
Khanza mengusap peluh keringatnya, dari tadi pagi ia berkalut didapur, membuat kue hasil resepnya belajar memasak, anak-anaknya sengaja berangkat sekolah dengan pengasuh dan supirnya. sedangkan Khanza akan menjemputnya dan membawa kue hasil buatannya untuk di coba oleh sang anak.
Ayu menghampiri Khanza setengah berlari dari lantai dua, letak kamarnya berada.
" zaa... Khanza.. " teriak Ayu histeris
" ada apa yu... kebiasaan suka lari-lari .!!! " jawab santai Khanza sambil merapihkan kue ke kotak makan si kembar.
" zaa.. uci di rawat di rumah sakit. " ucap Ayu panik, Khanza menghentikan aktivitasnya.
" Uci di rawat.? sakit apa.. ? " Khanza juga ikut resah melihat sahabatnya itu panik.
" udah pokoknya sekarang kita ke rumah sakit nanti mita akan jelasin di sana.. " Kata Ayu
" yaudah tunggu gw ambil tas dulu.. " Khanza berlari ke kamarnya.
" aku tunggu di mobil Za.. " teriak Ayu, lalu ia bergegas ngeluarin mobil yang terparkir di garasi.
dengan sangat terburu-buru dan panik Khanza turun dari kantai dua letak kamarnya berada.
" ada apa non sepertinya cemas.?. "tanya bi susi menghampiri Khanza.
" bi Saya sama Ayu mau ke rumah sakit titip anak-anak ya.. " ucap Khanza sambil berlari keluar rumah, dan langsung naik ke mobil ayu sang asisten itu tau bahwa majikannya sedang panik.
mobil melaju keluar dari kompleks perumahan mewah pondok indah itu, menyusuri jalan raya menuju rumahsakit tempat Uci di rawat.
untuk pertama kalinya Uci sakit sampai di rawat, uci Adalah temannya yang paling kuat, paling ceria, Khanza dan Ayu berkalut dengan pikiran masing-masing merasa khawatir dengan sahabatnya.
setelah mobil terparkir apik di area rumahsakit kedua manusia itu langsung turun dan masuk ke dalam.
" permisi sus.. atas nama Cahaya Permata, di rawat di ruang mana ya.? " tanya Ayu kepada resepsionis..
" lantai 3 ruang melati no 9 " ucap Resepsionis...
" terimakasih sus.. " ucap Ayu
Khanza dan Ayu masuk ke lift untuk membawanya ke lantai tiga, tempat uci dirawat. setelah keluar dari dalam lift kedua manusia itu menghampiri mita yang sudah ada duduk di bangku, di luar ruang rawatnya Uci.
" mita... Uci kenapa.? tanya Khanza yang sudah panik... mita sudah terisak.
" gw gak tau, Uci gak mau ketemu sama gw. " ucap mita bibirnya bergetar, lalu datang juga dimas ia melihat mita yang sudah terisak tak segan dimas memeluk mita mengelus punggung mita seolah menenangkan..
" ada apa sayang... kenapa seperti ini." tanya dimas.
" uci gak mau ketemu sama aku, dia ngusir aku yank.. " ucap mita, bibirnya bergetar menahan tangis. sungguh aneh memang untuk pertama kali hal ini terjadi Ayu dan Khanzapun merasakan apa yang Mita rasakan
" yaudah ayo kita masuk bareng-bareng .." usul Khanza
" iya ayo, kita tanyakan apa yang terjadi sebenarnya." ajak Ayu, mereka semua masuk, melihat sahabat-sahabat nya masuk uci memalingkan wajahnya, mereka duduk meski uci langsung membelakangi mereka, keadaannya sangat canggung, tak ada yang tau apa yang terjadi dengan uci.
" ci kita datang.. " Lirih ayu mengelus bahu uci.
" ngapain kesini.. " kata Uci.
ci ada apa, kalau ada masalah ayo kita obrolin.." ucap Khanza pelan.
" gak usah so peduli kalian, pergi kalian semua aku gak butuh kalian.. " teriak uci.
" kita udah berteman lama ya ci.. seenggak nya kalau ada masalah itu bicarain " kata Ayu.
" kalian gak pernah tau gimana rasanya gak di cintai.. " teriak Uci histeris.
" gak usah so' peduli biarin gw sendirian.. " kata uci lagi, ia terisak, tubuhnya bergetar.
" Ci cerita sama kita.. " lirih Khanza, sambil memegang bahu uci, di tepis nya tangan Khanza oleh Uci.
"gw udah bilang jangan sentuh gw.." teriak uci.. Khanza syok dan terpaku di tempatnya.
" lo kenapa si, kalau ada masalah bilang cerita sama kita,... kita udah temenan lama ya ci, lo udah buat mita nangis, jangan kaya bocah.. " Ayu bicara setengah berteria, dan pergi keluar ruangan, ayu sangat marah dengan sikap Uci.
" semua gara-gara lo ya Za.. lo hancurin persahabatan gw, harusnya dari dulu lo gak ada, lo gak usah hadir di tengah-tengah kita.. " teriak uci.
" Uci jaga ucapan lo." kata mita, Khanza menahan Mita untuk bicara lagi, mita menarik napas panjang, emosi nya tertahan,
Khanza merasakan sakit menjalar di hatinya, ia menatap uci nanar,
" jadi semua ini gara-gara gw.. " lirih Khanza.
" ya semua gara-gara lo, panji gak bisa cinta sama gw gara-gara lo, dia terus berharap sama lo, sadar dong za lo itu mau nikah, gw benci sama lo za.. " Uci menatap Khanza dia begitu membenci sahabatnya itu. Khanza menarik napas panjang selalu saja ia yang salah. air matanya menetes mewakili perasaannya yang sakit, Khanza keluar dari ruangan
" lu bener-bener ya Ci.. gak nyangka gw sama lo.. " ucap dimas, yang sedari tadi memperhatikan uci.
" jangan kaya anak kecil, lo gak bisa ngerusak persahabatan hanya gara-gara cinta, " kata mita tak suka dengan sikap Uci.
" lo gak tau apa yang gw rasain..hati gw sakit, lo tau sendiri panji gak bisa nerima gw gara Khanza.. " ucap uci penuh dengan kemarahan, dia juga menangis.
" lo gak bisa nyalahin Khanza.. " kata dimas
" udah yank..percuma ngomong sama orang yang sedang marah..." mita menarik tangan Dimas, dan membawanya keluar ruangan.
sementara Khanza, masih menitikan air matanya masih tidak mengerti dengan kemarahan Uci. bahkan Uci sampai dirawat di rumahsakit. berkali-kali ayu menenangkan Khanza dan meyakinkan ini bukan salahnya, namun Khanza masih diam tak bergeming..
" za.. jangan dengerin apa kata Uci dia lagi sakit, makanya begitu. " kata dimas.
" ini pasti ada salah paham... kita harus meluruskannya" lirih Khanza
" zaa..udah lu gak salah apa-apa, uci sedang di butakan cinta... " jelas mita.
" tetap aja hati gw gak tenang...gw harus nanya ke panji.. " Khanza menghapus air matanya, dia harus meluruskan semuanya agar tak ada kesalah pahaman di sini.
Khanza beranjak dan Ayu mengikutinya. mereka berdua akan pergi ke apartemen panji.
Ayu melirik Khanza, mendapati sang sahabatnya gelisah. ia tau Khanza pasti terpukul sudah di salahkan uci, Ayu juga tak mau persahabatan nya harus hancur karena masalah ini.
.
.
Khanza dan Ayu menekan tombol bel apartemen panji..
dan keluarlah sosok yang mereka cari, panji berada di hadapan mereka dengan penampilan yang sangat berantakan, mereka tau panji habis minum, karena tercium bau alkohol...
🌺🌺🌺