
.
.
.
.
Khanza mulai tersadar, dia mendapati bu Laras di samping nya, yang memegang tangan nya erat.
" caa.. kamu sudah bangun. " lirih bu Laras
Khanza kembali terisak... dia berhambur ke pelukan Bu Laras...
" ibu... ma, ibu.. " Khanza menghiba,air matanya kembali mengalir dari pelupuk mata indah nya. Khanza jembali mengingat kejadian itu, ibunya telah berpulang.
Bu Laras menepuk-nepuk punggung Khanza, mencoba menenangkan perempuan yang memang sudah ia anggap anak itu.
" mama paham ca,, kamu pasti kehilangan, sabar ya, harus kuat... " bu Laras terus menenangkan Khanza, matanya juga ikut berlinang, namun ia terus mencoba tenang, agar Khanza tegar menghadapi cobaan nya.
" Ma.. bagaimana mungkin ini terjadi, ini semua tidak mungkin ma.. " Khanza terus menghiba.
" Caca harus tegar, ingat sayang, ada Key dan Kel, jangan menangis, caca harus kuat demi mereka, kalau caca seperti ini bagaimana dengan mereka.. " Bu Laras mencoba menenangkan Khanza, mengusap air mata Khanza.
" semuanya tidak berakhir sayang, masih ada si kembar "
Khanza mengangguk, dia menarik napas panjang, dan berusaha mengembalikan ketenangan nya.
" maa apa yang harus Khanza lakukan.. " Khanza bertanya, dia begitu kebingungan. kematian sang malaikatnya begitu mengejutkan hidupnya.
" kuatkan diri Khanza, sekarang kita pulang, kita harus mengurus semua keperluan Penguburan jenazah ibu Diana, mama sudah meminta bi susi dan Deri pulang tadi, mereka harus mempersiapkan semuanya, sebelum kedatangan jenazah ke rumah. " jelas ibu Laras.
Khanza masih menitikan air matanya, namun tanpa isakan, ia sudah mengembalikan kekuatan nya perlahan-lahan, demi sang anak ia harus kuat.
setelah Khanza mengurus semuanya di rumah sakit, Khanza pulang ke rumah nya. bersama bu Laras, jenazah sudah di antar menggunakan ambulance, sebelum Khanza ter bangun tadi, Khanza memikirkan pasti anak-anak nya sangat terkejut, dengan meninggalnya nenek mereka.
.
.
.
Khanza sampai di halaman rumah nya yang sudah tampak ramai, di depan rumah nya, terdapat banyak papan ucapan turut berduka cita.
itu artinya ibu nya memang sudah benar-benar meninggalkan nya, kaki nya gemetar ia mencoba menerobos masuk, menguatkan dirinya, melihat jenazah sang ibu yang di cintainya tengah berbaring dengan mata yang tertutup, terlihat tenang dan teduh.
" ibu... " teriak Kel dan Key berhambur ke pelukan Khanza..
" ibu.. kenapa nenek tidur, kenapa nenek gak mau bangun.. " ucap Key polos, ia sama sekali belum mengerti bahwa nenek nya sudah pergi untuk selamanya.
Khanza menghapus air matanya, mencoba menguatkan diri demi si kembar, yang membutuhkan nya saat ini, dia memeluk si kembar erat, apapun yang terjadi masih ada mereka di hidupnya.
" nenek sudah bahagia, bersama tuhan sayang. " jawab Khanza. tak ada yang bisa ia katakan lagi, untuk menjelaskan kepada mereka, dan agar mereka juga mengerti.
" ibu.. kok nenek tidak ajak kami.. kami ingin ikut sama nenek, kami ingin ketemu tuhan juga" ucap Kel polos.
Khanza tak kuat menahan tangis nya, ia kembali terisak dan memeluk kedua anaknya. key dan Kel masih tidak paham apa yang ia lihat. apalagi dengan banyak orang yang berdatangan sedari tadi.
bi Indri mengambil alih Key dan Kel atas perintah buk Laras, kemudian si kembar pun di bawa masuk ke kamar..
terlihat pak Bayu juga sibuk dengan para tamu yang juga ingin mengenang jasa bu Diana selama masih Hidup, sebagian dari mereka mengaji untuk bu Diana.
" ca.. rapihin badan dulu yu, caca mandi habis itu ganti baju nya... " ucap Bu Laras, Khanza mengangguk pelan.
" bi.. Tolong, " bu laras meminta bi Ranti untuk membantu Khanza.
Khanza di bawa bi Ranti ke kamar nya, untuk membersihkan diri, dan untuk menenangkan pikirannya sejenak..
Khanza beranjak mandi ke kamar mandi, sementara bi Ranti menyiapkan baju duka cita untuk nona nya, mengantar sang nyonya dari rumahnya ke peristirahatan terakhir.
" bi... " ucap Khanza keluar dari kamar mandi, dengan masih tatapan yang sendu. bawah matanya terdapat lingkar hitam, karena seharian ini ia sudah banyak menangis.
" tinggalkan saya sendiri bi. " titah Khanza.
" baik non, tapi baju ini harus non Khanza pakai, untuk acara pemakaman ibu. "
" iya bi. "
bi Ranti keluar dari kamar Khanza...
Khanza kembali terisak, ia mulai memakai baju yang di siap kan oleh bi Ranti, bayangan demi bayangan bersama sang ibu datang di pikiran nya bagaikan slide kaset yang muncul perlahan.
dokter bilang bahwa ibu nya di vonis menderita kanker rahim sejak lima tahun lalu, sedang kan lima tahun lalu pun, Khanza di bawa ibu nya ke sini, kerumah nya,
rumah yang telah memberikan begitu banyak kebahagiaan untuknya, bagai mana mungkin ia tak tau sama sekali, bahwa selama itu ibu nya menahan sakit sendirian.
Khanza terus memikirkan apa yang telah terjadi di masalalu nya, penyesalan demi penyesalan hadir melengkapi hidupnya saat ini..
ceklekk .. pintu terbuka, namun Khanza enggan melihat siapa yang datang...
" za.. " mendengar namanya di panggil Khanza menoleh dan mendapati ke lima sahabat nya datang ke kamarnya.
air matanya masih berderai namun tanpa suara, tatapan nya sangat kosong, para sahabat nya itu langsung memeluk Khanza, menenangkan Khanza, mereka tau Khanza rapuh sekarang.
" turut berduka cita ya za.. " ucap Ayu.
Khanza mengangguk, teman-teman yang lain pun mengucapkan bela sungkawa kepada Khanza, dan memeluk nya.
" sabar sayang, semua cobaan akan di balas dengan hal yang lebih indah, jangan nangis terus."
Mita mencoba menenangkan Khanza.
Khanza kembali mengangguk, namun tatapan nya masih kosong, membuat semua sahabat nya itu iba.
" ayo Za kita turun, kita harus ikut mendoakan beliau, " ucap Panji..
mereka semua turun, dan mengikuti doa bersama, Khanza melihat wajah sang ibu untuk yang terakhir kalinya, sebelum jenazah nya di tutup kain kapan oleh pengurus jenazah.
bu Laras menghampiri Khanza bersama si kembar.,
Key dan Kel duduk di pangkuan khanza, dan memeluk sang ibu erat. meski mereka masih kecil tapi mereka tau ibu sedang bersedih.
" ibu... key ada di sini sama ibu,.. " ucap key menghapus air mata ibu nya.
" ibu jangan nangis ya, .. " ucap Kel melengkapi sang adik nya itu.
Khanza mengangguk dan memeluk anak-anak nya, seolah mendapat kekuatan dari mereka.
orang yang memandang mereka sangat iba, termasuk para sahabat Khanza. mereka menangis tanpa suara. mereka iba kepada Khanza, Khanza yang selalu menganggap ibu nya adalah kehidupan nya, mereka tidak bisa membayangkan bagai mana hancurnya Khanza saat hidup nya pergi darinya.
" kami sayang ibu, kami janji gak akan nakal lagi, asal ibu jangan sedih..emmm " ucap kel, dengan polosnya dia berbicara begitu.
" iya sayang ibu gak sedih, ibu bahagia masih bersama anak-anak ibu.. " lirih Khanza.
Khanza tak lepas memeluk si kembar .
sementara semua petugas pemakaman sedang mempersiapkan semuanya, Jenazah sudah di kapani, dan sore hari nya ibu Diana akan di makam kan.
hanya Khanza dan si kembar keluarga ibu Diana, tak ada sanak saudara nya yang datang, kini Khanza paham ibu Diana memang sendirian, ia tak punya keluarga selain dirinya,
para lerasi dan semua dokter datang untuk mengucapkan bela sungkawa kepada Khanza mereka memberikan semangat untuk Khanza.
.
.
.
.