
Di jalan...
"Apa tadi aku keterlaluan ya ngeprank nya? Sampek - Sampek Kyara nangis kayak gitu. Bodoh! Bodohnya aku! Hanya laki - laki bodoh yang membuat wanita sampai menangis! Kenapa sih aku tadi pake gitu." kata Fiqhi yang kesal akan perbuatannya sendiri.
Dalam kekesalannya, Fiqhi menambah kecepatan motornya hingga tiba - tiba saat dia sadar, didepannya ada seorang penjual bakso melintas dan membuatnya kehilangan fokus kau menabrak sebuah pohon.
"Pak tolong pak! Ada yang kecelakaan ini!" kata penjual bakso sambil menolong tubuh Fiqhi yang berlumur darah.
"Halo buk! Maaf Inis saya lancang menelpon mendadak paaki hp anak ini. Saat hanya mau mengabarkan bahwa anak ibu saat ini kecelakaan dan akan dibawa ke rumah sakit Permata." kata si tukang bakso yang menghubungi orangtua Fiqhi menggunakan hp Fiqhi.
"Apa pak?! Iya iya saya akan segera ke sana." jawab Ningrum sambil bergegas menuju rumah sakit Permata.
Di Rumah Sakit Permata...
"Gimana ceritanya kak kamu bisa seperti ini? Kamu kepikiran apasih? Maafin ibu ya kalo ibu sering marahin kamu. Tapi tolong kak sadar!" kata Ningrum sambil memegang tangan Fiqhi.
Tit... Tit... Tit...
"Sebentar Bu. Ibu tunggu di luar dulu! Kondisi anak ibu tiba - tiba kritis." kata Dokter sambil menyuruh Ningrum ke luar.
"Baik Dok. Tolong lakukan yang terbaik ya dok," kata Ningrum.
"Pasti buk. Kami akan berusaha semaksimal mungkin." kata Dokter.
"Aku harus hubungi Abah. Dia harus tau ini." kata Ningrum sambil menghubungi Arief, suami Ningrum.
Di telepon...
"Assalamu'alaikum Bah." kata Ningrum.
"Wa'alaikum salam Bun. Ada apa?" tanya Arief.
"Hiks.. Hiks.." rintih Ningrum yang membuat Arief semakin bingung.
"Ada apa Bun sebenarnya kok bunda sampek nangis?" tanya Arief.
"Kak..Fiqhi...Bah..." kata Ningrum terputus - putus.
"Fiqhi kenapa Bun?" tanya Arief khawatir.
"Kak Fiqhi kecelakaan Bah. Sekarang kondisinya kritis." jawab Ningrum yang membuat Arief sangat syok.
"Besok Abah pulang bun dan langsung ke rumah sakit." kata Arief.
"Iya Bah. Hati - hati diperjalanan ya Bah." kata Ningrum.
"Iyaa. Makasih Bun. Nanti kalau ada apa - apa kabarin Abah ya Bun." kata Arief.
"Iya Bah. Aku tutup dulu ya Bah. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." salam Ningrum sambil menutup telepon.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." jawab Arief dilanjut dengan memboxing tiket untuk besok.
Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruangan Fiqhi dirawat**.
"Gimana dok keadaan Fiqhi?" tanya Ningrum dengan cemas.
"Alhamdulilah buk. Keadaannya membaik. Saya sarankan demi kesembuhan anak ibu, dia harus di rawat di sini dulu untuk beberapa hari ke depan Bu." kata Dokter.
"Baik dok. Lakukan apapun yang terbaik untuk anak saya dok." kata Ningrum.
"Pasti buk." kata Dokter.
"Sekarang apakah saya bisa melihat anak saya ke dalam Dok?" tanya Ningrum.
"Tentu saja boleh. Tapi tetap batasi waktunya ya Bu. Pasien juga butuh istirahat." kata Dokter.
"Sama - sama buk. Saya tinggal dulu ya buk. Permisi." kata Dokter sambil meninggalkan kamar Fiqhi dirawat.
"Ya dok." jawab Ningrum.
Ningrum kembali memegang tangan Fiqhi dan melihat anak sulung tampannya itu terbaring lemah di atas kasur.
"Sekali lagi ibu minta maaf ya kak. Semoga kakak cepat sembuh. Besok Abah ke sini kak. Kakak istirahat yah." kata Ningrum sambil mengecup kening Fiqhi yang masih diperban.
"Aku tidur di kursi aja lah. Samb jagain kakak." kata Ningrum sambil bersiap untuk menidurkan diri.
Disisi lain, Kyara tidak tahu jika Fiqhi mengalami kecelakaan, dia pun mulai mengirim WA untuk Fiqhi.
***My Golila Unyuk
Last seen today at 18.17
mbull
mbull
mbull
aku udah maafin kamu kok. besok kamu jangan diem ya. kita ngobrol kayak biasanya aja.
jangan lupa makan mbull ntar sakit.
gud night mbull♥️***
"Tumben yah dia jam segini off. Gak papa lah. Mungkin kecapean dianya. Aku juga tidur deh. Capek!! Huft," kata Kyara sambil mematikan hpnya dan berbaring di kasur.
Keesokannya di sekolah...
"Loh kok dia belum dateng? Kemana yah. Padahal sebentar lagi bel masuk loh. Apa dia nggak masuk?" tanya Kyara dalam hati sehabis melihat kursi Fiqhi yang kosong.
Bel berbunyi dan jam pelajaran pun berjalan seperti biasanya. Tiba - tiba Ningrum datang dari arah pintu.
"Permisi buk, saya ibunya Fiqhi ingin menyampaikan jika Fiqhi untuk hari ini dan beberapa hari ke ke depan tidak bisa masuk sekolah. Ini suratnya." kata Ningrum sambil menyerahkan surat itu ke Bu Win.
"Memangnya Fiqhi kenapa buk?" tanya Bu Win.
"Semalam Fiqhi mengalami kecelakaan buk. Dan saat ini kondisinya sangat lemah. Hiks... Hiks..." kata Ningrum sambil mencoba mengusap air matanya.
"Innalilahi waina ilahaiji rojiun. Yang sabar ya bu. Semoga Fiqhi cepat sembuh dan bisa kembali ke sekolah." kata Bu Win.
"Terimakasih buk. Saya permisi dulu. Mari, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." kata Ningrum sambil meninggalkan kelas 10B.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." jawab Bu Win dan seluruh siswa secara kompak.
"Apa?! Jadi embull masuk rumah sakit. Lebih baik aku susul ibunya dulu. Aku tanya rumah sakit Fiqhi di rawat dan aku jenguk dia nanti habis pulang sekolah." kata Kyara sambil meminta izin kepada Bu Win untuk ke luar sebentar.
"Bu! Bu! Tunggu sebentar saya ingin bertanya." kata Kyara menghentikan langkah Ningrum.
"Iya ada apa dek? Eh..." tanya Nigrum sambil kaget karena Kyara mencium tangannya.
"Kenalkan buk saya sahabatnya Fiqhi, kalau boleh tau Fiqhi di rawat dimana yah buk?" tanya Kyara.
"Ouh sahabatnya Fiqhi yah. Fiqhi di rawat di rumah sakit Permata dek." jawab Ningrum.
"Ouh begitu. Terimakasih ya buk. Saya permisi dulu. Mari buk." kata Kyara sambil meninggalkan Ningrum.
"Iya dek sama - sama.” jawab Ningrum sambil bergegas pergi dan menuju ke rumah sakit kembali.
Kira - kira bagaimana ya miners dengan Kyara? Apa dia bakal menjenguk Fiqhi atau justru Kyara justru merasa bahwa semua ini terjadi karena dia? Tunggu update an author selanjutnya ya...