
setelah menjelang pajar, burung-burung berkicau menari dengan riang, terang matahari masuk ke celah gorden mengelitik Khanza yang masih terlelap, suara ketukan pintu membangunkan nya Khanza mengercip kan mata untuk mengembalikan kesadaran nya.
tokkk tookkk tokkkk pintu kembali di ketukk...
" non bangun nonn, ibu non.. " samar samar Khanza mendengar teriakan dari bi Susi
Khanza berjalan mendekati pintu dan membukanya.
" iya bi ada apa.. " tanya Khanza.
" non ibu, . " panik bi susi.
" iya kenapa dengan ibu, .. "
" ibu seperti nya drop, saya bangunin gak mau bangun, ibu gak sadarkan diri.." ucap bi susi membuat Khanza terkejut.
setelah mendengar Kabar itu Khanza berlari ke kamar sang ibu dengan bi Susi, muka nya tampak cemas.
dia masuk ke kamar sang ibu dan melihat sang ibu berbarin tanpa pergerakan. Khanza semakin panik di buatnya.
" buk.. ini Khanza bangun yu.. " lirih Khanza.
namun sang ibu tak menjawab sama sekali, seperti orang yang nyenyak tidur.
" Buuu... " Khanza mencoba tenang meski air matanya sudah berhasil menerobos dari mata indahnya.
" bi panggilin pak Burhan Ujang sama Deri, tolong bawa ibu ke mobil saya ambil tas dulu.. "
" baik non.. " bi Susi bergegas memanggil mereka kedepan rumah, biasanya para pekerja laki-laki itu akan meminum kopi ketik pagi hari.
sedangkan Khanza panik dan masuk ke kamar nya untuk mengganti stelan piyama tidur nya dengan baju yang lebih santai, setelah selesai ia langsung menyambar tas nya dan berlari ke bawah ketika mendapati sang ibu sudah di gotong oleh mereka ke mobil.
" bi Indri nanti kalau anak-anak bangun bilang saya pergi sebentar, tolong siapin keperluan nya ya bi.. " titah Khanza.
" baik non... " ucap bi indri, para asisten itu juga terlihat panik, mendapati sang majikan sakit seperti itu.
.
.
.
setelah masuk ke mobil, Khanza meminta bi Susi juga ikut menemani nya ke rumah sakit.
" buk.. sabar yah, kita akan ke rumah sakit. " ucap Khanza, namun ibu Diana masih tak bergeming.
Khanza panik bukan main, namun ia terus menguatkan diri sendiri, bahwa sang ibu akan baik-baik saja. tidak akan terjadi apapun, ibunya pasti akan baik-baik saja. Khanza tetap positif tinking.
setelah sampai di rumah sakit, perawat langsung membawa ibu Diana ke ruang IGD agar langsung di tangani.
" maaf buk tetap tunggu di luar yah.. " Khanza di larang masuk oleh suster.
ibu Diana di bawa masuk ke ruang IGD sedang kan Khanza mondar mandir menunggu dokter yang memeriksa ibu nya keluar.
" non tenang... duduk yu, " ucap bi Susi.
Deri datang menghampiri mereka, dan ikut duduk dekat Khanza mencoba menenangkan majikan nya itu..
" zaaa. it's oke, semua akan baik-baik aja.. " ucap Deri mencoba menenangkan Khanza.
Khanza masih diam tak bergeming, ia sudah tak mendengar lagi orang lain berbicara, air mata nya terus mengalir menerobos masuk, dia begitu mengkhawatirkan ibunya, bagaimana kalau terjadi apa-apa, ibunya tak mau bangun. pasti sakitnya sangat serius.
dokter keluar dari ruangan, dan menghampiri Khanza..
" dengan keluarga dokter Diana. " tanya dokter itu.
" saya dok, saya anak nya. " ucap Khanza menghampiri dokter.
" mari ikut saya nona. " titah dokter..
Khanza mengikuti dokter keruangan nya, sedangkan ibu Diana sudah di dorong menggunakan ranjang pasien ke ruang perawatan. untuk penanganan lebih lanjut.
.
.
.
" bagai mana bisa dok, ibu saya sangat terlihat sehat.. " lirih Khanza, air mata nya tak henti berderai.
" itulah saya pun tidak mengerti, namun saya salut dengan beliau, dia mampu bertahan sampai sejauh ini.. . " Jelas sang dokter, Khanza sangat kehilangan arah setelah mendengar hal itu, kenapa ibunya tak pernah bilang kalau ia sakit.
Khanza keluar dari ruangan dokter, tubuh nya lunglai, air matanya tak henti mengalir.
Khanza masuk keruang rawat Ibu Diana, bersama dengan bi Susi dan Deri, dia duduk di samping sang ibu dan memegang tangan sang malaikat penyelamatnya itu.
" buu.. ini Khanza. .. " ait matanya tak henti mengalir, sang ibu tak bergeming, ia masih dengan tidur nya yang pulas..
" bu.. kenapa ibu tidak bilang, kenapa ibu tak berbagi sakit mu dengan ku. "
Khanza kembali terisak, membayangkan bahwa selama ini ibunya menderita, Khanza sangat merasa bersalah akan hal itu.
" buu bangun bu.. , " lirihnya.
Deri meminta Susi untuk menenangkan majikan nya itu, bi Susi menghampiri Khanza dan memeluk nya..
" bi.. ibu tak mau bangun.. " lirih Khanza dengan isak tangisnya.
" iya non bibi tau.. non tenang ya, biar ibu juga senang, jangan sedih nanti ibu juga sedih.. " Bi Susi juga berlinang, melihat begitu terluka nya sang majikannya itu.
Khanza mencoba tenang.... dan menghampiri sang ibu, ia begitu putus asa sekarang, dulu dengan tangan sang ibu dia di bawa ke rumah nya, memberikan kebahagian, memberikan kasih sayang, dan saat ibu nya membutuhkan dia, dia tak bisa berbuat apapun, dia merasa tak berguna di kehidupan sang ibu.
terlihat ada pergerakan tangan Ibu diana bergerak, dan perlahan membuka matanya.
" Caca sayang... " panggil nya dengan suara yang serak.
" buuu.. bi ibu sadar, panggil dokter cepat.. " panik Khanza masih dengan derai air mata, dia memegang tangan sang ibu, di cium nya berkali-kali.
" ibu... sabar ya, harus kuat, Khanza di sini sama ibu.. " ujar Khanza, tanpa henti air mata nya keluar. melihat ibunya lemah tak berdaya seperti itu, hatinya sakit.
Dokter diana menggeleng, air mata nya jatuhh menetes ke pipi.
" caa.. ibu sangat bahagia.. " ujar ibu Diana terbata.
Khanza mengangguk masih dengan derai air mata..
" iya bu. Khanza juga sangat bahagia, makanya ibu sembuh ya, masih banyak hal yang harus kita lakuin bersama,,, " lirih Khanza, ia mencoba mengusap air mata sang ibu.
" terimakasih ya ca... " ucap ibu Diana terbata.
" ibu sangat bahagia.. " ucap nya lagi...
Khanza terisak air matanya tak berhenti berderai...
perlahan-lahan dokter Diana menutup matanya kembali, tentu membuat Khanza sangat panik..
dokter yang dari tadi ada di sana mulai memeriksa ibu Diana, dokter itu membuka mata ibu Diana, memeriksa denyut nadi nya, kemudian ia bernafas sangat berat.
" maaf ibu Khanza, dokter Diana telah berpulang, dengan berat hati saya ucap kan turut berduka cita. ".
" enggak mungkin.. dokter pasti salah.. " Khanza menggeleng kepalanya, dia terpaku dan tak percaya dengan ucapan dokter.
badan nya lemas ia jatuh pingsan, dengan sigap Deri membawa majikan nya ke kursi untuk di baringkan.
" non bangun non.. " ucap bi susi yang sudah panik.
dokter kembali memeriksa Khanza dan meminta suster untuk memindahkan Khanza ke ruang perawatan agar dia di tangani lebih lanjut.
Deri memijit pelipis nya, kemudian ia menghubungi keluarga Adji Prasta karena mereka adalah satu-satunya keluarga yang dekat dengan keluarga majikannya mereka juga yang akan menenangkan Khanza, ketika Khanza terbangun Nanti.
bi Susi sudah menangis di samping Ranjang pasien milik Khanza,
" non.. kami semua sama non, kami juga sedih.. bangun non,, " ucap bi Susi, bi Susi terisak, melihat nona nya terbaring lemah.
Khanza masih berbaring tak bergeming.
.
.
.
*****