
Jedeerrrr suara tembakan itu mengema menggelegar di gedung itu, Gio keluar dari tempat persembunyiannya, dia melihat perempuan Gila itu meringis kesakitan, menahan darah nya yang terus menetes tanpa henti.
" Gio..." lirih Sisil.
" ya saya.." jawab Gio lantang.
" bunuh laki-laki itu,," teriak sisil, kepada semua bawahannya.
semua laki-laki bertubuh besar itu menodongkan pistol nya ke arah Gio.
" silahkan bunuh saya, setidak saya sudah tau,
kejahatan kamu, saya mati pun tidak akan ada
rasa menyesal. "
" kurang ngajar.." teriak sisil, dia tak terima dengan ucapan Gio yang semata-mata dengan senang hati mati karena jijik dengan nya.
" tembak dia..." teriaknnya.
jedeeerrrr...satu tembakan berhasil mendarat ke dada sebelah kanan Gio..
" jangaaannn...." teriak Khanza, di barengi dengan jatuh nya Gio di lantai. Gio menatap wajah wanita yang di cintainya itu untuk yang terakhir kalinya sebelum matanya tertutup..
" wanita biadab, ku bunuh kamu..." teriak Khanza,
Namun seseorang datang dan memeluk tubuhnya erat..
" Nanda... " ucap Sisil.
ketika melihat tubuh tegap Nanda sudah memeluk Khanza...
" maaf telat sayang... maaf kan aku.." lirih Nanda.
Khanza masih terpaku, Gio sudah tertembak di hadapannya, laki-laki itu sudah berkorban untuk menyelamatkannya..
" kalian sudah di kepung... turun kan senjata kalian.." ucap salah seorang pimpinan dari kepolisian. pihak kepolisian pun di bantu dengan orang-orang Nanda yang sudah di tugas kan terlebih dahulu..
" Nanda... apa-apaan kamu.. aku cinta sama kamu Nanda, wanita itu tidak pantas sama kamu" teriak sisil, dia sudah tertangkap dan tangan nya sudah di borgol.
" bawa wanita ini ke kantor polisi pak, saya akan mengurus semuanya.." ucap Nanda.
" baik tuan terimakasih atas bantuan anda.."
" sama-sama pak.."
" Nanda tolong aku, wanita itu jahat Nanda,
kamu tidak pantas bersama nya, dia tidak
boleh bahagia." teriak sisil, di tak terima karena tertangkap oleh polisi, dia harus membunuh Khanza..
" sayang.. Gio tertembak.." lirih Khanza.
sementara orang-orang yang lain sudah membawa Gio untuk melakukan pertolongan pertama, laki-laki itu masih hidup, masih ada kesempatan untuk menyelamatkannya..
" suuuttt sayang... kamu tenang yah,
ada aku di sini sayang.." Khanza mengangguk tubuhnya gemetar hebat, dia begitu ketakutan, sekaligus belum percaya, teman nya bisa senekad itu.. Khanza kembali melihat tubuh bi Indri yang sudah tak sadarkan diri, mereka membawa bi Indri juga agar langsung bisa di bawa kerumah sakit, karena dirinya orang-orang tak bersalah seperti mereka harus terluka..
" sayang aku harus bagaimana..hiks.." Khanza terisak.
" ssuuutt sayang semua sudah aman, kita sudah aman perempuan itu sudah di bawa polisi, jangan takut lagi ya!!.." ucap Nanda di terus memeluk istrinya, dia tau istrinya sangat ketakutan.
Riski dan Deri juga menggendong si kembar, mereka terkena obat Bius dan sampai sekarang belum sadarkan diri.. mereka akan di bawa kerumah sakit juga, untuk mendapat perawatan..
" ayo kita kerumah sakit ya.." Khanza mengangguk, ia masih terisak, terlalu takut untuknya.
dengan telaten Nanda memapah tubuh lemas sang istri, tubuhnya gemetar,..
" dimana anak-anak.." ucap Khanza ia panik ketika tak mendapati anak-anaknya.
" mereka sudah di bawa sayang, kamu tenang ya,, tidak akan terjadi apapun!!!" Khanza menarik napas panjang, namun tatapan nya menerawang, mengingat orang-orang dan kejadian kelam yang baru saja ia alami.
" sayang.!! Gio tertembak karena aku, dia mau nyelamatin aku sayang, bagaimana kalau terjadi apa-apa ." Khanza menghiba, membayangkan apa yang akan terjadi kepada laki-laki itu.
" tidak akan terjadi apapun percayalah Gio
akan selamat." Nanda terus menenangkan Khanza yang sedang dalam ketakutannya.
" benarkah itu mas..!!"
" benar sayang, kita berdoa yah.. semoga tidak terajadi apapun."
" amin sayang.." lirih Khanza.
ia mencoba untuk menekan semua kepanikannya, Khanza memegang tangan sang suami, seolah dari sana dia akan mendapatkan perlindungan... Nanda tau pasti istrinya sangat syok atas semua kejadian yang menimpanya, yang dia bisa hanya menengkan Khanza, dan berharap orang-orang itu terselamatkan..
.
.
.
.
.
Khanza dan Nanda turun dari mobil mereka sedikit berlari masuk ke dalam, disana Khanza sudah di sambut oleh semua sahabatnya, mereka memeluk Khanza satu persatu, melihat Khanza baik-baik saja sudah sangat membuat orang-orang itu bersyukur, bahkan kandungan Khanza tidak terjadi apapun.
mereka semua berkumpul di ruang rawat si kembar, karena pengaruh bius yang sangat kuat, mereka harus di rawat,..
" anakku.. maafin ibu ya, maaf ibu gagal jaga kalian." lirih Khanza ia menatap si kembar berbaring di ranjang pasien, dengan keadaan mata terpejam sangat terlihat tenang.
" sayang.." Nanda kembali merangkul Khanza mengusap-usap punggung sang istri, agar istrinya tenang dan merasa aman.
" mas.. mereka ko gak mau bangun.." tanya Khanza dia begitu Khawatir
" tidak apa-apa sayang, kata dokter se jam lagi
pasti mereka bangun. " jawab Nanda.
" kok lama ya mas..." lirih Khanza.
" mereka hanya butuh istirahat sayang..." jawab Nanda lagi, dia begitu ekstra menjaga Khanza agar istrinya itu tetap tenang.
" tuan.. " sapa Riski.
" iya Riski.. "
" maaf tuan mengganggu, tapi tuan di minta
pihak kepolisian untuk datang ke kantor, "
" baiklah Riski tunggu saya di mobil."
" baik tuan.." ucap Riski patuh.
Riski keluar dari ruangan itu, Nanda terlihat masih merangkul istrinya..
" sayang.!!! mas ke kantor polisi dulu ya,
mau ngurusin masalah ini dulu."
" tidak mas..!! jangan bertemu perempuan
itu, dia jahat mas, aku gak mau kamu
kenapa-kenapa!!" lirih Khanza. nyata nya ketakutan itu masih ada di dalam dirinya.
" tidak akan terjadi apapun sayang!! percayalah.. "
Nanda terus meyakinkan Khanza agar tetap tenang, dan Dia sudah aman sekarang.
" tolong jangain Khanza ya, buat dia tenang.." pinta Nanda kepada semua teman teman Khanza
" pasti kamu tenang aja.." ucap Ayu.
" aku percaya sama kalian., ayo Der. " ajak Nanda, dan kedua laki-laki itu keluar dari ruangan menuju mobil riski sudah menunggu mereka di sana.
tinggalah Khanza dan ke lima sahabatnya di ruangan si kembar, mereka masih menunggu si kembar sadar kan diri..
" za.. minum yu..." Mita menyodorkan minumannya, dan Khanza meminumnya perlahan.
" terimakasih mit.." Khanza memberikan kembali gelas itu kepada minta.
" gimana sudah enakan sekarang.." tanya Ayu.
" sudah, aku melihat anak-anakku baik-baik saja, sudah lebih dari cukup.. "
" kita turut prihatin za, dan semoga saja
kejadian seperti ini tidak akan pernah
terulang kembali." ucap Dimas.
" amin, terimakasih ya teman-teman.."
semua sahabat Khanza memeluk Khanza, seolah memberikan kekuatan, bahwa ada mereka di sisi Khanza, apapun yang terjadi mereka akan tetap bersama-sama dan saling menopang.
.
.
.
🌺🌺🌺