My Mine

My Mine
Aksi sisil part three



.


.


.


Khanza memarkirkan mobil nya kesembarang tempat, dia masuk dan setengah berlari, memanggil-manggil nama Anak-anaknya..


" kell.. key.. kalian dimana Nak.. ini ibu sayang.." suara Khanza sedikit menggema di semua ruang kosong itu, Khanza terus menaiki tangga menunju lantai demi lantai, agar sampai ketempat dimana anaknya di sandra..


" kel... key.. anakku..." Khanza setengah berlari, merangkul kedua anaknya yang tergeletak di lantai, dan mereka dalam keadaan tak sadarkan Diri


" bi.. bibii.." Khanza menatap bi Indri nanar, mukanya penuh luka, rupanya orang-orang itu memukul bi Indri saat ia terbangun dari biusnya.


" non, bibi takut non mereka jahat non.


mereka jahat.." bi Indri sudah terisak, wajahnya sangat terlihat memilukan banyak memar sampai kebiruan di sana, dia sangat ketakutan.


" iya bi.. Khanza ada di sini,, bibi jangan


panik yah, tenang ya bi..". ujar Khanza, dia mencoba tenang..


" hahaha Khanza.. Rupanya datang juga kau.." ujar Sisil suara keras nya menggema sangat menggelegar ke semua penjuru ruangan.


" sisil apa yang lo lakuin sill, lo udah gila ya!!. "


" iya gw gila Za hahaha... itu semua


gara-gara lo.." racau sisil.


" apa yang lo mau sill.. "


" yang gw mau, lo hancur.. dan mati perlahan-lahan.." Sisil menatap Khanza, hidupnya sudah sangat menjijikan sekarang, dirinya selalu kalah oleh Khanza..


" apa salah gw sama lo.." lirih Khanza,


" tolong.... kali ini, gw mohon sama lo..


lepasin mereka, biarkan keluarga kami


hidup bahagia.." lirih Khanza, dia menghiba meminta sisil menghentikan hal Gila nya itu.


" bahagia kata lo!! " sisil sedikit menjambak rambut Khanza.


" jangan mimpi..." bisik sisil ke telinga Khanza, Khanza sedikit meringis, menahan kesakitan dari jambakan Sisil.


" jangan sakiti non Khanza..." teriak bi Indri, dan langsung dapat tendangan dari laki-laki bertubuh besar itu. dengan sekali sentakan bi indri ter kapar kembali di tembok.


" stop.. hikss hikss.." Khanza terisak, dia tidak bisa melihat kekerasan itu secara langsung..


" apa yang lo mau sil.." tanya Khanza lirih.


" serahin suami lo."


" jangan mimpi..." ucap Khanza lantang, tanpa ampun Sisil makin menjambak rambut Khanza.


" aww awww hiks hiks. lo gila sil. lo gila.." lirih Khanza.


" gw emang gila..!!!. " teriak sisil "gw gila karena lo." ucap nya lagi.


" lo gak bisa nyakitin gw begini, lo inget,


dulu kita berteman baik, bahkan gw udah


ikhlasin apapun yang lo mau itu, kenapa sil??


kenapa jadi seperti ini..." Khanza terus terisak.


" karena lo selalu ada di atas gw, dan gw


gak bisa terima itu.." teriak Sisil suaranya menggema memekat ketelinga semua orang yang mendengarnya.


" lo kasih Nanda buat gw, atau lo mati." lirih Sisil, napasnya tersengal-sengal membara, dan tak karuan.


" tapi kenapa harus suami gw, Nanda


cintanya sama gw hiks hiks.."


" gw gak peduli, bahkan Gio pun yang mencintai


lo dengan mudah bisa gw dapetin.." Sisil kembali tegelak, mengingat lagi perjuangan nya dulu.


" lo tau Za, sebenarnya gw yang minta


gw,.. " kata sisil dia mulai melepaskan jambakan nya dari rambut Khanza.


" apa maksud lo.."


" Gio. hahuaa" Sisil kembali tergelak, dan Khanza hanya menatap wanita yang sudah sedikit gila itu Nanar.


" laki-laki pengecut dia, " Khanza tak menjawab apapun dia hanya terus menatap Sisil.


" gw hanya kasian sama lo, yang di


butakan cinta oleh Gio, lo begitu tergila-gila


dengan laki-laki itu, makanya gw benci ada


orang lain yang bikin lo bahagia.!! ".


" gw minta sama ortu gw!!! agar ngejodohin gw


sama Gio, agar lo hancur Za hahaha," sisil tertawa merasa puas dengan ekspresi terkejut Khanza.


" lo tau Za, malam kejadian itu, Gio sama sekali


tidak tau, kalau gw ngasih obat perangsang


sama lo, dan gw ngerekam semuanya, Gio juga


gak tau za.."


" saat vidio itu gw sebar, Gio sangat marah


sama gw, namun gw berhasil ngeluluhin


dia, karena gw berhasil membuat keluarga


lo hancur, !!kasian gw sama lo " sisil menatap wajah Khanza lekat, air matanya tak henti menghiasi pipi mulusnya,


" bahkan laki-laki yang mengaku mencintai lo aja gak bisa berkutik saat dia di ancam oleh keluarga nya akan di cabut hak warisnya kalau dia gak mau di jodohin sama gw..".


" dia jago bersandiwara, seolah-olah dia


senang telah melukai lo za.. karena gw za,


cuma gw yang bisa buat dia tak punya hak


waris, dia gak bisa berkutik sama sekali,


padahal dia terluka melihat lo hancur hahaha.."


" gw seperti sedang menonton Drama, dan kedua manusia yang saling mencintai itu tak bisa bersatu hanya karena gw, hanya karena sisil hahaha" sisil terus tergelak, dia tertawa puas mengingat kejahatan nya selama ini, dia merasa bangga karena telah menghancurkan Khanza pada saat itu, dan saat ini ia pun harus menghancurkan Khanza dengan dia mengetahui semua kebenarannya, Khanza akan Hancur.


sedangkan Khanza sangat terkejut mendengar semua pernyataan Sisil, ternyata Gio mencintainya, ternyata Gio tidak salah kepadanya, dia bersikap seperti itu karena di bawah ancaman sisil.


" kenapa lo jahat sil, seenggak nya sekarang


Gio suami lo, lo harus hormat sama dia." lirih Khanza, dia menatap wajah sisil nanar, sangat memprihatinkan sisil ini, kurang nya kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya, telah membuat sisil menjelma bagaikan iblis!! hati benar-benar busuk.


" gw gak butuh dia lagi, gw hanya mau Nandana za, gw mau suami lo.."


" jangan mimpi, Ahhhhhh" Khanza meringis saat sisil kembali menjambaknya, siapapun tolong lah Khanza hehehe.


Khanza hanya berharap ada orang lain di sana, yang bisa menyelamatkan ia dengan anak-anaknya, dan Khanza harus menyelamatkan suaminya, dari wanita jahat yang di depannya!!


" gw juga tau za, si kembar itu bukan anak nya Nanda, tapi anak nya Gio Pernando, " Khanza terkejut mendengar pernyataan Sisil.


" kenapa kaget gw bisa tau??.. gw bisa tau semuanya, jangan Khawatir, gw bisa tetap jaga rahasia, lagi pula sebentar lagi lo harus mati za, lo harus mati .." teriak sisil. tangan nya mulai mencekik kuat leher Khanza..


" to-loo-ng. ahhhh" lirih Khanza, dia tidak bisa melawan sisil, tubuhnya sangat lemas, sedangkan sisil terus mencekal kuat leher jenjang itu, Khanza harus mati, dia harus mati di tangan nya...


" jeeddeerrrrr..." suara tembakan menggema di ruangan kosong itu, satu tembakan berhasil mendarat di tangan sisil, sontak sisil melepaskan tangan nya dari leher Khanza.


" uuukkkhhuuu uukkhuuu..." sedikit demi sedikit Khanza kembali mendapatkan oksigennya, napas nya terlihat berat, telat saja sedikit dia akan kehilangan Nyawanya..


" Gio..." lirih Sisil melihat Gio keluar dari ruang gelap di sana, sisil tetap terpaku, tangan satu nya ia gunakan untuk menekan tangan nya yang berdarah. ia sedikit meringis menahan kesakitan nya


.


.


.


❤🌺🌺🌺