenyum, lalu dia keluar.
Khanza membayangkan soto ayam kesukaannya itu, air liurnya seperti ingin menetes membayangkan akan makan makanan itu,
kehamilan pertama dan kedua tidak ada bedanya, soto ayam akan menjadi satu-satunya makanan favorit Khanza saat sedang hamil.
beberapa saat, bi Ranti datang ke kamar Khanza sambil membawa mangkuk berisi soto ayam plus nasi pesanannya..
" wahh enaknya.. " air mata nya berbinar, wanginya sampai pada perut yang tiba-tiba merubahnya seperti menjadi sangat kelaparan.
" silahkan di makan non.. "
" terimakasih ya bi.. " ujar Khanza ia sudah tak menghiraukan apapun lagi selain langsung menyantap soto ayam itu.
" sama-sama non.. "
bi Ranti keluar dari kamar Khanza, membiarkan Khanza memakan soto ayam nya, matanya sedikit takjub melihat banyak nya ia makan, namun ia sangat puas, soto ayam bikinan bibi nya di rumah itu memang selalu menjadi yang ter enak.
pintu terbuka, terlihat si kembar masuk ke kamar bersama bi Indri pengasuhnya..
" sayang-sayangku.. kesini nak.. " ujar Khanza ketika mendapati anak-anak nya berdiri di ambang pintu. si kembar langsung berhambur ikut naik ke ranjang memeluk sang ibu nya mereka ikut berbaring bersama Khanza.
" bibi boleh keluar, anak-anak biar sama saya dulu, tolong bawain mangkuk ini ya bi.. " titah Khanza.
" baik non. " ucap bi Indri patuh.
si kembar ingin bermanja dengan sang ibu nya, mereka tak lepas memeluk sang ibu dari kedua sisi.
" nak.. ibu mau kasih tau sesuatu.. " kata sang ibu.
" apa itu bu.. " tanya key.
Khanza memegang kedua tangan anak kembarnya, lalu menempelkan tangan mungil itu ke perut taranya itu.
" di sini telah tumbuh adik Kalian, ibu harap kalian bahagia atas kabar ini.. " kata Khanza, tak lepas menatap kedua anaknya.
" jadi disini ada adiknya kami.. " tanya kel, tangan mungilnya mulai mengelus perut ibunya.
" benar sayang. " jawab Khanza sambil mengangguk..
" bu kami sangat senang sekali, pasti sangat kecil ya dia.. kapan dia keluar bu.. " tanya key..
Khanza kembali merangkul kedua anaknya, perasaan bahagia menyeruak di hatinya, si kembar menyambut kedatangan calon bayinya, sebagai ibu dia sangat bahagia, diapun berjanji akan mengurus anak-anaknya seadil mungkin.
Nanda masuk keruang kerjanya, setelah kedatangan sang asisten dan Deri yang sudah di hubungi terlebih dahulu olenya. tak lupa Nanda juga menghubungi pengacara Khanza pak Yusril, untuk datang juga kerumahnya.
dia harus membahas ini dengan mereka, karena Khanza tidak boleh masuk kerja untuk semasa kehamilannya.
" terimakasih sudah datang ke rumah saya, pak Yusril.. " kata Nanda.
tak segan pak Yusril mengangguk menanggapi suami bos nya itu.
" berhubung semuanya sudah berkumpul saya ingin mengadakan meeting untuk membahas soal masalah kantor. " ucap Nanda.
" pak Yusril dengan sangat hormat saya meminta anda kembali aktif di kantor dengan Deri, " kata Nanda menatap pak Yusril.
" tapi kenapa pak.. " tanya pengacara Khanza itu.
" bigini pak, istri saya sedang mengandung.. " ucapan Nanda membuat ekspresi pak Yusril berubah, dia bahagia mendengar kabar itu.
" wahhh selamat ya pak,.. " pak Yusril menjabat tangan Nanda.
" jadi saya tidak ingin Khanza sedikitpun terbebani oleh pekerjaan, saya serahkan urusan perusahaan kepada pak Yusril dan Deri, mohon kerja sama nya pak.. "
" baik lah dengan senang hati,.. "
"terimakasih pak Yusril sebelumnya..".ujar Nanda.
Nanda mulai memperlihat kan laptopnya, sekarang perusahaan nya dan perusahaan Khanza sudah terhubung, ia pun sekaligus bisa meninjau apapun di perusahaan Khanza...meski ia tau pekerjaan nya semakin bertambah, namun itu sangat mudah untuknya.
" Riski,.. "
" ya tuan.. "
" coba kamu cek investor, yang baru saja tergabung dengan perusahaan kita.. " kata Nanda memberi memberi perintah.
" baik tuan.. "
Riski mulai begelut di komputernya, melakukan itu sangat mudah baginya, ia adalah hacker handal untuk melacak semua perusahaan yang tergabung dengan perusahaan Nanda. dengan mudah baginya meng hacker semua data itu, meskipun data itu terlindungi namun sangat mudah ia bobol,
kemampuan Riski memang sangat patut di acungi jempol, itulah kenapa Nanda bersyukur punya asisiten seperti dia.
" pemimpin perusahaan nya bernama Gio Pernando, dia menggelayuti bermacam bisnis seperti properti, dan investasi,. menurut orang-orang dia adalah pembisnis yang kejam, dia juga sudah menikah dengan nyonya sisilia dwiarta anak dari seorang pengusaha batu bara, " ucap Riski setelah berhasil mendapatkan data dari envestor barunya itu.
Nanda terpaku, dua manusia yang di sebutkan oleh Riski, tentu dia sangat mengenalnya, pertanyaan nya muncul dalam benaknya, kenapa Gio ingin sekali menjadi investor di perusahaan COPRA, yang jelas pemimpinnya adalah sang istri, Nanda harus mencari tahu.
" Riski tolong buat pengaman untuk menjaga semua data dan file di kantor COPRA jangan sampai bocor ke tangan relasi.. " titah Nanda.
" baik tuan. "
Riski mulai begelayut lagi di layar komputernya, dia menciftakan data untuk jadi pengaman semua data yang ada di perusahaan COPRA.
dengan mudah ia melakukan nya..
Riski masih terlihat sangat muda, Namun keahlian tentang komputer tidak perlu di ragukan lagi, ia mampu meretas data semua perusahaan yang besar sekalipun, tanpa kesusahan sedikitpun, tampangnya sangat dingin, dan orang yang sedikit bicara.
Deri juga masih menatap layar laptop nya, untuk melakukan semua pekerjaannya dengan bantuan pak Yusril...
mereka semua larut dalam pekerjaan masing-masing.
🌺🌺🌺.