
hai readers semua, terimakasih telah ngikutin cerita ini, jangan bosen-bosen ya.. 😘
Semua orang nampak sibuk, hari ini seisi rumah Khanza akut ke hotel bintang lima, daerah Sudirman Jakarta Selatan. untuk mempersiapkan pernikahannya.
besok pernikahan nya akan terlaksana, Khanza akan melepaskan masa lajangnya.
" Ayah.... Bunda.. " Khanza terpaku di balkon kamar hotelnya ia menatap hingar bingar kota jakarta dari atas sana.
satu tetes air matanya jatuh mengingat kedua orangtuanya, kenangan demi kenangan muncul bagai slide kaset di memori pikirannya, seharusnya hari besok adalah hari kebahagiaan keluarganya, seharusnya tangan sang ayah yang akan memberikan ia kepada calon pendampingnya,
" ibu.. " panggil key dan kel. dengan cepat Khanza menghapus air matanya dan merangkul kedua anaknya.
" iya sayang. " jawab Khanza lembut.
" malam ini kami menginap di kamar ateu ya bu.." ucap Kel.
" oh ya kenapa nak.. " tanya Khanza
" malam ini akan ada petugas salon, takut anak-anak ganggu, jadi mereka akan bersama kami. " ucap Ayu menghampiri mereka ke balkon
" bibi kemana.. ?" tanya Khanza.
" gw suruh istirahat pasti besok sangat sibuk.. "
Khanza berjongkok menyamai si kembar.
" jangan nyusahin ateu ya.." Khanza mengusap pipi si sikembar.. dan si kembar mengangguk mereka sangat bersemangat,
Deri berjanji akan membawa mereka jalan-jalan malam ini, itupun atas permintaan Nanda.
Khanza menghela Napas panjang, sendirian di kamar hotel membuat keadaannya sangat hening seolah menjadi saksi kehampaan hidupnya saat ini, hanya terdengar riuhnya pengendara.
semilir angin mungkin sedang mengutuk dirinya karena telah pergi jauh dari keluarga dan sekarang hatinya benar-benar ingin keluarganya, lama dalam keadaan itu..
kamar hotel di ketuk membuyarkan lamunannya, Khanza beranjak membuka untuk tau siapa yang datang. dua orang perempuan menyapanya.
" selamat malam nona.. " sapa mereka ramah.
" iya malam. "jawab Khanza
" mari nona.. " petugas salon itu masuk dan mulai merias Khanza.
Nanda meminta Khanza datang di jamuan makan malam keluarga besarnya, mau tak mau Khanza harus mengikuti perintah calon suaminya.
satu minggu ini sikap Nanda berubah, dia selalu cuek , namun Khanza tidak ambil pusing, tetapi bagaimana pun keluarganya akan menjadi keluarganya juga. Khanza berpikir bahwa Nanda belum bisa menerima pernikahan itu, itulah kenapa sikapnya berubah.
Khanza sedih, Namun ia sudah berjanji kepada sang ibu, dia akan tetap menikahi laki-laki pilihan ibunya, hatinya sakit Nanda masih menolaknya.
Khanza menitikan air matanya, entah kebahagiaan atau kehancuran yang akan ada di masa depannya
setelah selesai di rias Khanza melihat pantulan wajahnya di kaca, sangat sempurna, petugas salon itu berhasil membuat dirinya sangat cantik, di balut dengan gaun yang sangat indah pula.
" sudah selesai nona.. " kata petugas salon itu.
" terimakasih. " Khanza tersenyum.
tak lama kemudian Nanda menghampirinya, dia sangat tampan dengan stelan jasnya, Khanza sangat terpesona , ia memandangi Nanda seolah tak ingin hilang dari pandangannya.
begith pun Nanda, dia sangat bahagia, karena wanita yang sedang menatapnya itu besok akan menjadi istrinya,
Khanza selalu memikat hatinya, wanita di depan nya malam ini terlihat sangat cantik, meskipun hatinya masih kesal karena selalu saja Khanza mengabaikannya, tidak peduli bahwa dirinya sangat mengkhawatirkan Khanza.
malam ini Nanda akan memberikan Khanza kejutan yang tak bisa Khanza lupakan seumur hidupnya..
Khanza mengangguk dan tersenyum.
mereka keluar menuju tempat yang sudah di sediakan. Nanda sengaja memesan tempat frivat room agar Khanza nyaman.
kedua manusia itu masuk kedalam, semua mata tertuju kepada sepasang manusia itu.
Khanza terpaku di tempatnya, matanya menangkap orang-orang yang ia kenal yang ia sangat rindukan bertahun-tahun ini, air matanya tak bisa ia tahan, Khanza melihat Nanda dan Nanda mengangguk Lalu tersenyum
" Ayah... bunda... mas Hendrik.. " lirih Khanza berharap ini bukan mimpi.
sang bunda sudah terisak di tempatnya, ia mendapati putrinya berdiri di hadapannya dengan keadaan yang baik-baik saja, tuan Brama juga terpaku di tempatnya, penyesalan kepada sang putri membuat ia bersimpuh. Hendrik juga sudah terisak, ia begitu merindukan adik perempuan nya itu.
Khanza berlari memeluk sang ayah di terisak..
" ayah.. " lirih Khanza, ia memeluk erat sang ayah menumpahkan kerinduan setelah bertahun-tahun berpisah. Khanza beralih memeluk sang bunda
" bunda.. " lirih Khanza dia melihat bunda nya menangis, Khanza menggeleng dan menghapus air mata sang bunda, Khanza langsung memeluk kembali, ia sangat merindukan pelukan hangat bundanya. hendrik juga ikut memeluk bunda dan adik nya, sang ayah juga ikut memeluk kedua anak dan istrinya, alhasil mereka menangis bersama..
tak ada sepatah katapun mereka hanya menangis mengekspresikan kebahagiaannya setelah bertemu kembali.
semua yang ada disana menatap adegan itu penuh haru, Nanda pun menangis tak bisa menahan haru, ia yang tau bagaimana menderitanya keluarga Khanza setelah bertahun-tahun mencari Khanza.
" ibu. " ucap Key dan kel sudah menghampiri.
mereka semua melepaskan pelukannya dari Khanza, melihat dua makhluk kecil yang ada di hadapan mereka.
" jangan nangis kel gak suka.. "anak laki-laki itu menghapus air mata Khanza.
bukannya berhenti Khanza malah semakin terisak.
" no ibu.. stop it.. " ucap key.. dua anak menggemaskan itu memeluk ibunya.
semua orang menyaksikan itu Deri, Ayu dan semua sahabat-sahabat Khanza ada disana, semua asisten dan keluarga adji prasta dan keluarga Khanza menatap si kembar yang menenangkan ibu nya .
Khanza melepaskan pelukan dari si kembar, ini hal yang paling luar biasa di hidupnya Nanda benar-benar melakukan semua ini untuknya.
" ayah..bunda.." ucap Khanza tertahan
" ini anak-anak Khanza.. " Khanza mengelus rambut kedua anaknya.
hal yang tak pernah Khanza duga sebelumnya, orang tua dan kakanya memeluk sikembar, mereka menangis bahagia tak hentinya menciumi sikembar bergantian, sedangkan si kembar hanya diam terpaku belum ngerti apapun.
" ini akung sama uti, .." tunjuk Hendrik kepada orangtuanya, ia mengerti kebingungan sikembar, mata si kembar mengikuti tangan Hendrik kemudian ia memperkenalkan diri juga.
" dan ini pakde kalian.." ucap Hendrik pada dirinya sendiri.
" ibu." si kembar meminta penjelasan.
Khanza mengangguk meyakinkan sikembar, mereka mengerti namun masih diam tak bergeming, hendrik kembali memeluk kedua keponakan itu..
Khanza masih terisak,air mata kebahagiaannya tak mau berhenti, Khanza membiarkan sikembar di gendong oleh ayahnya, sementara dia menghampiri Nanda yang masih tak tak lepas menatapnya.
" terimakasih.. " lirih Khanza, ia sangat bahagia.
Nanda tersenyum menghapus air mata Khanza
" anggaplah ini semua hadiah dari aku.. " kata Nanda
tak segan Khanza memeluk Nanda erat, ucapan terimakasih pun tidak akan cukup untuk membalas semua yang Nanda berikan,
iya sangat bersyukur, Nanda memberikan kebahagiaan itu untuknya..