My Mine

My Mine
Aku bersama si kembar



.


.


.


Semua orang mengantarkan ibu Diana ke peristirahatan terakhir nya, Khanza termasuk si kembar, juga ikut.


banyak pelayat yang juga ikut ke pemakaman, mungkin ingin melihat untuk yang terakhir kali nya dokter Diana.


orang yang di segani, dan yang selalu terlihat bahagia itu, ternyata menderita Kanker, jasa nya selama hidup membuat para pelayat semakin banyak..


Khanza masih mengeluarkan air matanya, namun sudah tanpa isakan, berulang kali anak-anak nya menguatkan ia.


Upacara pemakaman telah usai, dan para pelayat itu satu-persatu sudah meninggalkan area pemakaman.


tinggalah Khanza, si kembar, pak Bayu, bu Laras, para asisten dan sahabat-sahabat Khanza di sana.


" bu. . . Khanza sudah ikhlas, ibu tenang ya di sana, terimakasih atas kebaikan ibu selama ini. " khanza kembali terisak, meskipun ia belum tahu kehidupan kedepannya tanpa sang ibu. ia harus bagaimana dan harus seperti apa.


" ibu adalah orang terbaik yang pernah aku temui di dunia ini, semoga semua kebaikan ibu di balas oleh allah, dan ibu di tempat kan di sisinya. " ucap nya lagi.


" nenek Key dan Kel sangat sayang nenek, maafin key ya nek, key nakal. selalu minta mainan sama nenek, key janji. akan baik sekarang, enggak nakal lagi ... " ucap key..


" sekalang nenek sudah sama tuhan, pasti nenek akan bahagia di sana.." tambah kel polos.


semua yang ada di sana menahan haru, perkataan key dan kel membuat pilu dan menggertakan hati, Khanza pun sudah terisak, kini sang ibu telah terpisah jauh darinya, bahkan untuk selama-lamanya.


" sayang yu.. sudah waktunya pulang.. " ucap bu Laras. membangun kan Khanza agar tidak terlalu larut dalam kesedihan nya.


" baik ma.. " Khanza bangun dan berjalan dengan gontai ke parkiran mobil nya, dia di bantu dengan bu Laras untuk berjalan, kakinya begitu lemas, kenyataan nya begitu pahit ia terima.


Key dan Kel sudah di tuntun oleh pengasuhnya, hari ini si kembar sangat pintar, dia sama sekali tidak membuat ibu nya kerepotan, mereka sangat tau ibunya sedang berkabung.


mereka semua kembali ke kediaman Bu Diana untuk menyiapkan sebuah tahlilan sore harinya.


setelah sampai ke rumah, Khanza langsung meminta istirahat ke kamarnya.


ia sedikit merebahkan badan nya.


setelah lelah menangis, ia tertidur sendiri di kamarnya.


sementara orang-orang semua sibuk, apalagi bu Laras ia menyiapkan ketering dan makanan lain nya untuk tahlilan, dia juga sangat menyayangkan putra nya tidak ada, karena sedang pergi ke semarang.


" tante.. kita pamit pulang dulu.. " ucap Uci kepada bu Laras.


" gak nemuin Khanza dulu.. "


" tidak tante, mungkin Khanza sudah beristirahat, nanti sore kita kembali lagi ya tante.. " ucap Uci.


" yaudah kalau gitu. "


mereka semua pamit, dan menyalami bu Laras dan pak Bayu bergantian.


" aku pulang ya.. " ucap Ayu kepada Deri yang sudah menghampirinya.


" bawa mobil. " tanya Deri.


" aku numpang mobil Mita.. " ucap Ayu.


" aku anterin ya.. rumah kamu kan paling jauh.. " usul Deri..


" enggak yank, kan kamu di sini lagi sibuk.. "


" sekarang lagi enggak, semua persiapan buat tahlinan sudah selesai. " jelas Deri.


mereka pun pulang, Mita sama Uci pergi dengan satu mobil, sedangkan Dimas dan Panji sama-sama membawa motor, sedangkan Ayu bersama Deri.


" aku kasihan deh yank sama Khanza. " Lirih Ayu.


" aku ngerti, pasti sulit ada di posisi Khanza, jadi kita dukung Khanza ya... mencoba menguatkan." ujar Deri, ia tau perasaan Khanza yang hancur sekarang, dia begitu menyayangi ibu nya, meski hanya ibu angkat tapi Khanza menyayangi ibunya lebih dari dirinya sendiri.


ayu mengangguk.


" oh ya yank, setelah semua urusan mu beres langsung ikut lagi aja, Khanza benar-benar butuh kalian.. " ucap Deri..


" yaudah deh yank.. "


terlihat ayu sudah memejamkan matanya, dan Deri melihat wajah Ayu gemas. dia menyibak rambut Ayu yang menutupi wajahnya..


.


.


.


Khanza terbangun dari tidur nya, ketika anak-anak nya sudah ada di kamarnya membawa makanan untuk Khanza...


" bu ayo kita makan bareng. " ucap Kel.


Khanza mengercipkan matanya, untuk mengembalikan semua kesadaran nya kembali. kemudian ia tersenyum mendapati anak-anak sudah ada di sampingnya.


" bi.. tinggalin kami ya.. " ucap Khanza kepada bi Indri. yang ada di sana juga.


" baik non." bi Indri keluar dari kamar nya Khanza


tinggalah hanya mereka bertiga,


" ibu makan ya.. dari pagi ibu belum makan, entar sakit, kalau ibu sakit kita jadi sedih deh.. " ucap key memelas, mukanya tertunduk..


Khanza menyesali satu kesalahan, bisa-bisanya dia bersedih saat anak-anak begitu membutuh kan dia sebagai seorang ibu..


Khanza kembali memeluk kedua anaknya dan mengusap air matanya yang sudah mengalir kembali.


" baik.. ibu mau makan, asal kalian suapin ibu.. "


si kembar mengangguk tersenyum dan sangat antusias. mereka menyuapi sang ibu bergantian..


" kalian juga makan.. . " Khanza juga menyuapi si kembar, dan mereka sangat antusias melahap suapan sang ibu .


selesai makan, Khanza kembali menyenderkan tubuhnya di ranjang dan anak-anak memeluk nya dari dua sisi.


"ibu masih sedih.. " tanya Kel.


khanza menarik napas panjang dan mengeratkan pelukan kepada kedua anaknya. jujur saja hidupnya runtuh sekarang.


" ibu tidak sedih lagi... berkat kalian. " ucap Khanza, dia berbohong kepada anak-anaknya.


" kita ngerti ko buk gak papa, kita sayang ibu.. " ucap key, mendalami pelukan ke sang ibu.


satu hal yang Khanza ketahui, anak-anak nya sekarang sudah tumbuh menjadi anak yang cerdas dan dewasa, Khanza sangat bersyukur masih punya mereka dalam hidup nya.


mereka bertiga terus bercanda ria, sesekali Khanza dan sang buah hati tertawa, mereka membaca buku, mendengarkan Khanza bercerita. itu membuat Khanza sedikit melupakan kesedihan nya berkat si kembar.


tok tok tokkk pintu di ketuk dan masuk lah bi Ranti dan bi Susi ke dalam.


" iya bi ada apa. " tanya Khanza melihat kedatangan kedua asisten nya..


sang asisten menghampiri Khanza dan duduk di sisi ranjang..


" Non.. jangan terlalu bersedih ya, masih ada kami. kami akan selalu setia dan nemenin non. " ucap bi Ranti sudah terisak. Khanza terharu mendengar pernyataan dari asistennya itu.


" iya bi maafkan Khanza ya, Khanza tidak memikirkan perasaan kalian... "


Khanza memandangi kedua asisten nya itu iba, ia paham bahwa mereka juga sangat bersedih, khanza juga tau, bahwa mereka telah tinggal bersama ibu Diana lebih lama darinya.


ia hanya bersedih atas kepergian sang ibu, dan tidak memikirkan perasaan mereka semua, yang juga berkabung.


" kami gak mau, non pergi dari kami,.. kami ingin selalu sama non. " ucap bi Susi yang juga sudah terisak.


Khanza beranjak melepaskan pelukan dari anak-anak nya dan mulai memeluk kedua asisten nya itu. mereka tanpa malu terisak di pelukan Khanza.


betapa merasa bodoh nya Khanza, masih banyak orang-orang di sekelilingnya, dan dia harus bersedih tanpa memikirkan mereka, padahal juga mereka sama bersedih..


" kita akan sama-sama terus bi.. Khanza akan selalu sama bibi.. mulai sekarang kita membuka awalan baru, dan mengenang ibu, biarkan lah ibu tenang di sana. " lirih Khanza matanya tergenang,


namun Khanza terus mencoba tenang, ia harus lebih kuat sekarang, untuk semua orang yang ada di sekelilingnya.


.


.


.


.