My Mine

My Mine
Penyelesaian Masalah



.


.


.


.


Khanza di kejutkan dengan kedatangan semua keluarga nya dari semarang, termasuk Hendrik dan istrinya, dengan panik Bunda dan Ayahnya berhamburan memeluk Khanza, setelah di kabari bahwa Khanza mengalami pembunuhan berencana tentu itu membuat mereka was-was, tak segan bunda Doris menghujani Khanza dengan ciuman, betapa lega anak nya baik-baik saja.


" cacaku.. syukurlah kamu baik-baik saja.." lirih sang bunda, ia menangis sambil memeluk Khanza erat.


" Bunda.. Khanza sangat baik-baik saja.." Khanza menenangkan sang Bunda, dia melirik Nanda pasti suami nya yang menghubungi mereka.


" Bunda sangat Khawatir nak, " Khanza tersenyum, bundanya masih terisak. dengan sayang Khanza menggosok-gosok punggung sang bunda, agar mendapat ketenangan nya kembali,


" di pesawat bunda terus saja uring-uringan Ca, padahal mas sudah bilang kamu baik-baik saja." timbal mas Hendrik.


" ma'lum lah mas, bunda mu ini kan gitu," ujar Tuan Brama, semua orang nampak terkekeh, padahal dirinya juga Khawatir tapi tidak selebay istrinya.


Mas Hendrik dan Istrinya Crystal memeluk Khanza bergantian.


" Di mana kah si kembar, " tanya Bunda Doris.


" mereka masih di ruangan!!, masuk saja bunda. di dalam sudah ada mama sama papa.." ujar Nanda.


" oh yasudah, bunda mau lihat si kembar dulu..." ucap Bunda Doris, ia masuk ke ruangan si kembar di susul oleh tuan Brama.


" ca.. Nanda sudah menceritakan semuanya sama mas,,," ujar mas Hendrik.


" iya nih mas Nanda, selalu saja cerita apa-apa tuh, lihat bunda kan jadi lebay gitu.." gerutu Khanza. sebenarnya Khanza hanya tidak ingin orang tuanya Khawatir tentang dirinya.


" hehehe iya yank maaf!!, tadi nya aku hanya bilang ke mas Hendrik kok.." Nanda membela dirinya sendiri.


" sama saja mas.."


" Hehehehe..." Nanda terkekeh, justru mendapat tatapan tajam dari sang istri, yasudah lah toh semua nya sudah terlanjurkan.


Khanza mendengarkan mas Hendrik berbicara, katanya Nanda sudah menceritakan semuanya kepada dirinya soal Gio Pernando. sebenarnya Hendrik sudah tau dari dulu, kalau Sisil tidak pernah setulus itu berteman dengan Khanza, ia yang paling tidak suka dengan Sisil yang sok akrab dengan dirinya, Hendrik selalu merasa ada yang tidak beres saja.


" mas bersyukur kamu baik-baik saja ca.." ujar Hendrik.


" iya mas.... mas alangkah kebih baik jika masalah antara mas Hendrik, kak Crystal dan Gio cepat di selesaikan, tak baik selalu menghindari masalah." ujar Khanza ia menatap suami istri di depannya itu saling berpandangan.


" ca.. sebenarnya kami tidak menghindar, alasan Kak Crystal ke jakarta adalah sengaja pergi jauh dari kehidupan Gio, agar Gio melepas kan kakak" jawab Crystal kepada adik iparnya.


" ya itulah salah nya kak!!, kalian membiarkan Gio punya dendam, padahal kalian sudah bersahabat lama kan??" tanya Khanza. dan Crystal mengangguk.


" mas Hendrik, Gio sudah menyelamat kan nyawa Caca, dan Caca rasa, Gio sudah mengilangkan dendamnya, dia sudah jauh lebih baik sekarang..." Khanza menatap Kakaknya itu, dia hanya ingin permasalahan kakak nya cepat terselesaikan bagaimana pun tidak baik saling diam dan membiarkan masalahnya berlarut, meski Gio sudah mengikhlaskan, rasanya aneh jika mereka tidak saling berteman seperti dulu.


Terlihat Hendrik memandangi Crystal dan Crystal tersenyum, membenarkan semua perkataan Khanza adalah kebaikan mereka di masa depan.


" temuilah Gio, bicaralah dengan dia..." ucap Khanza.


" baiklah mas akan coba.." mendengar itu tentu Khanza sangat bahagia, bagaimana pun Khanza ingin kakaknya hidup tenang tanpa belenggu di masa lalu.


Hendrik dan Crystal terlihat berjalan menuju ruang rawat Gio, mereka akan coba berbicara. apa yang di katakan Khanza memang benar, Hendrik dan Crystal seperti mengindari Gio, mereka meninggalkan kesakitan Gio karena awal nya terlalu takut, pada akhirnya Khanza lah yang menjadi korban, Hendrik berpikir ia tidak mau masalah yang sama terulang kembali di kemudian hari, ia tak akan menjadi pengecut, yang menghindari masalah lagi dan Lagi, dia akan mengatasi dan membereskan semuanya.


" istri ku sangat luar biasa.." lirih Nanda.


" apa si mas ih.."


" aku semakin jatuh cinta.." seketika pipi Khanza merah merona ia tersipu malu, sungguh Nanda selalu membuat dia dalam keadaan seperti itu, Khanza selalu merasa jadi anak remaja yang tengah di landa lautan Cinta, sama seperti dirinya selalu jatuh dan terus jatuh hati kepada suaminya.


" mas..!! pengen peluk.." dengan senang hanti Nanda merentangkan tangannya dan Khanza langsung memeluk suami nya erat.


masalah demi masalah memang selalu menghampiri keluarga kecil yang baru saja di bangun itu, Namun Khanza bersyukur punya suami seperti Nanda, laki-laki hebat yang cinta nya luar biasa. itulah sebab ia jatuh hati kepada kepada suami nya tanpa henti.


.


.


.


.


Hendrik mengetuk pintu ruang rawat Gio, dan dia bersama sang istri memberanikan diri masuk ke dalam ruangan. betapa terkejut Gio melihat siapa yang datang, wanita dan laki-kaki itu adalah kedua sahabat nya, yang selama ini ia benci, mereka ada di hadapannya.


dengan berani Hendrik menghampiri Gio yang tak lepas memandanginya, dia duduk di samping ranjang pasien milik Gio.


" apa Kabar..??" Hendrik membuka suara di tengah keheningan. dia memberanikan diri bertanya lebih dahulu, karena Gio tak lepas memandanginya.


" sudah lebih baik sekarang.." jawab Gio, sebetulnya dia masih bingung dengan kedatangan orang-orang di masa lalunya itu.


" terimakasih sudah mau menyelamatkan nyawa adik saya.." ucap Hendrik.


" itu bukan masalah, lagi pula istri saya memang salah, sudah seharusnya saya melindungi orang yang benar..." kata Gio, dia memandangi wanita dan laki-laki di depan nya, wanita itu pernah ia Cintai, Namun jika harus jujur cinta kepada Khanza jauh lebih besar, hingga sampai ia menderita karena penyesalan bertahun-tahun.


" kau terlihat lebih gagah sekarang, boleh kah jika aku rindu masa-masa kita seperti dulu.." Lirih Hendrik, mata nya berbinar, menandakan kerinduan yang mendalam kepada sahabatnya itu. Gio hanya terpaku mendengar ucapan Hendrik. seharusnya dia yang berkata seperti itu, dia yang sudah jahat kepada mereka, menjadikan Khanza korban padalah Khanza tidak salah apa-apa, sebenarnya dia lah yang egois, yang tak bisa menerima kenyataan pada awalnya.


" boleh kah aku memelukmu sahabatku.." lirih Hendrik lagi, air matanya sudah jatuh. entah apa lagi yang bisa di ucapkan selain itu, tak pernah bertemu dengan Gio bertahun-tahun padalah mereka sangat dekat dulu. tanpa persetujuan Gio Hendrik memeluknya, awalnya Gio sangat kaget, namun lama kelamaan dia menerima pelukan dari sahabat masalalunya, seperti Hendrik jauh di lubuk hatinya, dia juga Rindu. namun terlalu takut untuk mengakuinya, akhirnya keduannya menangis dalam pelukan, membiarkan pikiran nya berlayar, Crystal yang melihat adegan itu juga menangis haru.


.


.


.


.