My Mine

My Mine
kita bisa saling mencintai



masih lanjut ya readers๐ŸŒบ


.


.


.


mobil terparkir apik di sebuah lesehan seafood yang cukup terkenal di daerah jakarta selatan,


Nanda membawa Khanza untuk menikmati makanan yang ia sukai juga.


" Bisa makan seafood kan.. " Tanya Nanda, sebelum mereka turun dari mobil.


" bisa ko.. " kata Khanza.


" kalau gitu ayoo kita makan.. "


Nanda turun dari mobil di ikuti Khanza, beberapa kali Khanza menekan jantung nya, berharap berhenti berdetak kencang, ia tak nyaman dalam keadaan canggung,


" ada apa ini dengan jantungku, perasaan apa ini, padahal sudah sering bertemu Nanda, tapi gak pernah begini " lirih Khanza dalam hati.


" zaa sini.. " panggil Nanda, yang mendapati Khanza tengah melamun di depan mobil nya.


khanza menghampiri Nanda dan duduk di samping nya, Nanda memesan semua menu andalan di sana, menurut Nanda Khanza harus memakan salah satu makanan kesukaan nya juga, seperti ia yang pernah di ajak makan bubur pinggir jalan kesukaan Khanza, waktu di semarang dulu.


Khanza melihat-lihat sekitar nya, benar saja seorang CEO itu membawanya ketempat makan lesehan pinggir jalan.


" makasih ya pak.. " ucap Nanda saat makan sudah tersaji di meja makan.


" kenapa ko kayak gak nyaman gitu.. " tanya Nanda mendapati Khanza yang gelisah.


" aku heran, CEO kaya kamu kok gak malu makan di tempat sederhana kayak gini.. " tanya Khanza.


Nanda terkekeh..


" kamu malu.. " Nanda malah balik bertanya.


" tidak sama sekali, aku malah senang.. " kata Khanza dan mulai menyantap Makanan nya, matanya terperanjat dia sangat menyukai makanan nya. benar-benar enak lirihnya.


" suka.. " tanya Nanda melihat ekspresi Khanza yang menggemaskan, Khanza mengangguk cepat.


" ini enak sekali. " Khanza tak henti menyantap makanan nya. Nanda terkekeh.


" tempat makan itu tak perlu mewah, buktinya tempat yang sederhana pun makanan nya sangat kita nikmati.. " Kata Nanda.


" kamu benar, aku setuju... "


Nanda terkekeh melihat cara makan Khanza yang tidak berubah, makannya selalu banyak namun tubuhnya tidak gendut


mereka menikmati makan malam nya dengan sedikit obrolan kecil, sesekali mereka sematkan tawa di dalamnya,


" tahukah Khanza aku sangat bahagia, bisa selalu dekat dengan mu. " Lirih Nanda dalam hati.


.


.


.


Khanza tertidur di samping Nanda, dan Nanda masih pokus dengan stir kemudinya. sesekali Nanda melirik Khanza yang tengah tertidur pulas, dia terkekeh mengingat Khanza makan banyak sekali, dia kekenyangan dan tidur, menggemaskan menurutnya.Nanda mengusap rambut Khanza sayang, dan menyibak rambut yang menutupi wajahnya.


" kau selalu cantik, aku suka dengan kamu yang sederhana, aku suka dengan kamu yang apa adanya,... " Lirih Nanda.


" Kau tau Khanza, aku sangat bahagia dengan pernikahan kita, aku begitu pengecut, tak bisa membiar kan kamu tahu tentang perasaanku, aku takut kamu menjauh." Nanda terkekeh mengutuki kebodohannya, dia laki-laki dan tak punya nyali hanya untuk mengungkapkan perasaan saja ia tak bisa


" aku janji akan menjaga kamu dengan anak-anak, aku janji, akan membuat kamu mencintaiku juga, aku sayang kamu za.. " lirih Nanda lagi. dia kembali mengusap kepala Khanza sayang...


.


.


Nanda sudah sampai di kediaman Khanza, dia melirik Khanza yang tengah tidur terlelap..


" zaa bangun yu, udah sampe rumah.. " Nanda mengoyangkan tangan Khanza.. "


" emmmmm.. " Khanza mengerang.


" udah sampai rumah za.. " ucap Nanda lagi.


" oh udah sampe ya.. " Khanza menatap dengan mata sayunya.


mereka turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. yang langsung di sambut oleh seisi rumah besar itu termasuk bu Laras.


" sudah ma, aman semuanya.. " Kata Nanda.


" syukurlah mama senang dengarnya. "


Nanda dan Khanza tersenyum. kemudian Nanda duduk kursi sementara Khanza pergi kedapur membuat teh hangat untuk Nanda dan bu laras.


" anak-anak ko gak keliatan bi.. " tanya Khanza kepada bi Ranti.


" sudah tidur mereka non, kecapean seharian main sama bu Laras.. " jelas bi Ranti.


" oh gitu...,"


Khanza membawa teh dan di sajikan untuk Nanda dan bu Laras..


" makasih ya ma, udah jagain anak-anak.. " kata Khanza.


" saya sangat senang, bisa bermain dengan mereka,,, " bu Laras tersenyum.


" kemana Ayu gak keliatan ya.. " tanya Khanza celingak celinguk,


"duhh gak ngerti ya, pengantin baru mereka.. masih hangat-hangat nya.. " Kata bu Laras sambil terkekeh kecil..


sementara Khanza terpaku, mukanya bersemu merah, keadaanpun berubah menjadi kikuk, .


" Khanza ke atas ya ma, ke kamar anak-anak dulu.. " ucap Khanza berlari menaiki Khanza.


jantung nya berdetak cepat, ia begitu malu mendengar Hal itu. bisa-bisanya calon mertuanya itu berbicara begitu, di depan Nanda..


dia masuk kemar si kembar, mendapati kedua nya sudah tertidur lelap. Khanza duduk di tepi Ranjang, memandangi mereka cukup Lama, mengelus dan mencium mereka bergantian,


" maafin ibu ya Nak, waktu kebersamaan kita jadi tersita, karena ibu sibuk bekerja... " Khanza memeluk kedua anaknya.


ia tak menyadari bahwa Nanda sudah menatap nya di ambang pintu, Nanda memperhatikan Khanza, yang begitu sangat menyayangi kedua anaknya.


" ekheemmm " Nanda berdehem.


Khanza terperanjat dan menoleh..


" Nanda ngapain kesini. " tanya Khanza ketika mendapati Nanda.


" aku juga mau ketemu si kembar sebelum pulang.. " Nanda melengos masuk dan duduk juga di tepi ranjang, bersebrangan dengan Khanza.


" jika aku tau dari awal kamu adalah ibu mereka, sudah ku temui kamu dari dulu. " kata Nanda.


" aneh ya, padahal kita tinggal berdekatan.. " ucap Khanza.


" aku jarang tinggal di rumah Khanza.. " ..


Khanza mengangguk.. dan pergi dari Hadapan Nanda menuju balkon, ia tak mau mengganggu kedua anaknya..Nanda pun ikut menghampirinya.


" akhir-akhir ini, aku akan sangat sibuk... persiapan pernikahan kita, akan mama yang handle seminggu ini kita tidak akan ketemu, aku harus ke singapore. " kata Nanda Khanza mengangguk mengerti..


" syukurlah setidak nya jantungku akan beristirahat hihii... " lirih Khanza dalam hati.


" Si kembar selalu menceritakan kamu ke aku, waktu itu anak-anak sangat bahagia mendapati mainan oleh-oleh dari kamu.. " Khanza terkekeh, mengingat sikembarnya sangat antusias.


" emmm waktu pulang dari semarang, dan maaf waktu ibu Diana meninggal, aku gak bisa datang.." kata Nanda.


" emm mama sudah mengatakan semuanya.. "


Nanda mengernyitkan sebelah alisnya heran


" sejak kapan kamu manggil papa mama ku juga dengan sebutan yang sama.. " tanya Nanda.


deegggg.


khanza terpaku.. dia sangat malu, Khanza mengutuki perasaannya, dia menolak merasakan itu, tidak biasanya dekat dengan Nanda membuat nya Canggung, Khanza menarik napas panjang..


" sejak lima tahun lalu, waktu mama kamu datang meminta aku menikah dengan kamu, ... " Nanda mengangguk.


" yasudah itu lebih baik aku pulang, salam buat anak-anak... "


Khanza mengangguk.


" hati-hati ya.... "


Nanda tersenyum dan sedikit menyentuh pipi Khanza.


๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐ŸŒบ