My Mine

My Mine
Panggilan sayang



lelah dan lemas terasa suasana dingin hotel itu tak membuat kedua manusia itu merasa kedinginan terlihat buliran-buliran keringat di dahi Khanza.


dia kelelahan setelah mengimbangi permainan Nanda, malam semakin larut, jarum jam menunjukan tengah malam, Nanda menyelesaikan pagutannya, ia mengusap peluh keringat di dahi Khanza dan menciumnya singkat, Nanda mengucapkan banyak terimakasih, karena Khanza tidak menolaknya, Khanza melayaninya dengan tanpa paksaan.


mereka berpelukan sampai Khanza tertidur di pelukan Nanda, ia tak memperdulikan apapun lagi selain hanya lelah, Nanda mengusap rambutnya sayang...


" aku sangat mencintai kamu, terimakasih untuk semuanya sayang.. " lirih Nanda.


samar-samar Khanza mendengar apa yang Nanda bicarakan, ia juga berharap itu semua bukan mimpi.


mereka berdua tidur dengan berpelukan terdengar dengkuran halus, menandakan mereka sudah tertidur pulas.


.


.


.


pagi menampakan sinarnya, mata indah Khanza mengercip setelah menerima sinar matahari yang masuk ke kelopak matanya.


dengan tatapan nanar ia melihat Nanda sedang duduk di kursi menikmati secangkir kopi dengan laptop di depannya.. rambutnya basah menandakan laki-laki itu sudah mandi, meski hanya memakai kaos oblong dan celana boxer laki-laki itu tetap terlihat tampan di mata Khanza,


" bisa gila aku kalau begini terus.." lirih Khanza dalam hati. ia selalu terpikat dengan pesona Nanda, entah kapan mulainya ia mempunyai perasaan dengan sahabatnya itu.


kemudian Khanza teringat kejadian tadi malam, dia melakukan hal intim dengan Nanda berulang-ulang, wajah nya berubah menjadi merah, betapa malunya Khanza saat itu.


" sudah bangun.. " tanya Nanda, namun ia masih pokus ke layar laptop nya..


" ehhh.. iy. iya.. sudah.. " jawab gugup Khanza.


" mandi dulu ya.. nanti kita sarapan setelah kamu mandi.. " Nanda tersenyum dan menatap Khanza, Khanza terpaku di tatap seperti itu oleh Nanda, bagai mana tidak suaminya sangat tampan pagi itu.


Khanza turun dari ranjang dengan selimut menutupi seluruh badannya, pakaian nya entah sudah entah kemana.


" aww arrgghhhh.. " Khanza meringis merasa sakit di pangkal pahanya, sungguh ini seperti pengalaman pertama kali untuknya, padahal kesuciannya sudah pernah di renggut.


itu membuat Nanda Khawatir dan berlari ke arah Khanza.


" kenapa yank.. " tanya Nanda dia begitu Khawatir. Khanza menggeleng cepat merasa malu jika harus jujur.. Nanda paham bahwa istrinya itu kesakitan karena ulahnya semalam


" aku gendong ya. " kata Nanda.


" gak usah mas, aku bisa sendiri.." tolak Khanza.


Nanda terpaku, Khanza memanggilnya dengan sebutan mas, itu membuatnya sangat bahagia, Nanda menggendong tubuh tel*nj*ng Khanza ke kamar mandi, meskipun Khanza meronta-ronta meminta turun, Nanda tak mendengarkan sama sekali, Khanza sangat malu menutupi area sensitipnya itu, Nanda menurunkan Khanza dan membalikan tubuh Khanza hingga membelakanginya.


ia melihat kemolekan tubuh bagian belakang Khanza dari atas sampai bawah, yang menurutnya sangat sempurna.


semalam ia telah menguasai tubuh itu, mengecup setiap inci seolah tidak mau ada yang tertinggal sedikitpun.


" aku mau mandi, mas keluar yah.. " kata Khanza


bukannya keluar Nanda malah menciumi pundak Khanza, itu membuat Khanza sedikit menggeliat.


" coba sekali lagi bilang mas nya.. " pinta Nanda.


" mas aku mandi.. " muka Khanza memerah dia begitu malu, Nanda hanya mencium pundaknya tubuhnya sudah panas, ya memang tubuh Khanza tidak pernah menolak kecupan demi kecupan Nanda semalam.


sedangkan Nanda sangat bahagia, panggilan mas dari Khanza seolah-olah adalah panggilan sayangnya Khanza untuk dirinya.


Nanda menyalakan sower, tubuhnya kembali basah, dia masih memeluk Khanza erat, Nanda mulai mengecupi leher Khanza dari belakang, dia akan melakukan aktivitas nya lagi seperti semalam, tubuh Khanza seolah menjadi candu yang tak pernah bosan ia sentuh.


gemircik air sower menjadi saksi kedua manusia itu memadu kasih, saling berpagut dan saling menikmati seolah tak ingin berakhir. Nanda pun melakukan itu perlahan karena Khanza pun sudah kesakitan karena ulah nya semalam.


setelah aktivitas itu selesai mereka lanjut mandi bersama dan Nanda menggendong kembali tubuh Khanza yang sudah ia balut handuk membawanya keluar, mengeringkan tubuh Khanza perlahan. sesekali mengecupi kening Khanza sayang, Khanza juga menerima semua perlakuan Nanda terhadapnya, meski ia belum paham apa maksud dari semua ini, satu hal yang Khanza tau, Nanda melakukan itu memang sudah menjadi kebutuhannya, dan sudah seharusnya ia melayani karena dia adalah istrinya.


Khanza menyukai setiap sentuhan itu, ia merasa Nanda melakukannya dengan penuh kasih sayang.


" kita sarapan dulu yu.. " ajak Nanda


" sarapan di sini saja mas.. "


" kenapa masih sakit ya.??. " khanza menggeleng cepat


" aku lagi gak mau keluar mas.." kata Khanza.


Nanda mencium kening Khanza penuh kasih sayang


" maafin mas ya.. " menyeruak rasa bersalah dalam dirinya,


Khanza mengangguk pelan dan tersenyum, seolah memberitahu Nanda bahwa dirinya baik-baik saja.


" yaudah mas pesan sarapan dulu ya.. " Nanda beranjak dan menghubungi petugas hotel agar mebawakan sarapan untuk dirinya dan sang istri ke kamar..


setelah sarapan datang.. mereka langsung menikmati sarapannya, lelah setelah bergulat dengan suami membuat Khanza kelaparan, apalagi dari kemarin ia hanya makan sedikit saja, Nanda terkekeh gemas, melihat cara makan Khanza..


" terimakasih untuk semuanya sayang, aku sangat bahagia.." lirih Nanda dalam hati ia masih memandangi Khanza yang sedang memakan sarapan paginya...


Khanza dan Nanda memilih cekout dari hotel dan pulang ke rumah pondok indah, setelah keluarganya menghubungi mereka sudah pulang dan sudah berkumpul disana.


......................


suara riuh keluarga terdengar dari kediaman Khanza, si kembar sangat bahagia karena ada uti, kakung dan pakde nya, mereka sangat senang ternyata keluarganya sangat banyak, tak jarang Hendrik tertawa melihat tingkah gemas anak-anak dari adiknya itu, mereka bermain dengan suka cita, begitupun para asisten Khanza, mereka senang rumah terasa ramai sekarang..


nyonya Doris memandangi dua pajangan foto besar yang menempel di ruang keluarga kediaman rumah Khanza, nyonya doris melihat foto keluarga terakhir bersama sang futri semata wayangnya terpajang apik disana.


dan ia juga melihat poto Khanza bersama perempuan paruh baya, sama-sama menggendong si kembar, nyonya Doris melihat Khanza tersenyum bahagia bersama perempuan itu, air matanya menetes, tuan brama menghampiri sang istri dan merangkulnya.


" kau lihat mas, perempuan itu telah mengurus Khanza dengan sangat baik, kita berhutang balas budi kepadanya." nyonya doris terisak.


" iya kau benar.." mereka banyak mengucapkan terimakasih dan rasa syukur, atas kebaikan ibu diana, yang telah mengurus dan menganggap Khanza seperti putrinya sendiri, Khanza nya telah tumbuh menjadi perempuan yang dewasa, dan sekarang sudah sangat sukses mereka bersyukur dengan ibu Diana yang telah menerima Khanza dengan tangan terbuka, tanpa melihat sisi buruknya Khanza...


🌺🌺