My Mine

My Mine
Rahasia suamiku



semua orang tampak tercengang, melihat kediaman Nanda di semarang, ini bukan rumah lebih tepatnya seperti istana di tengah pusat kota, rumah ini dua kali lebih besar dari kediaman Khanza yang ada di semarang.


Khanza yang notabenya adalah istri dari CEO itu juga baru tau Kalau Nanda tinggal di semarang sendirian di rumah besar ini.


" masuk jangan sungkan.. " kata Nanda. ia tau teman-temannya sedikit terkesiap melihat rumahnya,..


jujur saja ini bukan rumah pemberian dari orang tuanya, dia membeli rumah itu hasil keringatnya sendiri, sebelum ia menjadi CEO.


hanya untuk membuktikan kepada orang tuanya bahwa dia juga bisa sukses dan hidup layak tanpa bantuan mereka, dan tanpa menjadi CEO. tapi Akhirnya juga demi wanita yang dia cintai Nanda rela menjadi CEO dan mengubur semua cita-citanya.


belum habis rasa kagetnya, mereka kembali tercengang melihat dalam rumah bak istana itu, Nanda membuat interior rumahnya menjadi ala-ala eropa, sangan elegant dan membuat semua mata melihatnya begitu terpesona.


" ini beneran rumah elo.." tanya Deri dia sama seperti yang lainnya, merasa sangat takjub.


" bener loh ya, gw gak boong.. satu poin lagi ini tempat tinggal gw yang di semarang.. tanpa di ketahui bokap sama nyokap.. jangan sampai alamat rumah ini bocor ke tangan mereka." . ujar Nanda.


semua orang tampak menghiraukan apa yang Nanda bicarakan, mereka terlihat mengelilingi isi rumah, sambil melihat interior ala eropa kuno itu..


" yank.!!" Nanda membuyarkan lamunan Khanza yang tengah terpaku.


" iya... " jawab Khanza.


" suka gak rumah nya.."


Khanza melirik Nanda yang tengah tersenyum ke arahnya.


" suka.. lucu, unik lagi.. " jawab Khanza.


" kalau kalian suka gak sama rumah ini." tanya Nanda kepada kedua anaknya.


" suka kok ayah.. rumah nya besar hehe.." ucap key..


Nanda terkekeh dan mengelus pelan wajah polos kedua anaknya.


" dan mas sudah merubah kepemilikan rumah ini atas Nama si kembar.. " ujar Nanda, tentu itu membuat Khanza terpaku di tempatnya tak percaya, dengan apa yang suami nya bicarakan itu.


" mas apaan si ngaco ihh!!. " jujur saja Khanza belum percaya itu, dia hanya menggap suaminya hanya berguyon saja, untuk membuat dirinya sedikit terhibur.. berbalik dengan Nanda yang menatap lekat wajah sang istri seolah meyakinkan sesuatu disana.


" sayang mas sedang tidak becanda.." ucapnya penuh penekanan, dia yakin Khanza Akan percaya bahwa dirinya berucap dengan serius..


" mas..." Khanza masih terpaku, Sedangkan Nanda hanya mengangguk meyakinkan.


tak perlu aba-aba, Khanza langsung merangkul suaminya, membawa tubuhnya kepada dekapannya.


" mas terimakasih banyak.. " ucap Khanza, matanya sedikit berlinang. ia begitu terharu suaminya, sangat menyayangi kedua anaknya hingga masa depan mereka pun sudah Nanda persiapkan.


" jangan berterimakasih.. mereka adalah anak-anakku... "


Khanza mengangguk dan terus mendekap tubuh suaminya, Nanda membalas pelukan Khanza dengan bahagia.


sedangkan si kembar masih menatap kedua orang tuanya itu yang tiba-tiba bersikap aneh di depan nya.


" sayang anak-anak ngeliatin.. " ujar Nanda. dengan cepat Khanza melepaskan pelukanya.


" eh iya maaf mas." ucap nya malu-malu.


Khanza berjongkok menyamai tinggi si kembar.


" ayo ucapkan banyak terimakasih kepada ayah.." kata khanza dia mengusap pelan rambut anak-anaknya.


si kembar berjalan pelan ke hadapan ayah mereka, mereka menatap wajah sang ayah.


" terimakasih ayah.." ujar si kembar.


Nanda juga berjongkok menyamai si kembar. merentangkan kedua tangan nya, dengan senang hati si kembar memeluknya erat. Khanza hanya tersenyum menyaksikan adegan itu, ia sangat bersyukur tuhan sangat baik memberikan sosok ayah yang sangat penyayang untuk anak-anaknya.


" kalian istrirahatlah, pilih aja kamar yang mau kalian pakai. " ujar Nanda kepada semua teman-teman Khanza.


" boleh yang mana aja ni.." tanya panji.


" boleh... asal jangan satu kamar aja, inget belom kawin.." celetuh Ayu..


mereka hanya tertawa menanggapi celetukan Ayu itu.


" bi ira.." panggil Nanda.


bi ira adalah asistennya Nanda yang ada di rumah itu, dia tinggal di sana hanya dengan pak mamat, yang tak lain adalah suaminya. mereka bagai keluarga Nanda juga, yang menyiapkan apapun semua keperluan Nanda selama di semarang.


" iya Den.. " jawab nya patuh.


" tolong bawa istri saya dan anak-anak ke kamar saya ya bi.." kata Nanda sangat tamah..


" baik den.. mari non.." ucap bi Ira kepada Khanza, Khanza tersenyum dia mengikuti bi Ira sambil menggandeng tangan kedua anaknya. sedangkan semua barang-barang nya sudah pak mamat bawa ke kamarnya tadi setelah ia datang..


" nanti aku nyusul ya yank.. aku ada kerjaan dulu...." ujar Nanda.


" iya gak apa-apa ko.." ucap Khanza.


Nanda terlihat memasuki ruang kantornya yang ada di rumah itu, ia masih menenteng laptopnya yang memang ia sangat perlukan dimana pun ia berada.


Nanda akan melakukan zoom meeting bersama semua relasinya, kerjaan ini memang tak bisa ia tinggalkan meskipun tidak masuk kantor...


.


.


.


Khanza lagi-lagi di buat takjub dengan interior kamar milik Nandana itu. kamar nya begitu luas memiliki dua tempat tidur yang ukuran king zize, rupanya laki-laki itu sengaja menyiapkan nya agar bisa dengan anak-anaknya. Khanza memang tidak membawa satupun asisitennya, itulah alasan Nanda membiarkan anak-anaknya juga tinggal satu kamar dengan nya selama di semarang.


" ibu.. kami ingin tidur lagi, tapi ibu bacain cerita untuk kami ya.." ucap Kel manja..


" baik ayo.. ibu bacain buku dongeng untuk kalian..." dengan antusias si kembar naik ke atas ranjang, Khanza hanya terkekeh melihat tingkah gemas dari kedua anaknya.


ia juga membaringkan tubuhnya, dengan telaten membacakan buku dongeng untuk anak-anaknya. sampai anak-anaknya tertidur kembali.


" fiiuuhhhh.. kasian mereka kecapean.. " Khanza mencium kening keduanya sanyang.


ia berajak dari tempat tidur, untuk membersihkan badanya,..merendam tubuhnya di badhup, setelah tubuhnya sedikit ringan, Khanza beranjak dan memakai baju kembali, ia kembali terkekeh, melihat perubahan dari bentuk tubuhnya, di area perutnya sudah sedikit menbuncit, itu artinya anak yang ada di dalam sana sudah tumbuh dengan baik.


dia keluar dari kamar Mandi. namun tidak kembali berbaring dia berkeliling di kamar itu melihat-lihat furniture yang sangat cocok dengan high class nya rumah ini..


Khanza berjalan dan tangan nya tak lepas dari dinding, betapa terkejutnya dia, ada dinding yang bisa bergeser dan menampakan ruangan yang terhubung dari kamar suaminya...


karena penasaran dengan isi ruangan itu, yang sangat gelap menurut Khanza.. dengan perasaan dia sedikit demi sedikit menuruni anak tangga, melihat ada stop kontak di sana, Khanza menekanya berbarengan dengan lampu yang menyala...


seluas matanya memandang, mata indah Khanza menangkap ke semua penjuru ruangan, lagi dan lagi matanya takjub melihat tempat itu di penuhi oleh buku-buku yang tertata rapih dari atas sampai bawah.. seperti sebuah perpustakaan yang memiliki forniture kuno namun sangat elegant.


" suami ku sangat luar biasa..." Khanza masih sedikit terpaku..


.


.


.


.-😘😘😘


salam sayang dari author, terimakasih yang udah mampir di cerita aku ya, 😘🤭 jangan lupa like komen dan vote nya.