
.
.
.
sisil tampak melambai-lambaikan tangan nya, Khanza terpaku di tempatnya, melihat kedua orang itu membuat ia teringat akan kenangan di masalalu, semua kebersamaan itu muncul dalam pikirannya, sampai ia harus di khiananti oleh mereka.
tiba-tiba ia teringat dengan kedua anaknya, ia memegang tangan kedua anak itu, agar mereka berlindung di belakangnya, Khanza begitu terlihat cemas, apa yang akan terjadi jika Gio melihat kedua anaknya itu.
Sisil dan Gio semakin dekat menghampiri keberadaannya, tangan khanza gemetar, tubuhnya terus mengeluarkan keringat membanjiri peluhnya..
tiba-tiba Sisil memeluk Khanza tanpa aba-aba sediki pun..
" za... gw kangen ama lo, kemana aja za, tak pernah ada kabar.."
Khanza tak bergeming, ia masih terkejut dengan keadaan itu, kedatangan mereka secara tiba-tiba dan ia yang di peluk sisil, membuat Khanza harus mencerna semua kejadian aneh itu.
semua orang tampak menatap sisil dan Gio bergantian, merasa aneh dengan orang yang tiba-tiba memeluk Khanza itu, mereka yakin bahwa Khanza mengenal orang-orang itu.
Gio dan Khanza kembali saling tatap, Begitu Rindu nya ia dengan wanita itu, sedangkan Khanza hanya menatap Gio dengan Nanar, ia belum tau harus berekspresi dengan mereka seperti apa.
" apa kabar Za..." ujar Sisil ia kembali memegang tangan Khanza, yang sedikit gemetar.
" baik.." lirih Khanza.
" eh.. ini anak-anak lo ya, ko mirip si pasti mereka kembar ya.." cerocos sisil, sungguh perempuan satu ini memang tak tahu malu, bertemu dengan Khanza dan bersikap biasa aja, seolah-olah tidak terjadi apapun di antara mereka.
Sementara Gio tertegun ketika menatap kedua anak itu, yang seperti gambaran dirinya sewaktu kecil, ikatan batin nya sangat kuat, dia terus menatap anak-anak itu, wajahnya seperti ukiran dirinya dahulu, kenapa anak-anak itu bisa mirip dengan nya semasa kecil.
" hai semua.." ucap sisil ia merasa tak enak hati karena di tatap oleh semua teman Khanza.
" hai.. " ucap mereka.
" za.. kita bisa bicara gak, " ujar sisil.
" bisa.. "
" yaudah ayo.."
" mereka bertiga melenggang, duduk di tempat sisil dan Gio sebelumnya.
" apa yang kalian ingin bicarain dengan saya.." ucap Khanza ketika sudah duduk di tempat mereka, dia memberanikan diri menatap kedua orang itu, orang yang pernah membuat nya hancur.
" za... ko jadi sepormal itu, kita kan teman za.." kata sisil, ia merasa tak enak hati dengan khanza yang sudah berubah.
" apa yang ingin kalian bicarakan.." ucapnya lagi.
" za kami sudah menikah.." kata sisil.
" syukurlah." sebisa pun Khanza menekan rasa kesalnya, baginya sangat menjijikan mengingat kedua manusia di depannya bahkan menghianatinya terang-terangan..
" bertahun-tahun gw mencari lo za... gw pengen minta maaf atas semua kesalahan gw di masalalu, gw tau gw salah, gw selalu iri sama lo. maafin gw za.." Khanza menatap sisil Nanar, baginya penyesalan itu sudah terlambat, untuk apa meminta maaf atas kesalahan yang sudah ia kubur dalam-dalam dari dulu, tak ada gunanya menurutnya.
" gw udah lupain semuanya dari dulu, lagi pula sekarang gw juga udah menikah, udah punya si kembar, sebentar lagi kami akan menyambut anak ketiga kami, gw udah jauh lebih bahagia, gw udah gak pernah mengingat masalah apapun lagi.." ujar Khanza, ia masih menatap sisil dan Gio, entah apa maksud mereka Khanza pun tidak mengerti yang jelas, dia tidak bisa membedakan, ketulusan dari sisil, setelah bertahun-tahun pun bersama, perempuan itu menusuk nya dari belakang.
" gw ingin memperbaiki hubungan sama lo, gw ingin lo ngelupain semua yang pernah terjadi, maafin gw za.. gw memang punya salah besar sama lo.." lirih sisil.
" sayang..." tiba-tiba Nanda datang merangkul dan mencium kening sang istri..
" Nanda..." ucap Sisil, di terpaku melihat teman kuliahnya ada juga di sana, dan dia makin terpaku, saat Khanza di rangkul olehnya.
" ya ini gw, hai Sil lama gak ketemu, senang juga bisa ketemu anda tuan Gio Pernando.." ujarnya santai.
" iya Tuan Nanda saya juga.."
sisil yang masih tak mengerti apapun yang ia lihat masih termenung, dia menatap Nanda dan suaminya bergantian,
" saya rasa istri saya ini udah bicara dengan kalian.." ujar Nanda.
" kalian sudah menikah..." tanya Sisil.
" ya seperti yang kalian lihat, kami begitu saling mencintai, iya kan istriku.." Nanda memandangi istrinya.
" tentu.." Khanza menampilkan senyum terbaiknya.
" wait, Nanda bukan kah kamu seorang CEO sekarang, " tanya Sisil, sebenar nya ia sudah melihat semua media menceritakan Nandana seorang CEO muda sudah mengadakan pesta pernikahan besar kurang lebih dua bulan yang lalu, lalu si kembar anak siapa??. Sisil berkalut dengan pemikirannya.
" seperti yang kamu tau, dan istriku juga seorang Direktur utama di petusahan COPRA,. " ujar Nanda, ia senang dengan setiap perubahan mimik wajah dari mantan teman istrinya itu.
" APAAAA!!!!" teriak Sisil, suaranya memekik semua yang duduk di dekatnya.
" tidak perlu sekaget itu, suami anda juga sudah tau, bahkan ia juga bekerja sama dengan perusahaan istri saya.." Nanda tersenyum sinis, ia begitu senang dengan semua perubahan ekspresi Sisil, sedangkan Gio diam seribu bahasa, karena semua perkataan CEO itu, benar adanya.
" yank!! kok kamu gak pernah ngasih tau aku kalau kamu sudah menemukan Khanza selama ini.." ujar sisil, Gio menghela Nafas panjang.
" untuk apa kamu tau.. "
" lohh kok gitu sih, dari awal kan kita udah sepakat mau meminta maaf sama-sama kepada Khanza.."
" awalnya memang begitu, tapi setelah tau Khanza baik-baik saja, dan telah menikah dengan orang yang tepat, aku rasa kita tidak perlu mengganggu kehidupannya, dengan kedatang kita hanya untuk sekedar meminta maaf." Gio menatap Khanza sangat dalam. begitu pun dengan Khanza dia menatap lekat wajah laki-laki yang dulu pernah mengisi seluruh kehidupannya.
" aku rasa semuanya sudah selesai sekarang, jangan ganggu istriku lagi, kalian sudah meminta maafkan,!!! lagi pula jika kalian tidak meminta maafpun, istri saya sudah memaafkan semuanya, gimana??bukan kah ia sangat baik hati??."
" saya tidak perlu meragukan itu tuan, maaf kan saya beserta istri saya.." ucap Gio
" kami berjanji tidak akan pernah mengganggu kehidupan kalian lagi. " tambahnya.
" bagus.. " ujar Nanda, dia menatap kedua manusia di depannya dengan tatapan sinis...
begitu benci nya ia dengan perempuan, bermuka dua itu, tidak akan Nanda biarkan Sisil mengganggu Khanza lagi,
" kalau begitu saya dan istri saya pamit tuan Gio."
" silahkan tuan..." Nanda Dan Khanza beranjak dari sana dan kembali menghampiri semua teman-temannya, kemudian mereka semua memutuskan untuk pulang ke kediaman Nanda.
.
.
.