My Mine

My Mine
ungkapan Nandana.



Khanza masih menuruni anak tangga... dia melihat-lihat hal yang luar biasa dari suaminya yang baru ia ketahui, banyak sekali hasil skesta disana, ternyata suami nya adalah orang yang sangat jago melukis..


beberapa penghargaan juga terpampang disana, Khanza menatap lekat semua ruangan yang ada di sana, samar-samar khanza melihat lukisan wajah nya yang terpampang apik di galeri sang suami.


Khanza menghidupkan semua lampu yang ada di ruangan bawah itu, menampilkan sekumpulan foto dirinya tertempel rapih di dinding...


hal itu menambah semua rasa terkejutnya, melengkapi semua keganjalan yang ada di hatinya,


Khanza terpaku, melihat banyak nya foto dirinya di sana, deretan itu Khanza lihat satu persatu.


ada foto dirinya yang sedang memakan ice cream khanza tau objek nya ada di taman yang sering ia dan sisil kunjungi dulu, dari pngambilan gambar ia tau bahwa fotonya di ambil secara diam-diam. ada juga foto Khanza yang memang sengaja saat mereka berlibur bersama waktu itu.


Khanza masih terpaku di tempat itu, ia tak bergeming, terlalu membingungkan. pikirannya kalut entah apa yang suaminya itu lakukan, ini terlalu membingungkan untuknya, yang ia tau suaminya adalah sahabat semasa ia kuliah di semarang dulu, apa karena alasan persahabatan suami nya bisa sampai segitunya.


" kamu disini ternyata.." suara Nanda sedikit menggema di ruangan itu. Khanza terperanjat kaget mendapati suaminya yang datang secara tiba-tiba.


" mas maaf aku lancang masuk kesini!!. " ucap Khanza. ia sedikit gugup, melihat suaminya tak lepas menatapnya lekat,


wajah Nanda tak bisa di jelaskan, dia juga diam seribu bahasa aura dingin nya membuat Khanza sedikit brigidig ngeri, tatapan Nanda seperti ingin memakan nya hidup-hidup saat itu juga.


sementara Nanda masih menatap Khanza sangat dalam, menelisik kemarahan dari sang istri, ia melihat sang istrinya terpatung di bawah sorotan lampu, seperti hanya dia saja objek yang sedang ia lihat sekarang.


semua nya sudah di ketahui oleh sang istri, mau tak mau ia harus menjelaskan semuanya sekarang, takut terjadi kesalah pahaman,


jujur saja tubuh tegapnya tak mampu menahan lututnya yang lemas, Nanda tidak tau harus mulai berbicara dari mana untuk menjelaskan semuanya kepada sang istri.


mereka hanya terpatung saling tatap dengan hanya di halangi sebuah meja besar disana.


" bicara yu.." ujar Nanda. mulailah ia melenggang dan duduk di sebuah kursi yang sebelumnya ia nyalakan juga lampu di ruangannya.


tatapan dingin dari sang suami membuat Khanza takut, ia yakin bahwa suaminya marah, bahkan ia tak memperdulikan apa yang suaminya lakukan hingga banyak nya foto ia disana, ia tak meperdulikan apapun masa bodo untuknya, yang ia pikirkan bagaimana meminta maaf kepada suaminya agar ia tak marah atas kelancangannya.


Khanza ikut duduk juga menyusul sang suami disana.


" mas maaf aku udah lancang kamu jangan marah ya, " dengan polosnya Khanza meminta maaf kepada suaminya bahkan ia tak peduli semua hal yang baru saja ia lihat.. sedangkan Nanda hanya menatap lekat wajah panik sang istri.


" enam tahun lalu, aku melihat wajah cantik perempuan itu di taman, dengan ceria ia bercerita bersama temannya, sesekali menjilat ice cream yang ia pegang .." Nanda mulai bercerita. sedangkan Khanza hanya terpaku belum mengerti apa yang suaminya bicarakan, emang Khanza itu otak pintarnya suka rada-rada bolot kalau menyangkut hal-hal seperti itu.


" wajahnya cantik itu menarik perhatian aku... untuk di jadikan salah satu objek!!. dan aku berhasil mengabadikannya, dengan kamera bersejarah kepunyaanku.".


" aku senang menatap wajah cantik itu, hingga aku memberanikan diri datang setiap sore hanya untuk melihat wajah cantiknya!!, melihat senyum indah yang selalu terukir, mendengar kekehan kecil, saat bercerita hal-hal konyol bersama temannya.." Khanza masih termenung mendengarkan kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut suaminya.


" cehhh... " Nanda berdecak, sebegitu cintanya ia dengan sang istri hingga menjelaskan ini pun sangat sulit untuknya.


" rasa suka ku membuat aku sedikit nekad, dengan memasuki kuliah tempat kampusnya, waktu itu aku merasa hidupku hanya untuk main-main saja,!!!! hingga aku sangat bebas melakukan apapun yang aku suka.." Nanda terkekeh betapa konyol nya hidupnya dulu.


Khanza menatap lekat wajah suaminya, sedikit demi sedikit ia mengerti apa yang di katakan oleh suaminya.


" aku sakit... harapan ku seperti runtuh seketika,!! namun rasa sakit ku tidak membuat aku ingin menjauh, wajah cerianya sudah menjadi candu untuk ku, hingga aku tidak bisa membiarkan wajah cerianya hilang ketika di hadapanku, jika aku mengungkapkan semuanya, mungkin dulu ia akan menjauhiku,!! itulah sebabnya waktu itu aku memutuskan mencintainya secara diam-diam.. "


Nanda tertunduk, mengingat kan kembali perjuangannya hingga mencintai Khanza diam-diam itu sangat sakit untuknya.


" aku tau aku memang gak gantle, tapi perlahan rasa suka ku berubah menjadi rasa cinta yang begitu dalam, waktu itu aku membiarkan diri menjadi seorang penguntit, hingga mengabadikan momen saat dia tertawa... " terlihat peluh keringat di dahi Nanda, baginya sangat sulit mengungkapkan semua isi hati yang selalu ia pendam selama ini..


dia beranjak dari tempatnya, dan berjongkok di depan Khanza,ia memberanikan diri memegang tangan Khanza yang sedikit gemetar, bagaimana tidak, Khanza baru saja mendengarkan hal-hal yang tak pernah ia duga sebelumnya..


" Khanza Brama Wijaya!!" ucap Nanda tetahan, ia menatap mata sang istri


" sudah bertahun-tahun ini aku mencintaimu... aku hampir gila, ketika kehilangan kamu selama lima tahun, aku selalu mencari kamu kemana-mana, bahkan aku menjadi seseorang yang dingin kepada semua orang, karena aku sangat marah kepada tuhan saat kehilangan kamu.." Nanda terisak.. kepalanya ia tundukan di pangkuan Khanza.


berbalik dengan khanza, entah pengakuan apa yang barusan ia dengar, satu yang ia tau, bahwa perempuan yang di cintai Nanda sedari dulu adalah dirinya, hatinya sangat berbunga-bunga cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Khanza tidak bisa menjelaskan apapun, dia sangat bahagia.


dengan tangan gemetarnya, Khanza mengangkat wajah sang suami, dia menatap mata itu sangat dalam, air mata yang di keluarkan oleh suaminya sangat jujur, Khanza menghapus air mata itu dengan kecupannya. ia mengecup setiap inci wajah suaminya, agar disana tak terlihat air mata lagi. dengan cara itu dia memberitahu bahwa dirinya sangat bahagia telah di cintai Nanda begitu dalam..


setelah bertahun-tahun merasa tak berhak dengan siapapun, karena dirinya kotor. mencintai suaminya saja ia selalu merasa tak pantas.


medengar itu dari mulut suaminya, membuat ia tidak bisa berkata-kata, Khanza mencium bibir sang suami sekilas. dan memeluknya erat, kemudian ia menangis bahagia.


sementara Nanda terpaku, masih tidak mengerti ekspresi yang di keluarka. oleh sang istri.


.


.


.


.


yeeee akhir nya selesai juga bab ini๐Ÿ˜Œ๐Ÿ˜Œ


jujur saja author ini sedikit kebingungan dengan sikap mereka berdua, tapi gak papa semoga kalian suka๐Ÿ˜˜.


.


.


.