
semua tampak ramai, hari ini di rumah besar itu sedang mengadakan tahlilan bersama, tahlilan akan di adakan selama tujuh hari, Khanza duduk bersama teman-teman nya, mereka mengajak main si kembar, dan panji yang tak jarang membuat si kembar tertawa riang.
Khanza Nampak lebih tenang, namun di area matanya sedikit bengkak seharian ini memang dia menangis. walau sekarang sudah lebih tenang, dan sesekali ikut tertawa ringan melihat tingkah anak-anak dan sahabatnya itu.
setelah tahlilan usai, mereka semua berkumpul di ruang keluarga, seperti keluarga besar yang sedng berkumpul dalam masa berkabung.
karena sudah agak malam sahabat-sahabat nya pamit pulang kepada Khanza dan berjanji besok akan datang lagi.
" za jangan sedih terus yah.. " ucap Ayu memeluk sahabatnya itu.
" iya yu pasti.. terimakasih ya. "
mereka semua melakukan hal yang sama, menguatkan dan mendoakan sahabatnya.
khanza mengantar para sahabat nya itu sampai ke teras rumah, setelah di pastikan mereka semua sudah pergi, Khanza kembali masuk kedalam dan bergabung bersama bu Laras dan pak Bayu di ruang keluarga.
" Zaa . .. Nandana menitip pesan, turut berduka cita katanya, dia gak bisa datang karena lagi di luar kota.. " uca buk Laras memegang tangan Khanza
" bilangin terimakasih banyak ya ma.. " ujar Khanza
bu Laras tersenyum dan mengangguk..
" ma.. boleh Khanza tanya sesuatu.. " ucap Khanza ragu-ragu. tapi ia begitu penasaran akan hal itu
bu Laras mengernyitkan matanya, sedikit heran dengan Khanza.
" tentu boleh nak, apa yang ingin kamu tanyakan."
" maaf ya ma sebelum nya, namun ada hal yang mengganjal, selama ibu di bawa ke rumah sampai di makam kan, belum ada sanak saudara nya yang datang, Khanza heran saja ma, apa mereka tidak ada yang tahu.." tanya Khanza penasaran.
bu Laras menarik napas panjang, mendengar pertanyaan seperti dari putri sahabatnya sendiri, lalu dia mulai bercerita, agar Khanza tau semuanya mengenai sang ibunya.
" Khanza mungkin kamu tidak percaya, tapi benar ibu kamu tinggal sendirian, tidak ada saudara tidak ada keluarga." Khanza terbengong mendengarkan ibu Laras, bagaimana mungkin ibu nya tidak ada saudara sama sekali. kemana keluarganya kenapa ibu Diana tinggal sendirian, kenyataan itu membuat Khanza bertanya-tanya.
.
.
.
Khanza mengelilingi kamar sang ibu, kamar yang tampak rapih, bau sang ibu masih tercium di sana. Khanza memutuskan untuk pergi ke kamar ibu nya, dia begitu terpukul setelah mendengar cerita dari bu Laras...
Khanza memandangi poto sang ibu dengan setelan dokter nya, ibu diana tersenyum dia sangat berkarisma, dia selalu melihat ibu nya ceria. tidak mungkin ibu nya sudah menanggung penderitaan selama ini.
ibunya pernah bercerita kepadanya bahwa dia di tinggal menikah oleh suami nya hanya karena dia tidak bisa punya anak.
Khanza kembali terisak, mengingat perkataan bu Laras, ternyata Hidup sang ibu lebih menderita dari yang dia rasakan, sebelum bertemu ibu Diana.
" kenapa bu,.. ibu selalu memberikan ku, kehidupan yang layak dan ternyata ibu sangat menderita, kenapa tidak berbagi penderitaan dengan ku. " lirih Khanza terisak
dia mendengarkan cerita bu Laras dengan derai air mata.
bahwa ibu Diana muda di jual oleh keluarga nya sendiri, kepada seorang pengusaha hanya karena kehidupan nya sangat susah, demi harta mereka menjual ibu Diana kepada orang kaya.
ibu diana muda sangat cantik dan ceria, lantas karena dia cantik keluarga nya memanfaat kan dia, dan menjualnya kepada seorang pengusaha muda yang kejam.
meski begitu setelah pernikahan Ibu Diana merasa bahagia, karena suami nya memperlakukan dia dengan baik, hanya dua tahun berjalan ibu diana kembali merasakan penderitaan. karena suaminya setiap malam membawa perempuan yang berbeda untuk tidur dengan nya, tak jarang suami nya itu memukul dan menyiksa bu Diana jika sedang mabuk berat, mengajak paksa dan menyiksa ibu Diana jika sedang berhubungan badan. hanya karena suaminya mengetahui bahwa ibu Diana tidak bisa mempunyai anak.
akhirnya ibu Diana memilih untuk pergi dari sana, dan memulai kehidupan baru sendiri. hatinya sangat hancur ulah suaminya.
ia menjadi dokter kandungan dan sangat di segani oleh siapapun. meskipun ia tak punya siapapun namun dia sangat bahagia, sampai ketemu dengan bu Laras, saat bu Laras harus di Oprasi karena keguguran anak keduanya.
Khanza begitu terpukul setelah mendengar cerita itu, di pandang nya wajah sang ibu di balik foto yang tertempel di dinding, mencari celah kesedihan di sana, namun lagi-lagi Khanza tak menemukan nya. ia tau bahwa ibu nya sangat pandai menyembunyikan sesuatu dari dunia.
Khanza menemukan buku di atas nakas, dia mulai membuka nya, disanaa terdapan poto dirinya si kembar dan sang ibu pada saat Khanza melahirkan di rumah sakit.
Khanza membaca, semua isi dari buku itu, itu adalah tulisan tangan sang ibu.
......................
Khanza sayang.
jika kamu membaca tulisan ini, berarti ibu sudah pergi dari kehidupan kamu selamanya..
sayang...
ibu sangat bahagia, kamu telah memberikan kebahagiaan yang belum pernah ibu rasain sebelumnya.
lima tahun lalu, ibu menemukan kamu pingsan di pinggir jalan, saat itu ibu baru pulang mengambil hasil pemeriksaan lab ibu, hari yang sama saat ibu menemukanmu, ibu di vonis mempunyai kanker rahim.
ibu tidak sedih sama sekali, mungkin tuhan akan mengambil ibu, dan membiarkan ibu bahagia disana atas semua penderitaan yang ibu alami di dunia.
namun setelah kamu hadir menemani hari-hari ibu, memberikan ibu dua orang cucu, pemikiran ibu berubah ibu berdoa kepada tuhan, agar dia memberikan ibu kehidupan yang lebih lama, berkali-kali ibu bersyukur atas kebahagian itu, disaat-saat terakhir ibu tuhan menjawab semua doa ibu..
dia memberikan ibu anak yang sangat cantik, pengertian dan sangat memperhatikan ibu. dia juga memberikan dua orang cucu yang sangat lucu-lucu.
Khanza.. sungguh ibu ingin hidup lebih lama dengammu, namun ibu berserah kepada tuhan, ibu punya kekuatan berkat mu.
Khanza menikah lah dengan anak nya bu Laras, setelah ibu tiada, keluarga Adji Prasta akan menggantikan ibu menjagamu. ibu hanya ingin melihat anak ibu bahagia.
maaf kan ibu sayang, ibu belum bisa memberikan kebahagiaan kepada anak ibu dan cucu-cucu ibu, namun ibu sangat bahagia berkatmu
kamu membuat ibu bersyukur, sudah terlahir kedunia ini.
kamu alasan ibu bisa bertahan sampai sejauh ini
untuk anakku Khanza...
......................
setelah membaca isi surat itu khanza kembali terisak, ia benar-benar bodoh, tidak menyadari penderitaan ibunya, kenapa tuhan tidak memberikan dia kesempatan untuk lebih membahagiakan sang ibu.
" ibu... Khanza sangat sayang ibu. " lirihnya
beberapa kali ia mencium poto kebersamaan nya dengan sang ibu, dan Khanza memeluk buku itu erat, air matanya tak henti menetes.
Khanza akan membicarakan pernikahan ini, demi sang ibu disana, Khanza harus mengabulkan permintaan terakhir sang ibu.
.
.
..