
Nanda bersama Riski sang asisten, mendarat di Bandar Internasional Ahmad Yani, semarang. tepat jam 8 pagi, mereka langsung pergi ke kediaman Nanda di sana untuk beristirahat.
" atur pertemuan di rumah keluarga Brama Wijaya malam ini. " titah Nanda kepada asisten nya.
" baik tuan. " Patuh Riski.
" Oh ya Riski, saya akan pergi keluar sebentar, kamu istirahat saja di rumah.. " ucap Nanda lagi.
" iya baik tuan, apa ada keperluan yang harus saya siapkan,, " . tanya Riski.
" tidak ada. " ..
Nanda berlalu untuk masuk ke Kamarnya.
" oh ya Riski. " ucap Nanda.
" iya tuan.. "
" kamu sudah lama bekerja dengan saya, jangan panggil saya sepormal itu jika kita sedang di luar kantor, panggil nama saya saja.. " jelas Nanda.
" baik tuan."
" saya sudah bilang panggil nama saya saja. " titah Nanda.
" Baik Nanda.. " ujar Riski ragu-ragu.
" bagus.. "
Nanda berlalu ke kamar untuk membersihkan badan nya..
ia tak perlu beristirahat lagi, tidur selama penerbangan membuat dia merasa sudah lebih dari cukup.
hari ini, dia memutuskan akan pergi ke suatu tempat, untuk berpoto ria. dia akan berkalut dengan hobbi, bukan hanya sekedar hobbi tapi itu mimpinya.
setelah mendapatkan kesegaran, Nanda keluar dengan memakai stelan santai nya seperti biasa.
kaos oblong dan celana cino selutut, membuat ia tampak sangat tampan dan menampilah yang lebih hangat, karisma seorang CEO yang dingin sekarang tak ada di diri Nanda, ia seperti pemuda biasa yang akan menikmati harinya.
" anda sangat tampan, berpakaian seperti itu. " Ucap Riski mendapati sang bos keluar kamar dan menghampirinya di ruang keluarga.
" bulan lalu gajih mu sudah saya naik kan, dan hari ini di naikan lagi dua kali lipat.. " ucap Nanda, tentu itu membuat sang asisten nya terkejut.
" mohon maaf tuan, tapi saya benar memuji anda, bukan karena ada keinginan. " Riski merasa tak enak hati dengan bos nya itu.
" saya juga ikhlas, memang berniat akan menaikan gajih kamu, dan satu lagi jangan panggil saya se formal itu.. " Nanda langsung melengos pergi meninggal kan sang asisten nya yang masih tak bergeming kebingungan.
.
.
.
laki-laki tampan itu tampak duduk di kursi sebuah taman, ia termenung sendiri, pikiran nya berkalut dengan masalalu, lima tahun lalu taman ini adalah tempat untuk pertama kali nya ia menemukan wanita itu,
wanita yang sedang tertawa bersama teman nya, perempuan yang sedang memakan ice cream coklatnya.
tempat itu menjadi saksi, bahwa ia jatuh cinta pada pandangan pertama, tempat itu adalah tempat ia mengambil foto pertama Khanza di kameranya.
Nanda juga sampai nekad mencari tau dimana Khanza kuliah, dan dia kembali kuliah hanya untuk dekat dengan Khanza, meski pada akhir nya ia tau, wanita yang ia cintai itu mempunyai kekasih, namun ia sampai memutuskan mencintai nya secara diam-diam.
" Khanzaku.... kamu dimana sekarang, kenapa begitu lama kau menyakitiku, jika aku tau kamu akan pergi selama ini, aku tak akan pernah melepaskanmu dari awal, Aku selalu merindukan senyummu, semua tentang kamu, bahkan aku bisa masih mencintaimu, saat kamu tak ada, sungguh sebesar inikah cintaku .. " lirih Nanda.
.
.
.
.
lamunan nya tersadar saat Nanda mendengar hanpone nya berbunyi..
" ya Riski ada apa. " Nanda menjawab telepon yang ternyata dari asisten nya.
" maaf mengganggu anda, tapi ada tamu ke rumah,, " jawab Riski dari balik telepon nya.
" siapa. ? "
" tuan Hendrik Brama Wijaya. "
" Oke Riski, suruh tuan Hendrik tunggu di ruang Kerja saya, saya akan pulang sekarang. " jelas Nanda
" baik.. "
sambungan telepon pun berakhir, Nanda pun bergegas pulang ke rumahnya..
.
.
.
Nanda masuk ke dalam rumah nya, dan sudah di sambut oleh asisten nya..
" Tuan Hendrik sudah di ruangan kerja.. "
" oh oke baik, terimakasih ya Riski. "
" apa ada yang perlu saya siapin. " tanya Riski.
" baik.. "
Nanda berlalu dan masuk ke ruangan kerja nya.
" hei tuan CEO. " ucap Hendrik dan memeluk Nanda, Hendrik begitu merindukan Nanda. mereka sudah lama tidak bertemu, dan sekarang Nanda sudah berubah menjadi sangat terlihat dewasa.
" apa kabar mas Hendrik.. " tanya Nanda.
" saya baik.. kamu gimana,. !"
" saya juga baik mas.. "..
" gimana soal perusahan mas.." tanya Nanda..
" perusahaan sangat baik, gimana apa udah tau keberadaan nya Khanza.. " tanya Hendrik.
Nanda tertunduk, ia benar-benar buntu, kekuasaan nya justru tak bisa menemukan hanya satu orang saja.
" enggak ada mas, .. " pasrah Nanda ia menarik nafas panjang.
" sosial media, no telepon sampai hanpone nya pun gak bisa di lacak, dia sama sekali tak pernah mengambil uang, di rekening nya. saya benar-benar kehilangan jejak adik saya.. "
Nanda mencoba menguatkan Hendrik yang sudah berderai air mata, meratapi penyesalan nya karena telah mengirim Khanza ke Jakarta...
bahkan ia tak pernah menyangka adik nya akan senekad itu, iya tak pernah menyangka, bahwa ia kehilangan adik nya karena usulnya.
belum lagi ia harus menghadapi penyesalan sang ayah Khanza, yang terus menyesal karena telah mengusir anak nya..
" rumah benar-benar sepi gak ada Khanza, gak ada orang iseng, gak ada yang selalu ceria... " ucap Hendrik ..
" saya mengerti mas, saya juga masih berusaha, mas tenang yah,. " Nanda mencoba menenangkan Hendrik, padahal hatinya pun hancur. dia benar-benar runtuh.
" saya percaya sama kamu Nanda. . "
" iya mas.. "
keduanya kembali terdiam dengan pikiran masing-masing. mereka masih berpikir kemana lagi untuk mencari Khanza.
" oh ya mas nanti malam kita jadi meeting di Rumah mas Hendrik, bersama beberapa Relasi. " ucap Nanda, memecahkan keheningan.
" iya saya akan persiapkan semuanya.. "
.
.
.
Sosok perempuan Cantik sedang bermain dengan buah hatinya yang semakin hari semakin lincah saja.
" sayang hati-hati nak, ... " teriak Khanza mendapati anak-anak nya tengah berlarian kesana kemari..
bu Diana menghampiri mereka di taman belakang..
" nenek.. " teriak Key dan Kemudian memeluk sang nenek..
Khanza juga terheran mendapati ibu nya sudah pulang, padahal hari masih sangat sore..
" ibu.. ko tumben, . " tanya Khanza dan menyalami tangan sang ibu.
" ibu kurang enak badan, hari ini mau istirahat saja... " jelas ibu diana. Khanza juga melihat ibu nya sangat terlihat pucat.
" oh iya bu... "
" ibu ke kamar Ya ca, ibu minta tolong buatin air jahe hangat yah.. "
" iya bu nanti caca anterin ke kamar, ibu istirahat yah. sayang ayoo lepasin, nenek nya mau istirahat dulu.. ".
Khanza meminta anak-anak nya untuk melepaskan pelukannya dari sang nenek..
kemudian ibu diana berlalu..
" bu nenek kenapa.. " tanya key.
" nenek sakit... "
si kembar pun mengangguk mengangguk mengerti..
" Bi indri temenin anak-anak yah, saya ke dapur dulu.. "
" iya non. "
setelah membuatkan air jahe hangat Khanza, Khanza membawa nya ke kamar ibu diana dan ibu diana meminum nya..
" ibu kecapean ya.. " tanya Khanza
" iya nak.. mungkin ibu sudah tua.."
" yaudah tidurin ya bu biar cepat enakan.. "
bu Diana mengangguk, dan Khanza membaring kan nya di tempat tidur, ia menyelimuti tubuh sang ibu agar tidak kedinginan di peluk dan di ciumnya sang ibu sayang, ini kali pertamanya Khanza melihat sang ibu sakit.
.
.
.