
Khanza dan Ayu menatap Panji tak bergeming mereka membiarkan panji terus minum
" kalian menatapku begitu.. " kata panji sambil melihat kedua sahabatnya itu.
" ada apa dengan kalian berdua. " tanya Ayu.
" kenapa... Uci mengatakan hingga kalian repot-repot datang kesini... " ucap panji kemudian menengak kembali minumannya..
" sejak kapan kamu jadi peminum gini.. " kata Ayu panji terkekeh....Khanza menatap panji tak bergeming...
" kalau ada masalah selesaikan dengan dewasa. ada apa dengan kalian, Uci di rawat di rumahsakit dan lo hanya minum-minum saja.. " kata Ayu.
" Apa Uci di rawat.." kaget panji, sesaat panji mengembalikan sikap datarnya.
keadaan kembali hening mereka sama-sama berkalut dengan pemikirannya, panji terus menekan kekhawatiran nya agar teman-teman nya tau dia tak peduli sama sekali.
" panji.. " ucap Khanza... Panji menatap Khanza
" jadi begini cara kamu menyelesaikan masalah." Kata Khanza...panji tetap menatap Khanza tak bergeming, Khanza menggeleng dan terkekeh, kemudian kembali menatap Panji tajam.
" perempuan kamu sedang terbaring di rumah sakit, sedangkan kamu hanya minum-minum di sini, Uci sedang membutuhkan kamu.. " kata Khanza penuh dengan penekanan,
Khanza terus menatap tajam Panji hingga panji menjadi kikuk, alkohol yang ia minum tak membuatnya benar-benar mabuk, dia masih menguasai kesadaran nya.
panji juga tau Ayu dan Khanza menghampiri nya agar diri nya tidak menjadi pengecut yang hanya sembunyi dari masalah.
" gw bingung harus jelasin apa ke kalian.." Lirih panji kemudian ia tertunduk.
" gw tertekan dengan Uci.. " ucap panji, Ayu menatap Panji iba, laki-laki humoris di depan nya tertunduk berkalut dengan masalah yang tak bisa dia selesaikan sendiri...
" jelaskan sama kita,,, apa masalah nya.." Kata Ayu, dia menatap panji dan meyakinkan bahwa keadaannya akan baik-baik saja.
" gw suka sama uci dia sangat baik, gw juga sayang sama dia, awal nya dia fine aja selalu buat gw nyaman.." panji tertunduk. Khanza dan Ayu masih menatap nya Nanar.
" tapi makin kesini dia aneh cemburu dengan hal-hal yang tak mungkin, dia marah dengan yang sebenar nya sangat sepele, itu ngebuat gw marah.. kemaren kami bertengkar hebat, dan Uci selalu saja membawa Nama Khanza dalam masalah kami, selalu saja ngebahas soal perasaan gw sama Khanza yang dulu.." lirih nya Panji tertunduk pikiran nya berantakan...
" gw tanya sama lo, apa lo masih mengharapkan Khanza..?" Tanya Ayu, sedikit menekan perkataannya agar Panji berkata jujur.
" perasaan gak mungkin hilang begitu saja, tapi demi tuhan gw udah mengikhkaskan lo za.. " Panji menatap Khanza...
" Uci udah salah paham sama Khanza. " Ayu menarik napas panjang, sungguh masalah percintaan ini membuat nya begitu pusing, lirih nya dalam hati.
Khanza sedikit memijit kening nya, berkali-kali Khanza mendapati masalah antara cinta dan persahabatan.... ia kembali mengingat masalah penghianatan Gio dan sisil, Khanza tidak mau, Uci punya pikiran yang sama seperti sahabatnya itu, Khanza harus memperbaiki semuanya.
" kalian harus selesaikan masalah ini berdua. " ucap Khanza
" gw setuju dengan Khanza.." kata Ayu.
" terserah lo panji, semuanya ada di tangan lo,... lo udah ngebuat uci berharap sama lo, sebagai laki-laki lo harus tanggung jawab jangan jadi pengecut yang lari dari masalah.." kata Khanza.
" kalau mau persahabatan kita tetap utuh, lo jelasin apa yang lo rasain ke Uci, apa yang lo mau Dari Uci, cuma lo yang bisa buat dia ngerti... " kata Ayu.
" kita sebagai sahabat lo hanya bisa ngedukung keputusan lo, datanglah ke rumah sakit, beritahukan apa yang lo rasain... " tambah Ayu.
" kita pamit, pikirkan apa yang kita katakan, setelah itu kita akan menunggu lo di rumah sakit." kata Khanza
Khanza dan Ayu kembali ke rumah sakit mereka menghampiri Dimas dan Mita di kantin rumah sakit, karena Mita sebelumnya sudah menghubungi kedua temannya untuk menyusul ke kantin, agar bisa makan siang bersama, khanza sama sekali tidak bersemangat, mengingat Uci saat ini membencinya.
" zaa.." ucap Ayu. dia memegang tangan Khanza
" iya yu.. kenapa.." kata Khanza, menghapus linangan air matanya.
" jangan sedih, kita janji akan selesaikan ini sama-sama, Uci akan baik-baik saja dan dia akan kembali kepada kita.. " kata Ayu mencoba menenangkan Khanza, dan Khanza tersenyum, namun air matanya tak berhenti berlinang dan terus menerobos terjatuh di pipinya..
mita beranjak dan merangkul sahabatnya itu, mita tau bahwa Khanza sangat terpukul dengan ucapan Uci tadi...
Suara dering telpon membuat Ayu beranjak untuk mengangkat... ternyata telepon dari Deri suaminya.
" hallo sayang.." ucap Deri di balik telepon.
" iya yank maaf gak ngehubungin kamu dari tadi." ucap Ayu menjawab sang suami.
" iya sayang... lagi dimana, " tanya Deri.
" Lagi di rumah sakit yank jenguk Uci.. "
" oh kenapa dia?" tanya Deri.
" sakit dia harus di rawat. "
" boleh aku tanya sesuatu yank.." kata Deri.
" tentu boleh sayang.."
" kenapa Khanza menangis.. ?" tanya Deri
" ko kamu bisa tau yank.." Ayu heran dengan suaminya yang bisa mengetahui Khanza menangis.
" yank.. kamu tau kan calon suami Khanza bukan orang sembarangan, dia bisa tau apapun "
" ko gitu.. " Tanya Ayu heran.
"dia uring-uringan marah-marah gak jelas, dia nelponin aku yank, nyuruh aku cari tau, makanya aku nanya ke kamu.." jelas Deri.
kemudian Ayu menceritakan tentang masalah yang tengah Khanza hadapi, ia juga menceritakan tentang semua kenapa Uci sampai di rawat di rumah sakit Deri mengerti, Ayu meminta suaminya itu untuk tidak menceritakan detile masalahnya, ia hanya boleh menceritakan kalau Khanza menangis karena uci yang di rawat
Deripun setuju, dia juga tidak mau Nanda ikut campur dengan urusan persahabatan istri dan yang lainnya.
Ayu kembali bergabung dengan mereka, dan ikut menikmati makan siangnya.
setelah selesai makan siang dengan penuh perasaan bingung.
mereka kembali keruangan Uci, Khanza bersi keras harus memberbaiki semuanya, dia akan mencoba membuat Uci mengerti.
" cii...lihat gw ci.." kata Khanza, air matanya tak bisa berhenti menetes, namun Uci masih diam tak bergeming...
" ci...lo taukan, gw sangat bahagia saat kalian semua mau berteman dengan gw waktu itu.." air mata Khanza menetes, Ayu dan Mita merangkul Khanza menenangkan Khanza yang sudah pasti terluka, dimas menatap Khanza dengan tatapan Nanar, ia iba untuk pertama kalinya Khanza terus menangis, namun dia juga tak bisa berbuat apapun, ia tak mau masalahnya akan semakin Rumit, dimas merangkul Mita, menenangkan kekasihnya itu.