
.
.
.
semua orang masih tampak terpaku mendengarkan kata demi kata yang Nanda ucapkan, mereka mencoba mencerna pembicaraan dari suami Khanza itu.
Nanda dengan telaten menjelaskan masalah yang di alami oleh istrinya selama ini karena ulah Sisil.
" itulah sebab Sisil begitu terobsesi, dan meminta Gio kepada orang tuanya, Gio Pernando yang notabe nya gak pernah nolak permintaan orang tua, tetap menuruti orang tuanya, meskipun dia mencintai perempuan lain, " jelas Nanda.
" saya tau bagaimana pilunya Khanza saat itu, Sisil memberikan obat perangsang kepada Khanza, hinggal kejadian malam itu terjadi, sampai istriku harus menderita karena ia mengandung anak dari laki-laki yang berhianat di belakangnya. "
" istriku begitu banyak melewati penderitaan karena Sisil, dan kemarin, Sisil menculik kedua anak kembar Khanza, dia menyandra anak-anak yang tidak berdosa itu, dia mencoba membunuh istriku..." jelas Nanda, dia Rasa penjelasan sudah cukup menggambarkan kejahatan Sisil. Nanda dengan erat memegang tangan istrinya yang bergetar..
" Meski begitu saya bersyukur, Khanza menjadi istri saya sekarang, wanita terbaik yang pernah ku temui.. " lirih Nanda, dia memandangi wajah cantik sang istri, betapa bersyukurnya dia. Anugrah tuhan yang paling besar adalah istri dan anak-anaknya.
" Gio katakan sejujurnya sama papa Nak, apa yang tuan Nanda bicarakan adalah benar." semua orang tampak memandangi Gio, dan Gio hanya tertunduk.
" Benar pa, bahkan aku sangat mencintai Khanza... pa Aku tak mencintai Sisil, dia bahkan tidur dengan siapa pun yang dia mau, aku tak bisa bersamannya pak.." ujar Gio. apa yang dia katakan benar adanya, Gio tak mencintai Sisil.
terlihat tuan Pernando benapas sangat berat, keputusan nya menikahkan Gio dengan perempuan pilihan nya ternyata salah, anaknya tidak bahagia dan sehancur ini sekarang, Nasi sudah menjadi bubur, semuanya sudah terjadi apapun keputusannya mereka serahkan kepada Gio sendiri.
" maafkan mama Nak, mama tak pernah memikirkan perasaan kamu selama ini, mama tak tau bahwa kamu ternyata sehancur ini... " perempuan paruh baya itu merangkul Gio, dia adalah nyonya anggi ibu dari Gio Pernando.
" bagaimana dengan anak saya tuan.." Lirih pak Rusli, terlihat istrinya sudah menangis, membayangkan kejahatan yang di lakukan anaknya, namun sangat prihatin dengan penderitaannya selama ini.
" Biarkan saja pihak berwajib mengurusnya, bagaimana pun anakmu bersalah,, " ujar tuan Pernando.
" anakku..." bu Dinda meracau dalam tangisnya, bagaimana pun kelakuan sisil, sejahat apapun dia tetaplah anaknya, selama ini ia sibuk bekerja tidak pernah memikirkan apa yang anaknya mau. anaknya menjadi seperti ini karena kurang nya perhatian dari mereka. Melihat kesedihan itu, sebegai seorang istri Khanza sangat paham apa yang di Rasakan bu Dinda. Khanza beranjak dari duduk nya dan berjongkok di hadapan Bu Dinda.
" Tante.." ucap Khanza, dia menatap lekat wajah wanita itu.
" Khanza tau apa yang tante rasakan itu. Tante, Sisil saat membutuhkan kalian,!!! dia butuh suport dari kalian, !!! aku tau sebenarnya Sisil dulu sangat ceria tante, dia tak pernah mengeluhkan apapun..tapi tante, dia hanya mengeluhkan satu, dia butuh kalian sebagai orang tuanya.." ucap Khanza, tak segan ia memegang tangan bu Dinda. semua orang menatap hal itu.
" nak... saya tau, kenapa Sisil bisa iri sama kamu, anak saya sudah jahat sama kamu, tapi kamu masih memikirkan perasaannya,!! huhuuuu..."
" kau baik sekali nak, terimakasih banyak..." ucap bu Dinda tulus.
" iya tante... om, sebelumnya maafin Khanza ya, tapi Khanza ingin Sisil kembali ke Sisil yang dulu....."
" baik lah Nak kami akan coba.."
Nanda tertegun menatap istrinya, Sungguh hatinya terbuat dari apa sih, kelembutan dan baik hatinya sangat ia kagumi dari dulu, apapun yang di lakukannya selalu tulus. terlihat kedua orang tua sisil pergi dari ruangan itu, seperti mereka akan ke kator polisi.
" Tuan Nanda boleh kah kami bertemu cucu kami, boleh kah nak Khanza.."
Nanda melihat Khanza dan Khanza mengangguk pertanda membolehkan.
" Tentu boleh nyonya, Nanti sore mereka akan keluar dari rumah sakit, sebelum pulang kami akan membawanya kesini, kami harus menjelaskan terlebih dahulu kepada mereka, agar mereka tidak syok.." kata Nanda, di barengi dengan senyuman Khanza.
" Nak Khanza kami meminta maaf ya, penderitaan mun dulu, sebetulnya di sebabkan oleh kami.." ujar Tuan Pernando.
" tidak apa-apa tuan, saya justru senang bisa bertemu dengan kalian seperti ini. suatu kehormatan bagi saya.." ucap Khanza, selalu ia selipkan senyuman di wajahnya.
Gio bahagai dengan hal ini, terlebih orang tuanya tau kelakuan Sisil, itu artinya Gio tidak apa-apa kalau menceraikan Sisil, Gio juga senang akhir Khanza bertemu dengan kedua orang tuanya, meski pun keadaannya sudah berbeda, tapi setidaknya, janji akan mempertemukan Khanza dengan kedua orang tuanya sudah terwujud sekarang.
" Tentu tuan Nanda .. sekali lagi terimakasih banyak, berkat kalian kami tau, sikap istri anak kami itu seperti apa.." ujar tuan Gio.
" kami senang membantu kalian. kami pamit ya.. cepat sembuh ya tuan Gio Pernando."
Gio tersenyum menanggapi perkataan Nanda...
Nanda merangkul istrinya, dan mereka keluar dari ruangan Gio, semua masalah sudah teratasi sekarang, tak ada lagi belenggu di masa lalu, mau pun untuk masa depan.
.
.
.
" sayang.. itu teman-teman kamu.." Tunjuk Nanda ke temen-temen Khanza yang sudah berkumpul di depan ruangan si kembar.
" oh iya kesana yu mas.."
Khanza Nanda dan Riski meghampiri kerumunan teman-teman Khanza.
" kok pada di luar?.." tanya Khanza.
" za.. emang benar lo ketemu orang tua sisil, terus mereka ngapain aja, gak ngapa-ngapain lo kan??" Mita mengajukan pertanyaan-petanyaan.
" satu-satu atuh Mit, " jawab Khanza.
" iya habis kami penasaran.. " kata Mita, di barengi anggukan dari semua orang.
" semuanya sudah selesai teratasi, ini semua berkat mas Nanda.." ujar Khanza.
" loh kok aku yank!!."
" semua memang berkat kamu, terimakasih sayang.."
Nanda hanya tersenyum, hal yang paling membahagiakan adalah melihat Khanza tersenyum, apalagi karena nya.
serasa semuanya sudah cukup, dia tak butuh apa-apa lagi, istri dan anak-anaknya adalah kebahagiaan dan nikmat luar biasa dari tuhan untuknya.
dia mengingat bagaimana perjalanan istrinya sangat lah panjang, butuh perjuangan yang sangat ekstra, namun lag-lagi dia bersyukur, rencana tuhan memang sangat indah, tidak bisa di tebak, dan tak bisa di buru-buru, proses untuk mencapai kebahagiaan itu terasa sangat lama, namun usaha tidak pernah menghianati hasil.
" terimakasih tuhan, atas kebahagiaan yang telah engkau berikan kepada istrikku, " lirih Nanda dalam hati, ia memandangi istrinya yang sedang tertawa sambil bercerita ria, wajah nya berseri, sangat terpancar kebahagiaan disana. ❤
.
.
.
^^happy reading^^
.
.
.