My Mine

My Mine
Sosok Ayah untuk anakku.



menjelang sore kedua manusia di ruangan direktur itu tengah sibuk, Deri tengah serius menatap layar laptop nya, Khanza juga tengah sibuk dengan pekerjaan nya...


mereka berkalut dengan pekerjaan masing-masing, suara dering telepon membuat Deri beranjak dari mejanya.


" ya. dengan Deri disini.. " ucap nya setelah mengangkat telepon itu.


" selamat sore pak Deri, saya resepsionis mau memberitahukan bahwa ada yang mencari direktur... " kata resepsionis itu, menjawab Deri.


" siapa... " tanya Deri.


" Atas nama Nandana Adji Prasta.. " ucap nya lagi..


" oh suruh dia keruangan Direktur.. " ucap Deri, kemudian mematikan sambungan telepon.


semua mata tertuju pada laki-laki gagah dan tampan yang berjalan melewati mereka...


sebagian perempuan Histeris memandang Nanda, ya.. karisma seorang Nanda memang sangat berpengaruh, siapapun yang melihat akan terpikat.. dengan santai ia masuk ke ruang direktur di antar oleh resepsionis itu...


Khanza menghentikan aktifitas nya ketika melihat Nanda masuk keruangan nya..


" ehh Nanda.. " kata Khanza ketika mendapati Nanda ada di ruangan nya


Deri menghampiri Nanda dan Langsung merangkul sahabat baik nya itu,


satu hal yang Khanza mengerti, kenapa Nanda ada di pesta malam itu, Karena Deri dan Nanda memang berteman, Khanza mengutuki dirinya, yang tidak menyadari hal itu dari awal.


" broo.. ngapain nih tumben.. " ucap Deri menyapa Nanda..


" wihhh nah gini dong rapih pake kameja, ... " ucap Nanda memperhatikan penampilan Deri yang sedikit berubah..


Deri terkekeh...


" iya.. berkat Nona Direktur hehehe... " Deri nyengir kuda..


Khanza menghampiri Deri dan Nanda kemudian gabung...


" dengan mudah nya Khanza merubah lo,,,, . " ucao Nanda. Khanza masih bingung dengan pembicaraan kedua makhluk di depan nya ini...


" emang sebelum nya dia gak bisa di suruh kerja Kantor.. " Khanza bertanya, karena dirinyapun penasaran.


" Deri itu orang yang pintar za.. besik jadi pemimpin nya tinggi, tapi malah milih jadi bodyguard, berkali-kali aku omongin mana mau dia dengerin aku... " Kata Nanda. Deri hanya terkekeh, mengingat temannya memang sangat bawel soal kerjaan nya, khanza mengangguk pelan.


" lo aja jadi CEO, bukan kemauan lo kan hahaha.. " ucap Deri sambil tertawa, Khanza hanya menatap Deri heran, dan meminta deri untuk berhenti mengejek sahabat baik nya itu, sahabat yang akan menjadi suaminya.


" ngomong-ngomong kenapa kesini.. " tanya Khanza.


" mama minta aku buat jemput kamu... " Kata Nanda menjawab.


" Oh ya tumben sekali, padahal aku juga bareng Deri loh.. "


" di suruh ke butik buat fitting gaun pengantin, mama udah ke rumah, katanya jangan Khawatir soal anak-anak, mama akan di rumah sampai kita pulang. " jelas Nanda.


" oh gitu, baik lah tunggu saya selesain pekerjaan sedikit lagi... " ucap Khanza


" okey bu direktur.. " Khanza tersenyum dan beranjak untuk kemejanya lagi.


Sedangkan Deri menatap mereka penuh rasa heran, sejak Kapan mereka bisa akrab begitu pikirnya, dia yang menjadi saksi, bagaimana sahabat nya itu selalu menolak untuk menikahi Khanza,


berkali-kalipun pria itu mengeluh kepadanya, kalau orang tuanya sudah membicarakan soal perjodohan. ah, mungkin kah karena sudah ketemu, mungkin kah Nanda terpikat karena tau calon istrinya memang sangat cantik pikir Deri diapun terkekeh pelan..


tanpa Deri ketahui, Khanza Dan Nanda sudah bersama sejak lama, bahkan Nanda pun sangat mencintai Khanza.


Nanda menatap heran, kenapa teman nya itu tiba-tiba terkekeh...


" hehehe... santai bos.. " Deri melengos ke mejanya, Nanda mengernyitkan alisnya, melihat Tingkah sahabatnya itu.


Setelah semua pekerjaan nya selesai, Khanza dan kedua laki-laki itu keluar dari ruangan..


seperti biasa, saat mereka berjalan tak lepas dari pandangan semua orang, beberapa kali Khanza tersenyum menanggapi saapaan bawahan nya itu, lagi-lagi Nanda di buat kagum dengan keramahan hati Khanza, ia tak henti memandangi Khanza, tidak ingin melewatkan senyuman itu.


" Der pulang duluan aja ya, bilangin ke anak-anak aku pulang terlambat.. " kata Khanza.


" beres buk direktur.. "


Khanza terkekeh, selalu gemas dengan tingkah asisten nya itu...


.


.


.


Khanza dan Nanda sampai di butik yang sangat terkenal di kota itu. mereka akan fitting baju pengantin Hari ini, pernikahannya akan berlangsung dua minggu lagi.


itu membuat Nanda sangat bersemangat..


Khanza mencoba Gaun pengantik yang sudah di pilihkan Nanda untuk nya, melihat dirinya di pantulan kaca membuatnya takjub, gaun pengantinnya sangat cantik..


namun dengan keadaan yang sama, ia teringat dengan orang tuanya, ia akan menikah tanpa orang tua, tanpa sadar air mata jatuh ke pipi mulusnya, andai ada orang tuanya datang dan merestui pernikahan nya, itu Khanza sangat bahagia, meskipun pernikahan nya sebuah perjodohan, tetap saja semua ini adalah hal yang sakral, tetap saja Khanza ingin kedua orang tuanya menyaksikan pernikahannya dengan bahagia.


Nanda masuk ke ruangan ganti itu dan mendapati khanza yang terisak.


" kenapa.. " tanya Nanda sambil menghapus air mata Khanza.


" andai orang tuaku ada, pasti akan sangat membagaiakan.. " Khanza terisak..


" suuutttt jangan nangis... " Nanda menangkan Khanza.


Nanda memeluk Khanza, mencoba menenangkan Khanza..


bukan Hanya soal kedua orang tua nya, Khanza menangis membayang akan menikah dengan laki-laki yang tidak mencintainya.


" Nanda mengapa jalan hidupku begini, kenapa harus kamu, maafin aku Nanda, aku terikat dengan janji, apapun yang terjadi aku harus tetap menikah dengan kamu, tidak peduli kamu tidak mencintaiku, bahkan aku akan mengijinkan kamu terus sama orang yang kamu cintai itu, anak-anak sangat menyukaimu, kamu sosok ayah bagi mereka, mereka adalah kebahagiaanku, dengan kamu menerima mereka aku sudah sangat bahagia.. " lirih Khanza dalam hati, Khanza begitu dilema, namun tidak bisa membatalkan pernikahan, satu sisi Khanza begitu kasihan dengan Nanda yang harus menikahinya, padahal dengan jelas Khanza tau bahwa Nanda mencintai seorang perempuan.


" maafin aku Nanda. " lirih Khanza.


" sekarang maaf untuk apa lagi.. " ucap Nanda sambil melepaskan pelukannya.


" aku ngerasa bersalah saja.... aku gak ingin kamu benci aku, kita harus tetap jadi teman baik ya.. " lirih Khanza.


" gak ada alasan untuk aku benci sama kamu.. "


Khanza menatap Nanda, meyakin kan kejujuran Nanda di sana, jantung nya berdetak cepat, entah perasaan apa itu, sebelum nya tak pernah ia alami, saat dekat dengan Nanda.


"Habis ini kita makan malam dulu ya. " ajak Nanda.


" aku khawatir dengan anak-anak.. " kata Khanza.


" kan udah ada mama disana, dari sore pasti kamu belum makan.. "


Khanza mengangguk dan tersenyum.


fitting gaun sudah selesai, Khanza sangat menyuka gaun pilihan Nanda, gaunnya pun sangat cocok dan indah di pakainya.


mereka kembali melanjutkan perjalanan untuk makan malam, Nanda membawa Khanza ke Restoran seapood terenak yang ada di jakarta selatan, Nanda berniat akan menghabis malam bersama dengan Khanza