
.
.
.
tak ada yang berubah di kediaman pondok indah itu selalu ramai dari orang-orang, sebagai seorang ibu Khanza paling sibuk menyiapkan ini itu untuk kedua anaknya yang akan ke Barcelona dua hari mendatang.
hati nya resah, cuma itu yang bisa ia lakukan agar lupa dengan kesedihan untuk melepaskan kedua anaknya.
Nanda sebagai ayah yang posesif kekeh agar ada satu pengawal menjaga mereka, tapi Kel tetap menolak, ia ingin benar-benar hidup mandiri dan ia juga bertekad untuk menjaga adik nya sendiri.
" ateu..." teriak Almeera, sebagai anak dari sahabatnya dia sangat dekat dengan Khanza, dia juga sudah menganggap Almeera seperti putrinya sendiri..
" meeraa." Khanza merangkul anak gadis yang seumuran dengan putranya itu.
" meera kangen banget tau.."
" iya.. ateu juga sayang."
" Dimana Abhi tante.." tanya meera, yang tak mendapati Danendra di sana.
" biasalah anak itu, dia ada di studio gamenya,!!"
" meera mau ke sana ateu.."
" iya sayang.."
Ayu terkekeh, melihat tingkah putrinya..
mereka memang lahir di hari yang sama, meski tumbuh bersama tapi sikap keduanya sangat jauh berbeda, Almeera yang sangat ceria dan periang, berbalik dengan Danendra yang punya sipat cuek dan dingin, keduanya punya sipat bertolak belakang, tapi Almeera tetap saja selalu mengisengi Danendra.
" Abhi ternyata kamu disini.." Danendra sempat melirik sebentar, namun matanya kembali pokus ke layar vidio game miliknya tanpa menjawab perkataan Almeera.
" Abhi.. emang harus ya, sekolah nya jauh, Nanti meera sama siapa, meera sedih loh.." Almeera merajuk kepada teman semasa kecil nya itu.
Danendra hanya bernapas panjang..
" meera, sudah mau smp, hilangin sifat manjanya.." kata Danendra. dia tetap dingin tanpa melihat wajah sahabatnya itu.
" tapi meera beneran sedih loh.."
Danendra berdecak dan menggeleng pelan melihat Tingkah teman semasa kecil nya tak berubah sama sekali.
pintu studio nya terbuka, dan Khanza masuk ke sana.
" Ateu.. Abhi kok gitu sih, padahal kan dia mau pergi, baik dikit kek sama meera." Almera merajuk saat Khanza masuk ke ruangan.
dan Khanza hanya terkekeh, baginya sudah terbiasa kedua anak itu berdebat, Anaknya yang dingin dan Almeera yang ceria, berbedaan dari sikap membuat keduanya sering berdebat,karena perbedaan pendapat.
" Abhi kamu ini.." ujar Khanza, dan Danendra tetap diam lebih pokus ke layar vidio gamenya.
"Ayo mendingan kita makan sama-sama.." ujar Khanza mengajak kedua anak itu.
melihat tak ada pergerakan dari Danendra Khanza berinisiatif mencabut kabel yang ke layar monitornya, akhirnya monitor itu mati.
" ibu gak suka di bantah, Ayo kita makan dulu.."
" Yeeeeey.." Almeera kegirangan. akhirnya Danendra terkalahkan.
dengan malas Danendra mengikuti sang ibu, ya memang benar ibunya tidak suka di bantah..
Danendra Abhimanyu, anak Khanza dan Nanda itu sangat Genius, menggemari sebuah game, namun otaknya sangat cerdas, dia tak pernah tak mendapatkan juara umum semasa sekolah dasarnya.
itulah sebab kenapa Nanda ingin anaknya sekolah di Barcelona mengikuti jejak sang kakak, Agar anak nya tetap terlatih, Nanda sangat percaya dengan pendidikan disana, dia ingin yang terbaik untuk anaknya, meskipun awal nya Khanza tak setuju. baginya anak sekecil Danendra tak boleh jauh dari pantauan, dia masih ingin mengurus Danendra, tapi sikap antusias anaknya mengalahkan keegoisan Khanza, Anaknya sangat bersemangat pas tau akan sekolah disana.
" Abhi.. semua barang-barang kamu sudah ibu siapkan ya.." ujar Khanza.
" iya.. terimakasih bu."
"Abhi pokok nya di sana harus tetap dalam pantauan kakak yah, jangan kemana-mana sendiri.." tambah Nanda.
" iya Ayah Abhi ngerti.."
dua hari telah berlalu, seperti yang di jadwalkan anak-anak berangkat ke Barcelona sekarang. Khanza mengantar anaknya sampai ke pemberangkatan dengan hati yang pilu, kedua anak itu akan jauh dari nya selama beberapa tahun, Khanza sangat terluka. Namun pimpi seorang anak adalah yang terpenting..
" ibu.. jaga diri baik-baik, maafin Abhi ya bu, mungkin Abhi suka cuek, tapi Abhi sangat sayang ibu." ujar Danendra, dia memeluk ibu nya.
" ibu tau itu nak, belajar lah yang rajin di sana ya, harus semangat biar Nanti seperti ayahmu.."
" baik ibu.. " danendra terus mendekap sang ibu sayang.
Khanza menatap pesawat yang membawa kedua anaknya dengan Nanar, detik itu kedua anaknya akan jauh dari nya, Nanda sangat mengerti istrinya sangat Sedih, tak ada yang bisa ia lakukan selain menenangkan nya..
" anak-anak kita akan menajadi orang yang hebat, istriku percaya lah itu."
" aku percaya sama kamu mas.."
Menjadi orang tua memang tidak lah mudah, saat anak-anaknya terluka, orang tua lah yang lebih sakit, saat anak-anaknya gagal orang tua juga yang menahan penderitaan.
untuk itu Khanza mengijin anak-anak dengan semua restunya, agar kelak semua anaknya tumbuh menjadi orang-orang hebat di masa depan.
.
.
.
Hallo semuanya,,
terimakasih untuk yang sudah mengikuti dan suka dengan ceritaku, cerita nya sudah benar-benar tamat ya.
dan berakhir happy anding.
sedikit notiv dari author
" Selalu bersabarlah di setiap kondisi, membalas perbuatan orang akan membuat kita semakin terjatuh, belajar menerima takdir, sesungguhnya orang-orang yang mencintai kita sangat lah banyak di luaran sana, okey keep rocking guys😘 "
salam sayang dari author❤