
.
.
.
.
setelah hari hari berlalu, kesibukan menyertai kehidupan Khanza, membuat hidup nya sedikit kewalahan, namun ia sangat menikmatinya masa itu.
hari ini adalah hari pertama ia masuk kuliah, bimbang dan bingung iya rasakan, harus meninggal si kembar, bersama asisten nya di rumah.
sedikit mengalami drama si kembar hari ini sangat rewel, mungkin tau ibu nya akan berangkat kuliah dan meninggal kan mereka.
" suuuttt sayang.. jangan rewel ya nak, ibu kan harus kuliah. .. "
bukan nya berhenti anak-anak nya malah makin menjadi, mereka tau bahwa sang ibu akan meninggalkan mereka.
" kenapa Caa ,,? " ibu Diana menghampiri anak nya yang tengah kerepotan menenangkan cucu-cucunya.
" ini bu anak-anak gak tau kenapa rewel banget. "
ibu Diana mengambil baby key, dan menggendong nya mencoba menenangkan sang cucu..
" bu ada telepon.." ucap bi Ranti menghampiri Khanza dan ibu Diana.
" oh iya.. titip baby key dulu ya bi.. " ibu diana memberikan alih baby key ke tangan bi Ranti.
terlihat ibu diana terlibat percakapan di dalam telepon.
" anak-anak rewel ya bu.. " ucap bi Ranti yang juga sedang menenang kan baby key itu.
" iya tau mungkin ibu nya mau pergi.. "
Khanza terus menenangkan Kel yang berada di gendongan nya, mereka sebenar nya sama-sama sedang berjemur di samping kolam di rumah itu..
terlihat ibu diana menghampiri Khanza dan bi ranti lagi, ..
" nak, anak-anak kayanya di titipin di rumah bu laras saja deh.. " usul ibu Diana, sebenarnya Khanza merasa tak enak harus merepotkan orang lain, tapi yang di usulkan ibunya memang salah satu cara yang terbaik sekarang.
" emang bu Laras gak papa buk, nanti si kembar ngerepotin lagi.. "
" gak papa katanya, barusan ibu ngobrol sama dia, malah bu Laras yang minta, bi Indri suruh ikut saja, biar nanti dia ada yang bantu.. ". jelas ibu diana.
" tapi bu... caca gak enak. !!".
" sudah sayang, dari pada kamu khawatir kan.. "
" yasudah buk.. "
mau tak mau Khanza mengikuti saran ibu nya, ini adalah hari pertama dia akan meninggalkan anak-anak nya, tentu ia sangat khawatir, menitip kan si kembar di rumah bu Laras memang hal yang tepat untuk nya saat ini, bu Laras juga bisa menjaga anak-anaknya dengan baik. Khanza tau mereka juga sangat menyayangi si kembar. itulah kenapa Khanza percaya dengan buk Laras.
.
.
.
.
.
Khanza bersama sang baby sitter masuk ke kediaman bu Laras, untuk menitip kan si kembar.
semua peralatan dan barang-barang yang si kembar berlukan sudah ia bawa ke kediaman itu.
" sayang sudah datang. "
bu Laras langsung menyambut Khanza, dengan sangat antusias, kebetulan ada juga pak bayu yang memang belum berangkat ke kantor..
" maaf ya ma, Khanza ngerepotin nanti." sebenar nya Khanza merasa tidak enak untuk merepotkan orang lain.tapi mau bagaimana lagi, dia tak punya pilihan lain, si kembar sangatlah rewel.
" gak papa ko, rumah ini akan ramai za.. "
" iya ma, tapi anak-anak hari ini rewel banget,,"
" anak kamu pinter ya za.. mereka tau kalau ibu nya akan pergi.. ".kata bu Laras, ia mengambil alih baby key dari bi Indri.
" jangan sungkan za, papa malah senang bisa bertemu si kembar dulu sebelum berangkat ke kantor.. " ucap pak Bayu meyakinkan Khanza. yang Nampak masih ragu.
" makasih ya ma.. pa.. " ucap Khanza..
Sementara Nandana Adji Prasta mendengar rumah nya ramai memang tak seperti biasanya,
namun ia memilih acuh dan terus mempersiapkan diri untuk berangkat ke kantor..
.
.
.
" ma kalau gitu Khanza berangkat ya.. " pamit Khanza..
" iya sayang hati-hati.. "
Khanza menyalami tangan ibu Laras dan pak Bayu bergantian..
" iya non baik." patuh bi Indri.
dengan berat hati Khanza meninggal kan kediaman buk laras, mungkin anak-anak nya rewel karena memang dia belum ikhlas berjauhan dengan anak nya, karena naluri seorang ibu memang kuat dengan anaknya, tapi ini hari pertama kuliah, dan Khanza tidak bisa meninggalkan kuliahnya.
" berangkat ya der. "
" baik." ucap Deri patuh.
masih dengan rasa Khawatir, Khanza berangkat ke kampus dengan mata yang sedikit berbinar, dia belum siap berjauhan dengan anak-anak nya, hatinya gelisah pemikirannya berkalut, dia merasa tak tenang.
" kalau sedih.. nanti si kembar sedih loh.." ucap Deri karena melihat sang majikan sangat gelisah. dia tau apa yang Di rasakan Khanza, sebagai ibu meninggalkan anak-anaknya memang tidaklah mudah.
" pertama kali nya aku ninggalin anak-anak der. "
" kalau gitu gak usah kuliah aja sekalian.. " usul Deri
" gak mungkin der, saya juga perlu pendidikan.."
" kalau gitu jangan sedih, karena kalau ibu nya sedih, anaknya pasti rewel, kasihan nanti nyonya Laras," jelas Deri.
" gitu ya der.. "
" ya begitu.. ".
khanza mencoba tenang dan melakukan aktifitas yang membuatnya lupa dengan si kembar, sebisa pun ia menahan perasaanya agar tidak merasa bersedih.
.
.
.
sementara Nandana turun dari kamar nya, dia mengernyitkan sebelah alisnya.
heran dengan keberadaan dua bayi mungil yang sangat mengemaskan itu.
" hallo ancle. good morning.. " bu Laras berucap sengaja di buat seperti anak kecil menyapa Nandana.
" anak siapa mam,." . Tanya nya heran.
" cucunya ibu Diana.. " jelasnya..
" emm lucunya.. " ucap Nandana gemas..
Mikaeel Arsha Kamandala🌺
Ayana Key Zetana 🌺
melihat anak-anak itu Nandana teringat sesuatu, teringat dengan perempuan yang tak ia lupakan dalam hidupnya. tatapan anak itu sama dengan mata polos wanita pujaan hatinya. meski ia sudah menyerah untuk mencari, namun hati nya tidak pernah bisa berbohong, kalau dia masih menunggu sang pujaan nya itu.
Nandana mengelus pipi baby kecil itu sambil sesekali ia tersenyum gemas,
" boleh aku nyoba gendong ma.. " ucap nya kemudian.
" boleh ko.. "
bu Laras memberikan baby key ke tangan Nanda dan laki-laki itu mengendongnya perlahan.
" kamu udah cocok jadi ayah nan.. " ucap bu Laras
lagi-lagi hal itu terdengar oleh Nanda membuat ia semakin kesal dengan orang tua nya, yang makin hari makin aneh menurutnya.
" Kalau kamu jadi ayah mereka gimana. " tanya bu Laras.
" kalau di kasih mau mam.. " jawab Nanda ngasal, dia kesal sama ibunya, bagaimana mungkin ia harus menikah. sedangkan mencari wanita itu saja ia hampir gila.
" yey kamuu mana ada ibu yang suka rela memberikan anak-anaknya.. "
" ya kali aja mam.. " .jawab Nanda ketus.
" tapi kamu harus tau. ibu mereka itu adalah ibu terbaik yang pernah mama temui, wanita murah hati, dan ramah ke siapapun.. mama tidak pernah bertemu wanita sebaik dia, jeng Diana itu sangat beruntung mengangkat nya jadi anak.. " lirih ibu Laras.
" pertama kali papa lihat dia, papa langsung suka, sopan santun nya itu lohh, kasian ya ma dia punya masa lalu yang buruk.." tambah pak Bayu. dia mengingat hari pertama pertemuannya dengan Khanza. setelah bertemu Khanza pak Bayu merasakan iba yang sangat mendalam, Khanza telah melalui banyak hal, dan wanita itu masih mampu tersenyum. sungguh luar biasa menurutnya.
" udah, Nanda mau berangkat ke kantor.. nih baby nya.. " nanda memberikan baby Key ke pangkuan Indri sang baby sitter itu.
Di perjalan Nanda masih memikirkan perkataan orang tuanya, ia sangat terbebani, mana mungkin ia bisa mencintai perempuan lain, meski ia juga kasihan dengan ibu dari kedua anak itu.
beberapa kali dia mencoba berpacaran dengan wanita lain, namun lagi-lagi dia gagal, tak ada wanita sesederhana dia, tak ada yang bisa menyembuhkan luka di hatinya. dia benar-benar tersiksa, kekuasaan yang dia miliki tak bisa menemukan orang yang dia cintai.
itulah alasan kenapa ia tidak bisa menerima perjodohan itu, ia takut menyakiti perempuan itu, meskipun pertama kali melihat kedua bayi nya ia sangat suka.
.
.
.
.