My Mine

My Mine
kau memang suamiku.



semua keluarga Khanza pulang bertolak ke semarang, Khanza memeluk kedua orangtuanya erat, hari esok ia tidak akan mendapatkan wajah itu lagi.


" baik-baik ya sayang, sekali-kali pulang ke semarang.. " kata sang bunda, mencium kening sang putri penuh sayang.


" bunda... terimakasih untuk semuanya.. " kata Khanza ia beralih memeluk sang ayah.


" jaga diri baik-baik ayah, jangan cape-cape.." kata Khanza.


" iya pasti nak, jagain cucunya ayah yah.. " ucap sang ayah..


" pasti ayah.. " Khanza beralih memeluk sang kakak..


" caca jadi istri yang baik yah, harus nurut sama suami.. " kata Hendrik.


" pasti mas.. "


kedua orang tua juga memeluk Nanda, dan menitipkan sang putri semata wayang nya agar ia jaga,


mereka berangkat setelah di antar supir ke bandara, Khanza berpisah dengan orang tuanya tepat di halaman rumahnya.


satu tetes air matanya jatuh, sedih harus berpisah dengan kedua orangtua dan kakaknya, namun ia juga punya tanggung jawab di jakarta, dan juga sekarang ada suami yang harus ia urus segala keperluannya, ia bukan gadis manja lagi yang dulu selalu minta di peluk oleh sang bunda ketika ia merasa sedih.


Nanda merangkul sang istri, dan mengajaknya masuk ke rumah..


hari sudah semakin sore, Khanza kembali membantu sang asisten dan Ayu di dapur, mereka sangat sibuk menyiapkan makan malam.


anak-anak bermain dengan sang ayah, mereka senang, kini mereka bisa setiap hari ketemu Nanda, bahkan mereka memanggil dengan sebutan ayah, sudah lama si kembar menantikan sosok seorang ayah, dan sekarang mimpi mereka kesampaian, Nanda sudah menjadi ayah sambung untuk mereka.


" oke anak-anak ayo mandi dulu.. " ajak Khanza kepada anak-anaknya.


" ibu.. kita sedang main sama ayah.." rajuk si kembar.


" ya ibu tau... tapi ayah juga harus mandi.. " kata Khanza, ia melirik Nanda agar membenarkan apa yang ia bicarakan.


mau tak mau si kembar mengikuti ibu nya, pergi ke kamarnya untuk mandi.


Nanda terkekeh, melihat si kembar merajuk ke ibunya, menggemaskan sekali lirihnya..


Nanda juga masuk ke kamarnya, seperti yang istrinya bilang, ia akan mandi, senyum tipis terlukis dari bibirnya, melihat sudah ada baju yang istrinya siapkan, dan air hangat untuknya mandi.


ia senang istrinya menyiapkan segala keperluannya untuk hal-hal kecil sekalipun.


Nanda mulai menbersihkan badannya, dan memakai baju yang sudah di siapkan itu, setelah selesai ia langsung kebawah untuk makan malam bersama.


dia juga sudah mendapati sang istri dan si kembar disana, dan disana juga sudah ada Deri yang ikut makan dengan sang istrinya.


" hei bro. ...udah balik lo.. " kata Nanda.


" ya begitulah.. enak banget pengantin baru.. gak kerja.. " kata Deri.


" emm adan Riski yang sangat handal kalau ngurusin kerjaan.. "


para istri itu hanya mendengarkan apa yang di bicarakan para suaminya itu.. Khanza juga dengan telaten memberikan Nasi beserta lauk pauk nya ke piring sang suami,


lagi-lagi Nanda bersyukur punya istri seperti Khanza. iya tersenyum tak lupa mengucapkan terimakasih.


makan malam pun telah usai,.. semua orang itu beralih ke ruang tv dan mereka bercanda ria bersama, Khanza melihat sikembar betapa bahagia anak-anaknya itu, rumah terasa ramai sangat sekarang,..


" baik lah anak-anak waktunya tidur yu.. " kata Khanza.


" mau tidur sama ayah bu... " kata key.


" no ibu.. key mau sama ayahh.." si kembar itu bersikukuh, Nanda terkekeh..


" baiklah ,, ayoo.. " ajak Nanda ia beranjak mengajak si kembar..


" tapi mas.. " kata Khanza tertahan.


" gak papa.. " nanda meraih kedua tangan si kembar.. dengan bahagia si kembar meraih tangan sang ayah, mereka sama-sama masuk kekamar si kembar.


" nanti bacain kami dongeng ya ayah.. " .si kembar antusias.


" siap my boss. " jawab Nanda.


terdengar samar-samar obrolan mereka sebelum menghilang di balik pintu, Khanza hanya menggeleng, lalu dia tersenyum.. tidak menyangka, anak-anak nya begitu dekat dengan suaminya itu. Khanza melirik kedua manusia sang berada di ruangan itu, yang sedang pokus menonton tv.


" yuu gw duluan ya.. " kata Khanza.


" okey.. "


Khanza beranjak untuk ke kamarnya, meninggalkan Ayu dan deri.


ia menyegarkan kembali badan, di bawah guyuran sower Khanza terkekeh memikirkan tingkah si kembar, bersama suaminya itu, tentu Khanza sangat bahagia..


setelah merasa cukup segar, Khanza menyelesaikan acara mandinya dan keluar dia mendapati sang suami sudah ada di kamar itu, sedang memainkan laptopnya, sungguh suami nya sangat tampan jika sedang serius. ya dia adalah suami Khanzasekarang..


Khanza selalu merawat badanya sebelum tidur, memakai cream malam agar kulitnya tetap terjaga, Nanda sedikit melirik Khanza, kemudian kembali pokus ke layar laptopnya.


Khanza beranjak naik ke atas ranjang dan berbaring di sebelah Nanda, ia membelakangi Nanda agar tidak mengganggu sang suami nya itu, Khanza tau suaminya sedang bekerja...


" selamat malam mas.. " ucap Khanza, kemudian ia memejamkan matanya.


" malam istriku.. " kata Nanda.


tentu itu membuat hati Khanza berbunga-bunga.. Khanza membenamkan kepalanya di atas bantal, ia begitu malu,.. suaminya selalu saja berhasil membuatnya tersipu...


Nanda menutup Laptop nya, dia matikan lampu dan menggantinya dengan lampu tidur, lalu berbaring dengan sang istri dan memeluknya dari belakang..


" yankkk.. " kata Nanda, Khanza tak menjawab nya..


" udah beneran tidur ya.. " katanya lagi, iya menciumi tengkuk Khanza, itu akan menjadi tempat favoritnya, Karena sang istri selalu merespon ketika bagian itu sudah ia kecupi, benar saja Khanza menggeliat karena merasa geli.


" ada apa mas.. " kata Khanza.


" yank... besok aku udah mulai kerja ya, banyak banget kerjaan soal nya. " kata Nanda..


" iya mas besok aku siapin semua keperluannya ya. " kata Khanza, Nanda kembali mencium tengkuk Khanza.


" terimakasih istriku," Khanza mengangguk, ia malu untuk menatap mata Nanda saja, pasti muka nya sudah merah saat ini.


Nanda membalikan tubuh Khanza jadi menghadap kepadanya, dia menindih tubuh mungil Khanza, menatap wajah Khanza sangat dalam, istrinya ini begitu cantik, ia mencari celah, ketidak sempurnaan disana, namun Nanda tak menemukannya sama sekali, Nanda memain-mainkan jarinya di bibir Khanza, bibir itu, selalu saja membuat ia bergairah, di kecupnya bibir milik sang istri itu, perlahan namun pasti, Nanda mel*mat, meny*sap dan mengulum bibir itu, sampai keadaan kembali panas. Nanda melepaskan bibirnya ia menatap Khanza yang juga menatapnya, tatapan sayu, Nanda sangat suka, hanya di tatap saja, darahnya kembali berdesir..


" yank... bolehkah.. " lirih Nanda.


Khanza mengangguk mengiya Kan.


tak butuh waktu lama Nanda kembali mel*mat bibir sang istri penuh gairah, malam itu badan mereka kembali berpagut, berlarut dalam indahnya dunia


😘🌺