My Mine

My Mine
kecurigaan Nanda



keadaan tampak ramai pagi itu, semua orang sangat menikmati sarapan pagi nya, sebelum nya Riski sang asisten Nanda sudah di hubungi terlebih dahulu untuk ke kediaman sang bos nya, alhasil Riski pun ikut sarapan pagi bersama.


seperti biasa Nanda akan mengantarkan anak-anak sekolah, karena hal itupun anak-anak menjadi sangat bersemangat.


" hati-hati nak... belajar yang rajin ya." Khanza mencium kedua anaknya.


" siap bu.. " kedua anak itu masuk ke dalam mobil.


" aku berangkat ya sayang, kamu hati-hati di rumah, kalau bosen kamu bisa melakukan aktivitas senam sama Ayu ya.. " ujar Nanda kepada sang istri, tak Lupa Nanda mecium kening sang istri sayang.


" kamu juga ya mas hati-hati.. " kata Khanza.


Nanda dan Riski masuk ke mobil dan mereka melajukan mobil nya, setelah mobil hilang dari pandangan barulah Khanza masuk ke rumah, dia juga melihat Ayu mengantarkan Deri yang akan pergi ke kantor.


.


.


.


.


mobil terparkir apik di sebuah sekolah play ground daerah jakarta selatan, Nanda beserta kedua anaknya keluar dari mobil.


" oke selamat belajar ya.. " Nanda berjongkok menyamai tingginya anak-anak, ia mengusap pelan pipi kedua anaknya.


" iya ayah.. " si kembar mencium kedua sisi pipi Nanda.


mereka berlari masuk ke ruangan kelas nya.


Nanda hanya tersenyum melihat tingkah gemas kedua anaknya itu.


dia kembali masuk ke mobil, dan Riski mulai kembali melajukan mobilnya...


" gimana Riski, apa ada perkembangan tentang investor itu. " ujar Nanda.


" iya tuan... sepertinya ia berusaha mencari data tentang nyonya, Namun saya sudah menyimpan data itu, aman. dia tidak bisa membobolnya. " jelas Riski.


" baiklah kerja bagus Riski... terimakasih... " ucap Nanda.


" sama-sama tuan. "


setelah mobil terparkir di basment perusahan CV INTERNATIONAL, kedua laki-laki itu terlihat memasuki lift khusus untuk pimpinan perusahaan, yang langsung terhubung menuju ruangan nya di lantai dua puluh tujuh.


dengan gagah nya Nanda masuk ke ruangan nya, dan Riski juga masuk keruangan nya,


Nanda mulai bergelayut dengan komputernya, dia sedikit curiga dengan Gio Pernando, apa yang ingin ia ketahui tentang istrinya, biar bagaimana pun memang benar dia adalah ayah biologis dari si kembar, Namun Nanda tidak akan membiarkan siapapun, mengganggu kenyamanan anak-anaknya,...


terlihat Nanda menghubungi seseorang di balik teleponnya,..


" hallo bro..." sapa Deri di balik telepon Nanda.


" Der sudah sampai di kantor.. "


" udah nih.. "


" bagus... lo atur semua nya ya.. gw mau Nanti sore kita meeting dengan semua investor. semua harus hadir tanpa terkecuali." tegas Nanda.


" oke baik, nanti gw atur semuanya. " kata Deri.


Nanda kembali pokus ke layar laptop nya, ia harus tau apa maksud dan tujuan Gio mencari tau tentang Khanza, bukan kah sudah terlalu telat untuk menyesali apa yang dia perbuat. sekarang Khanza adalah miliknya, tidak boleh terjadi apapun dengan istrinya.


.


.


.


dengan gagah Nanda masuk keruangan meeting yang sebelumnya sudah Deri persiapkan, semua orang tampak berdiri menyambutnya, dan Nanda meminta semua orang itu untuk duduk kembali.


" selamat sore semuanya.. " sapa Nanda.


" Sore tuan.." jawab para investor itu.


" mohon maaf sebelum nya saya yang menggantikan istri saya, di karenakan istri saya tidak bisa memimpin untuk sementara waktu semasa kehamilannya, istri saya direktur Khanza Brama Wijaya, sedang mengandung anak ketiga kami.. " ujar Nanda.


terdengar Riuh ucapan dari para investor dan Nanda tersenyum menghormati ucapan itu, ia berterimakasih kepada semua yang sudah memberikan doa untuknya dan sang istri.


terlihat Gio menatap Nanda dengan tatapan yang tak suka, entahlah perasaan apa itu, yang jelas ia adalah suami dari perempuan di masalalu nya, ia menyesal telah menghianati Khanza, ternyata perasaan yang dia punya benar adanya, sampai ia tak pernah bisa mencintai sisil, yang sudah menjadi istrinya saat ini, ternyata dendam yang ia punya kepada kepada Hendrik membuat dia kehilangan cintanya, bertahun-tahun ia mencari Khanza, ia ingin meminta maaf, dia ingin memperbaiki semuanya namun setelah ia menemukan data Khanza, ternyata dia sudah menikah dengan CEO muda itu.


dia juga sangat takjub dengan Khanza yang sesukses ini sekarang, Khanza sudah menjadi Direktur Utama dan memiliki banyak aset kekayaan, ternyata sikap tak pantang menyerahnya membuat Khanza menjadi orang yang hebat sekarang.


berbalik dengan keadaan sang istri, yang hanya menghaburkan uang miliknya, berbelanja dengan teman sosialitanya, dan yang paling Gio sesali, Khanza sudah memiliki dua anak sekarang pula akan menjadi tiga sebentar lagi, sedangkan sisil istrinya belum bisa memberikan keturunan.


dia yang mengambil kesucian Khanza tanpa ampun malam itu, dan Gio Bersyukur ada orang yang menerima Khanza apa adanya, dia sedikit lega sekarang.


Gio sama sekali tak mendengarkan isi dari meeting nya, pikirannya berkalut dengan penyesalan yang menyertai dia kehilangan orang yang memang benar dia cintai,..


dendam itu telah menghancurkan semua yang indah dari kehidupannya.


.


.


.


semua orang tampak keluar dari ruangan itu termasuk Gio yang akan beranjak.


" tua Gio Pernando. " sapa Nanda.


Gio melihat Nanda, yang tengah menghampirinya.


" tuan tau Nama saya.. ? " tanya Gio heran.


" tentu.. bisa bicara dengan saya sebentar. " ujar Nanda. Gio hanya mengangguk, Nanda mengajak Gio ke kafe yang ada di perusahaan itu agar lebih santai untuk mengobrol.


" ada apa tuan ingin berbicara dengan saya.. " ucap Gio kepada Nanda. dan Nanda hanya terkekeh.


" tidak perlu sepormal itu, semua orang tau, umur saya ada di bawah anda tuan, rasanya akan aneh jika anda memanggil saya seperti itu.. " ujar Nanda.


" ternyata benar kata orang, selain berwibawa anda juga sangat sopan.. " kata Gio Nanda hanya terkekeh.


handphone Nanda berbunyi di tengah-tengah obrolan mereka, ternyata panggilan vidio dari sang istri, dengan senang hati Nanda mengangkat nya.


" hallo sayang. " ucap Nanda ketika melihat sang istri di layar teleponnya.


" mas.. ko gak ngehubungin si,. " gerutu Khanza.


" hehehe maaf sayang mas sangat sibuk hari ini, sebentar lagi mas pulang ya, jangan ngambek, Nanti dede nya juga ikut ngambek sama ayahnya..." ujar Nanda tak lupa ia selipkan kekehan kecil.


" cepat pulang mas, si kembar sangat antusias pengen lihatin hasil lukisan nya sama kamu, dia dapat nilai A dari gurunya. " ucap Khanza dari balik telepon Nanda.


dan mereka larut dalam obrolannya, sedangkan Gio merasa sangat kesal dalam pikirannya.


.


.


.