
.
.
.
.
hingar bingar suara klakson sudah terdengar, itu artinya mereka semua sudah berada di kota metropolitan, tempat ramai nan bising dari suara pengendara, namun tetap membuat orang-orang betah tinggal di sana..
sejujurnya Khanza ingin tinggal di semarang lebih lama, ingin menikmati suasana di tempat kelahirannya itu, namun keadaan sudah berbeda, dia sudah punya suami yang harus ia ikuti kemanapun dia pergi, terlebih Nanda sudah banyak memberinya kebahagiaan.
Khanza, Nanda dan anak-anaknya terlihat memasuki kediamannya, mereka langsung di sambut oleh asisten yang memang sudah menunggu kedataangan nya.
" bi Indri, tolong anak-anak langsung di tidurin,!! sebelumnya mandiin dulu ya bi.." titah Khanza.
" baik non.." Bi Indri membawa si kembar ke kamar mereka,.
" tuan.." sapa bi Ranti.
" iya bi.." jawab Nanda ramah.
" tuan Riski sudah ada di ruang kerja, tuan.."
" oh oke.!! terimakasih bi."
" sama-sama tuan.."
" sayang aku kerja dulu ya.." ujar Nanda kepada istrinya, ia mencium kening sang istri.
" iya mas!!jangan cape-cape.."
" enggak ko ." Nanda tersenyum, lalu melenggang ke ruang kerja di ikuti Deri, mereka akan meeting bersama.
sebelumnya Nanda sudah menghubungi Riski asistennya, untuk untuk datang, agar bisa membahas persoalan yang sudah ia bahas sebelumnya.
" ada apa ini bro kok dadakan sekali??.." tanya Deri ia pun tak mengerti dengan sahabatnya sekaligus suami dari bos nya itu, yang tiba-tiba saja harus meeting padahal baru saja nyampe, tempat tidur nyaman yang Deri bayangkan sejak di perjalanan harus sirna, ternyata kedatangan nya sudah di sambut oleh pekerjaan.
" tuan bisa lihat ini.." Riski menunjukan data hasil perbuatannya, ketika meretas akun whatshapp milik Gio dan Sisil.
" ternyata benar dugaan saya.." Nanda mengepalkan tangan nya merasa jengah dengan orang seperti dia, ia tak habis pikir masih ada aja orang-orang seperti itu di dunia ini.
" kenapa ini bro ." tanya Deri, hanya dia yang belum mengerti dari pembahasan ini.
" Deri lo tau kan Gio Pernando, " tanya Nanda.
" ya tau.. Dia mantannya Khanza kan, sekaligus investor di perusahaan COPRA." jawab Deri. tentu ia mengetahui tentang investor itu.
" pernah kepikiran gak, kenapa dia harus menjadi investor di perusahaan Khanza,,"
" iya juga ya bro... pasti ada apa-apanya.."
" sebaiknya kita harus lebih waspada.." titah Nanda.
" baik tuan, "
" Riski, tidak ada pencegahaan lagi,!! mau tidak mau kita harus mengikuti alur yang orang itu buat..."
" tapi tuan akan sangat berbahayaa bagi nyonya Khanza."
" berdoa saja... supaya tidak terjadi apa-apa dengan bayi dan istri saya.." .
Nanda menghela Nafas panjang, dia harus ekstra hati-hati kali ini, istrinya sedang mengandung, tidak boleh terjadi apapun dengan keduanya.
begitu banyak yang ingin menghancurkan rumah tangga nya, kenapa??? pertanyaan di benaknya, ada apa dengan orang-orang itu. kenapa tak membiarkan dia hidup bahagia bersama keluarga kecilnya..
.
.
.
.
Sementara sepasang manusia sedang memasuki sebuah hotel, mereka baru tiba di jakarta, suami istri itu sudah bertolak dari semarang sore hari.
" yank!!."
" kamu di jakarta berapa hari.."
" belum tau.."
" baguslah, jadi aku bisa puas-puas main di jakarta.." sisil merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dia memandangi tubuh suaminya,
sudah lama sekali suaminya tak menyentuhnya, bahkan Gio sekarang tampak lebih mementingkan pekerjaan, selalu bersikap dingin kepada sisil, dan sisil selalu merasa bodo amat, tugasnya merebut Gio dari Khanza sudah berhasil, baginya suaminya tak terlalu penting, yang penting hanyalah uang dan kekayaan suaminya.
" aku mau cari alamat Khanza ahh, mau. maen ke rumahnya.." ujar Sisil terlihat ia memainkan handphone nya.
" jangan aneh-aneh kamu..."
" apaan si kamu..."
" aku bilang jangan aneh-aneh, suami Khanza bukan orang yang sembarangan ya.."
" aku gak perduli ya tuan Gio!!, dan yang aku tau Nanda juga adalah temen kuliah aku,,, lalu apa salahnya berkunjung ke rumah temen kan.."
Gio menghela Napas panjang, dia benar-benar tidak habis pikir dengan istrinya, bahkan istrinya tidak punya sedikit pun rasa bersalah atas perlakuannya di masalalu, apakah pantas masih bisa di sebut teman, setelah melakukan hal-hal gila seperti itu.
" kesalahan kita di masalalu, tidak bisa membuat kita kembali menjadi teman Khanza.." ujar Gio.
" masa bodo, toh Khanza masih mau ngobrol dengan aku kan, itu artinya dia masih menganggap aku temannya.."
Gio mendengus merasa jengah dengan istrinya, benar saja istri nya tidak punya hati nurani sama sekali, apa yang ada di pikiran Sisil selama ini, apakah Harta, bukan kah harta yang Gio punya sudah lebih dari cukup untuknya.
" terserah kamu, saya pergi dulu, jangan kemana-mana kamu.." Gio pergi dari kamar hotel, tanpa mendengarkan perkataan dari istrinya lagi dia harus bertemu seseorang membahas perihal pekerjaan dengan ditektur perusahaan.
" aarrrrggghhhh,,," pekik Sisil, ia membantingkan tubuhnya di ranjang.
" dasar pria dingin, nyesel aku nikah dengan nya, sama sekali tak menyenangkan, kalau bukan karena Khanza, gak bakal aku mau di nikahin dengan nya..."
" kenapa nasib ku selalu gak beruntung tuhan..." pekiknya lagi.
terlihat sisil memainkan ponselnya untuk menelpon seseorang di balik telponnya.
" hallo.." ucap orang di sebrang teleponnya.
" gimana.."
" semua sudah beres,,"
" bagus.. pastikan agar suami saya tidak tau.." ujarnya, sambil menghisap rokok di tangannya
" selalu nyonya.."
" antarkan dua botol wine, ke hotel c*p***a , lantai 7 kamar 21."
" baik nyonya..."
seulas senyum terukir di wajah Sisil, dia kembali menghisap rokoknya, dan ia petikkan ke asbak untuk membuang sakar nya.
begitulah kehidupanya, begitu bebas dan tak beraturan, ia sama sekali tidak peduli dengan suaminya, bahkan ia bisa memanggil orang yang tampan dan gagah, ketika suaminya tak bisa mencukupi kebutuhan biologisnya, baginya suami nya benar-benar tak berguna, bahkan suaminya tak tertarik dengan nya, meskipun sudah beberapa kali sisil menggoda, hidupnya selalu di penuhi dengan penyesalan, hingga tak bisa menerima kehadiran sisil, sebenarnya sisil pun tidak perduli, karena dia hanya ingin merebut Gio saja, untuk menyakiti Khanza,
ciihhhh!!! ternyata malah wanita itu mendapatkan orang yang lebih dari yang ia rebut, pekiknya..
.
.
.
Gio termenung, dengan stir kemudinya dia memikirkan apakah hanya pekerjaan saja Nanda memintanya bertemu untuk hal mendadak, atau ada hal lain....
tersirat wajah Khanza di benaknya, waktu di pesta malam itu, Khanza begitu sangat cantik. memakai gaun yang indah, bahkan sangat cocok melekat di tubuhnya, Gio memperhatikan Khanza waktu itu. meskipun Khanza tak menyadari, meskipun wanita itu membencinya, namun hatinya begitu rindu dengan perempuan itu, begitu ingin mengutarakan maaf meski Khanza tidak mau memaafkan Kesalahannya...
.
.
.
.
emmmm abang Gio plin plan kan guys, maaf ya biasa kalau cowok kan hihihi..😘